Menerbitkan artikel di Kompas menjadi salah satu tujuan banyak penulis yang ingin memperluas jangkauan tulisan dan membangun portofolio. Namun, memiliki gagasan yang bagus saja belum cukup. Naskah perlu memiliki sudut pandang yang jelas, argumentasi yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta mengikuti ketentuan media yang dituju.
Bagi penulis pemula, tantangan utamanya sering bukan pada proses menulis, melainkan memahami jenis tulisan yang sesuai, cara mengemas gagasan, dan prosedur pengiriman naskah.
Artikel ini membahas langkah yang dapat kamu lakukan sebelum mengirim tulisan ke Kompas, mulai dari memilih topik hingga mempersiapkan diri menghadapi proses editorial.
Jika tujuanmu adalah mendapatkan pengalaman publikasi terlebih dahulu, kamu juga dapat mempertimbangkan media yang membuka ruang bagi mahasiswa dan penulis pemula. Salah satunya adalah Media Mahasiswa Indonesia (MMI), yang memiliki cluster khusus untuk publikasi artikel dan pengiriman tulisan.
Baca juga: Cara Mengirim Artikel, Opini, Tulisan dan Berita ke Media Online: 100% Terbit!
Mengapa Menerbitkan Artikel di Kompas Menarik bagi Penulis?
Kompas merupakan salah satu nama besar dalam ekosistem media Indonesia. Bagi penulis, publikasi di media nasional dapat menjadi bagian dari portofolio dan menunjukkan bahwa gagasan yang ditulis telah melalui proses seleksi editorial.
Namun, reputasi media tidak berarti setiap tulisan akan diterima. Redaksi memiliki pertimbangan sendiri mengenai relevansi topik, kualitas argumentasi, kebaruan sudut pandang, dan kesesuaian naskah dengan kebutuhan pembaca.
Karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan mencari “trik agar pasti dimuat”, melainkan membuat naskah yang memang layak dipertimbangkan oleh redaksi.
1. Pahami Jenis Tulisan yang Ingin Dikirim
Sebelum menulis, tentukan terlebih dahulu jenis tulisan yang akan kamu kirim. Artikel opini, misalnya, tidak sama dengan berita atau artikel informatif biasa.
Dalam opini, penulis perlu memiliki posisi atau sudut pandang yang jelas terhadap persoalan yang dibahas. Pendapat tersebut kemudian dikembangkan melalui argumentasi, fakta, data, contoh, dan analisis yang relevan.
Jika kamu ingin menulis mengenai pendidikan, misalnya, jangan berhenti pada pernyataan bahwa pendidikan penting bagi masyarakat. Cari persoalan yang lebih spesifik, tentukan posisi kamu, kemudian jelaskan alasan yang mendukung posisi tersebut.
Artikel opini yang kuat membuat pembaca memahami bukan hanya apa yang dipikirkan penulis, tetapi juga mengapa pandangan tersebut layak dipertimbangkan.
2. Pilih Topik yang Relevan dan Memiliki Nilai Pembahasan
Topik aktual memang dapat membantu tulisan menemukan konteks pembaca. Namun, aktual saja tidak cukup.
Sebuah topik akan lebih menarik jika kamu memiliki sudut pandang yang berbeda atau mampu memberikan analisis yang belum banyak dibahas.
Misalnya, daripada sekadar menulis tentang perkembangan teknologi pendidikan, kamu dapat mempersempit pembahasan menjadi persoalan tertentu yang sedang dihadapi mahasiswa, dosen, atau institusi pendidikan.
Pertimbangkan tiga pertanyaan sebelum menentukan topik:
- Apa persoalan utama yang ingin dibahas?
- Mengapa persoalan tersebut penting bagi pembaca?
- Apa yang dapat ditawarkan tulisan ini selain mengulang informasi yang sudah tersedia?
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip editorial MMI bahwa artikel harus memberikan nilai tambah dan tidak sekadar mengulang informasi umum.
3. Bangun Sudut Pandang yang Jelas
Salah satu kelemahan artikel opini pemula adalah topiknya terlalu luas sehingga tulisan berubah menjadi rangkuman informasi.
Opini membutuhkan tesis atau posisi penulis.
Misalnya, jika topiknya adalah penggunaan AI dalam pendidikan, kamu dapat mengambil posisi mengenai bagaimana perguruan tinggi seharusnya mengatur penggunaan AI dalam proses pembelajaran.
Setelah menentukan posisi, setiap bagian artikel harus mendukung pembahasan tersebut. Hindari memasukkan informasi yang tidak berhubungan hanya karena masih berada dalam topik yang sama.
Dengan demikian, tulisan memiliki alur berpikir yang lebih mudah diikuti:
persoalan → posisi penulis → argumentasi → bukti → analisis → implikasi → penutup.
4. Gunakan Data dan Sumber yang Dapat Dipertanggungjawabkan
Opini memang merupakan ruang untuk menyampaikan pandangan, tetapi bukan berarti penulis bebas membuat klaim tanpa dasar.
Data, statistik, hasil penelitian, regulasi, atau pernyataan lembaga yang digunakan dalam artikel perlu dapat diverifikasi.
Untuk mendukung tulisan, prioritaskan sumber seperti:
- lembaga pemerintah;
- perguruan tinggi;
- jurnal penelitian;
- organisasi internasional;
- laporan resmi;
- sumber primer yang relevan.
Pedoman editorial MMI juga menempatkan akurasi, relevansi, manfaat, kredibilitas, dan originalitas di atas SEO.
Jika menggunakan data tertentu, jangan hanya mencantumkan angka. Jelaskan pula apa arti data tersebut terhadap argumen yang sedang kamu bangun.
Ini yang membedakan artikel yang sekadar berisi informasi dengan artikel yang memiliki analisis.
5. Tulis dengan Bahasa yang Mudah Dipahami
Artikel untuk pembaca umum tidak harus menggunakan bahasa akademik yang rumit.
Jika terdapat istilah teknis, jelaskan maknanya secara singkat. Gunakan kalimat aktif dan hindari paragraf yang terlalu panjang.
Sebagai contoh, ketika membahas suatu konsep dalam bidang kesehatan, hukum, ekonomi, atau teknologi, pembaca seharusnya tetap dapat memahami gagasan utama meskipun tidak memiliki latar belakang khusus di bidang tersebut.
Gaya editorial MMI sendiri mengutamakan Bahasa Indonesia yang komunikatif, profesional, hangat, dan mudah dipahami.
Prinsip sederhananya adalah: gagasan boleh kompleks, tetapi cara menjelaskannya tidak perlu dibuat rumit.
6. Susun Artikel dengan Struktur yang Logis
Struktur membantu pembaca memahami hubungan antara satu gagasan dengan gagasan berikutnya.
Untuk artikel opini, kamu dapat menggunakan struktur berikut:
Pembukaan
Perkenalkan persoalan secara langsung. Hindari pembukaan yang terlalu umum seperti “di era digital saat ini” atau “seiring perkembangan zaman”.
Pembukaan yang baik segera menunjukkan masalah yang akan dibahas dan mengapa pembaca perlu memperhatikannya.
Pembahasan
Kembangkan tesis melalui beberapa argumentasi utama.
Setiap argumentasi sebaiknya memiliki dasar yang jelas. Jika diperlukan, gunakan data, penelitian, contoh, atau pengalaman yang relevan.
Analisis
Jangan berhenti pada penyajian fakta. Jelaskan hubungan antara fakta tersebut dengan posisi yang kamu ambil.
Di sinilah nilai utama artikel opini berada.
Penutup
Tutup tulisan dengan kesimpulan atau implikasi yang memperkuat gagasan utama. Penutup tidak perlu mengulang seluruh isi artikel secara panjang.
Struktur seperti ini juga sejalan dengan pedoman MMI yang menempatkan pembukaan, pembahasan utama, contoh atau analisis, kesimpulan, dan FAQ sebagai bagian yang disusun berdasarkan kebutuhan pembaca, bukan semata-mata untuk mengejar SEO.
7. Periksa Ketentuan Pengiriman Sebelum Submit
Ketentuan pengiriman media dapat berubah. Karena itu, sebelum mengirim naskah, selalu periksa panduan resmi Kompas yang berlaku pada saat kamu melakukan submission.
Jangan hanya mengandalkan artikel pihak ketiga yang menjelaskan prosedur pengiriman, terutama untuk informasi seperti:
- alamat pengiriman;
- format file;
- panjang naskah;
- identitas penulis;
- ketentuan eksklusivitas;
- jenis tulisan yang sedang dibuka;
- mekanisme respons redaksi.
Hal yang paling aman adalah mengikuti instruksi yang diberikan oleh media tujuan pada kanal resminya.
Selain itu, pastikan naskah yang dikirim sudah final. Periksa kembali ejaan, struktur argumentasi, fakta, sumber, judul, serta biodata penulis.
Siapkan Diri untuk Proses Editorial
Mengirim artikel bukan berarti tulisan otomatis diterbitkan.
Redaksi dapat melakukan seleksi dan penyuntingan terhadap naskah yang masuk. Jika editor meminta perubahan, penulis perlu melihat revisi sebagai bagian dari proses editorial.
Perubahan dapat berkaitan dengan:
- struktur argumentasi;
- kejelasan kalimat;
- akurasi data;
- relevansi pembahasan;
- gaya bahasa;
- judul;
- atau bagian tertentu yang perlu diperdalam.
Karena itu, jangan mengirim tulisan yang masih berupa draft kasar dengan harapan seluruh pekerjaan penyuntingan dilakukan oleh editor.
Naskah yang matang sejak awal menunjukkan bahwa penulis memahami topik sekaligus menghargai proses editorial.
Kesalahan yang Sering Membuat Artikel Opini Lemah
Ada beberapa pola yang sebaiknya dihindari sebelum mengirim artikel.
1. Topik Terlalu Umum
“Teknologi penting bagi pendidikan” terlalu luas untuk menjadi tesis yang kuat.
Persempit persoalan dan tentukan sudut pandang yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Opini Tanpa Bukti
Pendapat akan lebih kuat ketika disertai fakta dan alasan yang relevan.
Jangan menggunakan data hanya sebagai hiasan. Pastikan data tersebut benar-benar mendukung argumentasi.
3. Terlalu Banyak Informasi
Artikel yang panjang belum tentu lebih baik.
Pedoman AI Editorial MMI secara eksplisit melarang memperpanjang artikel dengan filler, pengulangan, atau contoh yang tidak relevan. Panjang tulisan harus mengikuti kebutuhan pembahasan.
4. Judul Tidak Sesuai Isi
Judul harus menggambarkan isi artikel secara jujur. Hindari membuat judul sensasional yang tidak didukung pembahasan karena pendekatan tersebut bertentangan dengan prinsip editorial dan people-first content.
5. Mengirim Naskah yang Sama ke Banyak Media Tanpa Memeriksa Ketentuan
Sebelum melakukan pengiriman simultan, periksa kebijakan masing-masing media mengenai eksklusivitas dan naskah yang belum pernah dipublikasikan.
Jika Belum Siap Mengirim ke Media Nasional
Tidak semua penulis harus langsung memulai dari media nasional.
Bagi mahasiswa atau penulis pemula, publikasi di media yang memiliki ruang kontributor dapat menjadi cara untuk membangun pengalaman, portofolio, dan kebiasaan menulis.
Media Mahasiswa Indonesia merupakan salah satu halaman dalam cluster publikasi artikel MMI. Dalam struktur cluster tersebut, halaman seperti Kirim Artikel, panduan mengirim artikel atau opini, serta panduan publikasi artikel ke media online menjadi halaman inti yang saling mendukung sesuai kebutuhan pembaca.
Jika kamu ingin memahami jalur publikasi sebelum mengirim tulisan, kamu dapat membaca cara publikasi artikel ke media online terlebih dahulu.
FAQ Seputar Cara Menerbitkan Artikel di Kompas
Apakah mahasiswa bisa mencoba mengirim artikel ke Kompas?
Bisa mencoba. Namun, diterima atau tidaknya tulisan merupakan keputusan redaksi. Karena itu, mahasiswa perlu memastikan tulisannya memiliki gagasan yang jelas, relevan, argumentatif, dan didukung sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apakah artikel opini harus menggunakan data?
Tidak setiap kalimat harus disertai data. Namun, klaim faktual, statistik, penelitian, atau pernyataan tertentu perlu memiliki dasar yang dapat diverifikasi. Data sebaiknya digunakan untuk memperkuat argumentasi, bukan sekadar memenuhi artikel dengan angka.
Berapa panjang artikel yang harus dikirim ke Kompas?
Ketentuan panjang naskah dapat berubah sesuai kebijakan dan rubrik yang dituju. Karena itu, jangan menjadikan angka dari panduan lama sebagai patokan mutlak. Periksa ketentuan resmi Kompas sebelum mengirimkan naskah.
Apakah artikel yang sudah pernah diterbitkan boleh dikirim kembali?
Hal ini bergantung pada ketentuan media tujuan. Sebelum mengirim, periksa kebijakan mengenai orisinalitas dan publikasi sebelumnya. Jangan berasumsi bahwa semua media memiliki aturan yang sama.
Apa yang harus dilakukan jika tulisan belum diterima?
Evaluasi kembali topik, sudut pandang, argumentasi, sumber, struktur, dan kesesuaian tulisan dengan media yang dituju. Penolakan satu naskah tidak otomatis berarti gagasannya buruk. Bisa saja tulisan belum sesuai dengan kebutuhan editorial pada saat dikirim.
Apakah harus langsung mengirim ke media besar?
Tidak. Penulis dapat membangun pengalaman secara bertahap melalui blog, komunitas penulis, media kampus, atau platform publikasi lain yang relevan. Yang penting, setiap publikasi tetap memenuhi standar kualitas dan tidak dibuat secara massal hanya untuk mengejar jumlah artikel.
Kesimpulan
Cara menerbitkan artikel di Kompas tidak berhenti pada mengetahui tempat mengirim naskah. Tantangan yang lebih penting adalah menghasilkan tulisan yang memiliki sudut pandang jelas, argumentasi kuat, sumber kredibel, bahasa yang mudah dipahami, dan struktur yang rapi.
Sebelum submit, pastikan kamu sudah:
- menentukan jenis tulisan;
- memilih persoalan yang relevan;
- menemukan sudut pandang yang jelas;
- memperkuat argumentasi dengan sumber yang dapat diverifikasi;
- menyusun artikel secara logis;
- menyunting naskah secara menyeluruh; dan
- memeriksa ketentuan pengiriman terbaru dari media tujuan.
Tidak ada formula yang menjamin sebuah artikel pasti diterbitkan. Pendekatan yang lebih sehat adalah membuat tulisan yang memang memiliki nilai bagi pembaca dan sesuai dengan karakter media yang dituju.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














