Antara Semangat dan Keterbatasan Olahraga Futsal 

futsal sma
Foto: Dok. MMI

Olahraga tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mengajarkan cara manusia memahami perjuangan, kerja sama, dan arti keteguhan hati.

Bagi saya, futsal adalah ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana seseorang tumbuh dari pengalaman, termasuk dari hal-hal yang tidak selalu menyenangkan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ketika saya duduk di bangku SMA, saya mengikuti ekstrakurikuler futsal. Setiap tahun, atau hampir setiap 3–5 bulan sekali, biasanya ada berbagai kejuaraan futsal tingkat SMA/SMK, salah satunya seperti yang sering diadakan oleh Unesa.

Kejuaraan tersebut biasanya diikuti oleh lebih dari 30 sekolah di daerah bojonegoro. Dari kegiatan itu, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga.

Saya dan teman-teman satu tim selalu berjuang bersama, bahkan harus berangkat sendiri dari sekolah menuju tempat pertandingan yang biasanya diadakan di GOR Bojonegoro, yang jaraknya kurang lebih 40 km dari sekolah.

Kami berangkat tanpa bantuan fasilitas transportasi dari sekolah, sehingga semua diusahakan sendiri.

Dalam hal perizinan pun, kami sering dipersulit atau disepelekan oleh beberapa guru mata pelajaran terutama guru yang bukan dari bidang olahraga.

Baca Juga: Makna Olahraga dan Makna Berproses

Kami sering dibanding-bandingkan dengan siswa yang tetap berada di kelas, seolah-olah mengikuti perlombaan itu tidak penting atau hanya menghambat pelajaran. 

Padahal, kami mengikuti lomba untuk membawa nama baik sekolah. Lebih jauh lagi, kami tidak pernah meminta biaya dari sekolah.

Untuk setiap pendaftaran turnamen, kami selalu iuran sendiri. Semua perlengkapan, konsumsi, hingga transportasi ditanggung bersama dari hasil patungan.

Namun ironisnya, ketika kami kalah, kami sering menjadi bahan cemoohan atau dibanding-bandingkan dengan sekolah lain yang fasilitas dan latihannya jauh lebih terfokus.

Sekolah lain bisa latihan tiga kali seminggu, sedangkan di sekolah saya hanya sekali seminggu. Fasilitas pun jauh dari memadai.

Perbedaan pembinaan ini jelas memengaruhi kualitas tim, tetapi justru kami yang sering disalahkan seolah-olah tidak cukup berusaha. Minimnya dukungan sekolah berpengaruh besar terhadap motivasi dan performa tim.

Baca Juga: Pelatih sebagai Simbol Kekuasaan: Membongkar Ideologi dan Ketimpangan dalam Dunia Olahraga

Tanpa fasilitas latihan yang memadai, jadwal latihan yang teratur, atau dukungan moral dari guru, siswa akan kehilangan semangat untuk berkembang.

Ketika semua biaya harus ditanggung sendiri, siswa merasa perjuangannya tidak dianggap penting.

Dalam olahraga, performa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik, tetapi juga oleh suasana batin.

Motivasi, kepercayaan diri, dan rasa dihargai adalah bagian penting dari kesiapan mental. Jika sekolah tidak hadir sebagai pendukung, maka mental bertanding ikut melemah. 

Akibatnya, tim masuk ke pertandingan dengan persiapan yang jauh di bawah standar, sehingga peluang untuk menang semakin kecil.

Dari sisi pembinaan, latihan sekali seminggu tidak dapat disetarakan dengan sekolah lain yang memiliki pembinaan intensif.

Ini menunjukkan bahwa hasil pertandingan bukan sepenuhnya salah tim, tetapi lebih kepada kurangnya sistem pendukung dari sekolah.

Baca Juga: Adakah Keadilan dan Kemanusiaan di Dunia Atlet Olahraga?

Cemoohan muncul karena banyak orang hanya melihat hasil, bukan proses. Mereka tidak mengetahui bagaimana tim berjuang dari awal berlatih seadanya, mengeluarkan biaya sendiri, hingga menghadapi berbagai hambatan perizinan.

Ketika kalah, mereka mengabaikan kenyataan bahwa persiapan tim kami jauh dari ideal. Cemoohan juga muncul karena budaya membandingkan.

Sekolah lain dianggap sebagai standar, padahal kondisi mereka tidak bisa disamakan.

Mereka memiliki fasilitas lengkap, pelatih profesional, dan dukungan penuh dari sekolah. Sementara kami berjuang dengan kondisi serba terbatas.

Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya orang menyalahkan tanpa memahami konteks.

Kekalahan dianggap tanda kurangnya usaha, bukan akibat dari minimnya dukungan struktural. Dari perjalanan ini, saya memahami bahwa futsal memberikan banyak pelajaran hidup.

Futsal mengajarkan tentang kemandirian, karena kami harus mengatur sendiri biaya dan persiapan. Futsal mengajarkan keberanian, karena kami tetap bertanding meski kurang dihargai.

Futsal mengajarkan keteguhan hati, karena kami harus menahan rasa sakit ketika kalah dan dicemooh.

Lebih dari itu, futsal menunjukkan bahwa setiap manusia membutuhkan pengakuan.

Dukungan moral dan fasilitas bukan hanya membantu prestasi olahraga, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan martabat seorang siswa.

Olahraga menjadi bermakna ketika dihargai sebagai proses, bukan hanya sebagai hasil.

Baca Juga: Olahraga dan Penguatan Kepercayaan Diri Atlet

Berdasarkan pengalaman pribadi dan analisis terhadap rumusan masalah, dapat disimpulkan bahwa kurangnya dukungan sekolah berdampak serius terhadap motivasi dan performa tim futsal.

Tanpa fasilitas dan pembinaan yang layak, siswa tidak dapat berkembang secara optimal.

Sementara itu, cemoohan yang muncul saat tim kalah adalah hasil dari cara pandang yang tidak menghargai proses perjuangan.

Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kegiatan olahraga, bukan hanya menuntut prestasi tanpa menyediakan dukungan.

Futsal, seperti olahraga lainnya, memiliki makna yang penting dalam kehidupan manusia mengajarkan tentang kerja keras, keteguhan hati, dan pentingnya penghargaan terhadap usaha.

Dengan dukungan yang tepat, olahraga dapat menjadi sarana membentuk karakter siswa sekaligus membangun budaya sekolah yang lebih adil dan menghargai setiap perjuangan.


Penulis: Dwi Putri Anggraeni Fatmawati
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang


Dosen Pengampu: Nurrul Riyadi Fadhli


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka 

Prasetiyo, R., & Yunarta, A. (2023). Pengaruh dukungan sosial terhadap motivasi berprestasi akademik dan olahraga pada atlet. Jurnal Porkes, 6(1), 177–188. https://doi.org/10.29408/porkes.v6i1.5713 

Aufa, I. (2019). Hubungan antara kecerdasan emosi dengan kecemasan pada pemain futsal UNY saat menghadapi pertandingan.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses