Dari Ragu ke Berani: Pelatihan Self-Esteem Anggota Keputrian Karang Taruna

kegiatan karang taruna
Dari Ragu ke Berani: Pelatihan Self-Esteem Anggota Keputrian Karang Taruna. Ilustrasi: MMI.

Abstrak

Pelatihan Penguatan Self-Esteem untuk Mengoptimalkan Partisipasi Anggota Keputrian Karang Taruna Desa Bandung dilaksanakan sebagai respons atas rendahnya self-esteem dan munculnya kelompok pertemanan eksklusif yang menghambat partisipasi aktif anggota. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya keberanian berpendapat, pasifnya keterlibatan diskusi, serta melemahnya kohesi kelompok. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan self-esteem, keberanian komunikasi, dan partisipasi aktif anggota keputrian dalam kegiatan organisasi.

Metode pelatihan menggunakan pendekatan yang berpusat pada klien dengan tahapan pembukaan dan ice breaking, eksplorasi masalah melalui diskusi reflektif, analisis solusi berbasis pengalaman personal, latihan afirmasi positif, role play komunikasi, serta simulasi kerja tim yang diakhiri refleksi kelompok. Peserta berjumlah 12 orang yang dipilih berdasarkan rekomendasi pengurus, terutama anggota dengan kecenderungan pasif dan kurang percaya diri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan self-esteem yang signifikan berdasarkan uji Paired Samples t-test. Rata-rata skor pretest sebesar 59,00 meningkat menjadi 66,42 pada posttest, dengan nilai signifikansi p < 0,05. Secara observasional, peserta menunjukkan peningkatan keberanian berpendapat, keterlibatan diskusi, dan kesiapan mengambil peran dalam kelompok. Luaran wajib berupa peningkatan self-esteem peserta telah tercapai, serta luaran tambahan berupa artikel ilmiah sedang dipersiapkan untuk publikasi.

Tingkat kesiapan pelatihan tergolong tinggi, ditunjukkan oleh kesesuaian desain dengan kebutuhan peserta, kesiapan tim pelatihan, ketersediaan instrumen, serta dukungan pengurus setempat. Pelatihan ini dinilai layak dan berpotensi direplikasi pada konteks organisasi pemuda serupa.

Kata Kunci:  Self-Esteem, Partisipasi, Komunikasi, Pelatihan, Remaja.

A. Pendahuluan

Di era yang menekankan kolaborasi, partisipasi, dan kebersamaan, organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, keterampilan sosial, serta kepemimpinan generasi muda. Salah satu organisasi yang berperan penting dalam konteks ini adalah Keputrian Karang Taruna, yang menjadi wadah pengembangan diri bagi remaja perempuan di tingkat desa. Idealnya, organisasi ini berfungsi sebagai ruang sosial yang aman, inklusif, dan suportif, sehingga setiap anggota merasa diterima, dihargai, serta memiliki keberanian untuk mengekspresikan potensi dirinya secara optimal.

Namun, realitas di Keputrian Karang Taruna Desa Bandung menunjukkan bahwa semangat kebersamaan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Hasil observasi dan wawancara dengan pengurus serta anggota mengungkapkan adanya permasalahan berupa rendahnya self-esteem anggota dan terbentuknya kelompok-kelompok kecil (circle) yang bersifat eksklusif. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi anggota dalam diskusi dan kegiatan organisasi, munculnya perilaku pasif, serta perasaan tidak layak untuk berpendapat. Keberadaan circle-circle tersebut juga memperlemah kohesi kelompok dan menimbulkan rasa terisolasi pada sebagian anggota.

Self-esteem merupakan konstruk psikologis penting yang berkaitan dengan cara individu menilai nilai dan keberhargaan dirinya. Dalam konteks organisasi kemasyarakatan, self-esteem berperan signifikan dalam membentuk keberanian berpendapat, keterlibatan aktif, serta kesiapan individu untuk mengambil peran dan tanggung jawab sosial. Rendahnya self-esteem sering kali berkorelasi dengan perilaku pasif dan ketergantungan pada kelompok kecil tertentu. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi yang terstruktur dan partisipatif untuk memperkuat self-esteem anggota Keputrian Karang Taruna, sekaligus mendorong terciptanya relasi kelompok yang lebih inklusif dan sehat. Pelatihan penguatan self-esteem berbasis pengalaman dan partisipasi aktif dipandang sebagai pendekatan yang relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Baca Juga: Kegiatan Karang Taruna pada HUT Kemerdekaan

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian tindakan berbasis pelatihan yang bertujuan untuk menggambarkan proses serta hasil pelatihan dalam meningkatkan self-esteem, keberanian berpendapat, dan partisipasi aktif peserta. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami pengalaman subjektif peserta dan dinamika kelompok secara mendalam melalui pelatihan yang menerapkan pendekatan berpusat pada klien, di mana peserta menjadi subjek utama dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Subjek penelitian adalah peserta pelatihan pengembangan diri dan organisasi yang dipilih secara purposif. Selama pelaksanaan pelatihan, pengalaman, kebutuhan, dan pandangan peserta dijadikan dasar dalam proses eksplorasi masalah dan perumusan solusi. Fasilitator berperan sebagai pendamping yang menciptakan suasana empatik, aman, dan tidak menghakimi agar peserta merasa dihargai, didengar, dan memiliki keberanian untuk mengekspresikan diri.

Pelatihan diawali dengan pembukaan dan ice breaking untuk membangun rasa aman dan kepercayaan antarpeserta, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi permasalahan self-esteem dan dinamika kelompok melalui diskusi reflektif. Tahap pemecahan masalah dilakukan melalui refleksi pengalaman pribadi, latihan afirmasi positif, role play komunikasi, serta simulasi kerja tim. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, diskusi kelompok, refleksi lisan, dan pencatatan lapangan selama seluruh proses pelatihan berlangsung.

Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keberhasilan pelatihan dievaluasi berdasarkan indikator meningkatnya keterlibatan peserta dalam diskusi, kemampuan menyampaikan pendapat, serta keaktifan mengambil peran dalam kegiatan kelompok dan organisasi, yang tercermin dari perubahan perilaku dan dinamika kelompok selama pelatihan.

C. Hasil Penelitian

Pelatihan penguatan self-esteem pada anggota Keputrian Karang Taruna Desa Bandung dilaksanakan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan. Evaluasi efektivitas pelatihan dilakukan melalui pengukuran pretest dan posttest menggunakan instrumen skala self-esteem yang terdiri dari 20 aitem dan melibatkan 12 peserta. Hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya peningkatan skor self-esteem setelah pelatihan. Rata-rata skor pretest peserta sebesar 59,00 (SD = 3,79), sedangkan rata-rata skor posttest meningkat menjadi 66,42 (SD = 4,42). Secara deskriptif, data ini mengindikasikan adanya peningkatan self-esteem peserta setelah mengikuti pelatihan.

Hasil uji Paired Samples Correlations menunjukkan nilai korelasi sebesar r = 0,564 dengan signifikansi p = 0,056. Nilai korelasi tersebut menunjukkan hubungan sedang antara skor pretest dan posttest, yang mengindikasikan bahwa pengukuran dilakukan secara konsisten pada subjek yang sama. Konsistensi ini memperkuat validitas perbandingan skor sebelum dan sesudah pelatihan, sehingga perubahan yang terjadi dapat diatribusikan pada intervensi yang diberikan.

Baca Juga: Pemberdayaan dan Peran Karang Taruna dalam Kegiatan 17 Agustus di Kecamatan Tulangan

Uji hipotesis menggunakan Paired Samples t-test menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik. Nilai t yang diperoleh sebesar -6,635 dengan derajat kebebasan (df) = 11 dan nilai signifikansi Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor self-esteem sebelum dan sesudah pelatihan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan penguatan self-esteem memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan self-esteem peserta.

Temuan kuantitatif ini diperkuat oleh hasil observasi selama pelatihan, yang menunjukkan adanya perubahan perilaku peserta ke arah yang lebih positif. Peserta terlihat lebih berani mengemukakan pendapat, terlibat aktif dalam diskusi, serta mampu berpartisipasi dalam simulasi kerja tim. Pelatihan berbasis pendekatan yang berpusat pada klien memungkinkan peserta untuk merefleksikan pengalaman pribadi, terlibat dalam latihan afirmasi positif, role play komunikasi, dan kegiatan kelompok secara aktif. Hasil ini selaras dengan penelitian Johnson et al. (2024) dan Lee dan Kim (2025) yang menunjukkan bahwa intervensi kelompok berbasis pendekatan klien dan simulasi kerja tim efektif dalam meningkatkan self-esteem dan partisipasi aktif peserta. Secara keseluruhan, capaian luaran utama berupa peningkatan self-esteem peserta telah terpenuhi dan mendukung efektivitas pelatihan yang dilaksanakan.

D. Penutup

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pelatihan penguatan self-esteem berbasis pendekatan yang berpusat pada klien terbukti efektif dalam meningkatkan self-esteem anggota Keputrian Karang Taruna Desa Bandung. Hal ini ditunjukkan oleh adanya perbedaan yang signifikan antara skor self-esteem sebelum dan sesudah pelatihan, serta diperkuat oleh perubahan perilaku peserta yang tampak lebih berani mengemukakan pendapat, aktif dalam diskusi, dan terlibat dalam kegiatan kelompok. Pendekatan pelatihan yang menempatkan peserta sebagai subjek utama, didukung oleh suasana empatik dan tidak menghakimi, memungkinkan peserta merefleksikan pengalaman diri dan mengembangkan rasa percaya diri secara lebih optimal.

Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis pengalaman dan partisipasi aktif dapat menjadi strategi intervensi yang relevan untuk memperkuat self-esteem dan menciptakan dinamika kelompok yang lebih inklusif dalam organisasi kemasyarakatan. Oleh karena itu, pelatihan serupa disarankan untuk diterapkan secara berkelanjutan dengan jumlah peserta yang lebih luas serta dikombinasikan dengan pendampingan lanjutan guna memperkuat dampak jangka panjang. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan desain penelitian dengan metode campuran atau memperluas variabel yang dikaji, seperti kohesi kelompok dan kepemimpinan, untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

Penulis:
1. Adinda Sephia Dwi Cahyani (2022011068)
2. Putri Sayekti Nirmalasari (2022011054)
3. Dina Amalia Dewi (2022011077)
Mahasiswa Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Dosen Pengampu: Hartosujono, S.E., S.Psi., M.Si.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses