Di sebuah pertandingan basket tingkat SMA, suara peluit akhir belum terdengar, dan detik-detik tambahan waktu menjadi momen paling tegang yang pernah saya alami.
Seorang lawan tiba-tiba terjatuh, cedera cukup parah. Namun bola sudah di tangan saya. Naluri pemain mengambil alih—saya menembak. Bola masuk. Kami menang.
Sorak penonton menggema, tapi di dalam dada saya justru ada ruang kosong yang aneh: apakah ini kemenangan sejati, atau justru kehilangan sesuatu yang lebih penting?
Pertanyaan itu menempel lama, dan akhirnya menuntun saya pada renungan filosofis: apakah mengejar kemenangan dalam olahraga membuat kita kehilangan makna sejatinya?
Dalam pencarian jawaban, saya menemukan beberapa pemikiran yang memberi arah.
Johan Huizinga, dalam Homo Ludens, mengatakan bahwa esensi permainan adalah “play”—kebebasan, sukacita, dan spontanitas.
Olahraga, dalam pengertian awalnya, adalah perayaan tubuh dan semangat manusia. Namun, di tengah sistem modern yang penuh target dan sponsor, apakah suasana “bermain” itu masih tersisa?
Bernard Suits menambahkan konsep lusory attitude—sikap sukarela menerima aturan permainan yang justru membuat tujuan jadi lebih sulit, dan di situlah maknanya muncul.
Dalam kerangka ini, kemenangan bukan dosa; justru bagian sah dari permainan selama kita menghormati aturan dan nilai sportivitasnya.
Tapi Suits juga memberi peringatan: jika permainan hanya dijalani demi hasil eksternal—medali, prestise, uang—maka sikap “bermain” berubah menjadi “bekerja”. Permainan kehilangan jiwa.
Maurice Merleau-Ponty membawa saya masuk ke pengalaman tubuh: bagaimana tubuh bukan sekadar mesin, tetapi sarana merasakan dunia.
Saat saya menembak bola di tengah lawan yang cedera, tubuh saya tak hanya melakukan tindakan fisik, tapi juga “merasakan” dilema moral. Setelah pertandingan, tubuh yang sama menanggung beban rasa bersalah dan simpati.
Dari situ saya sadar, olahraga adalah juga pengalaman etis—ia mengajarkan empati, bukan hanya efisiensi gerak.
Baca Juga: Makna Olahraga dan Makna Berproses
Aristoteles lewat etika kebajikan berbicara tentang aretê—keunggulan karakter yang dibangun dari kebiasaan baik.
Dalam olahraga, kemenangan seharusnya menjadi hasil dari proses pembentukan karakter: keberanian, keadilan, pengendalian diri.
Jika kemenangan justru menyingkirkan nilai-nilai itu, maka yang menang bukan lagi manusia yang utuh, melainkan sekadar mesin prestasi.
Namun refleksi ini tidak berhenti pada diri sendiri. Jay Coakley dan Ronal Ridhoi menulis tentang bagaimana dunia olahraga modern terjebak dalam pusaran komersialisasi dan pragmatisme.
Kemenangan kini bukan hanya soal skor, tetapi juga tentang kontrak, peringkat, dan politik kebijakan.
Bahkan, sejarah olahraga menunjukkan bahwa transformasi maknanya bukan sesuatu yang alami—melainkan hasil pilihan sosial dan ekonomi.
Artinya, makna sejati olahraga masih bisa direbut kembali, jika kita berani menata ulang nilai-nilai dasarnya.
Dari semua pemikiran itu, saya tiba pada kesimpulan sederhana namun dalam: mengejar kemenangan tidaklah salah, tetapi ketika kemenangan menjadi satu-satunya tujuan, kita kehilangan arah.
Olahraga menjadi hidup justru karena mengandung keseimbangan antara tubuh, permainan, dan kebajikan.
Baca Juga: Pelatih sebagai Simbol Kekuasaan: Membongkar Ideologi dan Ketimpangan dalam Dunia Olahraga
Menang itu penting, tapi lebih penting lagi adalah bagaimana kita menang—dengan menghormati aturan, lawan, dan diri sendiri.
Kini, setiap kali saya memegang bola, saya ingat pelajaran itu. Olahraga bukan sekadar tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan tubuh dan hati manusia dalam menemukan harmoni antara ambisi dan empati.
Dalam setiap pertandingan, kita sebenarnya sedang berlatih menjadi manusia—bukan hanya atlet yang tangguh, tapi juga pribadi yang tahu kapan harus berlari, berhenti, dan peduli.
Penulis: Arif Widatama (240631602805)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
- Huizinga, Johan. Homo Ludens: A Study of the Play-Element in Culture (2016).
- Maurice. Phenomenology of Perception (2018).
- Coakley, Jay. Sports in Society: Issues and Controversies. (2014).
- Wray Vamplew. “Sports History Methodology: Old and New.” The International Journal of the History of Sport (2018).
- Ridhoi, Ronal. “Apa Guna Sejarah bagi Ilmu Olahraga?” dalam Bunga Rampai Memikirkan Olahraga (Seri 1). (analisis konteks Indonesia & kritik pragmatisme olahraga).
- Widatama, A. (dokumen esai tugas—pengalaman personal) (2025).
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













