Batagak Kudo-Kudo: Simpul Kebersamaan dalam Tegaknya Rumah Gadang

Batagak Kudo-Kudo
Batagak Kudo-Kudo (Sumber: Penulis)

Padang Pariaman dikenal kaya dengan tradisi dan budaya beragam, yang mencerminkan kearifan lokal masyarakatnya. Tradisi menurut etimologi adalah kata yang mengacu pada adat atau kebiasaan yang turun temurun atau peraturan yang dijalankan masyarakat. Tradisi-tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antar masyarakat, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi (Alwi, 2020).

Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan hingga kini adalah Batagak Kudo-Kudo. Pernah nggak, kamu kepikiran betapa luar biasanya tradisi budaya kita? Dari semua tradisi yang ada di Minangkabau, Batagak Kudo-Kudo merupakan salah satu tradisi Minangkabau yang nggak kalah menariknya dari pesta rakyat modern.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bayangkan, selain menjadi tahapan penting dalam proses pendirian rumah gadang, Batagak Kudo-kudo menjelma sebagai peristiwa sosial yang menghidupkan ruang kebersamaan masyarakat. Tradisi ini menghadirkan suasana meriah yang sarat tawa, canda, dan interaksi hangat antarsesama.

Lebih dari sekadar aktivitas pembangunan, Batagak Kudo-kudo merefleksikan semangat gotong royong dan solidaritas kolektif, di mana tegaknya rumah gadang menjadi simpul kebersamaan yang mengikat nilai persatuan, kekeluargaan, dan identitas bersama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, batagak kudo-kudo bukan sekadar tahapan teknis dalam mendirikan rumah gadang. Tradisi ini hidup sebagai peristiwa budaya yang sarat makna, tempat nilai adat, kepercayaan, dan kebersamaan masyarakat Minangkabau bertemu dalam satu simpul yang kokoh.

Istilah kudo-kudo sendiri berakar dari dunia silek, ilmu bela diri khas Minangkabau. Dalam silek, kudo-kudo merupakan pelajaran awal posisi dasar pertahanan diri yang menentukan keseimbangan dan kekuatan gerak selanjutnya.

Makna itulah yang kemudian ditarik ke dalam konteks pembangunan rumah kudo-kudo dipahami sebagai sistem pertahanan rumah, pondasi awal yang harus kuat agar mampu melindungi seluruh penghuni di dalamnya.

Proses batagak kudo-kudo diawali dengan musyawarah. Calon pendiri rumah terlebih dahulu berunding dan meminta izin kepada mamak, kaum kerabat, serta wali korong atau kapalo mudo. Musyawarah ini membicarakan rencana pembangunan, termasuk tanah tempat rumah akan didirikan.

Setelah kesepakatan dicapai, barulah dibuat janji dengan tukang nan pandai untuk menentukan hari baik, menyiapkan alat dan bahan, serta melengkapi doa-doa tertentu. Pada tahap ini pula disiapkan mantra atau kertas bertuliskan “anti-bakar” yang dipercaya sebagai bentuk perlindungan simbolik terhadap rumah.

Baca juga: Pengaruh Status Sosial dalam Tradisi Bajapuik: Perkawinan Masyarakat Pariaman

Kabar tentang rencana tagak kudo-kudo kemudian disampaikan dari mulut ke mulut kepada tetangga dan warga sekitar. Pada hari yang telah ditentukan, masyarakat datang beramai-ramai membawa bahan bangunan seperti seng, kayu, pasir, dan semen.

Di sinilah semangat gotong royong tampak nyata, rumah tidak berdiri atas satu tangan, melainkan hasil uluran banyak tangan. Beberapa jenis kayu pilihan pun digunakan, seperti batang kelapa atau batang jengkol, yang secara turun-temurun dipercaya memiliki sifat anti-maling dan anti-api.

Selain bahan bangunan dari masyarakat, calon pendiri rumah juga wajib menyiapkan sejumlah perlengkapan adat. Di antaranya seekor ayam jantan, paureh yang terdiri dari cikumpai, cikarau, sitawa, dan sidingin yang diletakkan dalam tenong, cirik ameh berupa serbuk emas hasil kikisan, kain putih bertuliskan “anti-bakar” yang diminta dari ustadz, anyaman daun kelapa, payung hitam, serta seluruh bahan bangunan yang telah dikumpulkan bersama.

Dalam mendirikan rumah, jarak dengan tetangga juga menjadi perhatian. Minimal, air cucuran hujan dari atap tidak boleh jatuh ke tanah tetangga, sehingga biasanya disisakan jarak sekitar satu meter. Aturan ini menunjukkan bahwa sejak awal, harmoni sosial sudah diperhitungkan dalam arsitektur rumah.

Kisah Ibu Nursida salah satu warga di Ulakan Tapakis memperlihatkan bagaimana kepercayaan adat masih hidup dalam praktik batagak kudo-kudo. Rumah yang telah direncanakan berdiri sejak tiga puluh tahun lalu sempat tertunda karena muncul desas-desus bahwa pondasinya sudah “kena”, bahkan dikaitkan dengan rasa iri dari kerabat dekat.

Akhirnya, atas saran tukang nan pandai, rumah tersebut dibangun kembali dengan melengkapi semua syarat yang dianggap kurang terutama paureh serta memundurkan posisi rumah satu langkah ke belakang. Langkah ini dipercaya sebagai upaya mematahkan omongan negatif yang terlanjur melekat pada tanah sebelumnya.

Karena lama terbengkalai, tanah dan kerangka rumah itu sempat kurang diperhatikan keluarga. Melalui salah satu tahapan adat berupa potong limo setelah paureh dilengkapi kembali, muncul kepercayaan bahwa dua orang anak Ibu Nursida akan memberi perhatian besar pada pembangunan rumah tersebut.

Percaya atau tidak, Ibu Nursida membenarkan bahwa dua dari tiga anaknya memang berlomba-lomba membantu pembangunan rumah itu hingga selesai.

Secara keseluruhan, prosesi batagak kudo-kudo biasanya dapat diselesaikan dalam satu hari. Saat ayam jantan disembelih, darahnya dialirkan ke kayu yang akan menjadi kudo-kudo, lalu di sela-sela kayu tersebut diselipkan kertas “anti-bakar”.

Daging ayam kemudian diolah menjadi hidangan, terutama untuk para tukang dan mereka yang membantu. Jumlah kasau atau batang kayu yang digunakan pun diyakini harus ganjil, tidak boleh genap. Dalam istilah lama, tonggak utama rumah kayu disebut Tonggak Tuo. Namun seiring perubahan material bangunan, rumah-rumah yang kini banyak menggunakan batu menyebut tonggak pertamanya sebagai Paran.

Proses penentuan dan pemasangannya sepenuhnya diserahkan kepada tukang nan pandai, tanpa perlakuan khusus dari pemilik rumah. Setelah kudo-kudo ditegakkan, struktur tersebut dipayungi dengan payung hitam sebagai simbol perlindungan. Tahap akhir dari rangkaian ini ditutup dengan makan bersama atau alek, sebagai ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat tukang, keluarga, tetangga, dan masyarakat.

Dengan demikian, batagak kudo-kudo di Ulakan Tapakis bukan hanya tentang menegakkan rangka rumah gadang. Ia adalah simpul kebersamaan, tempat musyawarah, gotong royong, kepercayaan, dan rasa saling menjaga bertemu. Dalam tegaknya kudo-kudo, tegak pula nilai adat dan ikatan sosial yang membuat rumah bukan sekadar bangunan, melainkan ruang hidup bersama.

 


Penulis: Tasiya Anggara Putri
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses