Pengenalan
Pepaya merupakan jenis tanaman perdu dengan tinggi sekitar 2 hingga 10 meter. Pepaya tergolong sebagai tanaman yang banyak dibudidayakan karena memiliki beragam manfaat. Buahnya yang sudah matang dapat dikonsumsi sebagai sumber vitamin A, B, dan C. Selain kaya akan vitamin, pepaya juga mengandung banyak zat besi dan kalsium (Pinto, 2024).
Baca juga: Manfaat Buah Pepaya untuk Kesehatan
Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI
Sebagai buah klimaterik, pepaya mengalami peningkatan laju respirasi dan produksi etilen setelah dipetik dari pohon. Selama proses pematangan, daging buah akan melunak dan warna
kulitnya berubah dari hijau menjadi jingga.
Jika tidak dihambat, buah pepaya dapat membusuk hanya dalam waktu 3 hingga 7 hari pada suhu ruang. Tantangan ini menjadi kian krusial untuk kebutuhan distribusi jarak jauh maupun komoditas ekspor.
Baca juga: Manfaat Mengkonsumsi Pepaya (Carica papaya) untuk Mengatasi Konstipasi
Bagaimana caranya memperpanjang kesegaran pepaya tanpa mengorbankan mutu dan keamanan pangannya?
Para peneliti dan praktisi teknologi pangan kini menggabungkan dua pendekatan utama untuk menjawab tantangan ini: Modified Atmosphere Packaging (MAP) dan edible coating.
Kedua pendekatan itu bekerja dengan prinsip yang saling melengkapi. MAP mengendalikan lingkungan gas di sekitar buah, sementara edible coating membangun “perisai atau lapisan” pelindung langsung pada permukaan buah.
MAP dan Edible Coating
MAP adalah teknologi pengemasan yang memodifikasi komposisi udara di dalam kemasan dengan menurunkan kadar oksigen (O₂) dan meningkatkan karbon dioksida (CO₂), sehingga laju respirasi buah dapat diperlambat.
MAP menggunakan kemasan berbahan polimer seperti LDPE (Low Density Polyethylene), HDPE (High Density Polyethylene), PP (Polypropylene), PVC (Polyvinyl Chloride), PET (Polyethylene Terephthalate), atau film multilapis (multilayer films) dengan komposisi gas dalam kemasan diatur sejak awal melalui penambahan gas seperti O₂, CO₂, dan N₂.
Kemasan ini berfungsi mengatur komposisi gas di sekitar produk sehingga laju respirasi, pematangan, dan kerusakan dapat diperlambat. Dengan demikian, kualitas produk dapat dipertahankan dan umur simpannya (shelf life) menjadi lebih panjang selama penyimpanan.
Sementara edible coating merupakan lapisan tipis yang diaplikasikan langsung pada permukaan buah dan aman untuk dikonsumsi secara langsung. Formula edible coating ini digunakan sebagai target penyimpanan yang dapat dikonsumsi.
Adapun edible coating yang dapat digunakan adalah kitosan, alginat, pektin, pati, karagenan, gum arab, gelatin, protein whey, serta gel lidah buaya (aloe vera gel), esktrak jahe, Carnauba Wax Nanoemulsion (CWN), minyak atsiri dan lain-lain.
Penggunaan edible coating bertujuan untuk mengurangi kehilangan air, menekan laju respirasi, menghambat pertumbuhan mikroba, serta memperlambat proses pematangan sehingga kualitas dan umur simpan buah dapat dipertahankan.
Cara pengaplikasiannya pun terbilang sederhana: potongan pepaya yang sudah dicuci dan disanitasi cukup dicelupkan selama 30 detik ke dalam larutan edible coating, atau disemprot sebanyak 0,5 mL per gram bahan, lalu ditiriskan hingga lapisan terbentuk merata.
Kemasan yang Bisa Bicara (Smart Packaging)
Inovasi tersebut tidak berhenti di situ saja. Selain MAP dan edible coating ternyata untuk menjamin keamanan produk selama perjalanan distribusi terutama ekspor jarak jauh, kemasan papaya terutama pada papaya yang dapat dimakan langsung dapat ditambahkan dengan smart packaging (kemasan cerdas).
Dua komponen utama smart packaging yang digunakan ada time temperature indicator (TTI) dan pH-responsive Colorimetric Sensor Array (CSA).
Sensor TTI berfungsi sebagai pengautr yang akan mengubah warnanya secara bertahap seiring dengan paparan suhu dan waktu. Jika rantai dingin terganggu selama transportasi, perubahan warna ini menjadi sinyal peringatan yang langsung bisa dilihat mata.
Sementara sensor pH-CSA digunakan untuk mendeteksi perubahan pH yang mengalami proses pembusukan awal pada buah. Tandanya warna sensor akan bergeser dari merah-kuning (pH rendah, buah masih segar) ke kuning-biru (pH lebih tinggi, mutu menurun).
Dengan dua sensor tersebut, konsumen, distributor, maupun petugas pengawasan mutu bisa memantau kondisi produk secara real-time yang cukup ditandai dengan penglihatan warna pada kemasan.
Pepaya adalah buah yang mudah rusak, tetapi bukan berarti tidak bisa bersaing di pasar global. Dengan teknologi yang tepat yaitu MAP, edible coating, serta smart packaging yang memantau kesegaran secara real-time. Sebab itu, pepaya Indonesia memiliki peluang besar untuk hadir di rak-rak supermarket mancanegara dengan kualitas yang tetap terjaga.
Inovasi ini bukan sekadar temuan laboratorium. Inovasi ini sebagai jembatan antara potensi pertanian tropis Indonesia dengan standar mutu pangan global yang semakin tinggi yang dapat memudahkan bagi petani, eksportir, serta pelaku industri pangan di tanah air merupakan kabar baik yang layak disambut dengan serius.
Referensi
González-Aguilar GA, Buta JG, Wang CY. 2003. Methyl jasmonate and modified atmosphere packaging (MAP) reduce decay and maintain postharvest quality of papaya ‘Sunrise’. Postharvest Biology and Technology. 28(3):361–370.
Jia H, Wu C, Huang M, Zhu Q, Zhang M. 2025. TTI and pH-responsive dual colorimetric sensor arrays combined with a cascaded deep learning approach for dynamic monitoring of freshness of fresh-cut fruits. Food Chemistry. 145495.
Oliveira Filho JG, Silva GC, Oldoni FCA, Miranda M, Florencio C, Oliveira RMD, Gomes MP, Ferreira MD. 2022. Edible coating based on carnauba wax nanoemulsion and Cymbopogon martinii essential oil on papaya postharvest preservation. Coatings. 12(11):1700.
Pinto A. 2024. Pengetahuan dan pemanfaatan pepaya (Carica papaya L.) dalam pengobatan penyakit di Díli, Timor-Leste. Berkala Ilmiah Biologi. 15(1):1–13.
Sitorus RTR, Hartiati A, Yoga IWGS. 2025. Karakteristik fresh-cut pepaya California pada perlakuan rasio pati singkong-kitosan dan jumlah gliserol sebagai edible coating. Jurnal Rekayasa dan Manajemen Agroindustri. 13(3):309–320.
Penulis: Sekar Nurjannah
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pangan, Institut Pertanian Bogor University
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Nugraha Edhi Suyatma S.T.P., D.E.A.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













