Mengapa Kenaikan Harga BBM Selalu Menjadi Isu yang Sensitif?

Kenaikan Harga BBM
Isu Kenaikan Harga BBM (Sumber: Penulis)

Kenaikan harga BBM non-subsidi yang diumumkan Pertamina pada 10 Juni 2026 kembali memicu perdebatan di ruang publik. Padahal, perubahan harga tersebut tidak secara langsung menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Sebagian besar pengguna sepeda motor masih mengandalkan Pertalite yang harganya tidak berubah. Namun, respons yang muncul di media sosial menunjukkan bahwa yang naik bukan hanya harga bahan bakar, melainkan juga kecemasan sosial masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena ini memperlihatkan bahwa BBM bukan sekadar komoditas energi, melainkan simbol yang memiliki makna sosial dan politik yang jauh lebih besar daripada angka yang tertera di papan SPBU. Lantas, mengapa setiap kenaikan harga BBM hampir selalu menjadi isu yang sensitif di tengah masyarakat?

Sensitivitas isu BBM tidak muncul tanpa alasan. Berbeda dengan banyak komoditas lain, BBM memiliki posisi yang unik dalam kehidupan masyarakat.

Ia tidak hanya digunakan untuk menggerakkan kendaraan pribadi, tetapi menjadi penggerak berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari distribusi bahan pangan, transportasi umum, hingga jasa logistik. Karena keterkaitannya yang begitu luas, perubahan harga BBM sering kali dipersepsikan sebagai pertanda bahwa biaya hidup secara keseluruhan juga akan meningkat.

Menariknya, respon masyarakat terhadap kenaikan BBM sering kali muncul bahkan sebelum dampaknya benar-benar dirasakan. Kenaikan harga bahan bakar memang dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, tetapi keresahan publik biasanya muncul lebih cepat daripada dampak ekonominya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa yang bereaksi bukan hanya kondisi keuangan masyarakat, melainkan juga persepsi mereka terhadap masa depan ekonomi.

Dalam psikologi ekonomi, individu tidak hanya membuat penilaian berdasarkan kondisi saat ini, tetapi juga berdasarkan ekspektasi yang mereka miliki. Ketika harga BBM naik, banyak orang segera mengaitkannya dengan kemungkinan kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, atau pengeluaran rumah tangga lainnya. Kekhawatiran terhadap apa yang mungkin terjadi sering kali lebih kuat daripada kondisi yang sedang terjadi.

Di mata masyarakat, BBM sering kali dipandang sebagai salah satu indikator paling nyata untuk menilai kondisi ekonomi. Tidak semua orang memahami angka inflasi, pertumbuhan ekonomi, atau nilai tukar rupiah. Namun hampir setiap orang memahami harga bahan bakar yang mereka beli atau lihat di SPBU. Karena itu, perubahan harga BBM sering kali menjadi cara paling sederhana bagi masyarakat untuk membaca situasi ekonomi nasional.

Baca juga: Kenaikan BBM Tanpa Aba-Aba: Dampaknya bagi Stabilitas Ekonomi Masyarakat

Akibatnya, kenaikan harga BBM tidak hanya dipersepsikan sebagai perubahan harga suatu komoditas, tetapi juga sinyal bahwa tekanan ekonomi sedang meningkat. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat cenderung mengaitkan kenaikan BBM dengan berbagai persoalan lain, mulai dari daya beli yang melemah hingga meningkatnya biaya hidup.

Sensitivitas tersebut semakin besar di era media sosial. Jika pada masa lalu informasi mengenai kenaikan harga BBM lebih banyak diperoleh melalui media konvensional, kini berbagai respons publik dapat tersebar dalam hitungan menit.

Unggahan mengenai harga di SPBU, keluhan biaya hidup, hingga komentar tokoh politik saling berinteraksi dan membentuk percakapan yang berlangsung tanpa henti di ruang digital.

Dalam situasi seperti ini, media sosial tidak selalu menciptakan keresahan baru, tetapi sering kali memperkuat keresahan yang sudah ada. Kekhawatiran individu yang awalnya bersifat pribadi dapat dengan cepat berubah menjadi sentimen kolektif ketika mendapat respons serupa dari ribuan pengguna lain.

Pada akhirnya, sensitivitas isu BBM tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi maupun psikologis. Dalam banyak kasus, harga BBM juga dipandang sebagai representasi hubungan antara negara dan masyarakat.

Kebijakan mengenai bahan bakar sering kali dianggap sebagai cerminan keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat. Karena itu, setiap perubahan harga BBM hampir selalu memunculkan perdebatan yang melampaui persoalan energi semata.

 


Penulis: Abdurrahman As Sudais
Mahasiswa Akuntansi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Dr. Vivi Iswanti Nursyirwan S.Sos., M.M.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses