Sore hari itu, aku menaiki sepeda motor scopy merah sambil mengatarkan sebuah orderan shope food sebungkus nasi padang yang nikmat.
Sambil menikmati perjalanan yang macet karna banyakna mahasiswa dan orang-orang pulang kerja, saya mengendarai sambil berfikir agak melayang ke berita yang tadi muncul di tik tok seorang kiper dan timnya menggunakan dukun sebelum pertandingan biar lawan tidak bisa mencetak gol dan di pastikan bola bukannya masuk malah mantul ke gawang.
Aku melihat berita itu tersenyum seperti tidak percaya namun ada bukti jadi malah kayak pertanidngan yang di buat-buat bukan pertandingan yang bermain secara fair play, dalam hati ini sepak bola apa petarungan supranatural wkwkwk.
Sesampainya di kost, aku dan teman kost ku berbicara tentang pertandingan sepak bola yang kita pernah main waktu sma dulu yang kita sebut liga pelajar atau LPI, teman ku kita sebut iwan, iwan ini adalah mahasiswa angkatan 2024 yang satu angkatan namun beda jurusan satu fakultas.
Saya berbicara sambil meperlihatkan berita yang tadi aku lihat iwan berkata waduh ini pertandingan seperti kita tanding waktu dulu ya cuma beda konsep cara pakainya di situ kita tertawa hahahah ternyata bukan kita aja ya yang pakai cara menang dengan segala cara ternya di luar negri juga ada.
Pada saat itu, aku melihat grub whatsapp yang berisi anak anak suka bola dan suka mengaji di situ aku mengirim berita viral tersebut dan banyak anak anak yang komen lucu-lucu ada yang kirim foto botol air kembang tujuh rupa, ada juga tulisan Arab di tisu bekas nasi uduk, katanya “air penakluk penalti.” Aku makin bingung-mungkin ini era baru sepak bola Indonesia.
Lucunya, sekarang di era tarkam di desa seperti di desa saya banyak para pemain sering bicara soal fair play, tapi yang dilakukan lebih cocok disebut dukun play. Mereka sibuk ritual sebelum main: nyalain dupa, siram lapangan pakai air kembang, lalu baru pemanasan.
Kadang saya berfikir agak aneh, kalau Aristoteles hidup di kampungku, mungkin dia bakal geleng-geleng sambil bilang, “Ini percaya kemenangan datang dari hal mistis-dari bantuan dukun, bukan dari latihan dan karakter yang baik.”
Baca juga: MajalahSepakbola.com, Salah Satu Situs Berita Bola Terbaik Indonesia
Aristoteles (Aristotle, 2016) bilang, kebajikan sejati itu lahir dari kebiasaan moral yang baik. Tapi di sini, kebiasaan baik malah diganti kebiasaan aneh. Pemain yang jujur kalah dianggap “kurang doa,” sementara yang curang tapi menang malah dipuji “rezeki anak soleh.” Padahal, menurut Aristoteles, kebahagiaan sejati itu bukan soal menang atau kalah, tapi tentang menjalani hidup dengan integritas moral.
Kalau kata Immanuel Kant (Kant, 1948), tindakan moral yang benar adalah yang dilakukan karena kewajiban, bukan karena hasil. Tapi di lapangan, semua serba terbalik. Banyak yang berpikir, “yang penting menang dulu, urusan cara belakangan.” Bahkan kalau perlu, pakai cara ghaib pun tak masalah. Kant pasti tepuk jidat sambil bilang, “Kalau semua orang curang demi menang, makna sepak bola akan hilang.”
Di sisi lain, kalau pakai kacamata Karl Marx , ini bentuk alienasi versi lokal. Pemain sudah tak percaya pada kemampuan tubuhnya sendiri, tapi pada alat produksi mistik jimat, air doa, atau minyak gosok ghaib. Sepak bola yang seharusnya jadi ruang pembebasan, malah berubah jadi arena ketergantungan pada hal tak rasional.
(Muhammad Aulia Rahman et al., 2024) Islam pun dengan tegas melarang segala bentuk kecurangan. Dalam surat Al-Baqarah ayat 188 dijelaskan, jangan memakan harta orang lain dengan cara batil. Kalau diterjemahkan ke dunia sepak bola, artinya jangan menang dengan cara yang tidak adil. Tapi di banyak tempat, menang lewat bantuan dukun masih dianggap biasa-seolah kejujuran tidak lagi penting.
Refleksi pribadi saya yaitu pernah di posisi tersebut, aku jadi teringat pengalamanku sendiri waktu masih SMA, saat ikut Liga Pelajar Indonesia (LPI). Sebelum pertandingan dimulai, pelatih kami menyuruh semua pemain memakai minyak pijat dan meminum air putih yang entah dari mana asalnya.
Katanya, biar kuat dan “rezeki menang terbuka.” Aku dan teman-teman cuma nurut saja-dalam hati, pikiranku sederhana: ya udah, yang penting mainnya tetap fair play.
Setelah itu, kami pemanasan dan berdoa sebelum main. Pertandingan berjalan sengit. Babak pertama berakhir 0-0, permainan seimbang. Tapi di babak kedua, kami dapat hadiah penalti. Kapten kami maju menendang bola, tapi tendangannya ditepis kiper. Sejak itu, mental tim langsung drop. Lawan mulai mendominasi, dan akhirnya kami kalah 3-0. Kami cuma bisa menempati juar posisi dua.
Seusai pertandingan, aku duduk diam di pinggir lapangan sambil menatap kaki yang teroles minyak. Saat itu aku sadar-minyak dan air itu tak ada hubungannya dengan hasil pertandingan. Bukan karena kami kurang spiritual, tapi karena kami kalah dalam mental, strategi, dan fokus. Sejak saat itu aku percaya bahwasannya dalam sepak bola, dukun play tidak akan pernah menggantikan fair play jadi kita Kembali lagi ke percaya diri kita.
Pengalaman itu terasa seperti pelajaran hidup dari Aristoteles dan Kant sekaligus. Aristoteles mengingatkanku bahwa kebajikan sejati hanya tumbuh dari latihan dan kebiasaan moral, bukan dari benda mistis. Kant menegaskan bahwa bertindak jujur itu kewajiban moral, bukan pilihan tergantung hasil. Dan Islam menegaskan, bahwa kemenangan sejati datang dari niat yang bersih dan usaha yang halal.
Dari situ aku paham, bermain fair play adalah bentuk keberanian moral. Karena fair play bukan cuma soal menaati aturan, tapi juga soal percaya pada kemampuan diri dan menghormati lawan. Kemenangan sejati bukan ketika kita mengalahkan lawan, tapi ketika kita menaklukkan ego dan rasa takut sendiri.
Kesimpulan dari esai saya yaitu Dari semua pengalaman dan refleksi itu, aku belajar bahwa dalam olahraga-terutama sepak bola hal terpenting bukanlah mencari kekuatan di luar diri, tapi menemukan kekuatan di dalam diri. Kepercayaan pada dukun, minyak, atau jimat hanyalah bentuk dari ketakutan kita untuk kalah dan tidak percaya pada kemampuan sendiri.
Padahal, seperti yang diajarkan oleh Aristoteles, kebajikan sejati lahir dari kebiasaan baik dan latihan yang terus-menerus. Kant juga mengingatkan bahwa tindakan bermoral adalah yang dilakukan karena kesadaran dan kewajiban, bukan karena berharap hasil instan.
Jadi, kalau kita ingin menang, kita harus percaya pada diri sendiri, bukan pada hal mistis. Karena kemenangan sejati bukan hasil dari kekuatan gaib, tapi dari usaha,mental,dan integritas. Fair play adalah bukti bahwa kita berani jujur pada diri sendiri dan menghormati lawan dengan cara yang terhormat. Sebab, di balik setiap kemenangan yang jujur, selalu ada jiwa yang besar bukan karena bantuan dukun, tapi karena keyakinan bahwa diri kita mampu.
Penulis: Muhammad S Febri Setiawan (240631606697)
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












