Sepak bola merupakan olahraga paling populer di dunia yang juga memiliki pengaruh besar dalam konteks sosial dan budaya di Indonesia. Setiap dinamika dalam dunia sepak bola nasional, khususnya pergantian pelatih tim nasional, selalu menjadi sorotan media dan publik.
Salah satu fenomena terbaru adalah penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia menggantikan Shin Tae Yong.
Pemberitaan mengenai pergantian ini banyak dikemas oleh media, salah satunya portal berita online Detik.com, yang memiliki peran besar dalam membentuk opini publik melalui konstruksi realitas dan framing.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Detik.com membingkai pemberitaan mengenai kepelatihan Patrick Kluivert dengan menggunakan teori framing Robert Entman. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode observasi dan dokumentasi.
Data diperoleh dari teks-teks berita yang diterbitkan Detik.com terkait topik tersebut, kemudian dianalisis menggunakan model framing Pan dan Kosicki yang mencakup struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris.
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap kajian komunikasi massa, khususnya dalam memahami konstruksi realitas media dalam pemberitaan olahraga.
Manusia sejak dulu tidak terpisahkan dari olahraga, khususnya sepak bola yang menjadi cabang paling populer di dunia. Sebanyak empat miliar orang terlibat aktif dalam permainan ini, menjadikannya olahraga tim dengan penggemar terbesar secara global.
Di Indonesia, sepak bola mendominasi liputan media karena antusiasme masyarakat yang luar biasa. Survei menunjukkan 69 persen responden Indonesia menyukai sepak bola, angka tertinggi dibanding puluhan negara lain.
Hal ini terbukti dari penjualan tiket Piala Dunia U-17 mencapai 514 ribu lembar dengan rata-rata 11.600 penonton per laga, mencerminkan keterkaitan timbal balik antara sepak bola dan media.
Perkembangan sepak bola Indonesia melahirkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 1930 di Yogyakarta. PSSI berperan krusial dalam mengelola dan mengembangkan olahraga ini di tingkat lokal maupun internasional, termasuk mencari pelatih kompeten untuk Timnas.
Namun, tantangan utama adalah frekuensi pergantian pelatih yang tinggi, yang berdampak langsung pada keberhasilan tim. Pelatih bukan sekadar pengasah skill fisik, melainkan pemberi arahan, latihan, dan dukungan untuk mencapai puncak performa atlet.
Pada 2019, PSSI menunjuk Shin Tae-yong (STY), mantan pelatih Timnas Korea Selatan, sebagai pelatih utama. Meski belum meraih trofi besar, STY membawa perubahan signifikan: peringkat FIFA Indonesia naik dari 173 ke 129, runner-up Piala AFF 2020, perunggu SEA Games 2021, lolos 16 besar Piala Asia 2023, serta peringkat empat Piala Asia U-23 2024.
Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Persikabo FC Bogor Menjadi Klub Sepak Bola yang Patut Diperhitungkan
Ia juga mengantarkan Timnas ke babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, kontroversi muncul dengan pemecatannya awal 2025, digantikan Patrick Kluivert, mantan pelatih asal Belanda dengan rekam jejak di Ajax, Barcelona, dan AC Milan. Kluivert dipecat pada 16 Oktober 2025 melalui mutual termination dengan PSSI.
Fenomena ini menjadi sorotan media karena melibatkan internasionalisasi sepak bola Indonesia, strategi PSSI jangka panjang, dan ekspektasi publik. Media massa membentuk opini melalui pemberitaan, memengaruhi persepsi terhadap performa tim, pemain, dan pelatih.
Sepak bola telah menjadi identitas nasional dan sarana konsolidasi sosial, sehingga setiap perkembangan seperti pergantian pelatih selalu viral.
Sehingga berdasarkan jabaran di atas dapat menemukan pentingnya memahami bagaimana media mengonstruksi realitas dalam pemberitaan olahraga.
Di tengah arus informasi yang sangat cepat dan masif di era digital, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa berita yang mereka konsumsi telah melalui proses framing yang membentuk cara mereka memahami sebuah peristiwa.
Dengan menganalisis bagaimana Detik.com membingkai pemberitaan mengenai Kluivert, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian komunikasi massa, khususnya dalam konteks framing berita olahraga.
Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi media dalam menyajikan pemberitaan yang lebih berimbang dan edukatif kepada publik
Peran Media Online Detik.com
Media online Detik.com menonjol sebagai portal berita terbesar di Indonesia dengan jangkauan luas dan kecepatan distribusi tinggi. Data menempatkannya di peringkat atas akses masyarakat, bahkan urutan keempat dalam konten berita secara keseluruhan.
Kredibilitasnya terverifikasi oleh Dewan Pers, menjadikannya sumber tepercaya. Dalam sebulan terakhir, Detik.com memberitakan tujuh artikel tentang Kluivert, lebih banyak dibanding Skor.id yang hanya empat.
Pemberitaan Detik.com berpotensi membentuk persepsi kolektif terhadap keputusan PSSI. Tidak ada berita yang netral sepenuhnya; selalu ada pilihan bahasa, struktur narasi, dan penonjolan aspek tertentu.
Contohnya, berita berjudul “Kluivert Percaya Diri Hadapi Jepang, Janji Berusaha Maksimal” pada 9 Juni 2025 menunjukkan narasi optimis. Media olahraga cenderung membentuk narasi yang memengaruhi emosi khalayak, bukan hanya fakta semata.
Baca Juga: Apakah Rumput Lapangan Benar-Benar Hijau? Politik Masuk Lapangan Sepak Bola di Kota Minyak
Komunikasi massa memfasilitasi penyebaran informasi luas melalui saluran digital, memengaruhi individu, kelompok, atau golongan untuk menyamakan pandangan. Media online berisi teks, foto, video, dan suara, menjadi penghubung di era globalisasi.
Fungsinya mencakup pembawa pengetahuan, penyelenggara kegiatan publik, dan penyebar informasi cepat saat krisis
Landasan Teori Framing
Framing adalah konsep kunci dalam komunikasi massa, menjelaskan bagaimana media memilih, menyusun, dan menonjolkan elemen peristiwa untuk membentuk persepsi audiens. Ini seperti strategi desain pesan yang menekankan aspek tertentu sambil meredam yang lain.
Dalam konteks Kluivert, framing relevan untuk mengungkap citra, harapan, dan narasi yang dibangun Detik.com melalui headline, kutipan, foto, dan sudut pandang.
Model Pan dan Kosicki menjadi kerangka utama, menganalisis empat struktur: sintaksis (susunan berita oleh wartawan), skrip (pengisahan fakta), tematik (penulisan fakta), serta retoris (pilihan kata, idiom, grafik, gambar).
Pendekatan ini mengungkap keberpihakan media atau pesan terselubung, terkait kekuasaan simbolik dalam konstruksi sosial.
Konstruksi realitas sosial menegaskan media sebagai pengonstruksi realitas, menyaring fakta menjadi narasi yang memengaruhi pemahaman publik.
Wartawan dan redaksi berperan utama, membentuk citra peristiwa. Teori agenda-setting melengkapi, menyatakan media mengatur pola pikir publik dengan menentukan isu prioritas. Apa yang dianggap penting oleh media, menjadi penting bagi masyarakat.
Penelitian terdahulu mendukung relevansi ini. Studi tentang Shin Tae-yong di Kompasiana dan CNN menunjukkan framing positif pada strategi kemenangan versus framing berbeda. Skor.id fokus citra positif tanpa negatif. Metro TV membingkai kontroversi pemecatan dengan metafora generasi emas dan narasi konflik.
Kompas.com dan Bola.com berpihak PSSI, dengan penekanan emosi publik versus institusional. Persamaan: pemecatan STY. Perbedaan: media dan fokus analisis. Penelitian ini unik karena menarget Kluivert dan Detik.com, mengisi celah kajian.
Penelitian tentang analisis framing kepelatihan Patrick Kluivert di Timnas Indonesia melalui Detik.com menunjukkan bahwa media memiliki peran sentral dalam membentuk cara publik memahami dinamika sepak bola nasional.
Melalui pemilihan judul, susunan berita, pemilihan kutipan, dan gaya bahasa, Detik.com tidak hanya menyampaikan fakta tentang penunjukan dan pemecatan Kluivert, tetapi juga membingkai citra, harapan, dan konflik yang menyertai keputusan PSSI.
Penggunaan teori framing Pan dan Kosicki memperlihatkan bahwa realitas mengenai Kluivert dan PSSI adalah hasil konstruksi simbolik media, bukan cermin objektif dari peristiwa. Dalam konteks ini, berita menjadi arena pertarungan makna: apakah Kluivert diposisikan sebagai harapan baru, sosok gagal, atau korban kebijakan federasi.
Penelitian juga menegaskan bahwa di tengah minimnya kajian tentang Kluivert dan Detik.com, studi ini mengisi celah penting dan melengkapi penelitian sebelumnya yang berfokus pada Shin Tae-yong di berbagai media lain.
Penulis: Muhammad Irsyad Faizin (L100220117)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Aktif juga di organisasi Fotografi
Dosen Pengampu: Mulia Romadhon Fauzani
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












