Bagi sebagian orang, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sudah menghadirkan tantangan tersendiri. Perkuliahan, organisasi, penelitian, hingga berbagai kompetisi kerap membuat waktu terasa sempit.
Namun, tantangan tersebut menjadi berlipat ketika seseorang juga hidup sebagai santri yang terikat dengan ritme kehidupan pesantren, mulai dari jadwal mengaji hingga aturan kedisiplinan yang tidak dapat ditawar.
Di tengah dua ekosistem yang sering dianggap berjalan dengan ritme berbeda itulah Mohammad Ali Fikri (Fikri) memulai perjalanannya.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang sekaligus santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang itu menunjukkan bahwa kehidupan pesantren tidak menjadi batas bagi seseorang untuk berkembang di ruang-ruang akademik maupun profesional. Justru dari pesantren, ia memperoleh fondasi karakter yang mengiringi setiap pencapaian yang diraihnya.
Pada 2026, Fikri dipercaya menjadi Mahasiswa Berprestasi III Program Sarjana Tingkat Universitas Negeri Malang sekaligus Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Ilmu Sosial.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu capaian penting dari perjalanan panjang yang dibangun melalui penelitian, publikasi ilmiah, kompetisi nasional, pengabdian masyarakat, organisasi, hingga pengalaman profesional di kancah internasional.
Meski demikian, ia memandang penghargaan tersebut bukan sebagai garis akhir.
“Bagi saya, menjadi mawapres adalah sebuah milestone, bukan destination. Ini bukan tentang berhenti pada satu pencapaian, tetapi bagaimana saya terus menjaga rasa ingin tahu, terus berkembang, dan membawa nilai yang saya pelajari ke ruang yang lebih luas,” ujarnya.
Tumbuh dari Dua Ruang Pembelajaran
Fikri menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang terus belajar menemukan ruang untuk berkembang. Kampus dan pesantren menjadi dua lingkungan yang sama-sama membentuk cara berpikirnya, meski dengan karakter pembelajaran yang berbeda.
Menurutnya, dunia akademik mengajarkan cara berpikir kritis, sistematis, dan analitis dalam melihat berbagai persoalan. Sebaliknya, pesantren menghadirkan pelajaran mengenai kesederhanaan, kedekatan kepada Tuhan, serta pentingnya menjaga adab dalam setiap proses pencarian ilmu.
Perjumpaan dua lingkungan tersebut membuatnya memahami bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya prestasi yang dikumpulkan. Nilai-nilai yang menyertai setiap proses justru menjadi fondasi yang menentukan bagaimana seseorang mengambil peran di tengah masyarakat.
“Dari dua ruang tersebut saya memahami bahwa perjalanan seseorang tidak hanya dibentuk oleh apa yang berhasil dicapai, tetapi juga oleh nilai yang ia pegang,” tukasnya.
Jalan Panjang yang Penuh Evaluasi
Beragam prestasi yang kini melekat pada dirinya bukanlah hasil dari perjalanan yang selalu mulus. Fikri mengaku berkali-kali mengalami kegagalan dalam berbagai kesempatan.
Ia pernah mengikuti kompetisi tanpa membawa pulang kemenangan. Proposal penelitian yang diajukan juga tidak selalu memperoleh hasil sesuai harapan. Berbagai penolakan tersebut justru menjadi ruang evaluasi yang perlahan membentuk kemampuannya.
Baginya, setiap kegagalan menyimpan pelajaran yang tidak bisa diperoleh ketika seseorang hanya menikmati keberhasilan.
Kesadaran itulah yang kemudian mendorongnya memperluas ruang belajar melalui berbagai aktivitas. Ia aktif dalam penelitian, publikasi ilmiah, organisasi kemahasiswaan, pengabdian kepada masyarakat, hingga membangun pengalaman lintas negara.
Perjalanan tersebut membuka banyak kesempatan. Fikri terlibat sebagai asisten peneliti, mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), mengelola kampanye digital pada organisasi internasional, hingga mengikuti berbagai program akademik dan profesional di Jepang.
Baginya, setiap kesempatan merupakan ruang belajar baru yang memperkaya perspektif sekaligus mengasah kemampuan untuk berkontribusi lebih luas.
Mengembangkan Gagasan melalui Komunikasi Strategis
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika berhasil meraih Top Award dalam kompetisi nasional Campaign Nation Branding.
Kompetisi tersebut mengangkat tema mengenai pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan mendorong partisipasi dan dukungan masyarakat melalui strategi komunikasi publik.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan ketertarikannya pada bidang komunikasi strategis, khususnya bagaimana sebuah pesan dapat dirancang untuk menghasilkan perubahan sosial.
Ketertarikan tersebut juga tercermin dalam gagasan kampanye bertajuk Kayutangan Beyond Ordinary yang dikembangkannya berdasarkan hasil riset mengenai kawasan heritage Kayutangan di Kota Malang.
Riset yang dilakukannya menemukan adanya jarak antara citra Kayutangan sebagai kawasan bersejarah dengan pengalaman yang benar-benar dirasakan oleh para pengunjung.
Menurut Fikri, kawasan tersebut sesungguhnya telah memiliki identitas yang kuat. Tantangan utamanya terletak pada bagaimana nilai sejarah itu dikomunikasikan menjadi pengalaman yang lebih bermakna sehingga masyarakat tidak sekadar datang menikmati kawasan, tetapi juga memahami cerita yang membentuk identitasnya.
Melalui pendekatan komunikasi berbasis storytelling, ia berupaya membangun narasi yang mampu menghidupkan kembali makna kawasan heritage sekaligus membuatnya tetap relevan bagi generasi saat ini.
Gagasan tersebut juga sejalan dengan semangat kampanye nasional Wonderful Indonesia: Go Beyond Ordinary yang mendorong pengenalan destinasi melalui pengalaman yang lebih mendalam.
Mengelola Waktu di Tengah Dua Dunia
Kesibukan sebagai mahasiswa sekaligus santri tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Jadwal kuliah, penelitian, organisasi, perlombaan, hingga aktivitas pesantren harus berjalan beriringan dengan disiplin yang tinggi.
Fikri mengakui bahwa rasa lelah merupakan hal yang tidak dapat dihindari, terutama ketika berbagai tanggung jawab datang pada waktu yang bersamaan.
“Tantangannya memang cukup besar, terutama karena saya menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus santri yang tinggal di pondok dengan aturan khusus, salah satunya jam malam,” keluh Fikri.
Kondisi tersebut membuatnya tidak memiliki banyak ruang untuk menunda pekerjaan. Karena itu, ia mulai membangun kebiasaan menyusun daily plan, menentukan skala prioritas, serta memanfaatkan waktu-waktu kecil yang sering diabaikan banyak orang.
Jeda setelah perkuliahan maupun waktu sebelum kegiatan pondok dimanfaatkannya untuk membaca literatur, menyicil proyek penelitian, maupun menyelesaikan berbagai tugas akademik.
Seiring waktu, ia juga belajar bahwa produktivitas tidak selalu berarti melakukan sebanyak mungkin pekerjaan.
“Saya pernah berada di fase ketika merasa semua kesempatan harus diambil. Tapi seiring proses, saya memahami bahwa being productive is not about doing everything, melainkan tentang knowing what truly matters dan menjalani setiap tanggung jawab dengan maksimal.”
Santri Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman
Sebagai santri yang aktif mengikuti berbagai kompetisi dan aktivitas akademik, Fikri memiliki pesan khusus bagi para santri yang masih ragu melangkah ke ruang-ruang yang lebih luas.
Menurutnya, menjadi santri bukan alasan untuk membatasi mimpi. Pengalaman hidup di pesantren justru menjadi bekal penting ketika seseorang memasuki dunia kampus, penelitian, kompetisi, maupun lingkungan profesional.
Ia mengaku pernah mengalami masa adaptasi ketika harus memasuki lingkungan baru di luar pesantren. Keraguan sempat muncul mengenai apakah bekal yang dimiliki sudah cukup untuk bersaing.
Baca Juga: Pesantren di Bandung Al Ma’soem: Sekolahnya Santri Berakal, Berakhlak, dan Berbudi Pekerti
Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya menyadari bahwa nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren menjadi kekuatan utama ketika berhadapan dengan tantangan di luar.
Karena itu, ia mendorong para santri agar tidak menunggu merasa benar-benar siap sebelum mencoba berbagai kesempatan.
“Berani ikut lomba, belajar hal baru, membangun kemampuan, memperluas relasi, atau mencoba bidang yang sebelumnya belum pernah kita sentuh. Karena sering kali kesempatan besar datang setelah kita berani mengambil langkah pertama.”
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa prestasi tidak boleh membuat seseorang kehilangan nilai yang sejak awal membentuk dirinya.
“Bagi saya, achievement is not only about how far we go, tetapi juga bagaimana kita tetap membawa adab, rendah hati, dan nilai kebaikan dalam setiap perjalanan.”
Kompetensi dan Karakter
Di tengah semakin banyaknya santri yang tampil dalam bidang akademik, teknologi, bisnis, maupun gerakan sosial, Fikri melihat hadirnya optimisme baru mengenai peran pesantren dalam membentuk generasi masa depan.
Menurutnya, santri memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada kemampuan akademik, tetapi juga pada fondasi karakter yang dibangun melalui pendidikan pesantren.
Karena itu, ia memandang santri berprestasi sebagai sosok yang mampu memadukan kompetensi dengan karakter.
“For me, being a high-achieving santri is about combining competence and character. Kemampuan yang kita miliki perlu berjalan bersama dengan cara kita bersikap dan membawa diri.”
Ia berharap semakin banyak santri berani mengambil peran di berbagai sektor kehidupan. Bukan untuk membuktikan bahwa santri mampu bersaing belaka, melainkan karena mereka memiliki kapasitas untuk menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Bagi Fikri, prestasi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Nilai-nilai yang dibawa dari pesantren tetap menjadi fondasi utama ketika seseorang melangkah menuju ruang yang lebih luas.
Di tengah berbagai perubahan zaman, kisahnya menjadi pengingat bahwa dunia kampus dan pesantren bukanlah dua ekosistem yang saling bertentangan.
Keduanya dapat bertemu dalam diri seorang pembelajar yang terus bertumbuh—seseorang yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan, karakter, dan kebermanfaatan adalah tiga hal yang harus berjalan beriringan.
Penulis: Muhammad Ariby Zahron, S.S.
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM)
Aktif juga sebagai peneliti dan perawat Media Pondok Jatim
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













