Dalam dunia olahraga, pelatih seharusnya menjadi sosok yang paling dihormati, pembimbing, motivator, dan sekaligus teladan bagi para atlet. Namun, pengalaman saya di lapangan menunjukkan bahwa kenyataannya tak seindah itu.
Di balik semangat latihan, keringat, dan disiplin, saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang pelatih bersikap pilih kasih terhadap anak didiknya. Pelatih yang lebih sering memuji satu atau dua atlet tertentu, memberi perhatian khusus pada mereka, sementara yang lain seperti tak terlihat.
Melalui esai ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang pelatih yang pilih kasih dan bagaimana filosofi yang terkandung di dalamnya membentuk sikap dan pandangan saya.
Saya mengajak pembaca untuk mengetahui bahwasanya sebagai pelatih tidak hanya fisik dan teori saja yang dikedepankan, melainkan etika juga perlu untuk membuat mental atlet semakin kuat dan meraih prestasi yang diinginkan.
Dengan adanya pelatih yang seperti itu (pilih kasih) dapat membuat masa depan atlet Indonesia semakin suram dan runyam.
Saya berpikir mungkin hal itu wajar karena setiap pelatih pasti punya anak didik favorit. Tapi semakin lama, saya menyadari bahwa perlakuan seperti itu bukan hanya soal “siapa yang disukai”, melainkan tentang ketidakadilan yang bisa merusak semangat berlatih.
Saya melihat teman-teman saya mulai kehilangan motivasi karena hal itu. Mereka jadi ragu pada kemampuan sendiri, merasa usaha mereka sia-sia karena tak pernah mendapat pengakuan. Bahkan, beberapa di antara mereka mulai jarang datang latihan.
Dari situ saya belajar bahwa perkataan dan sikap seorang pelatih bisa sangat berpengaruh terhadap psikologi atletnya.
Saya sendiri pernah berada di posisi itu berusaha sekuat tenaga, tapi tetap dianggap kurang. Rasanya sakit ketika kerja keras tidak dilihat hanya karena kita bukan “pilihan”. Dikarenakan kekurangan yang saya miliki bukan berati saya tidak berhak untuk berkembang.
Namun di sisi lain, pengalaman itu membuat saya tau tentang arti sportivitas yang sesungguhnya. Bahwa olahraga tidak hanya tentang kecepatan, kekuatan, atau kemenangan, tetapi juga tentang keadilan, penghargaan, dan kemanusiaan. Padahal, tugas seorang pelatih seharusnya membina karakter, bukan menjatuhkan.
Fenomena pelatih yang pilih kasih bagi saya mencerminkan adanya ketimpangan dalam ideologi kepelatihan. Ada semacam kekuasaan yang digunakan secara subjektif di mana nilai kedekatan pribadi lebih diprioritaskan daripada kemampuan dan usaha. Ia seharusnya menjadi sosok yang menginspirasi, bukan yang menakutkan.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa etika dalam kepelatihan sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Seorang pelatih bukan hanya bertugas membentuk fisik atlet, tapi juga membangun mental, moral, dan kepercayaan diri mereka.
Baca Juga: Analisis Framing Kepelatihan Patrick Kluivert di Timnas melalui Media Online Detik.Com
Tanpa keadilan dan empati, pembinaan hanya akan melahirkan atlet yang kaku serta kuat secara fisik, tapi rapuh secara batin.
Kini, setiap kali saya melihat sosok pelatih, saya tidak hanya menilai dari seberapa keras ia melatih, tapi dari bagaimana ia memperlakukan anak didiknya. Saya percaya, pelatih yang baik adalah mereka yang mampu memandang semua atlet dengan kasih dan keadilan yang sama.
Karena pada akhirnya, prestasi sejati bukan hanya diukur dari jumlah medali, tetapi dari seberapa banyak manusia yang berhasil ia bentuk menjadi lebih kuat dan baik secara fisik maupun hati.
Pada saat saya kelas satu SMA, saya pertamakali menginjakan kaki di gedung bulutangkis yang bertujuan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Kemudian saya dipanggil untuk menghadap ke pelatih dan diadakan sesi interview terlebih dahulu untuk menanyakan tujuan, alasan, dan lain lain.
Pada saat itu raut wajah dan nada bicara pelatih tersebut sudah sangat membuat saya merasa tidak nyaman. Salah satu kata kata yang paling saya ingat adalah “Kamu kalau mau jadi atlet, sudah tidak bisa karna umurmu sudah terlambat”.
Hal tersebut membuat saya merasa sedih dan kecewa dan membuat keinginan saya untuk berlatih menjadi hilang sepenuhnya. Karena ajakan teman, saya memutuskan untuk tetap mengikuti latihan tersebut.
Saat menjalani sesi latihan dan sparing saya tidak mendapat perhatian dari pelatih tersebut. Pelatih saya pada saat itu lebih memanggakan anak didiknya yang baru saja memperoleh juara pada perlombaan. Sebagai contohnya adalah bedanya porsi latihan, dukungan dan evaluasi saat setelah sparing.
Hal itu membuat saya dan teman saya jengkel dan iri, kami juga berhak mendapat dukungan yang sama dari seorang pelatih. Bahkan saat saya kalah dalam pertandingan, beliau hanya mengucapkan “Sudah bagus untuk atlet yang telat sepertimu”.
Hal tersebut membuat saya marah atas ketidak mampuan diri saya dan rasa kecewa terhadap pelatih yang berkata demikian. Yang saya butuhkan saat itu adalah evaluasi setelah bertanding dan pemberian masukan, bukan malah berkata seakan-akan sudah tidak dapat berkembang lagi. Saya memutuskan untuk keluar dari latihan tersebut.
Bagi saya, hal itu adalah bentuk ketimpangan yang nyata dalam dunia kepelatihan. Memang benar, faktor usia memiliki pengaruh terhadap adaptasi fisik dan teknik, tapi apakah usia benar-benar menentukan nilai seseorang?
Saya pernah melihat atlet yang memulai dari nol, tetapi karena memiliki motivasi yang tinggi, disiplin, dan semangat juang luar biasa, akhirnya mampu melampaui mereka yang sudah lebih dulu terlatih.
Dari situ saya belajar bahwa yang membedakan bukan hanya bakat atau waktu, melainkan lingkungan latihan yang adil dan pelatih yang mau percaya pada setiap potensi.
Baca Juga: Dari Ragu ke Berani: Pelatihan Self-Esteem Anggota Keputrian Karang Taruna
Ketika saya memikirkan sosok pelatih, yang terlintas di benak saya bukan hanya orang yang memegang peluit atau memberi instruksi di tepi lapangan.
Lebih dari itu, pelatih adalah figur yang memegang kekuasaan, kekuasaan untuk menentukan siapa yang layak bermain, siapa yang duduk di bangku cadangan, dan bahkan siapa yang pantas disebut “berbakat”.
Dalam posisi itu, pelatih menjadi simbol dari wajah ganda olahraga modern Indonesia: satu sisi penuh harapan dan pembinaan, namun sisi lainnya menyimpan ketimpangan yang sering disembunyikan.
Saya pernah melihat bagaimana pilih kasih bisa meruntuhkan semangat seorang atlet muda dan bagaimana dominasi tersebut dapat membuat olahraga kehilangan makna kemanusiaannya.
Dalam situasi seperti itu, pelatih tidak lagi menjadi sosok pembimbing, melainkan penguasa kecil di atas lapangan, seseorang yang lebih banyak menilai daripada memahami. Di sanalah kekuasaan bekerja secara halus, membentuk hierarki yang sulit dipertanyakan karena dianggap “ bagian dari disiplin”.
Saya percaya hakikat sejati seorang pelatih bukanlah untuk menguasai, melainkan untuk mendidik. Kekuasaan yang dimilikinya seharusnya digunakan untuk membebaskan atlet dari rasa takut, bukan menambahnya, serta kekuasaan untuk menumbuhkan keberanian, bukan menekan potensi.
Pelatih seharusnya menjadi cermin dari nilai-nilai kemanusiaan keadilan, empati, dan dialog, bukan sekadar instrumen untuk mengejar kemenangan.
Karena itu, perbaikan cara pandang terhadap pelatih bukan sekadar kebutuhan profesional, tetapi sebuah keharusan moral. Dunia olahraga harus berani menegaskan kembali prinsip bahwa latihan bukanlah arena kekuasaan, melainkan ruang tumbuh bersama.
Hanya dengan begitu, pelatih dapat kembali menjadi simbol pengetahuan, bukan dominasi menjadi sosok yang menghidupkan semangat paideia pendidikan yang memanusiakan, bukan sekadar techne, keterampilan yang dingin dan mekanis.
Saya ingin percaya bahwa olahraga Indonesia masih punya harapan. Harapan bahwa di balik setiap instruksi keras, ada niat tulus untuk membimbing bahwa di balik kekuasaan seorang pelatih, ada kesadaran untuk melayani. Karena hanya dengan kesadaran itulah, pelatih benar-benar pantas disebut pendidik bukan penguasa.
Penulis: Raditya Oktavio Ramadhani (240631606316)
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga UM
Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Farhansyah, A., Fitri, M., & Hamidi, A. (2025). Analysis of Coach’s Leadership Style on Individual Athlete Satisfaction. Jp.Jok (Jurnal Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan), 7(1), 62–70.
Indarto, A. V., Prabowo, T. A., Afifah, M., Hamzah, A. A. L., & Antoro, W. P. (2025). Coach-Athlete Intimacy Towards Athlete Psychology: A Scoping Review. Jurnal Pendidikan Jasmani (JPJ), 6(1), 108-118.
Kasyfillah, M. H., Setiawati, F. A., Nurhayati, S. R., & Herwin, H. (2024). More than Just a Coach: A Case Study of the Coach’s Role as a Provider of Social Support for Pencak Silat Athletes. Counsenesia Indonesian Journal of Guidance and Counseling, 6(1).
Yusup, N. F., Prabowo, T. A., Azhari, H., & Ari, M. A. (2025). Factors Influencing Perceptions of Sport Coach Performance: A Scoping Review. Kinestetik: Jurnal Ilmiah Pendidikan Jasmani, 9(2), 318–327.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












