Makna Olahraga dan Makna Berproses

makna olahraga
Makna Olahraga dan Makna Berproses. Sumber: MMI.

Saat mendengar kata “atlet” apa yang terlintas dibenakmu? pengakuan dunia, sorak sorai penonton, atau bahkan medali yang diraih? Dalam lanskap olahraga yang kompetitif dan didominasi oleh citra prestasi serta pengakuan sering kali dianggap puncak pencapaian.

Akan tetapi apakah pangakuan dan penilaian kita terhadap seorang atlet hanya dilihat dari prestasi yang mereka raih? dan apakah pengukuran ini merupakan satu-satunya tolak ukur yang relevan?.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pagi itu dengan cahaya matahari menyusup ke celah jendela kamar, saya terbangun dari mimpi yang dulu saya harapkan akan selalu sama. Merah putih berkibar dipuncak podium teratas dan irama Indonesia raya memenuhi langit.

Inilah mimpi saya yang begitu sering dipaksakan tanpa berhak merenungi “worth fighting for” arti seorang atlet hanya sebatas pencapaian atau hasil akhir (gelar juara)?

Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang, pertanyaan itu tak pernah berhenti mengusik saya. Bersamaan dengan pengalaman pribadi sebagai atlet daerah, semakin hari saya semakin bersalah merenung signifikansi olahraga manusia sejati.

Di saat itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) saya masih ingat betul, saat awal-awal menekuni dunia atletik. Cabor atletik sendiri memiliki banyak nomor, dari nomor lari, lempar, lompat, dan jalan. Nomor yang saya tekuni yaitu nomor lari cepat.

Semangat saya berkobar saat itu, setiap harinya latihan dilapangan yang jauh dari kata ideal dan fasilitas kurang memadai. Hanya berbekal tekad serta dukungan dari pelatih yang juga berjuang dengan segala keterbatasan.

Pada saat saya mengikuti ajang perlombaan PORSENI saya dapat meraih prestasi juara 1 di tingkat kabupaten, tetapi pencapaian di tingkat kabupaten seperti tidak bermakna karena tidak ada apresiasi dari lingkungan latihan.

Pada saat saya mewakili kabupaten ke tingkat provinsi saya hanya bisa meraih harapan satu dan tidak mendapatkan medali.

Saat saya pulang dari mewakili kabupaten dalam ajang perlombaan PORSENI, banyak pertanyaan dari pelatih  “menang ga?” saya menjawab “tidak pak” lalu pelatih berkomentar sinis “ah kalah mulu di tingkat provinsi, kapan menangnya” serta pandangan yang meremehkan membuat saya berpikir saya seperti atlet gagal karena belum meraih level provinsi dan nasional.

Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan berbagai pertanyaan “kapan ikut porprov?” dan “sudah pernah ikut kejurnas belum?”.

Pertanyaan itu bagaikan anak panah yang menghunjam jantung, membuat saya merasa kecil, dan tidak bermental juara. Karena itu pula kepercayaan diri saya terkikis, semangat berlatih menurun, dan jiwa juang perlahan meredup.

Baca Juga: Pelatih sebagai Simbol Kekuasaan: Membongkar Ideologi dan Ketimpangan dalam Dunia Olahraga

Di tengah gelap malam yang sunyi diiringi pikiran saya yang penuh tanda tanya, saya mulai mempertanyakan sistem penilaian dalam dunia olahraga. Apakah benar, olahraga hanya berfokus pada hasil akhir? Apakah perjuangan seorang atlet, pegorbanan, waktu dan energi, dedikasi, dan sportivitas tidak mempunyai arti?

Saya teringat akan pernyataan Alan G. Ingham, seorang ahli sosiologi olahraga yang berpendapat bahwa olahraga sering kali mencerminkan struktur kekuasaan dalam masyarakat.

Di mana atlet yang berkompetisi di tingkat tinggi cenderung lebih dihargai dari pada mereka yang berjuang di tingkat lokal. Apakah ini merupakan nilai seorang atlet hanya dilihat dari seberapa tinggi tingkat kompetisi yang mereka ikuti dan mereka raih?

Makna Olahraga Atletik dan Esensi dari Sebuah Proses

Seorang atlet sering kali hanya dilihat dari sisi kemenangan dan perolehan medali saja. Padahal, nilai sesungguhnya terletak pada bagaimana seorang atlet dibentuk.

Di tengah pandangan yang cenderung menilai atlet dari hasil akhir kompetisi semata, penting untuk menggali lebih dalam makna dari sebuah proses dalam olahraga, serta bagaimana lingkungan latihan mempengaruhi kondisi mental atlet. Kedua aspek ini adalah fondasi utama dalam membentuk atlet yang utuh.

Nilai Sebuah Proses dalam Atletik: Lebih dari Sekadar Kemenangan

Sering kali seorang atlet dinilai hanya dari seberapa banyak kemenangan yang telah diraih. Hal ini menciptakan tekanan yang besar dan melupakan fakta bahwa proses pembentukan diri seorang atlet adalah bagian terpenting dari perjalanan mereka.

Esensi dari sebuah proses dalam atletik adalah pertumbuhan yang terjadi secara fisik, mental, dan emosional selama latihan dan kompetisi.

Dalam proses ini, atlet belajar tentang arti kerja keras, komitmen, dedikasi, dan ketahanan. Cotohnya, seorang pelari marathon tidak hanya menguatkan fisiknya untuk menempuh jarak jauh, tetapi juga melatih mentalnya untuk tetap fokus meski dalam kondisi lelah.

Setiap sesi latihan yang dilalui, setiap kesalahan diperbaiki, dan setiap tantangan yang dihadapi adalah Langkah penting dalam membentuk karakter seorang atlet.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam riset tentang pembinaan atlet secara holistik, proses ini tidak hanya meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, sportivitas, dan tanggung jawab yang berguna dalam kehidupan.

Kemenangan memang bisa menjadi motivasi, tetapi bukan satu-satunya tolak ukur keberhasilan. Atlet yang menghargai proses akan lebih siap menghadapi kegagalan, belajar dari pengalaman buruk, dan terus berkembang meskipun tidak selalu menjadi juara. Inilah esensi dari sebuah proses yang sering terabaikan, namun sangat penting dalam dunia olahraga.

Baca Juga: Olahraga dan Penguatan Kepercayaan Diri Atlet

Dampak Lingkungan Latihan pada Kondisi Mental Atlet

Lingkungan tempat seorang atlet berlatih memainkan peran penting dalam membentuk kesehatan mental dan performanya. lingkungan latihan yang ideal tidak hanya menyediakan fasilitas yang memadai, tetapi juga suasana sosial yang positif, dukungan dari pelatih dan rekan tim, serta faktor-faktor psikologis yang mendukung.

Fasilitas latihan yang kurang memadai, seperti kondisi lapangan yang tidak aman atau peralatan yang kurang lengkap, dapat menimbulkan tekanan psikologis dan menurunkan motivasi atlet. Selain itu, suasana sosial dalam latihan juga sangat penting, seperti dukungan dari pelatih yang suportif dan rekan tim yang saling menghargai dapat menciptakan kesejahteraan mental.

Riset menunjukkan bahwa lingkungan yang negatif, seperti kurangnya apresiasi, komentar yang merendahkan, atau tekanan berlebihan untuk menang, dapat membuat atlet merasa tidak berharga, menurunkan kepercayaan diri, dan juga mengurangi semangat berlatih.

Hal ini juga ditegaskan oleh studi yang menunjukkan bahwa hubungan antara dukungan lingkungan latihan dan kesehatan mental sangat kuat pada seorang atlet.

Bagaimana Seharusnya Kita Menilai Atlet?

Namun, bukan berarti prestasi di tingkat provinsi dan nasional tidak penting. Ajang kompetisi di tingkat tersebut memiliki arti yang signifikan, sebagai pemicu untuk meningkatkan kamampuan, tolak ukur untuk mengukur perkembangan, dan kesempatan untuk meraih pengakuan dan apresiasi.

Lalu bagaimana seharusnya kita menilai seorang atlet? Jawabannya adalah terletak pada perpaduan antara apresiasi terhadap seorang atlet yang hanya mampu meraih prestasi ditingkat lokal dan apresiasi untuk seorang atlet yang bisa mencapai level yang lebih tinggi.

Kita perlu menciptakan sistem penghargaan yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pada hasil akhir pencapaian, tetapi juga menghargai sportivitas, dedikasi. Dan juga kita perlu meningkatkan investasi di tingkat lokal dalam menyediakan fasilitas dan program latihan yang lebih baik bagi atlet daerah.

Hal ini dapat membantu memberikan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berprestasi. Menciptakan program mentorship dimana atlet-atlet yang berprestasi di tingkat provinsi maupun nasional dapat berbagi pengalaman, memberikan motivasi, dan menginspirasi atlet-atlet muda di daerah.

Baca Juga: Revitalisasi Peran Olahraga untuk Bangsa: Refleksi setelah Peringatan Hari Olahraga Nasional ke-40

Sebagai kesimpulan esai ini, saya mengajak kita-kita semua untuk mengubah cara pandang terhadap seorang atlet dengan tidak hanya menilai atlet dari pencapaiannya, pengakuan dan penilaian terhadap seorang atlet tidak dapat direduksi hanya pada prestasi tingkat tinggi saja tetapi pada tingkat lokal mereka juga berhak mendapatkan pengakuan.

Karena ini Impian saya telah berubah, bukan lagi tentang prestasi yag diraih, melainkan tentang menciptakan dunia olahraga yang lebih adil, inklusif, dan bermakna, di mana setiap atlet dihargai, diakui, dan diberi kesempatan untuk mencapai potensi terbaik mereka tanpa memandang tingkat kompetisi yang mereka ikuti.

Dengan menghargai kedua aspek ini, kita dapat menciptakan budaya olahraga yang lebih bermakna dan berkelanjutan, karena semua atlet merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik dari masing-masing indvidu.


Penulis: Sofi Auliya Balgis
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang (UM)


Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli, S.Pd., M.Or.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses