Ilmu Bela Diri Tradisional Kalah Eksis?

beladiri tradisional
Foto: dilarangbego.com

Ilmu bela diri tidak hanya sekadar teknik bertarung, melainkan juga warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, serta jati diri bangsa. Kamu tentu sering mendengar tentang pencak silat, seni bela diri khas Nusantara yang kaya makna dan sarat tradisi.

Namun, di era modern ini, eksistensi ilmu bela diri tradisional kian tergerus popularitas olahraga bela diri asing yang dianggap lebih bergengsi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena tersebut menimbulkan kekhawatiran besar, terutama ketika generasi muda lebih mengenal karate atau taekwondo dibandingkan bela diri asli Indonesia.

Padahal, pencak silat maupun bela diri tradisional lainnya bukan hanya melatih fisik, tetapi juga membentuk karakter, mental, dan spiritual. Jika tren ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan warisan leluhur bisa benar-benar hilang dari kehidupan kita.

Kamu pasti setuju bahwa menjaga keberlangsungan budaya bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab kita semua. Oleh karena itu, penting membicarakan bagaimana cara melestarikan ilmu bela diri tradisional agar tetap relevan di tengah arus globalisasi.

Artikel ini akan membahas peran bela diri sebagai warisan budaya, manfaatnya untuk generasi muda, hingga strategi melestarikannya agar tidak kalah eksis dibandingkan bela diri asing.

Baca juga: Kirim Opini ke Media Mahasiswa Indonesia: 100% Diterbitkan!

1. Ilmu Bela Diri sebagai Warisan Budaya Indonesia

Ilmu bela diri bukan hanya tentang gerakan fisik atau teknik pertahanan diri. Ia lahir dari proses panjang peradaban Nusantara yang kaya budaya serta nilai kehidupan. Setiap daerah memiliki ciri khas bela diri yang merepresentasikan filosofi, tradisi, dan karakter masyarakat setempat. Keunikan inilah yang membuat bela diri tradisional layak disebut sebagai salah satu aset penting bangsa.

Kamu mungkin sering mendengar bahwa seni bela diri seperti pencak silat tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan bertarung. Lebih dari itu, ia merupakan simbol identitas yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, pengaruh modernisasi membuat banyak generasi muda kurang mengenal akar budaya tersebut. Karena itu, membicarakan bela diri tradisional berarti juga membicarakan masa depan budaya bangsa.

Kekayaan Budaya Bela Diri di Nusantara

Indonesia memiliki ribuan pulau dengan beragam budaya. Dari keragaman itu lahirlah berbagai ilmu bela diri tradisional yang mencerminkan kearifan lokal. Misalnya, pencak silat dari Jawa Barat, silat harimau dari Sumatera Barat, hingga kandaide dari Sulawesi Tenggara. Setiap aliran memiliki jurus, filosofi, serta tata gerak berbeda yang menambah kekayaan budaya bangsa.

Kamu perlu tahu, kekayaan bela diri ini bukan sekadar warisan untuk dipelajari, tetapi juga potensi besar yang bisa menjadi daya tarik wisata budaya. Festival bela diri tradisional di berbagai daerah bisa menjadi sarana mengenalkan Indonesia ke mata dunia. Semakin sering budaya ini ditampilkan, semakin besar pula peluang bela diri tradisional bertahan di era global.

Data Kemendikbud tentang Bela Diri Tradisional yang Terancam Punah

Menurut data Kemendikbud tahun 2016, ada empat bela diri tradisional yang hampir punah, dua di Jawa Barat dan dua di Sulawesi Tenggara. Fakta ini menunjukkan bahwa bela diri tradisional benar-benar menghadapi ancaman serius. Jumlah perguruan yang semakin sedikit serta minimnya regenerasi menjadi faktor utama berkurangnya eksistensi bela diri asli Indonesia.

Kamu pasti miris melihat kondisi ini. Bayangkan jika bela diri yang diwariskan leluhur hilang begitu saja, maka bukan hanya teknik bertarung yang hilang, melainkan juga nilai budaya, spiritual, serta jati diri bangsa. Tanpa upaya serius melestarikannya, bisa jadi dalam beberapa dekade mendatang bela diri tradisional hanya tinggal catatan sejarah.

Bela Diri sebagai Bagian dari Identitas Bangsa

Ilmu bela diri tradisional bukan sekadar seni pertarungan, melainkan juga identitas bangsa yang memperkuat rasa kebanggaan nasional. Pencak silat misalnya, diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Pengakuan ini seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bahwa tanggung jawab menjaga warisan leluhur berada di tangan kita semua.

Kamu tentu setuju, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi bela diri tradisional. Dengan mempelajarinya, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga ikut melestarikan budaya bangsa. Jika bela diri tradisional mampu kembali populer, maka identitas Indonesia akan semakin kokoh di tengah derasnya arus globalisasi.

Baca juga: Eksplorasi Pencak Silat sebagai Warisan Budaya dan Seni Bela Diri

2. Manfaat Ilmu Bela Diri untuk Anak dan Remaja

Berlatih ilmu bela diri sejak usia dini memberikan manfaat lebih dari sekadar keterampilan melindungi diri. Anak dan remaja yang mengikuti latihan teratur biasanya menunjukkan perkembangan positif, baik secara fisik maupun mental. Gerakan bela diri melatih koordinasi tubuh, sementara filosofi yang diajarkan membentuk sikap percaya diri, disiplin, dan rasa hormat.

Kamu perlu memahami, di era yang penuh tantangan ini, anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademis. Mereka juga memerlukan bekal keterampilan hidup yang dapat membuat mereka lebih tangguh menghadapi tekanan. Ilmu bela diri bisa menjadi sarana yang tepat untuk membangun karakter kuat sekaligus menjaga warisan budaya bangsa.

Melatih Percaya Diri dan Fokus

Rasa percaya diri sering kali menjadi masalah besar bagi anak dan remaja. Melalui latihan bela diri, mereka belajar mengenali kemampuan diri dan mengasah fokus. Setiap gerakan menuntut konsentrasi penuh sehingga pikiran terlatih untuk tetap fokus pada tujuan.

Kamu bisa melihat, anak yang berlatih rutin cenderung lebih berani tampil di depan umum dan mampu menghadapi tantangan. Kepercayaan diri ini tidak hanya bermanfaat di arena latihan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat berbicara di kelas atau menghadapi ujian sekolah.

Membentuk Disiplin dan Karakter

Ilmu bela diri menekankan kedisiplinan. Anak diajarkan mengikuti instruksi pelatih, mematuhi aturan, serta berlatih dengan konsisten. Sikap disiplin ini secara perlahan membentuk karakter positif yang terbawa hingga ke aspek lain dalam kehidupan mereka.

Kamu akan menyadari, anak yang terbiasa berlatih bela diri biasanya lebih tertib, menghargai waktu, serta mampu menjaga komitmen. Nilai-nilai tersebut kelak menjadi bekal penting ketika mereka dewasa dan menghadapi berbagai tanggung jawab hidup.

Menghindarkan Anak dari Bullying

Fenomena bullying masih sering terjadi di sekolah maupun lingkungan sosial. Anak yang lemah secara mental maupun fisik kerap menjadi sasaran. Latihan bela diri membantu mereka memiliki keberanian serta kemampuan untuk melindungi diri.

Kamu tentu tidak ingin anakmu menjadi korban bullying. Dengan berlatih bela diri, mereka akan lebih siap menghadapi situasi tersebut tanpa harus bersikap agresif. Bela diri mengajarkan kontrol emosi, sehingga anak bisa menyelesaikan masalah dengan bijak, bukan dengan kekerasan berlebihan.

Mengajarkan Anak Menghadapi Situasi Sulit

Hidup tidak selalu berjalan mulus. Anak-anak pun bisa menghadapi tekanan, baik dari sekolah, pergaulan, maupun keluarga. Melalui bela diri, mereka belajar menghadapi situasi sulit dengan sikap tenang dan terarah. Filosofi latihan menanamkan nilai bahwa setiap masalah bisa dihadapi dengan keberanian dan strategi yang tepat.

Kamu akan melihat bagaimana anak yang terbiasa berlatih bela diri lebih tangguh dalam menghadapi kesulitan. Mereka tidak mudah menyerah, lebih tenang mengambil keputusan, serta memiliki ketahanan mental yang lebih baik dibandingkan teman sebayanya.

Baca juga: Teknik-Teknik Mendayung dalam Olahraga Dayung

3. Ilmu Bela Diri Tradisional Indonesia: Pencak Silat

Pencak silat merupakan salah satu ilmu bela diri tradisional paling terkenal di Indonesia. Ia tidak hanya hadir sebagai teknik pertarungan, melainkan juga sarana melatih mental, spiritual, serta pengendalian diri.

Akar sejarahnya panjang, berawal dari kearifan lokal yang berkembang di berbagai daerah Nusantara. Setiap jurus memiliki makna filosofis yang mencerminkan nilai kehidupan masyarakat setempat.

Kamu mungkin sudah tahu bahwa pencak silat kini diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Namun, meskipun statusnya mendunia, pencak silat masih menghadapi tantangan besar di negeri sendiri.

Banyak generasi muda yang lebih tertarik pada bela diri asing, sehingga minat terhadap pencak silat kian menurun. Hal ini membuat pelestarian pencak silat menjadi semakin mendesak.

Sejarah dan Penyebaran Pencak Silat

Sejarah pencak silat diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, berkembang dari gerakan alam, hewan, serta tradisi masyarakat.

Awalnya, ia digunakan sebagai keterampilan bertahan hidup sekaligus sarana mempertahankan kampung dari ancaman. Seiring waktu, pencak silat berkembang menjadi bagian dari ritual adat, upacara budaya, dan identitas daerah.

Kamu bisa melihat pengaruh pencak silat meluas tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, bahkan Filipina.

Penyebaran ini terjadi karena mobilitas masyarakat Nusantara sejak zaman kerajaan hingga perdagangan antarnegara. Dari situ, pencak silat tidak hanya menjadi milik satu daerah, melainkan simbol persatuan bangsa.

Ragam Aliran Pencak Silat di Nusantara

Keunikan pencak silat terletak pada ragam alirannya. Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan gaya gerakan, strategi, serta filosofi. Misalnya, Silat Cimande dari Jawa Barat dikenal dengan teknik tangkisan keras, sementara Silat Harimau dari Sumatera Barat meniru gerakan hewan buas yang lincah dan agresif.

Kamu akan menemukan ratusan aliran lain seperti Tapak Suci, Merpati Putih, hingga Pagar Nusa. Semua aliran ini menegaskan betapa kayanya warisan bela diri tradisional Indonesia.

Ragam inilah yang menjadikan pencak silat bukan sekadar olahraga, tetapi juga refleksi dari keberagaman budaya Nusantara.

Pencak Silat di Kancah Internasional

Pencak silat sudah resmi dipertandingkan di ajang SEA Games sejak 1987. Kehadirannya di kompetisi internasional memperlihatkan bahwa silat mampu bersaing dengan bela diri dunia lainnya. Bahkan, organisasi pencak silat internasional (PERSILAT) kini menaungi puluhan negara anggota.

Kamu patut bangga, karena keberhasilan ini membuktikan pencak silat punya daya tarik global. Namun, sayangnya gaung pencak silat di Indonesia justru tidak sekuat di luar negeri. Banyak anak muda masih menganggap silat sebagai bela diri kuno, sehingga popularitasnya tertinggal dibandingkan karate atau taekwondo.

Mengapa Pencak Silat Mulai Kalah Pamor?

Beberapa faktor membuat pencak silat kalah pamor dibandingkan bela diri asing. Pertama, citra pencak silat yang dianggap kurang modern membuat anak muda enggan mendalami. Kedua, promosi dan publikasi pencak silat masih kalah gencar dibandingkan bela diri internasional. Ketiga, fasilitas serta dukungan dari lembaga pendidikan belum optimal.

Kamu bisa melihat realitas di banyak sekolah atau pusat latihan. Perguruan silat jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dojo karate atau taekwondo. Minimnya regenerasi pelatih dan pesilat muda menambah beban besar bagi kelangsungan silat. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, pencak silat bisa semakin terpinggirkan.

Baca juga: Apa itu Kebudayaan? Pengertian, Unsur, Wujud, dan Cirinya Menurut Para Ahli

4. Tantangan Bela Diri Tradisional di Era Modern

Bela diri tradisional menghadapi tantangan berat seiring masuknya budaya asing yang semakin digemari. Modernisasi membuat banyak orang lebih memilih aktivitas instan, praktis, dan terlihat keren. Sayangnya, pencak silat serta bela diri lokal lainnya justru sering dianggap kuno sehingga minat terhadapnya berkurang drastis.

Kamu tentu bisa melihat fenomena ini di sekitar kita. Perguruan bela diri asing tumbuh pesat, sementara perguruan silat tradisional semakin sepi murid. Kondisi ini bukan hanya ancaman bagi keberlangsungan bela diri, tetapi juga warisan budaya yang seharusnya tetap dijaga.

Menurunnya Minat Pemuda pada Pencak Silat

Generasi muda kini lebih akrab dengan budaya populer luar negeri, termasuk olahraga. Akibatnya, pencak silat kalah pamor karena dianggap kurang modern dan tidak sesuai gaya hidup kekinian. Hal ini membuat banyak pemuda enggan bergabung ke perguruan silat.

Kamu pasti menyadari, media sosial berperan besar dalam membentuk tren anak muda. Ketika bela diri asing tampil keren di layar, sementara pencak silat jarang dipromosikan, wajar jika pemuda lebih tertarik mempelajari yang populer. Tanpa upaya kreatif, minat generasi muda akan semakin menurun.

Persaingan dengan Bela Diri Asing

Bela diri asing seperti karate, taekwondo, atau judo memiliki manajemen modern dan promosi internasional yang kuat. Mereka masuk ke sekolah, kampus, bahkan lembaga resmi dengan program latihan yang terstruktur. Sementara itu, banyak perguruan silat tradisional masih menggunakan metode lama.

Kamu bisa melihat bahwa orang tua pun lebih sering mendaftarkan anak ke kelas bela diri asing karena dianggap lebih bergengsi. Persaingan ini semakin berat karena fasilitas, seragam, hingga kompetisi bela diri asing lebih tertata dibandingkan bela diri tradisional.

Risiko Hilangnya Warisan Budaya Nusantara

Jika tren ini dibiarkan, risiko terbesar adalah hilangnya warisan budaya bela diri Nusantara. Bukan hanya teknik bertarung yang hilang, tetapi juga nilai filosofis, spiritual, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Kehilangan ini berarti kehilangan sebagian identitas bangsa.

Kamu tentu tidak ingin budaya asli bangsa lenyap begitu saja. Jika pencak silat dan bela diri tradisional terus ditinggalkan, generasi mendatang hanya akan mengenal budaya asing. Padahal, seharusnya merekalah yang melestarikan dan membanggakan budaya asli Indonesia.

Baca juga: Antara Warisan dan Masa Depan: Pemanfaatan Tanah Kasultanan untuk Kebudayaan Yogyakarta

5. Strategi Melestarikan Ilmu Bela Diri Tradisional

Ilmu bela diri tradisional hanya bisa bertahan jika ada usaha nyata dari masyarakat dan generasi muda. Pelestarian tidak cukup dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan harus melibatkan komunitas, perguruan, hingga individu yang peduli pada budaya bangsa. Tanpa strategi tepat, pencak silat dan bela diri tradisional lain akan semakin tersisih di tengah arus globalisasi.

Kamu harus tahu, melestarikan bela diri bukan hanya menjaga jurus atau teknik, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Karena itu, strategi pelestarian perlu memanfaatkan teknologi, pendidikan, hingga kampanye budaya agar ilmu bela diri tradisional bisa kembali eksis.

Peran Pemuda dalam Menghidupkan Kembali Pencak Silat

Pemuda memegang kunci utama dalam menjaga eksistensi pencak silat. Tanpa generasi penerus, warisan leluhur akan mudah hilang. Melibatkan anak muda dalam latihan, lomba, hingga komunitas silat dapat membuat budaya ini lebih hidup dan relevan.

Kamu bisa bayangkan jika semakin banyak pemuda aktif di perguruan silat, maka pencak silat akan kembali populer. Mereka tidak hanya belajar jurus, tetapi juga mengembangkan silat agar sesuai dengan zaman, tanpa kehilangan nilai tradisinya.

Pemanfaatan Teknologi dan Media Sosial

Teknologi bisa menjadi jembatan efektif untuk memperkenalkan bela diri tradisional ke generasi muda. Konten kreatif seperti video tutorial, dokumenter, atau cerita inspiratif tentang pesilat dapat dengan mudah viral di media sosial.

Kamu bisa memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, atau YouTube untuk memperlihatkan keindahan jurus pencak silat. Dengan promosi digital, pencak silat akan terlihat keren dan mampu bersaing dengan bela diri asing yang lebih gencar dipublikasikan.

Kampanye Hari Pencak Silat dan Event Budaya

Mengadakan event budaya dan kampanye khusus hari pencak silat bisa membangkitkan antusiasme masyarakat. Festival, kejuaraan, atau pertunjukan seni silat dapat menarik perhatian publik sekaligus menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga warisan budaya.

Kamu mungkin pernah melihat bagaimana event olahraga mampu menggerakkan massa. Hal serupa bisa dilakukan untuk pencak silat. Semakin sering event ini diadakan, semakin besar peluang bela diri tradisional dikenal luas dan digemari generasi muda.

Revitalisasi Perguruan Silat di Daerah

Banyak perguruan silat di daerah mengalami penurunan murid, bahkan ada yang tutup. Revitalisasi diperlukan agar perguruan kembali hidup dan menjadi pusat pelestarian budaya. Dukungan fasilitas, pelatih, dan promosi menjadi langkah penting agar perguruan bisa menarik minat masyarakat.

Kamu bisa ikut mendukung dengan mendaftarkan anak atau saudara ke perguruan silat terdekat. Semakin banyak orang yang belajar, semakin besar pula harapan agar bela diri tradisional tetap eksis. Perguruan yang aktif akan melahirkan generasi baru pesilat yang siap menjaga warisan budaya bangsa.

Baca juga: Peran Mahasiswa dalam Mempertahankan Kebudayaan Indonesia

6. Keunikan Pencak Silat Dibandingkan Bela Diri Lain

Pencak silat memiliki karakter unik yang membedakannya dari bela diri lain di dunia. Ia bukan sekadar olahraga fisik, tetapi juga sarana melatih mental, spiritual, serta pengendalian diri. Setiap jurus tidak hanya berfokus pada kekuatan tubuh, tetapi juga melibatkan filosofi yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara.

Kamu perlu tahu, keunikan pencak silat terletak pada kombinasi teknik, nilai kehidupan, dan identitas budaya. Saat mempelajarinya, pesilat bukan hanya mendapatkan keterampilan bertarung, melainkan juga pembentukan karakter yang lebih utuh. Inilah yang menjadikan pencak silat berbeda dari bela diri asing.

Filosofi dan Nilai Kehidupan dalam Pencak Silat

Pencak silat mengajarkan bahwa tujuan utama bela diri bukan menyerang, melainkan melindungi diri dan menjaga kehormatan. Nilai kesabaran, kerendahan hati, serta rasa hormat terhadap lawan menjadi dasar filosofi latihan.

Kamu bisa melihat bahwa filosofi ini relevan untuk kehidupan sehari-hari. Pesilat yang baik akan lebih tenang menghadapi masalah, mampu menahan emosi, serta menjunjung tinggi etika. Nilai-nilai tersebut sulit ditemukan pada bela diri modern yang lebih menekankan teknik fisik semata.

Teknik Efektif Menggunakan Kekuatan Lawan

Keunggulan pencak silat salah satunya adalah teknik yang memanfaatkan tenaga lawan. Daripada mengandalkan kekuatan sendiri, pesilat diarahkan untuk membaca gerakan lawan, lalu menggunakannya sebagai kelemahan.

Kamu akan menyadari, teknik ini membuat pencak silat bisa dipelajari siapa saja, tanpa harus memiliki tubuh besar atau otot kuat. Bahkan pesilat dengan tubuh kecil bisa menumbangkan lawan yang lebih besar jika memahami teknik secara benar.

Latihan Mental, Spiritual, dan Pengendalian Emosi

Latihan pencak silat tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Banyak perguruan silat mengajarkan meditasi, doa, atau latihan pernapasan untuk menenangkan pikiran dan mengendalikan emosi.

Kamu akan melihat bahwa pesilat sejati tidak mudah terpancing amarah. Mereka diajarkan mengutamakan kedamaian dan hanya menggunakan ilmu silat saat benar-benar dibutuhkan. Hal ini membuat pencak silat lebih dari sekadar olahraga, melainkan jalan hidup.

Pencak Silat sebagai Identitas dan Kebanggaan Bangsa

Pencak silat telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, yang menegaskan posisinya sebagai kebanggaan bangsa. Keunikan gerakan, filosofi, dan nilai tradisi membuat silat menjadi identitas yang membedakan Indonesia dari negara lain.

Kamu tentu setuju, mempelajari pencak silat berarti juga ikut menjaga martabat bangsa. Setiap jurus yang dipelajari bukan hanya gerakan, tetapi simbol cinta terhadap budaya Indonesia. Semakin banyak orang yang bangga berlatih silat, semakin kokoh pula identitas bangsa di mata dunia.

Baca juga: Pemaksimalan Produksi Drama Kolosal sebagai Upaya Promosi Kebudayaan

7. FAQ tentang Ilmu Bela Diri Tradisional

Apa itu ilmu bela diri tradisional?

Ilmu bela diri tradisional adalah keterampilan bertarung yang lahir dari budaya lokal, diwariskan turun-temurun, dan mengandung nilai filosofi serta kearifan hidup.

Mengapa pencak silat terancam punah?

Pencak silat terancam punah karena minat generasi muda menurun, promosi kurang gencar, serta kalah bersaing dengan bela diri asing yang lebih populer.

Apa manfaat mempelajari pencak silat bagi anak muda?

Mempelajari pencak silat membantu anak muda melatih fisik, membentuk disiplin, meningkatkan percaya diri, serta menanamkan nilai kesabaran dan pengendalian emosi.

Bagaimana cara melestarikan bela diri tradisional Indonesia?

Pelestarian bisa dilakukan melalui pendidikan, kampanye budaya, revitalisasi perguruan silat, serta pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk promosi yang lebih luas.

Kesimpulan

Bela diri tradisional Indonesia, khususnya pencak silat, bukan hanya seni bertarung. Ia adalah warisan budaya yang menyimpan filosofi, nilai spiritual, dan pembentukan karakter. Sayangnya, keberadaannya semakin terpinggirkan oleh bela diri asing yang lebih populer di kalangan anak muda.

Kamu tentu paham bahwa menjaga budaya bukan sekadar mengenang masa lalu. Generasi muda harus mengambil peran penting agar ilmu bela diri tradisional tetap eksis. Melalui latihan, pemanfaatan teknologi, dan kampanye budaya, pencak silat bisa kembali bangkit sebagai identitas dan kebanggaan bangsa.

Penulis: Ananda Putri Ahwallia
Mahasiswa Sampoerna University

Editor: Rahmat Al Kafi

 

Referensi Artikel

  1. Kemendikbud.go.id (2016, 2019): Data warisan budaya takbenda dan bela diri tradisional yang terancam punah.
  2. Catatan sejarah penyebaran pencak silat di Nusantara dan Asia Tenggara.
  3. Dokumentasi UNESCO tentang pencak silat sebagai warisan budaya tak benda.

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait