Di Balik Selembar Tikar
Rambut Mbah Sudi telah memutih seluruhnya. Siang itu, perempuan berusia 78 tahun tersebut baru saja pulang dari sawah dengan mengayuh sepeda. Di tangannya tergenggam seikat mendong kering yang baru selesai ditumbuk menggunakan alu kayu agar seratnya menjadi lebih lentur dan tidak mudah patah ketika dianyam.
Setelah meletakkan seikat mendong kering itu di lantai rumah, ia mulai bercerita. Dulu, hamparan sawah di depan rumahnya hingga wilayah selatan Padukuhan Plembon, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, dipenuhi tanaman mendong.
Kini, sebagian besar telah berganti menjadi sawah padi dan kebun pepaya.
Di rumah yang sama, sebuah kuali besar mengepulkan uap. Isinya bukan rebusan makanan, melainkan helai-helai mendong yang sedang diberi warna. Mba Sarmini, putri keduanya, mengangkatnya perlahan sebelum menjemurnya di bawah matahari. Hijau, merah, ungu, atau warna lain akan muncul sesuai pesanan.
Ketika ditanya apakah proses mewarnai membutuhkan waktu lama, jawabannya sederhana, “Kalau mewarnai cuma direbus saja pakai kuali besar.”
Mba Sarmini kini berusia 51 tahun. Ia mulai menganyam sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tidak ada kursus ataupun pelatihan resmi. Ia belajar dengan mengamati ibunya setiap hari hingga perlahan gerakan tangan, cara menyambung helai mendong, dan ketegangan anyaman melekat dalam ingatannya.
“Soalnya dulu dari kecil saya sering lihat mama saya begini, jadi bisa dengan sendirinya. Terus belajar-belajar, lama-lama bisa sendiri. Saya dari SD (Sekolah Dasar),” ujarnya.
Setiap hari, ia duduk berjam-jam dengan kaki dan pinggang diikat menggunakan tali rafia pada lembaran anyaman agar posisi tikar tetap kencang. Punggung dan kaki kerap terasa pegal, tetapi pekerjaan harus terus berjalan.
Satu lembar tikar membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat hari untuk diselesaikan.
Setelah selesai, tikar tersebut dijual seharga Rp60.000 untuk warna alami mendong dan Rp70.000 jika menggunakan pewarna. Harga tersebut juga harus disesuaikan kembali dengan naik turunnya harga bahan baku mendong.
Bertahun-tahun rutinitas itu terus dijalani Mbah Sudi dan Mba Sarmini. Namun, kisah mereka justru jarang terdengar di luar Plembon.
Cerita yang lebih sering dikenal masyarakat justru datang dari produk akhirnya: dompet tanpa jahit, sandal hotel, sajadah haji, hingga berbagai kerajinan mendong yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kreativitas para pengrajin yang mengembangkan nilai ekonomi mendong menjadi beragam produk. Seorang pengrajin di Plembon, Dwiyanto, menjelaskan bahwa seluruh proses produksi sesungguhnya hidup melalui rantai usaha yang saling bergantung, mulai dari petani mendong, pengepul, penganyam, hingga pengrajin yang mengolah tikar menjadi produk jadi.
Rantai itu terdengar sederhana ketika diucapkan, tetapi setiap bagiannya menyimpan pengetahuan, tenaga, dan waktu yang berbeda-beda.
Kerja Sunyi Para Penganyam
Perhatian publik lebih sering tertuju pada produk akhir dan para pengrajin yang mengolahnya. Berbagai produk hasil kreasi mereka pernah dipesan dalam jumlah ribuan, digunakan sebagai suvenir haji, hingga dipasarkan ke hotel-hotel berbintang. Kisah keberhasilan itu tentu patut diapresiasi.
Akan tetapi, sebelum berubah menjadi dompet, sandal, sajadah, atau berbagai produk lainnya, mendong terlebih dahulu harus dianyam menjadi lembaran tikar. Di titik inilah Mbah Sudi dan Mba Sarmini bekerja, pada mata rantai yang paling awal sekaligus paling jarang mendapat sorotan.
Padahal, tanpa kerja mereka, tidak akan ada bahan yang dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang selama ini dikenal masyarakat.
Oleh karena itu, ketika seorang pengrajin berharap “mendong jangan sampai hilang dari Plembon”, harapan tersebut sesungguhnya juga bergantung pada keberadaan orang-orang yang masih bersedia menganyam.
Bagi Mbah Sudi dan Mba Sarmini, menganyam tidak pernah benar-benar dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Seusai pulang dari sawah, Mbah Sudi masih sempat menumbuk mendong sebelum beristirahat. Sementara itu, Mba Sarmini menganyam di sela-sela menjaga warung dan mengurus pekerjaan rumah.
Baca Juga: Baduy Dalam dan Baduy Luar: Ketika Kesederhanaan Menjadi Cara Hidup
Jika ada urusan lain, anyaman akan ditinggalkan sementara, lalu dilanjutkan kembali ketika ada waktu. Tidak ada jam kerja yang tetap; yang dihitung hanyalah satu lembar tikar yang selesai.
Dahulu, hasil menanam dan menganyam mendong menjadi sumber penghidupan keluarga. Mbah Sudi bercerita bahwa tiga anaknya dapat menyelesaikan pendidikan hingga SMA berkat pekerjaan tersebut. Pada masa itu, biaya sekolah sebesar Rp11.000 per bulan sudah terasa sangat berat bagi banyak keluarga.
Mendong, saat itu, bukan sekadar tanaman. Ia menjadi penopang kehidupan rumah tangga, sesuatu yang kini sulit dibayangkan ketika satu lembar tikar hanya laku Rp60.000 setelah tiga sampai empat hari kerja.
Belajar melalui Jemari
Bagi Mbah Sudi, keterampilan menganyam tidak diperoleh melalui sekolah ataupun pelatihan. Ia belajar bersama teman-temannya dalam tradisi yang mereka sebut “lemburan”, yaitu berkumpul di satu rumah untuk menganyam sambil berbincang dan saling belajar.
Baca Juga: Batagak Kudo-Kudo: Simpul Kebersamaan dalam Tegaknya Rumah Gadang
Sementara itu, Mba Sarmini memperoleh keterampilan yang sama dengan terus mengamati ibunya sejak kecil.
Selama berada di rumah Mba Sarmini, saya sempat diberi kesempatan mencoba menganyam bersama beliau. Sekilas gerakannya tampak sederhana: menyelipkan satu helai mendong, menariknya hingga rapat, lalu mengulang pola yang sama.
Namun, ketika mencobanya sendiri, saya menyadari bahwa menganyam tidak semudah yang terlihat. Helai mendong mudah bergeser sehingga anyaman pun menjadi longgar.
Mba Sarmini beberapa kali membetulkan posisi anyaman saya sambil menunjukkan cara menarik helai mendong agar tetap rapat.
Saat itulah saya menyadari bahwa gerakan yang tampak sederhana tersebut sesungguhnya merupakan keterampilan yang dibangun melalui koordinasi tubuh dan ketelitian yang tidak mungkin dikuasai hanya dalam sekali mencoba.
Pengalaman singkat itu membuat saya memahami mengapa antropolog Tim Ingold menyebut keterampilan semacam ini sebagai “enskilment“, yaitu keterampilan yang tidak diwariskan seperti resep yang cukup dijelaskan dengan kata-kata.
Enskilment tumbuh ketika seseorang terus mengamati, mencoba, mengulang, dan hidup bersama orang-orang yang telah lebih dahulu menguasainya.
Apa yang saya alami selama beberapa menit tentu tidak sebanding dengan puluhan tahun yang dijalani Mbah Sudi dan Mba Sarmini. Namun, dari situ terlihat bahwa menganyam bukan sekadar pekerjaan tangan, melainkan pengetahuan yang hidup di dalam praktik sehari-hari.
Karena itu pula, keterampilan tersebut tidak mudah dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya ketika kebersamaan yang menumbuhkannya mulai menghilang.
Di Ujung Rantai yang Kian Melonggar
Justru di situlah persoalannya. Jalur regenerasi itu kini mulai terputus. Ketika ditanya apakah anaknya dapat menganyam, Mba Sarmini menjawab singkat, “Nggak bisa. Anak-anak sekarang pada nyambut kerja ning luar.”
Kesempatan belajar yang dahulu hadir melalui kebersamaan dalam lemburan kini semakin jarang ditemukan. Jumlah penganyam yang dahulu mencapai puluhan orang kini tinggal hitungan jari, dan sebagian besar telah berusia di atas lima puluh tahun.
Di saat yang sama, lahan-lahan mendong juga semakin menyusut karena beralih menjadi sawah padi atau kebun pepaya.
Mungkin suatu hari nanti orang masih dapat membeli produk mendong. Sawah yang dahulu dipenuhi mendong mungkin memang telah berganti menjadi padi dan pepaya.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika tak ada lagi orang seperti Mbah Sudi dan Mba Sarmini yang masih mengetahui bagaimana seikat mendong diubah menjadi selembar tikar.
Saat tangan-tangan terakhir itu berhenti menganyam, yang hilang tidak hanya sebuah kerajinan, tetapi juga pengetahuan, cara belajar, dan cara hidup yang selama puluhan tahun membentuk identitas Plembon.
Baca Juga: Dream Shack: Kerajinan Anyaman untuk Anak-Anak dengan Penerapan Metode Gamification
Barangkali, saat itulah mendong benar-benar hilang dari Plembon—bukan karena tanamannya tak lagi tumbuh, melainkan karena tak ada lagi yang mewariskan cara hidup yang membuatnya tetap bertahan.
Referensi
Ingold, T. (2021, November 29). The Perception of the Environment: Essays on Livelihood, Dwelling and Skill. Taylor & Francis Group. https://www.routledge.com/The-Perception-of-the-Environment-Essays-on-Livelihood-Dwelling-and-Skill/Ingold/p/book/9781032052274
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













