Banjir Rob di Desa Blendung Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang

Banjir Rob
Banjir Rob di Desa Blendung (Sumber: Penulis)

Banjir merupakan bencana alam yang terjadi ketika air dalam jumlah berlebih meluap dan menggenangi daratan. Salah satu jenis banjir yang hingga kini masih menjadi permasalahan serius di wilayah pesisir Adalah banjir rob.

Desa Blendung, Kecamatan Ulujami menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak banjir rob sejak tahun 2019 hingga sekarang. Fenomena ini dipicu oleh abrasi pantai yang terus berlangsung, sehingga daratan kian terkikis dan wilayah pesisir berubah seolah berada ditengah laut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dampak abrasi dan rob menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas umum, tempat wisata, warung-warung di sekitar pantai, serta lahan pertanian, tambak, dan perkebunan melati di Desa Blendung, Kertosari, dan Mojo.

Ratusan hektar lahan tambak bandeng dan udang vanami terendam air laut, mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi para petambak dan petani para pedagang di kawasan pantai juga terdampak karena aktivitas usaha terhenti, sementara sebagian warga kesulitan menjalankan pekerjaan sehari-hari akibat genangan air laut.

Di Desa Blendung, sekitar 5 RW dengan ratusan rumah terendam banjir rob dengan ketinggian mencapai 50 cm, bahkan ada yang setinggi paha orang dewasa. Seorang warga RT 1 RW 7 menyampaikan bahwa air rob biasanya datang pada siang hari setelah waktu salat ashar. Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu, sehingga sebagian memilih bertahan di rumah dengan cara meninggikan tempat tidur.

Keterbatasan bantuan membuat warga bertahan dengan persediaan makanan seadanya, sementara akses air bersih semakin sulit karena air sumur tercampur air asin. Warga sangat berharap bantuan logistik, obat-obatan, dan peralatan kebersihan untuk mengatasi genangan air rob.

Desa Blendung yang dulu dikenal sebagai sentra produksi bandeng terbesar di kabupaten Pemalang kini hanya menyisakan kenangan akibat banjir rob. Pada tahun 20024 warga secara swadaya membangun panggul sederhana dari bambu sebagai upaya menahan gelombang air laut.

Ketua penanggulangan rob Desa Blendung, Haryoto, menjelaskan bahwa abrasi dan drop telah dirasakan sejak tahun 2019 dan mencapai puncaknya pada pertengahan 2024. Tanggul bambu yang direncanakan sepanjang 1 km baru terealisasi sekitar 400 meter dengan tinggi 1,5 m menggunakan dana hasil iuran warga dan donasi.

Baca juga: Problematika Banjir di Indonesia

Banjir rob juga menimbulkan dampak kesehatan seperti penyakit kulit akibat genangan air asin, serta kerusakan kendaraan dan bangunan akibat korosi. Anak-anak menjadi kelompok yang rentan terhadap penyakit, sementara kualitas hidup masyarakat pesisir terus menurun.

Oleh karena itu, warga berharap adanya pembangunan tanggul permanen sebagai solusi jangka panjang. Banjir rob terjadi akibat pasang tinggi air laut yang dipengaruhi oleh siklus pasang surut, penurunan muka tanah, pemanasan global, rusaknya ekosistem mangrove, serta buruknya sistem drainase.

Pencegahan banjir rob perlu dilakukan melalui upaya struktural seperti pembangunan tanggul, sistem folder, perbaikan drainase, dan rehabilitas mangrove, serta upaya non struktural berupa penataan ruang, pengendalian penggunaan air tanah, edukasi masyarakat, dan kerjasama antara pemerintah dan warga sekitar.

Untuk saat ini wilayah Ulujami termasuk Desa Blendung masuk dalam rencana proyek besar pembangunan Giant sea wall atau tanggul laut raksasa dengan konsep hybrid sea wall yang mengombinasikan struktur fisik dan penguatan ekosistem.

Proyek ini diharapkan mampu mengurangi dampak banjir rob dan abrasi secara berkelanjutan, meskipun masih memerlukan kajian teknis, sosial, dan lingkungan sebelum memasuki tahap konstruksi penuh.

 

Simpulan

Banjir rob yang terjadi di Desa Blendung Kecamatan Ulujami merupakan permasalahan lingkungan yang bersifat kompleks dan berkelanjutan. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor antara lain abrasi pantai, kenaikan muka air laut, penurunan permukaan tanah, rusaknya ekosistem pesisir, serta sistem drainase yang belum optimal.

Sejak tahun 2019 banjir telah menimbulkan dampak yang signifikan terhadap kondisi fisik wilayah, sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Dampak banjir rob tidak hanya menyebabkan kerusakan permukiman, infrastruktur, dan lahan produktif seperti tambak dan persawahan, tetapi juga mengakibatkan penurunan pendapatan masyarakat pesisir serta hilangnya mata pencaharian utama.

Selain itu, keterbatasan akses air bersih dan kondisi lingkungan yang tidak higienis meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama penyakit kulit dan masalah sanitasi, hingga kualitas hidup masyarakat desa beruntung mengalami penurunan secara nyata.

Upaya penanggulangan yang telah dilakukan masyarakat seperti pembangunan tanggul bambu secara swadaya, menunjukkan adanya kesadaran dan partisipasi aktif warga dalam menghadapi bencana banjir rob. Namun upaya tersebut masih bersifat sementara dan belum mampu mengatasi permasalahan secara menyeluruh.

Oleh karena itu diperlukan penanganan yang terintegrasi dan berkelanjutan melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. pendekatan struktural berupa pembangunan tanggul laut permanen, perbaikan drainase, serta rehabilitas ekosistem mangrove perlu diimbangi dengan pendekatan non struktural seperti penataan ruang pesisir, pengendalian penggunaan air tanah dan peningkatan edukasi masyarakat.

Dengan adanya rencana pembangunan tanggul laut raksasa di wilayah pesisir Jawa Tengah termasuk kecamatan Ulujami, diharapkan dampak banjir dapat diminimalkan secara signifikan, namun keberhasilan upaya tersebut sangat bergantung pada perencanaan yang matang, kajian lingkungan dan sosial yang komprehensif, serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.

Penanganan banjir rob yang efektif di desa pelindung menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

 


Penulis: Azzahro Nadiah Muchtar
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses