Saat Teknologi Pengeringan Menjadi Senjata Melawan Food Waste: Studi Kasus Pisang di Indonesia

teknologi-pengeringan-pisang

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang hasil pertaniannya berlimpah. Hasil pertanian tersebut mencakup buah dan sayuran. Namun, sayangnya tidak semua hasil pertanian tersebut terdistribusi dengan baik ke konsumen atau masyarakat. Beberapa hasil pertanian yang mengalami kerusakan selama penyimpanan, pendistribusian, atau tidak terjual dalam waktu yang telah ditentukan sebelum hasil pertanian tersebut busuk atau rusak.

Masalah tersebut tentunya perlu diperhatikan dengan detail karena dapat menyebabkan masalah yang lebih besar apabila dibiarkan begitu saja. Kementerian PPN/Bappenas mencatat Indonesia menghasilkan food loss dan food waste sekitar 23–48 juta ton tiap tahun yang setara dengan 115–184 kg per orang tiap tahun. Berdasarkan data tersebut, dapat terbukti bahwa masih banyak makanan terbuang dengan sia-sia dan bahkan sebelum diolah ataupun dikonsumsi. Pada data tersebut, terdapat buah dan sayuran dari hasil pertanian yang tergolong sebagai komoditas yang mudah mengalami kerusakan dan memiliki umur simpan yang relatif pendek

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut kami, masalah tersebut sangatlah merugikan berbagai pihak dan bahkan dapat menurunkan ekonomi negara. Buah ataupun sayuran yang terbuang juga menyebabkan air yang dipakai untuk menanam menjadi sia-sia. Kemudian, lahan yang dipakai hingga berbulan-bulan serta usaha yang petani lakukan menjadi tidak berharga hanya dalam waktu sekejap. Oleh karena itu, food waste bukanlah hanya jumlah makanan yang terbuang, tetapi juga berdampak pada sumber daya yang digunakan selama proses pemanenan.

Salah satu contohnya adalah pisang. Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai produsen pisang terbesar di dunia. Orang-orang dapat menemukan pisang dengan mudah dan harganya terjangkau. Namun, pisang cepat matang dan mudah sekali rusak. Apabila sedang musim panen raya atau ada masalah pada bagian distribusi, banyak masyarakat yang merasa bosan sehingga stok pisang akan menumpuk dan berakhir menjadi limbah.

Permasalahan limbah tersebut harus ditinjau kembali dan perlu diolah agar dapat mengurangi food waste. Faktanya, pisang yang terlalu matang dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai tambah dan memiliki umur simpan yang panjang. Adapun salah satu teknologi yang menarik dan dapat mendukung permasalahan food waste tersebut yaitu Foam-mat drying. Foam-mat drying adalah teknologi yang mengubah bahan pangan cair atau setengah cair menjadi busa dengan bantuan foaming agents. Setelah menjadi busa, proses pengeringan mengubahnya menjadi bubuk. Jika dibandingkan dengan metode pengeringan lainnya, foam-mat drying lebih sederhana, biayanya rendah, dan cocok digunakan untuk UMKM dan para petani.

Melalui metode ini, pisang yang terlalu matang dapat diubah menjadi bubuk pisang yang lebih tahan lama. Bubuk pisang tersebut dapat diolah menjadi minuman, makanan bayi, ataupun roti. Oleh karena itu, pisang yang dulunya menjadi sumber peningkatan angka food waste dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Kami melihat bahwa manfaat teknologi ini tidak hanya sebatas mengurangi food waste. Melalui proses pengolahan menjadi bubuk, produk pertanian memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan daya simpan yang lebih lama. Selain itu, inovasi ini juga dapat membuka peluang usaha baru bagi petani maupun pelaku UMKM. Di tengah kondisi harga hasil panen yang sering berubah-ubah, pengembangan produk seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku sektor pertanian.

Menurut kami, pengembangan teknologi pangan seharusnya tidak hanya berfokus pada kebutuhan industri besar. Teknologi yang sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan justru memiliki peran penting dalam membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi petani dan UMKM. Namun, keberhasilan penerapan teknologi tidak cukup hanya melalui pemberian pelatihan atau bantuan alat. Dalam praktiknya, masih terdapat berbagai kendala, seperti biaya perawatan yang tinggi, sulitnya memperoleh suku cadang, hingga kurangnya pendampingan setelah program selesai. Akibatnya, tidak sedikit teknologi yang akhirnya tidak digunakan secara optimal dan pelaku usaha kembali menggunakan cara tradisional. Oleh karena itu, dukungan yang diberikan perlu dirancang secara berkelanjutan agar teknologi yang diperkenalkan benar-benar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, hasil pertanian yang melimpah seharusnya menjadi berkah, bukan sumber pemborosan. Dengan memanfaatkan teknologi yang tepat, buah-buahan yang sebelumnya berisiko terbuang, seperti pisang, dapat diolah kembali menjadi produk yang lebih awet, memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut kami, hal ini menunjukkan bahwa teknologi pangan tidak hanya berperan dalam mengurangi food waste, tetapi juga dapat mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan nilai tambah sektor pertanian di Indonesia.


Penulis:
1.⁠ ⁠Gheanadya Ciara Keisha
2.⁠ ⁠⁠Neila Artha Fakhira
Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran (UNPAD)


Dosen Pengampu: Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses