Abstrak
Budaya healing menjadi fenomena sosial yang menonjol di kalangan Gen Z. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami alasan di balik maraknya aktivitas healing serta bagaimana praktik tersebut berkaitan dengan kondisi mental generasi muda.
Metode yang digunakan berupa kajian litelatur yang membahas perilaku healing dan pengaruh media sosial terhadap gaya hidup Gen Z.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa aktivitas seperti liburan singkat, self-care, hingga nongkrong di tempat yang estetik menjadi bentuk healing yang populer, terutama karena besarnya tekanan akademik, tuntutan karier, arus informasi yang terus-menerus. Meski bisa membantu untuk meredakan stres, healing terkadang hanya menjadi cara menghindar dari masalah yang belum terselesaikan.
Secara keseluruhan budaya healing dapat mendukung kesehatan mental Gen Z, namun manfaat jangka panjangnya tetap bergantung pada kemampuan refleksi dan pengolahan diri.
Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, topik healing jadi salah satu hal yang ramai dibicarakan di kalangan Gen Z. Hal ini terlihat dari banyaknya konten self-care, solo date, sampai kutipan motivasi yang berseliweran di media sosial.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja karena Gen Z hidup di lingkungan yang serba cepat, mulai dari perkembangan teknologi, tekanan sekolah, maupun pekerjaan, hingga tuntutan sosial yang semakin tinggi. Dengan kondisi tersebut, Gen Z merasa lebih rentan mengalami stres, kecemasan, overthinking, dan capek secara emosional.
Baca juga: Tips Hidup Tenang dan Bahagia: Rahasia Menemukan Kedamaian di Kehidupan Modern
Di dunia pendidikan pun banyak yang mulai kehilangan motivasi belajar. Belum lagi paparan media sosial yang terus menerus menampilkan gaya hidup yang serba “sempurna”, yang sering membuat anak muda merasa kurang, tertinggal, atau tidak cukup baik.
Dari situ, tidak heran jika banyak dari mereka akhirnya mencari cara untuk menenangkan diri, salah satunya lewat healing. Tapi, populernya healing juga membuat dilema. Untuk sebagian orang, healing memang jadi kebutuhan supaya tetap waras dan stabis secara mental. Namun ada juga yang memakai alasan healing untuk menghindari tanggung jawab, jadi konsumtif, atau cuma ikut-ikutan tren tanpa tahu maknanya sendiri.
Akhirnya muncul pertanyaan “apakah healing bermanfaat, atau jangan-jangan cuma jadi pelarian sesaat?”. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini bertujuan membahas bagaimana budaya healing berkembang di kalangan Gen Z, apa yang sebenarnya mereka cari dari aktivitas tersebut, serta seberapa jauh healing bisa membantu mengatasi tekanan yang mereka hadapi.
Pembahasan
Menrut kompas.com (2024), healing bagi Gen Z tidak hanya sekadar berlibur atau menghabiskan waktu di tempat yang tenang, melainkan merupakan proses pemulihan kondisi mental, emosional, dan energi diri setelah menghadapi berbagai tekanan hidup. Generasi ini tumbuh di era digital yang serba cepat, penuh tunutan akademik, sosial dan produktivitas.
Healing menjadi cara Gen Z menemukan kembali keseimbangan diri dan memberi ruang untuk mengenal diri lebih dalam. Aktivitas seperti journaling, meditasi, self-care, atau sekedar me-time dianggap penting untuk memproses emosi memahami perasaan.
Hal ini menunjukkan bahwa healing bukan aktivitas fisik, tetapi juga proses internal untuk mengatur pikiran dan perasaan (Kompas.com, 2024).
Media sosial juga berperan besar dalam membentuk makna healing. Banyak Gen Z melihat healing sebagai bagian dari gaya hidup yang menekankan pentingnya kesehatan mental, dengan konten “self-love”, “self life”, dan “mental health awareness”, yang membuat mereka lebih berani untuk mengakui kebutuhan emosional. Namun, sisi negatifnya, healing sering dipahami sebagai aktivitas yang harus estetik dan layak dipamerkan di media sosial (Gayatrendi.com, 2025).
Faktor Penyebab Maraknya Budaya Healing
1. Tekanan Akademik dan Karir
Banyak Gen Z mengalami stres dan bornout akibat tuntutan sekolah, kuliah, atau perkerjaan.
2. Paparan Media Sosial dan Perbandingan Sosial
Media sosial memicu persaingan kurang dan insecure sehingga healing dipandang sebagai cara untuk meredakan emosi negatif.
3. Kesadaran akan Kesehatan Mental Meningkat
Generasi ini lebih terbuka melakukan self-care dan mencari bantuan profesional jika dibutuhkan.
4. Tidakpastian Ekonomi dan Tekanan Hidup Modern
Budaya “hustle” dan distraksi digital membuat mereka cepat merasa lelah mental, sehingga healing menjadi strategi coping.
Bentuk-bentuk Aktivitas Healing Gen Z
1. Self-care dan Me-time
Mandi dengan ritual perawaran, skincare, tidur cukup, atau seledar beristirhat. (Kompas.com, 2024)
3. Bed-rotting atau Rebahan Total
Rebahan, scroll media sosisl, menonton, atau tidur seharian sebagai cara “riset” pikiran.
3. Healing lewat Alam, Wisata, atau Kafe Estetik
Jalan kaki, hiking, piknik, staycation, atau nongkrong di tempat nyaman untuk recharge mental.
4. Kegiatan kreatif atau Ekspresi Diri
Seni, musik, journaling, meditasi sebagai cara memproses emosi dan mengekspresikan diri.
5. Self-love dan refleksi diri
Fokus mencintai diri sendiri, menikmati waktu sendiri, atau healing emosional/spiritual.
Dampak Positif Budaya Healing
1. Meningkatkan Kesadaran akan Kesehatan Mental
Gen Z lebih berani bicara soal stres, burnout, dan toxic environment.
2. Mengurangi Stres dan Kecemasan
Aktivitas seperti self-care, journaling, meditasi, dan me-time terbukti menurunkan stres.
Baca juga: Ketika Menulis Menjauhkan: Dampak Emotional Journaling terhadap Kecenderungan Menyendiri
3. Mempelajari Cara Mencintai dan Memahami Diri
Melalui refleksi diri, solo date, dan spiritualitas, Gen Z jadi lebih percaya diri dan mengenal kebutuhan diri.
4. Regenerasi energi
Healing menjadi waktu recharge untuk kembali fokus dan stabil secara emosional.
5. Menghindari Lingkungan Tidak Sehat
Gen Z bisa keluar dari hubungan toxic atau pertemanan tidak suportif. ([Floresnews.id, 2024)
Simpulan
Budaya healing di kalangan Gen Z muncul sebagai respons terhadap tekanan hidup modern, mulai dari tuntutan akademik, karir, hingga paparan media sosial yang terus-menerus.
Aktivitas healing, mulai dari self-care, me-time, rebahan, hingga ekplorasi kreatif atau malam membantu mereka meredakan stres, mengenal diri, dan menjaga keseimbangan mental. Namun, popularitas healing juga berpotensi berubah menjadi tren sosial yang menekankan estetika atau konsumtif, sehingga tidak selalu menyelesaikan masalah secara mendalam.
Healing bagi Gen Z sebaiknya dipahami sebagai proses refleksi dan pemulihan diri yang nyata, bukan sekedar aktivitas untuk tampil atau ikut tren. Manfaat jangka panjang budaya healing tergantung pada kesadaran diri, refleksi, dan pengelolaan emosi yang konsisten.
Gen Z perlu menyeimbangkam praktik healing dengan penyelesaian masalah dan tanggungjawab sehari-hari, serta mengedepankan kesehatan mental yang autentik dibanding sekedar penampilan atau validasi sosial.
Referensi
Agustin, A. S., Muthmainnah, K., & Winaya, N. S. (2022/2023). Makna “Healing” dalam Budaya Pop Milenial dan Gen Z. Karimah Tauhid, 4(8). https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i8.20193 UNIDA-JUMP
Desi Caesaria, S., & Pininta Kasih, A. (2024, 26 Februari). Mengapa Gen Z dan Milenial Suka “Healing”? Pakar Beri Penjelasan. Kompas.com. https://www.kompas.com/edu/read/2024/02/26/152205871/mengapa-gen-z-dan-milenial-suka-healing-pakar-beri-penjelasan Kompas
Matsani, A. R., Oktaviani, V. N., & Putri, S. J. (2024). Pelatihan Self care untuk Generasi Z Sebagai Upaya Meningkatkan Kesehatan Mental. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kreasi Mahasiswa Manajemen, 4(4).
Nikolas Andika. (2025, 25 Juli). Maraknya Fenomena Healing, Cerminan Kebutuhan Psikologis Generasi Muda. PorosJakarta.com. https://www.porosjakarta.com/hiburan/066347542/maraknya-fenomena-healing-cerminan-kebutuhan-psikologis-generasi-muda Poros Jakarta – Jak
Penulis: Zahra Syafira (251010201529)
Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












