Cara Menulis Artikel Ilmiah yang Baik dan Benar: Struktur dan Langkahnya

Cara Menulis Artikel Ilmiah yang Baik dan Benar

Menulis artikel ilmiah membutuhkan lebih dari sekadar mengumpulkan informasi dan menyusunnya menjadi beberapa paragraf. Tulisan ilmiah perlu memiliki fokus yang jelas, argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, referensi yang relevan, serta struktur yang membantu pembaca memahami pembahasan.

Bagi mahasiswa, kemampuan ini penting karena artikel ilmiah dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan akademik, mulai dari tugas perkuliahan hingga naskah yang disiapkan untuk publikasi. Tantangannya, format dan ketentuan artikel ilmiah tidak selalu sama sehingga penulis perlu memahami prinsip dasarnya sebelum mulai menulis.

Artikel ini membahas cara menulis artikel ilmiah secara bertahap, mulai dari menentukan topik, menyusun rumusan masalah, melakukan kajian literatur, membuat kerangka, menulis setiap bagian artikel, menggunakan sitasi, hingga melakukan revisi sebelum naskah dikirimkan.

Apa Itu Artikel Ilmiah?

Artikel ilmiah adalah tulisan yang menyajikan hasil penelitian, kajian, atau pemikiran berdasarkan pendekatan ilmiah. Karena itu, pembahasannya tidak hanya berisi pendapat penulis, tetapi perlu didukung oleh argumentasi, data, teori, atau referensi yang relevan dengan topik.

Artikel ilmiah juga memiliki struktur yang membantu pembaca mengikuti alur pembahasan. Namun, struktur tersebut dapat berbeda sesuai jenis artikel dan pedoman publikasi yang digunakan.

Jika kamu ingin memahami pengertian, struktur, dan sistematika artikel ilmiah secara lebih khusus, baca juga pengertian dan struktur artikel ilmiah.

Ciri-Ciri Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah yang baik memiliki beberapa ciri utama.

Pertama, pembahasannya memiliki fokus yang jelas. Penulis mengetahui masalah apa yang sedang dibahas dan tidak membawa pembaca ke topik yang tidak berkaitan.

Kedua, setiap argumen memiliki dasar yang dapat ditelusuri. Referensi digunakan bukan sekadar untuk memperbanyak daftar pustaka, tetapi untuk memperkuat penjelasan dan menunjukkan hubungan artikel dengan pengetahuan yang sudah ada.

Ketiga, tulisan disusun secara sistematis. Pembaca dapat memahami hubungan antara pendahuluan, metode atau pendekatan yang digunakan, hasil dan pembahasan, hingga kesimpulan.

Keempat, bahasa yang digunakan harus jelas dan sesuai dengan konteks akademik. Istilah teknis dapat digunakan jika memang diperlukan, tetapi penulis tetap perlu memastikan pembaca memahami maksud pembahasannya.

Artikel Ilmiah Tidak Selalu Sama dengan Jurnal

Artikel ilmiah dan jurnal sering dianggap sebagai istilah yang sama. Padahal, artikel merupakan naskah atau karya tulis, sedangkan jurnal merupakan publikasi ilmiah yang memuat artikel-artikel sesuai bidang dan ketentuan penerbitannya.

Perbedaan keduanya penting dipahami agar penulis tidak salah menentukan format maupun tujuan penulisan. Untuk pembahasan yang lebih spesifik, kamu dapat membaca perbedaan artikel dan jurnal.

Cara Menulis Artikel Ilmiah yang Baik dan Benar

Menulis artikel ilmiah sebaiknya dilakukan secara bertahap. Jangan langsung menulis pembahasan sebelum mengetahui masalah, tujuan, dan alur tulisan yang akan dikembangkan.

1. Tentukan Topik dan Fokus Pembahasan

Mulailah dengan menentukan topik yang sesuai dengan bidang kajian dan tujuan penulisan.

Topik yang terlalu luas akan membuat pembahasan sulit dikendalikan. Sebaliknya, topik yang memiliki batasan jelas membantu penulis menentukan informasi apa yang diperlukan dan apa yang sebaiknya tidak dimasukkan.

Setelah menentukan topik, tentukan fokus pembahasan. Tanyakan kepada diri sendiri: masalah apa yang ingin dijelaskan, pertanyaan apa yang ingin dijawab, dan mengapa masalah tersebut layak dibahas?

Fokus ini nantinya menjadi dasar untuk menyusun rumusan masalah dan tujuan penulisan.

2. Susun Rumusan Masalah dan Tujuan

Setelah memiliki topik, rumusan masalah membantu memperjelas pertanyaan yang hendak dijawab melalui artikel.

Rumusan masalah sebaiknya berhubungan langsung dengan fokus pembahasan. Jangan membuat pertanyaan yang terlalu luas apabila artikel hanya membahas satu aspek tertentu dari suatu topik.

Tujuan penulisan kemudian disusun berdasarkan rumusan masalah tersebut. Dengan hubungan yang jelas antara masalah dan tujuan, pembahasan artikel akan lebih terarah.

3. Lakukan Kajian Literatur

Langkah berikutnya adalah mencari dan membaca sumber yang relevan.

Gunakan jurnal ilmiah, buku akademik, prosiding, laporan penelitian, atau sumber resmi yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan hanya mengumpulkan sumber berdasarkan judulnya. Baca isi sumber untuk mengetahui apakah informasi tersebut benar-benar mendukung pembahasan.

Kajian literatur juga membantu penulis memahami penelitian atau pembahasan yang sudah ada. Dari sini, penulis dapat menentukan posisi artikelnya dan menghindari pembahasan yang sekadar mengulang informasi tanpa memberikan nilai tambah.

4. Buat Kerangka Artikel

Sebelum menulis paragraf secara lengkap, buat kerangka yang berisi alur utama pembahasan.

Kerangka dapat dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan metode atau pendekatan yang digunakan jika diperlukan, hasil dan pembahasan, kemudian kesimpulan.

Dengan kerangka tersebut, penulis dapat melihat apakah setiap bagian memiliki fungsi dan apakah pembahasan sudah menjawab tujuan yang ditetapkan.

5. Kembangkan Kerangka Menjadi Draft

Setelah kerangka selesai, kembangkan setiap poin menjadi paragraf.

Setiap paragraf sebaiknya memiliki satu gagasan utama. Hindari memasukkan terlalu banyak ide dalam satu paragraf karena dapat membuat alur pembahasan sulit diikuti.

Gunakan kalimat aktif dan pilih istilah yang sesuai dengan bidang kajian. Jika sebuah kalimat terlalu panjang, pecah menjadi beberapa kalimat agar lebih mudah dipahami.

6. Gunakan Sitasi dan Referensi Secara Konsisten

Ketika menggunakan gagasan, data, atau informasi dari sumber lain, cantumkan sitasi sesuai gaya yang dipersyaratkan.

Jangan hanya menambahkan referensi pada akhir artikel. Pembaca perlu dapat mengetahui bagian mana yang berasal dari sumber tertentu.

Pedoman resmi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud juga menekankan bahwa sumber yang dirujuk dalam naskah harus tercantum dalam daftar pustaka, dan sebaliknya. Pedoman tersebut menggunakan APA Style untuk penulisan kutipan dan pustaka acuan.

Karena setiap jurnal dapat memiliki ketentuan yang berbeda, selalu periksa pedoman jurnal yang menjadi tujuan publikasi sebelum menentukan format akhir naskah.

Struktur Artikel Ilmiah yang Perlu Dipahami

Setelah menentukan topik, rumusan masalah, tujuan, dan sumber yang akan digunakan, langkah berikutnya adalah menyusun artikel sesuai alur ilmiah. Struktur membantu pembaca memahami hubungan antara masalah, metode, hasil, dan kesimpulan.

Secara umum, artikel ilmiah dapat terdiri atas abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka atau landasan teori, metode penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, serta daftar pustaka. Namun, susunan akhir tetap perlu disesuaikan dengan pedoman jurnal atau institusi yang menjadi tujuan publikasi.

1. Abstrak

Abstrak merupakan ringkasan singkat dari keseluruhan artikel. Pembaca seharusnya dapat memahami persoalan, tujuan, pendekatan yang digunakan, hasil utama, dan kesimpulan hanya dari bagian ini.

Karena itu, abstrak tidak perlu berisi penjelasan panjang. Fokuskan pada informasi yang paling penting dan hindari memasukkan pembahasan yang tidak muncul dalam artikel utama.

Dalam praktiknya, abstrak lebih mudah ditulis setelah seluruh naskah selesai. Dengan cara tersebut, isi abstrak dapat benar-benar mencerminkan penelitian atau kajian yang telah dilakukan.

2. Pendahuluan

Pendahuluan menjelaskan mengapa topik tersebut perlu dibahas atau diteliti.

Bagian ini dapat memuat latar belakang masalah, konteks penelitian, rumusan masalah, tujuan, serta alasan pentingnya penelitian. Jika terdapat kesenjangan antara kondisi yang diharapkan dan kondisi yang ditemukan, jelaskan kesenjangan tersebut secara terarah.

Jangan memenuhi pendahuluan dengan teori yang belum memiliki hubungan langsung dengan masalah penelitian. Setiap paragraf harus membantu pembaca memahami konteks dan arah artikel.

3. Tinjauan Pustaka atau Landasan Teori

Bagian ini digunakan untuk menjelaskan konsep dan penelitian terdahulu yang menjadi dasar pembahasan.

Penulis perlu memilih referensi yang benar-benar relevan, bukan sekadar memperbanyak jumlah sumber. Kajian pustaka juga dapat digunakan untuk menunjukkan posisi penelitian dibandingkan pembahasan yang sudah ada.

Jika penelitian memiliki konsep atau variabel tertentu, jelaskan definisi dan hubungan antarkonsep tersebut berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. Metode Penelitian

Metode menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan.

Informasi yang disampaikan bergantung pada jenis penelitian, tetapi dapat mencakup pendekatan penelitian, objek atau subjek, sumber data, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis.

Tujuannya bukan membuat bagian metode sepanjang mungkin, melainkan memberikan informasi yang cukup agar pembaca memahami dasar penelitian dan bagaimana hasil diperoleh.

5. Hasil

Bagian hasil menyajikan temuan penelitian secara jelas.

Jika penelitian menghasilkan data, tabel, gambar, atau temuan tertentu, tampilkan sesuai kebutuhan. Jangan memasukkan interpretasi yang terlalu jauh apabila bagian tersebut seharusnya dibahas pada bagian pembahasan.

Setiap tabel atau gambar harus memiliki fungsi yang jelas. Jika sebuah visual tidak membantu pembaca memahami hasil penelitian, keberadaannya perlu dipertimbangkan kembali.

6. Pembahasan

Pembahasan merupakan bagian untuk menjelaskan makna dari hasil yang diperoleh.

Di sini penulis dapat menghubungkan temuan penelitian dengan teori, penelitian terdahulu, atau konteks yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Pembahasan yang baik tidak sekadar mengulang hasil. Penulis perlu menjelaskan mengapa hasil tersebut muncul, bagaimana kaitannya dengan penelitian sebelumnya, dan apa arti temuan tersebut terhadap persoalan yang diteliti.

7. Kesimpulan

Kesimpulan harus menjawab tujuan atau pertanyaan penelitian berdasarkan hasil pembahasan.

Hindari memasukkan informasi baru yang belum dibahas sebelumnya. Jika diperlukan, rekomendasi atau implikasi penelitian dapat disampaikan secara singkat setelah kesimpulan, selama sesuai dengan pedoman publikasi yang digunakan.

8. Daftar Pustaka

Daftar pustaka memuat sumber yang benar-benar digunakan dalam artikel.

Pastikan sumber yang dikutip di dalam naskah tercantum dalam daftar pustaka dan sebaliknya. Konsistensi format juga penting karena setiap jurnal dapat menggunakan gaya sitasi tertentu.

Karena pedoman publikasi dapat berbeda, jangan menganggap satu format berlaku untuk semua jurnal. Periksa author guidelines jurnal tujuan sebelum melakukan finalisasi naskah. Hal ini juga sejalan dengan prinsip MMI bahwa struktur artikel harus mengikuti kebutuhan pembaca dan konteks publikasi, bukan dibuat semata-mata untuk SEO.

Cara Menulis Setiap Bagian Artikel Ilmiah

Memahami struktur saja belum cukup. Setiap bagian harus memiliki fungsi yang jelas dan saling terhubung.

Mulai dari Pendahuluan, Bukan dari Abstrak

Jika kamu baru mulai menulis, lebih praktis mengembangkan pendahuluan dan bagian utama terlebih dahulu. Setelah isi artikel selesai, abstrak dapat ditulis berdasarkan keseluruhan hasil penelitian.

Cara ini membantu menghindari abstrak yang tidak sesuai dengan isi akhir artikel.

Pastikan Setiap Bagian Menjawab Bagian Sebelumnya

Alur artikel harus terasa logis.

Masalah yang diperkenalkan dalam pendahuluan harus berhubungan dengan tujuan. Tujuan harus dijawab melalui metode dan analisis. Hasil kemudian dibahas dan akhirnya dirumuskan menjadi kesimpulan.

Jika hubungan tersebut terputus, artikel akan terasa seperti kumpulan bagian yang berdiri sendiri.

Jangan Mengubah Artikel Menjadi Kumpulan Kutipan

Referensi berfungsi mendukung argumentasi, bukan menggantikan pemikiran penulis.

Setelah mengutip atau merujuk suatu sumber, jelaskan relevansinya dengan pembahasan. Dengan demikian, artikel menunjukkan bahwa penulis memahami sumber yang digunakan, bukan sekadar menyalinnya.

Prinsip ini penting karena kualitas artikel tidak ditentukan oleh banyaknya referensi, tetapi oleh relevansi, ketepatan penggunaan, dan kemampuan penulis mengolah informasi menjadi argumentasi yang bermakna. MMI sendiri menempatkan akurasi, relevansi, manfaat, nilai tambah, kredibilitas, dan originalitas di atas optimasi SEO.

Gunakan Heading Secara Fungsional

Heading digunakan untuk membantu pembaca menavigasi artikel. Karena itu, buat heading berdasarkan isi dan kebutuhan pembaca, bukan dengan mengulang kata kunci secara paksa.

Paragraf juga sebaiknya tetap relatif pendek dan langsung pada gagasan utama. Standar editorial MMI menganjurkan paragraf sekitar 2–4 kalimat dan melarang filler yang tidak menambah informasi.

Memilih Referensi dan Menyusun Sitasi

Setelah struktur artikel terbentuk, tahap berikutnya adalah memastikan setiap argumen memiliki dasar yang cukup. Artikel ilmiah tidak cukup hanya ditulis dengan bahasa formal; pembahasannya juga harus ditopang referensi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan. MMI memprioritaskan jurnal, pemerintah, universitas, lembaga resmi, dan organisasi internasional sebagai sumber rujukan.

Pilih Referensi yang Relevan

Jangan memasukkan sumber hanya untuk menambah jumlah daftar pustaka. Pilih sumber yang benar-benar membantu menjelaskan konsep, mendukung data, atau memperkuat argumentasi.

Untuk artikel ilmiah, sumber dapat berasal dari:

  • jurnal ilmiah;
  • buku akademik;
  • laporan penelitian;
  • publikasi pemerintah;
  • publikasi universitas;
  • lembaga resmi.

Jika menggunakan data sekunder, sumbernya harus kredibel dan relevan, serta penulis perlu menjelaskan sumber dan cara data tersebut digunakan dalam analisis.

Gunakan Sitasi Secara Konsisten

Setiap informasi yang berasal dari sumber lain perlu diberikan atribusi sesuai gaya sitasi yang digunakan. Jangan mencampur format sitasi tanpa alasan.

Gaya sitasi dapat berbeda menurut bidang dan tujuan publikasi. Karena itu, sebelum mengirim artikel, periksa pedoman jurnal yang dituju dan gunakan format yang mereka tetapkan.

Yang juga penting, daftar pustaka harus konsisten dengan sitasi di dalam artikel. Sumber yang dikutip harus tercantum dalam daftar pustaka, dan sumber yang tidak digunakan sebaiknya tidak dimasukkan hanya untuk memperpanjang daftar referensi.

Hindari Plagiarisme

Artikel ilmiah harus menunjukkan pemahaman dan kontribusi penulis, bukan sekadar kumpulan kutipan dari sumber lain.

Plagiarisme dapat dihindari dengan beberapa langkah sederhana:

  1. Pahami sumber sebelum menuliskannya kembali.
  2. Gunakan kalimat sendiri ketika melakukan parafrasa.
  3. Cantumkan sitasi ketika menggunakan gagasan atau data dari sumber lain.
  4. Gunakan kutipan langsung hanya ketika memang diperlukan.
  5. Periksa kembali kesesuaian antara kutipan dan daftar pustaka.
  6. Lakukan pemeriksaan orisinalitas sebelum artikel dikirimkan.

Salah satu masalah yang perlu dihindari adalah copy-paste tanpa analisis. Artikel akademik seharusnya tidak berubah menjadi kumpulan pendapat orang lain. Referensi digunakan untuk membangun dasar argumentasi, sementara penulis tetap perlu memberikan analisisnya sendiri.

Menyusun Argumentasi yang Kuat

Setelah referensi terkumpul, jangan langsung memasukkan semua informasi ke dalam artikel. Tentukan terlebih dahulu argumen utama yang ingin disampaikan.

Sebuah pembahasan yang kuat biasanya memiliki alur:

klaim → bukti atau referensi → analisis → hubungan dengan masalah penelitian.

Dengan pola tersebut, pembaca tidak hanya mengetahui apa yang dikatakan sebuah sumber, tetapi juga memahami mengapa informasi tersebut penting bagi penelitian.

Hindari paragraf yang hanya berisi definisi atau kutipan berturut-turut tanpa analisis. Jika sebuah paragraf dapat dihapus tanpa mengurangi informasi penting, paragraf tersebut kemungkinan merupakan filler. Prinsip editorial MMI memang mengharuskan setiap paragraf memberikan informasi yang berguna bagi pembaca.

Periksa dan Revisi Naskah Sebelum Dikirim

Artikel ilmiah sebaiknya tidak langsung dikirim setelah draf pertama selesai. Lakukan pemeriksaan secara bertahap.

1. Periksa Isi

Pastikan:

  • tujuan penelitian sudah jelas;
  • pembahasan menjawab masalah;
  • data sesuai dengan sumber;
  • kesimpulan sesuai dengan hasil;
  • tidak ada klaim yang tidak memiliki dasar.

2. Periksa Bahasa

Periksa ejaan, tata bahasa, struktur kalimat, dan konsistensi istilah. Hindari kalimat yang terlalu panjang dan sulit dipahami. Pemeriksaan otomatis dapat membantu menemukan kesalahan, tetapi pemeriksaan manual tetap diperlukan.

3. Periksa Tabel dan Gambar

Jika menggunakan tabel atau gambar, pastikan semuanya memiliki judul dan keterangan yang jelas serta benar-benar mendukung pembahasan. Jangan memasukkan visual hanya sebagai hiasan.

4. Periksa Referensi

Pastikan seluruh sitasi dan daftar pustaka sudah konsisten dengan format yang digunakan. Periksa kembali nama penulis, tahun, judul, dan informasi bibliografis lainnya.

5. Revisi Secara Bertahap

Jangan mencoba memperbaiki seluruh aspek sekaligus. Lakukan revisi berdasarkan prioritas: substansi terlebih dahulu, kemudian struktur, bahasa, referensi, dan aspek teknis.

Setelah revisi selesai, baca kembali artikel secara utuh untuk memastikan perubahan tidak membuat alur tulisan menjadi terputus. Proses revisi bertahap dan pembacaan ulang secara keseluruhan merupakan bagian penting dari quality control naskah.

Sesuaikan Artikel dengan Pedoman Publikasi

Artikel yang sudah selesai belum tentu siap dikirim ke semua jurnal. Setiap jurnal, konferensi, atau media akademik dapat memiliki aturan yang berbeda mengenai struktur, format, sitasi, jumlah kata, tabel, gambar, dan aspek teknis lainnya.

Karena itu, sebelum mengirimkan naskah, baca author guidelines atau pedoman publikasi dari tujuan yang dipilih. Jangan menganggap format satu jurnal otomatis berlaku untuk jurnal lainnya.

Pada tahap akhir, lakukan satu pemeriksaan menyeluruh:

Apakah artikel ini sudah menjawab masalah penelitian, memiliki dasar referensi yang kuat, menunjukkan analisis penulis, dan mengikuti pedoman publikasi yang dituju?

Jika jawabannya ya, naskah sudah jauh lebih siap untuk masuk ke tahap pengiriman dan review.

MMI sendiri menempatkan akurasi, relevansi, manfaat, nilai tambah, kredibilitas, dan originalitas di atas SEO. Karena itu, optimasi pencarian seharusnya dilakukan setelah kualitas editorial artikel selesai, bukan sebaliknya.

Contoh Alur Artikel Ilmiah yang Sederhana

Agar lebih mudah dipraktikkan, berikut gambaran alur yang dapat digunakan ketika menyusun artikel ilmiah. Struktur ini bukan pengganti pedoman jurnal tertentu, tetapi dapat menjadi kerangka kerja awal sebelum naskah disesuaikan dengan ketentuan publikasi.

1. Tentukan Topik dan Masalah

Mulailah dengan menentukan topik yang cukup spesifik. Setelah itu, identifikasi masalah yang ingin dibahas atau dijawab.

Contohnya, topik penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan tinggi masih cukup luas. Topik tersebut dapat dipersempit menjadi persoalan tertentu, misalnya bagaimana penggunaan AI memengaruhi proses pembelajaran mahasiswa.

Pembatasan ini membantu artikel tetap fokus dan mencegah pembahasan melebar.

2. Rumuskan Tujuan

Setelah masalah ditentukan, rumuskan tujuan artikel atau penelitian.

Tujuan harus memiliki hubungan langsung dengan masalah yang telah ditetapkan. Jangan membuat tujuan yang tidak kemudian dibahas dalam bagian hasil dan pembahasan.

3. Kumpulkan Referensi

Cari sumber yang benar-benar relevan dengan topik dan masalah penelitian.

Prioritaskan sumber yang memiliki otoritas dan dapat diverifikasi. Untuk klaim yang bersifat faktual, sumber yang mendukung harus jelas. MMI juga menekankan pentingnya kualitas sumber, terutama untuk data, definisi, regulasi, dan pernyataan faktual.

4. Buat Kerangka

Sebelum menulis paragraf, susun terlebih dahulu poin-poin yang akan dibahas.

Contoh sederhana:

Judul:
Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Produktivitas Mahasiswa

Pendahuluan

  • Fenomena penggunaan media sosial.
  • Masalah produktivitas.
  • Kesenjangan atau persoalan yang ingin dikaji.
  • Tujuan penelitian.

Landasan Teori

  • Konsep media sosial.
  • Konsep produktivitas.
  • Penelitian terdahulu.

Metode

  • Pendekatan penelitian.
  • Sumber data.
  • Teknik pengumpulan data.
  • Teknik analisis.

Hasil dan Pembahasan

  • Temuan utama.
  • Interpretasi hasil.
  • Perbandingan dengan penelitian terdahulu.
  • Implikasi.

Kesimpulan

  • Jawaban atas tujuan penelitian.
  • Implikasi atau rekomendasi jika diperlukan.

Kerangka seperti ini membantu memastikan setiap bagian memiliki fungsi dan tidak terjadi pengulangan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menulis Artikel Ilmiah

Ada beberapa kesalahan yang sering membuat artikel kehilangan fokus atau menjadi kurang kuat secara akademik.

1. Topik Terlalu Luas

Topik yang terlalu luas membuat penulis kesulitan menentukan batas pembahasan.

Lebih baik memilih persoalan yang spesifik sehingga analisis dapat dilakukan secara lebih mendalam.

2. Pendahuluan Terlalu Panjang

Pendahuluan seharusnya membangun konteks dan mengarahkan pembaca kepada masalah penelitian.

Jangan memasukkan seluruh teori dan hasil penelitian terdahulu ke dalam pendahuluan jika bagian tersebut lebih tepat ditempatkan pada kajian pustaka.

3. Terlalu Banyak Definisi

Artikel ilmiah bukan kumpulan definisi dari berbagai ahli.

Gunakan definisi yang memang diperlukan untuk membangun kerangka pemikiran, kemudian lanjutkan dengan analisis.

4. Hasil dan Pembahasan Tidak Terhubung

Kesalahan lain adalah menyajikan hasil penelitian tanpa menjelaskan maknanya.

Hasil menunjukkan apa yang ditemukan, sedangkan pembahasan menjelaskan apa arti temuan tersebut dan bagaimana kaitannya dengan konteks penelitian.

5. Kesimpulan Hanya Mengulang Pendahuluan

Kesimpulan harus berasal dari hasil dan pembahasan.

Jangan sekadar mengulang latar belakang atau memberikan pernyataan umum yang tidak menjawab tujuan penelitian.

6. Menggunakan Referensi Tanpa Verifikasi

Jangan memasukkan sumber yang belum diperiksa kebenarannya. Begitu pula dengan data atau kutipan yang tidak dapat ditelusuri.

MMI secara eksplisit menekankan bahwa klaim faktual perlu dapat diverifikasi dan sumber harus mendukung klaim yang dibuat.

Setelah Artikel Selesai, Apa yang Harus Dilakukan?

Sebelum artikel dikirim, lakukan pemeriksaan akhir secara sistematis.

Pertama, periksa substansi.
Pastikan masalah, tujuan, metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan saling berhubungan.

Kedua, periksa sumber.
Pastikan setiap data dan klaim penting memiliki dasar yang memadai.

Ketiga, periksa sitasi.
Pastikan format sitasi konsisten dan seluruh sumber yang digunakan tercantum dalam daftar pustaka.

Keempat, periksa bahasa.
Hilangkan typo, kalimat tidak efektif, pengulangan, dan istilah yang tidak konsisten.

Kelima, periksa format.
Sesuaikan naskah dengan pedoman jurnal atau media yang dituju.

Keenam, baca sebagai pembaca.
Tanyakan apakah artikel mudah dipahami, apakah argumennya jelas, dan apakah setiap bagian benar-benar memberikan nilai.

Tahap terakhir ini penting karena artikel ilmiah tetap harus people-first: ditulis untuk memberikan pemahaman dan manfaat kepada pembaca, bukan sekadar memenuhi target kata atau memasukkan kata kunci. Prinsip tersebut merupakan bagian dari standar editorial MMI.

Publikasi Artikel Ilmiah

Setelah naskah selesai dan melalui pemeriksaan akhir, tahap berikutnya adalah menentukan tempat publikasi yang sesuai.

Jika tujuan penulis adalah publikasi jurnal, periksa terlebih dahulu bidang keilmuan jurnal, ruang lingkup artikel, persyaratan penulis, format naskah, gaya sitasi, serta mekanisme submission dan review.

Jangan mengirim naskah tanpa membaca pedoman publikasi. Artikel yang secara substansi baik tetap dapat membutuhkan revisi apabila format dan persyaratan teknisnya tidak sesuai dengan tujuan publikasi.

Untuk artikel yang akan dipublikasikan sebagai artikel populer, penulis juga perlu menyesuaikan bahasa dan kedalaman pembahasan dengan target pembaca. Tidak semua artikel ilmiah harus dipertahankan dalam bentuk teknis ketika disampaikan kepada masyarakat umum.

Dengan demikian, proses menulis artikel ilmiah tidak berhenti ketika naskah selesai. Penulisan, pemeriksaan, penyuntingan, dan penyesuaian dengan tujuan publikasi merupakan satu rangkaian proses.

Checklist Singkat Sebelum Artikel Dikirim

Gunakan daftar berikut sebagai pemeriksaan terakhir:

  • Topik dan masalah penelitian sudah jelas.
  • Tujuan artikel sudah sesuai dengan masalah.
  • Struktur artikel mengikuti pedoman publikasi.
  • Referensi relevan dan dapat diverifikasi.
  • Data dan klaim penting memiliki sumber.
  • Sitasi dan daftar pustaka konsisten.
  • Tidak ada plagiarisme atau copy-paste tanpa atribusi.
  • Hasil dan pembahasan saling terhubung.
  • Kesimpulan menjawab tujuan penelitian.
  • Bahasa sudah diperiksa.
  • Tabel dan gambar memiliki fungsi yang jelas.
  • Naskah sudah disesuaikan dengan pedoman publikasi tujuan.

Dengan checklist tersebut, penulis dapat melakukan quality control sebelum naskah masuk ke tahap pengiriman atau review.

Ringkasan

Menulis artikel ilmiah yang baik bukan hanya tentang mengikuti format tertentu. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap bagian memiliki fungsi yang jelas, didukung sumber yang relevan, dan menghasilkan pembahasan yang bermanfaat bagi pembaca.

Prosesnya dapat dimulai dari menentukan topik dan masalah, merumuskan tujuan, mengumpulkan referensi, membuat kerangka, kemudian mengembangkan pendahuluan, landasan teori, metode, hasil dan pembahasan, hingga kesimpulan. Setelah draf selesai, lakukan pemeriksaan terhadap substansi, bahasa, sitasi, referensi, serta kesesuaian format dengan pedoman publikasi.

Artikel ilmiah yang baik juga tidak seharusnya menjadi kumpulan kutipan. Referensi digunakan untuk mendukung argumentasi, sedangkan penulis tetap perlu menunjukkan pemahaman dan analisis terhadap persoalan yang dibahas. Prinsip editorial MMI menempatkan akurasi, relevansi, manfaat, nilai tambah, kredibilitas, dan originalitas sebagai prioritas utama.

Pada akhirnya, tidak ada satu format artikel ilmiah yang berlaku untuk semua kebutuhan. Struktur dan teknis penulisan perlu disesuaikan dengan pedoman jurnal, kampus, atau media publikasi yang dituju. Karena itu, selalu periksa pedoman publikasi sebelum mengirimkan naskah.

Jika seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan baik, artikel tidak hanya memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga lebih mudah dipahami, memiliki argumentasi yang kuat, dan memberikan nilai bagi pembaca.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait