Budaya “Healing” di Kalangan Generasi Z (Gen Z): Kebutuhan atau Gaya Hidup?

Budaya Healing Generasi Z
Ilustrasi Budaya Healing (Sumber: Penulis)

Perkembangan zaman yang semakin cepat dan modern membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama cara individu menghadapi tekanan dan tuntutan hidup, kemajuan teknologi, persaingan pekerjaan, masalah finansial, dan tekanan sosial menyebabkan meningkatnya tingkat stress di berbagai kalangan, terutama generasi muda. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental sangat penting dan tidak dapat diabaikan.

Di kalangan Gen Z, istilah healing digunakan untuk berbagai aktivitas yang dilakukan untuk mengurangi stres, melepaskan kejenuhan, dan memulihkan kondisi mental dan emosional. Aktivitas ini dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat wisata, menikmati keindahan alam, hingga meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, istilah healing menimbulkan pertanyaan; apakah aktivitas ini  sebuah kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental atau sekedar gaya hidup yang mengikuti tren di kalangan Gen Z?

Baca juga: Budaya Healing pada Gen Z: Antara Kebutuhan Mental atau Tren Sosial

Pada dasarnya, healing mempunyai manfaat positif bagi kesehatan mental. Kegiatan seperti berlibur dan menikmati alam, dapat membantu mengurangi tingkat stres dan memperbaiki suasana hati.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di lingkungan alam dapat membantu mengurangi rasa kecemasan dan memulihkan kondisi psikologis. Fakta tersebut memperkuat bahwa healing bukan sekadar gaya hidup, melainkan salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kesehatan mental, terutama pada Gen Z dalam menghadapi tekanan kehidupan modern.

Namun, istilah healing di media sosial menimbulkan perubahan arti di kalangan Gen Z. banyak yang menganggap healing sebagai aktivitas yang wajib dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat menarik, atau destinasi wisata yang viral, lalu membagikan kegiatan di media sosial.

Akibatnya, healing sering salah diartikan sebagai bagian dari gaya hidup. Seharusnya, tujuan utama healing memperoleh ketenangan dan pemulihan mental, bukan mencari pengakuan melalui dari orang lain melalui konten.

Menurut pandangan penulis, bagi Gen Z, healing lebih tepat sebagai kebutuhan dan bukan sebagai gaya hidup. Berbagai tekanan yang berasal dari lingkungan akademik, pekerjaan, maupun media sosial memerlukan waktu untuk memulihkan kondisi emosional. Namun, healing tidak selalu dilakukan melalui aktivitas yang mahal atau mengikuti tren.

Setiap individu dapat melakukan healing dengan cara sederhana dan sesuai kebutuhan. dengan demikian, healing kembali pada makna utamanya sebagai kebutuhan dalam menjaga kesehatan mental di berbagai tuntutan kehidupan yang dihadapi oleh Gen Z.

Oleh karena itu, healing di kalangan Gen Z lebih tepat dipandang sebagai kebutuhan dan bukan sebagai gaya hidup. Gen Z perlu bijak dalam mengartikan healing di media sosial, karena di media sosial sering kali makna healing berubah menjadi aktivitas yang identik dengan tren, dan pencitraan.

Seharusnya, tujuan utamanya bukan untuk gaya hidup, melainkan untuk beristirahat dan memulihkan kondisi mental. Dengan memahami makna healing dengan baik, Gen Z dapat membantu dalam memperbaiki kondisi psikologis untuk menghadapi berbagai tuntutan kehidupan modern dengan lebih sehat, produktif, dan seimbang.

 


Penulis: Fadhil Ramadhan
Mahasiswa Akuntansi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Dr. Vivi Iswanti Nursyirwan S.sos., M.M


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses