Abstrak
Olahraga sepak bola di kota minyak, khususnya tim PR mengalami campur tangan politik yang mengakibatkan pro dan kontra, sisi positifnya keuangan tim PR menjadi lancar dan mampu membeli pemain profesional.
Namun sisi negatifnya, manajemen tim menjadi ditunggangi oleh penguasa politik, tim PR dijadikan alat politik oleh pihak pihak tertentu, seperti pejabat yang akan mencalonkan diri sebagai calon petinggi.
Tim yang awalnya menunjukkan kemajuan dan prestasi justru mengalami penurunan performa dan masalah internal, masyarakat dan juga suporter menjadi kecewa karena tim PR dijadikan alat berpolitik.
Esai ini menganalisis pengaruh negatif campur tangan politik dalam tim PR dan dampaknya terhadap prestasi dan harapan masyarakat.
Awal Keterlibatan Tim PR
Awal mulai tim PR dikuasai oleh politik pada tahun 2024 pada saat pejabat menjadi orang berpengaruh di tim PR.
Awalnya semua berjalan baik baik saja dan tidak ada konflik namun semua itu berubah pada saat pejabat mau mencalonkan sebagi petinggi.
Semenjak itu, PR dirombak habis-habisan, dari pemain, pelatih, dan menejemen, beliau berjanji akan memajukan sepak bola kota minyak sampai naik kasta karena itu yang beliau harapkan, dan harapan itu mendapatkan dukungan penuh terhadap suporter tim PR dan masyarakat kota minyak, mengingat tim kebanggaan sudah lama terpuruk di liga 3 dan tidak pernan naik kasta dari tahun 2010.
Namun, harapan itu kembali muncul disaat pejabat akan naik sebagai petinggi, beliau menjanjikan kepada suporter tim PR dan masyarakat tim minyak akan mengusahakan sekuat tenaga untuk tim PR, dan yang beliau janjikan memang terjadi, tim PR banyak perubahan dan selalu ada peningkatan.
Waktu itu sudah dimulainya kompetisi liga 3 dan tim PR hampir tidak terkalahkan dan berhasil menjadi juara grub.
Tidak sampai di situ, tim PR juga berhasil lolos ke semifinal dan masuk final liga 3 dan membawa pulang trofi liga 3 dengan hasil menjadi pemenang.
Suporter tim PR dan masyarakat kota minyak sangat bangga dengan pencapaian tersebut dan janji pejabat dipenuhi.
Campur Tangan Politik dan Dampak pada Tim PR
Setelah menjuarai liga 3 dan akhirnya naik kasta ke liga 2, di situlah masalah mulai muncul, tim PR naik ke liga 2 hampir bersamaan dengan salah satu pejabat yang berhasil menjadi petinggi di situ.
Masyarakat kota minyak sudah percaya kepada beliau karena sudah berhasil membantu tim PR naik ke liga 2, dan akhirnya salah satu pejabat juga memenangkan kompetisi atas dukungan suporter tim PR dan masyarakat kota minyak.
Namun, setelah diumumkan dan beliau sudah resmi menjabat, tim PR mulai menurun performanya.
Dari pemain, pelatih dan manajemen tim, saat tim PR berkompetisi di liga 2 jauh berbeda dengan saat masih di liga 3, tim PR semakin lama semakin menurun dan tidak jelas, dari mengganti pelatih yang profesional dengan alasan yang tidak jelas dan juga menjual pemain yang berpotensi dan membeli pemain yang tidak kompeten.
Harapan dan Realita Tim PR
Suporter dan masyarakat pun menyadari hal tersebut karena ada yang tidak beres dalam manajemen tim PR.
Akhirnya para suporter menanyakan masalah tersebut kepada manajemen tim PR dan penasehatnya, namun tidak ada jawaban yang pasti tentang masalah tersebut.
Manajemen tim hanya berkata kalau ada miscommunication dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
Setelah masalah itu berlalu dan manajemen tim PR tidak berbenah, akhirnya kekhawatiran terjadi, tim PR setelah satu musim di liga 2 akhirnya harus turun lagi ke liga 3 dikarenakan degradasi.
Hal itu sangat disayangkan oleh masyarakat, tidak sampai di situ, pejabat sebagai penasihat tim PR seperti tutup mata dalam masalah ini, beliau seakan lupa dengan janji-janjinya yang dulu waktu kampanye yang akan bertanggung jawab atas tim PR.
Masyarakat pun akhirnya menyadari bahwa tim PR yang mereka cintai hanyalah alat berpolitik bagi orang yang berkuasa, dan dari sini kita tahu bahwa sebenarnya olahraga dengan politik itu tidak boleh menjadi satu, namun hal itu sekarang sudah sering terjadi seperti hal nya yang dialami tim PR.
Kesimpulan
Campur tangan politik dalam manajemen tim PR memberikan dampak positif dan negatif, terlibatnya politik melalui pejabat membawa kemajuan finansial dan prestasi yang membantu tim dari liga 3 hingga liga 2.
Namun di sisi lain, campur tangan politik manajemen tim tidak lagi independen. Terjadi penurunan performa hingga degradasi ke liga 3, kekecewaan masyarakat dan suporter semakin terlihat karena janji-janji awal tidak terlaksana sepenuhnya dan justru menjadi alat politik.
Tim PR ini menunjukan bahwa pentingnya menjaga olahraga dan kepentingan politik. Oleh sebab itu, membangun kepengurusan yang baik dan transparan menjadi kunci utama agar sepak bola di kota minyak kembali netral dan mampu bersaing.
Penulis: Wildan Sholikhul Faza
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang
Aktif Juga sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Departemen Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












