Ketika Menulis Menjauhkan: Dampak Emotional Journaling terhadap Kecenderungan Menyendiri 

Emotional Journaling
Foto: Unsplash

Kesepian atau loneliness epidemic akhir-akhir ini menjadi salah satu fenomena psikologis yang sering sekali dibahas, terutama di kalangan mahasiswa dan anak muda.

Harvard University (2023) menyatakan dalam hasil survey nya bahwa lebih dari 60% individu yang berusia di rentang 18-25 tahun mengalami kesepian yang signifikan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Selain itu Katadata Insight Center (2023) juga melaporkan bahwa sekitar 45% mahasiswa di Indonesia juga mengalami hal yang sama walaupun mereka aktif secara daring.

Banyak cara yang telah dicoba untuk mengatasi masalah ini, salah satunya lewat emotional journaling yaitu kegiatan menulis ekspresif untuk meluapkan perasaan dan menenangkan diri.

Jika dipikir lebih dalam, emotional journaling bukanlah solusi yang efektif untuk mengatasi kesepian.

Aktivitas ini memang membantu seseorang mengenali emosinya, tetapi karena sifatnya terlalu individual dan tidak melibatkan interaksi sosial, teknik ini tidak mampu mengatasi kebutuhan dasar manusia akan hubungan sosial.

Oleh karena itu, menurut saya, cara yang paling tepat untuk mengurangi kesepian adalah lewat hubungan interpersonal dan komunikasi langsung dengan orang lain, bukan hanya lewat tulisan pribadi.

Secara sederhana, emotional journaling adalah kegiatan menulis tentang pengalaman dan emosi yang dirasakan seseorang.

Tujuannya tidak hanya sekadar untuk curhat, tetapi juga bisa membantu memahami diri sendiri.

Menurut Lestari Firmansyah, Pinilih, dan Amin (2023), terapi menulis atau journaling bisa membantu seseorang menyalurkan perasaan tanpa takut dihakimi, sehingga bisa menurunkan tekanan emosional.

Banyak orang merasa lebih lega setelah menulis, karena mereka bisa mengungkapkan hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung.

Selain itu, penelitian dari Offenhauser (2021) menemukan fakta bahwa self-compassion writing juga menunjukkan tentang menulis dengan rasa belas kasih terhadap diri sendiri bisa menurunkan stres dan membuat seseorang merasa lebih tenang.

Aktivitas ini sering dianggap sebagai bentuk relaksasi mental karena bisa membantu seseorang mengatur pikirannya dan melihat situasi dengan lebih jernih.

Meskipun demikian, manfaat journaling sebenarnya lebih ke arah pemahaman diri, bukan penyembuhan kesepian itu sendiri.

Kesepian terjadi karena seseorang merasa tidak terhubung dengan orang lain, dan masalah itu tidak bisa selesai hanya dengan menulis.

Dengan demikian, walaupun journaling membantu dari sisi emosional, yang tetap dibutuhkan adalah hubungan sosial yang nyata.

Berdasarkan beberapa penelitian empiris, hasilnya menunjukkan bahwa emotional journaling tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rasa kesepian.

Gazadinda, Putri, dan Maulana (2023), melakukan penelitian tentang e-journaling pada mahasiswa dan hasilnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Hanya sebagian kecil peserta yang merasa lebih baik setelah menulis, sedangkan sebagian lainnya tetap merasa kesepian seperti sebelumnya. Ini membuktikan bahwa efek journaling terhadap kesepian tergolong terbatas.

Hal yang sama juga disampaikan Offenhauser (2021). Ia menulis bahwa meskipun journaling dapat membantu seseorang merasa lebih ‘berdamai’ dengan dirinya sendiri, dampaknya hanya sementara.

Kesepian, menurutnya, lebih ke masalah sosial, jadi tidak bisa diatasi dengan aktivitas yang sifatnya individual. Bahkan, jika terlalu fokus ke journaling, seseorang bisa berpotensi semakin menarik dirinya sendiri.

Penelitian dari Aulia dan Kusumaningrum (2024) juga memperkuat temuan tersebut. Mereka menemukan bahwa ada hubungan negatif yang kuat antara keterhubungan sosial dengan tingkat kesepian pada mahasiswa.

Artinya, semakin sering seseorang berinteraksi dan punya hubungan sosial yang baik, semakin kecil kemungkinan dia akan merasa kesepian.

Dengan demikian, kesepian bukan hanya soal perasaan dalam diri, tetapi lebih ke soal seberapa dekat seseorang dengan lingkungan sosialnya.

Kesepian sebenarnya bukan hal yang bisa diatasi sendirian. Hal ini disebabkan oleh kurangnya hubungan sosial.

Menurut Hidayah dan Firdhausy (2025), komunikasi interpersonal memiliki peran yang cukup besar dalam membantu mahasiswa perantau menghadapi rasa sepi dan keterasingan.

Lewat komunikasi yang terbuka dan empatik, seseorang bisa merasa lebih diterima, dimengerti, dan akhirnya lebih tenang.

Selain itu, teori komunikasi interpersonal dari Gudykunst (2005, dikutip dalam Hidayah & Firdhausy, 2025) juga menjelaskan bahwa interaksi sosial bisa mengurangi rasa cemas dan ketidakpastian ketika seseorang berada di lingkungan baru.

Ini artinya, berinteraksi langsung dengan orang lain, entah lewat percakapan, kegiatan sosial, atau dukungan teman, memiliki dampak nyata terhadap perasaan kesepian.

Jadi, emotional journaling memang bisa dijadikan media refleksi, tetapi bukanlah solusi utama.

Hubungan sosial yang sehat, komunikasi yang terbuka, dan adanya dukungan dari orang lain tetap jauh lebih efektif dalam mengurangi rasa sepi.

Journaling hanya bisa membantu sebagai pelengkap, bukan pengganti interaksi manusia yang sebenarnya.

Kesimpulan

Emotional journaling memang memiliki banyak manfaat dalam pengelolaan emosi dan refleksi diri, tetapi tidak cukup kuat untuk mengatasi kesepian.

Kesepian bukan hanya tentang bagaimana seseorang mengatur perasaannya, melainkan tentang bagaimana ia terhubung dengan orang lain di sekitarnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa efek journaling terhadap kesepian cenderung kecil dan sementara.

Sebaliknya, komunikasi interpersonal dan dukungan sosial terbukti lebih efektif dalam membantu seseorang keluar dari rasa sepi.

Oleh karena itu, emotional journaling sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan solusi utama dalam mengatasi kesepian.

 

Penulis:
1. Zuleika Calosa Putri
2. Ariqah Akbari
3. Carissa Bianca Harefa
4. Nur Muhammad Khoir
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi

 

Daftar Pustaka

Aulia, P. O., & Kusumaningrum, F. A. (2024). Hubungan keterhubungan sosial dan kesepian pada dewasa muda. Journal of Lifespan Development, 2(3), 140–148.

Gazadinda, R., Putri, G. W., & Maulana, H. (2023). Reducing loneliness in undergraduate students through e-journaling intervention: A pre-experimental study. Bulletin of Counseling and Psychotherapy, 5(1), 58–60. https://doi.org/10.51214/bocp.v5i1.448

Harvard University. (2023). The loneliness epidemic among young adults. Retrieved from https://www.health.harvard.edu/

Hidayah, N., & Firdhausy, S. A. (2025). Eksplorasi perasaan kesepian pada mahasiswa perantau dan peran komunikasi interpersonal dalam mengatasinya. Arus Jurnal Sosial dan Humaniora, 5(2), 3270–3280.

Katadata Insight Center. (2023). Survei tingkat kesepian mahasiswa Indonesia. Retrieved from https://katadata.co.id

Lestari Firmansyah, D. A., Pinilih, S. S., & Amin, M. K. (2023). Journaling therapy for patients with social isolation. Innovation in Health for Society, 3(1), 23–26.

Offenhauser, B. R. (2021). Can a self-compassion writing intervention impact feelings of loneliness? Macalester College Psychology Honors Projects, 49.

World Health Organization. (2024). Report on global loneliness and mental health. WHO.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses