Membangun Harmoni dalam Toleransi Beragama

Toleransi Beragama
Ilustrasi Toleransi (Sumber: MMI)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Kita hidup bersama dengan beragam suku, budaya, dan banyak agama. Keanekaragaman ini, seperti yang tercermin dalam semboyan Bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Untuk senantiasa menjaga kerukunan antar agama, perlu dikembangkan sikap toleransi beragama.

Di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang cepat, tantangan untuk menjaga kerukunan juga semakin besar. Maka dari itu, sikap toleransi beragama menjadi kunci utama agar perbedaan ini tidak berubah menjadi konflik

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Secara bahasa atau etimologi toleransi berasal dari bahasa Arab tasamuh yang artinya ampun, maaf dan lapang dada. Secara terminologi, toleransi yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing, selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat (Anggraeni & Suhartinah, 2018).

Toleransi berasal dari bahasa Latin tolerare, yang berarti menahan diri, sabar, atau membiarkan. Dalam konteks sosial, toleransi adalah sikap terbuka, lapang dada, dan bersedia mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik itu perbedaan suku, ras, gender, pendapat, atau keyakinan.

Sikap toleransi mencakup tiga tingkatan yaitu merespon secara positif dengan tidak menolak adanya perbedaan. Menghargai yaitu dengan mengakui nilai positif dari perbedaan tersebut. Mengintegrasikan yaitu dengan memanfaatkan perbedaan untuk mencapai tujuan bersama.

Baca juga: Toleransi Beragama dalam Menunjang Keragaman di Indonesia

Toleransi beragama adalah bentuk konkret dari sikap toleransi umum yang diterapkan dalam hubungan antar-umat beragama. Ini diartikan sebagai sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan, tata cara ibadah, dan hak-hak beragama orang lain tanpa memandang perbedaan agama, ras, atau suku (Murni, 2018).

Toleransi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama. Toleransi adalah tentang hubungan antar-manusia, dimana setiap orang berhak menjalankan keyakinannya masing-masing tanpa gangguan, dan kewajiban kita adalah menghormati hak tersebut.

 

Prinsip dan Internalisasi Sikap Toleransi

Untuk menjalankan toleransi secara benar dan mendalam, ada beberapa prinsip yang harus dipegang teguh, yang kemudian perlu diinternalisasi atau ditanamkan dalam diri setiap individu.

Prinsip dasar toleransi beragama yang harus dipatuhi dalam (Anam et al., 2023) adalah:

1. Prinsip Tanpa Pemaksaan

Setiap orang berhak memilih atau menjalankan agamanya masing-masing tanpa ada paksaan dari siapapun. Setiap individu memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan keyakinannya, sesuai dengan ajaran universal bahwa keyakinan adalah urusan pribadi dengan Tuhan.

2. Prinsip Penghormatan Batas

Prinsip toleransi selanjutnya adalah kerelaan dan kesediaan seseorang untuk menerima keanekaragaman keyakinan dan agama. Setiap manusia pada hakikatnya memandang baik apa yang mereka kerjakan dan yakini, meskipun keyakinan atau pandangannya itu salah.

Namun, tolak ukur pandangan baik dan tidaknya suatu perbuatan seseorang dalam melakukan tindakan itu terkadang mucul dari penilaian manusia itu sendiri. Untuk itu, sebagai manusia kita harus menghormati penganut agama yang berbeda dengan kita. Misalnya, tidak mengganggu ibadah orang lain dan tidak mencampuri doktrin inti agama lain.

3. Prinsip Kemanusiaan Universal

Meletakkan nilai kemanusiaan di atas segalanya. Artinya, meskipun berbeda agama, kita tetap terikat sebagai sesama manusia yang wajib saling menolong, menghormati martabat, dan menjunjung keadilan.

Internalisasi Sikap Toleransi Beragama

Internalisasi adalah proses menanamkan nilai-nilai toleransi ke dalam hati dan pikiran, menjadikannya sebagai bagian dari kepribadian. Proses ini memerlukan peran dari tiga pilar utama:

1. Keluarga (Pilar Utama)

Keluarga harus menjadi tempat pertama anak diajarkan nilai. Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya dengan menunjukkan sikap menghargai tetangga atau teman yang berbeda agama.

2. Sekolah (Pilar Pendidikan)

Sekolah memiliki tanggung jawab untuk memberikan Pendidikan Agama bagi siswanya. Pendidikan agama tidak boleh hanya fokus pada larangan dan doktrin, tetapi juga harus menekankan aspek etika, moral, dan kasih sayang universal. Sekolah juga harus menciptakan suasana dialog yang sehat.

3. Lingkungan dan Media Sosial

Toleransi ditanamkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan semua agama, seperti kerja bakti, perayaan hari nasional, atau penanggulangan bencana. Ini membangun rasa kepemilikan bersama.

Masyarakat perlu difasilitasi untuk melakukan dialog terbuka. Sama seperti remaja membutuhkan teman sebaya yang bisa menjadi panutan dan tempat berkeluh kesah, orang dewasa juga membutuhkan ruang aman untuk berbagi pandangan agama tanpa rasa takut dihakimi.

Internalisasi toleransi di lingkungan media digital berarti menanamkan kesadaran kritis terhadap informasi. Individu harus dilatih untuk mengolah informasi secara bijak melalui literasi digital. Ini adalah benteng pertahanan dari penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian berbasis agama yang berpotensi merusak kehormatan orang lain dan memicu konflik, salah satunya pencemaran nama baik.

 

Pentingnya Toleransi Beragama bagi Kehidupan

Toleransi adalah perekat bangsa. Tanpa toleransi, perbedaan keyakinan akan dengan mudah memicu konflik horizontal yang dapat merusak persatuan dan mengancam stabilitas negara. Toleransi adalah wujud nyata dari pengamalan Sila Ketiga Pancasila.

Adanya toleransi menjamin bahwa setiap individu dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan aman, bebas dari rasa takut atau diskriminasi. Hal ini menciptakan suasana harmonis dan mengurangi tekanan mental serta psikologis dalam masyarakat.

Lingkungan yang damai dan stabil, yang dijamin oleh toleransi, memungkinkan pemerintah dan masyarakat fokus pada pembangunan ekonomi dan sosial.

Energi masyarakat tidak habis untuk menyelesaikan konflik, tetapi digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif. Toleransi adalah bentuk penghargaan terhadap martabat manusia. Hal ini sesuai dengan pengamalan Sila Kedua Pancasila. Mengakui hak orang lain untuk berbeda adalah manifestasi dari kemanusiaan yang beradab.

 

Toleransi Beragama dalam Pandangan Hukum

Indonesia adalah negara hukum yang melindungi hak beragama warganya. Perlindungan ini tertuang dalam beberapa peraturan utama:

1. UUD 1945 dan Pancasila

  • UUD 1945 Pasal 29 Ayat (2): “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Pasal ini adalah payung hukum tertinggi bagi kebebasan beragama dan beribadah.
  • Pancasila Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa): Secara eksplisit menuntut sikap toleransi.

2. Perlindungan dari Intoleransi

Tindakan intoleran yang menyerang kehormatan, terutama melalui media sosial, dapat dikenakan sanksi pidana yang diatur dalam UU ITE. Undang-undang ini mengatur tentang ujaran kebencian (hate speech) dan penyebaran berita bohong (hoaks) yang berbasis SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Penegakan hukum ini memberikan efek jera dan berfungsi mengayomi korban yang nama baik atau kehormatannya dicemarkan.

 

Contoh Penerapan Toleransi Beragama dalam Kehidupan

Toleransi beragama di Indonesia terwujud dalam berbagai praktik, dari yang sederhana hingga yang berskala besar.

1. Saling Menjaga Keamanan Ibadah

Contohnya saat perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, pemuda atau komunitas dari agama lain (misalnya Kristen, Hindu, atau Buddha) seringkali secara sukarela turut menjaga keamanan dan kelancaran prosesi ibadah umat Muslim. Sebaliknya, saat Natal, Paskah, atau Nyepi, umat Muslim juga aktif menjaga ketertiban dan menghormati jalannya ibadah.

2. Bangunan Ibadah yang Berdekatan

Contohnya di beberapa kota, kita menemukan Masjid, Gereja, Vihara, dan Pura yang berdiri berdekatan. Hal ini melambangkan sejarah panjang kerukunan yang telah mendarah daging dalam budaya masyarakat.

Toleransi beragama adalah cerminan kematangan spiritual dan kedewasaan bernegara. Intoleransi adalah gejala sosial yang harus ditangani secara sistematis melalui penegakan hukum yang adil, pendidikan karakter, dan budaya komunikasi yang beretika.

Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan orang lain. Dengan membudayakan literasi digital yang cerdas, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan tidak menghakimi, serta menumbuhkan empati, kita dapat memastikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

 

Penulis:

  1. Aisyah Dwi Fadnil (2410313073)
  2. Salsabila Najmi (2410313074)
  3. Muhammad Izzan Hakim (2410313080)
  4. Muthia Luqman (2410313083)
  5. Intana Ulva Hakimah (2410313094)
  6. Muthia Nadira Syakinah (2410312071)

Mahasiswa Kedokteran, Universitas Andalas
Dosen Pengampu: Alex Dermawan., S.S., M. A.

 

Referensi

Anam, M., Fanani, M. R., & Syahputra, A. E. A. (2023). “Prinsip Toleransi Beragama Perspektif QS . Al- An’ā m [6]: 108 dan Relevansinya dalam Konteks Keindonesiaan”. QOF: Jurnal Studi Al-Qur’an Dan Tafsir, 7(1), 67–80. https://doi.org/10.30762/qof.v7i1.794.APA

Anggraeni, D., & Suhartinah, S. (2018). “Toleransi Antar Umat Beragama Perspektif KH. Ali Mustafa Yaqub”. Jurnal Studi Al-Qur’an, 14(1), 59–77.

Murni, D. (2018). “Toleransi Dan Kebebasan Beragama Dalam Perspektif Al-Quran”. Jurnal Syahadah Vol., 1(2).

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses