Lead
Coba bayangkan sedang asyik scrolling toko online, lalu mata langsung tertuju pada sepatu keren seharga Rp1,5 juta.
Tinggal satu klik pakai paylater, barang meluncur ke rumah, urusan bayar dipikir belakangan. Sensasinya seperti punya kredit instan tanpa rasa khawatir pada konsekuensi esok hari.
Tapi, benarkah ini sekadar trik cerdas di tengah ekonomi digital, atau justru perangkap utang yang pelan-pelan membuat isi dompet mengeluh, “Tenang, dicicil dulu saja…”?
Kini, paylater tak lagi sekadar metode pembayaran,sekarang menjadi bagian dari gaya hidup digital yang terlihat modern dan kekinian, terutama di kalangan milenial dan Gen Z.
Namun, di balik kemudahan dan kenyamanan tersebut, tersimpan berbagai data serta dinamika ekonomi yang layak dicermati sebelum kita buru-buru berkata, “Paylater? Oke!” atau justru memilih, “Paylater? Tahan dulu…”
Neck
Kemudahan yang ditawarkan membuat paylater kerap terasa layaknya “sahabat” ketika dorongan belanja tiba-tiba muncul.
Namun, begitu waktu pembayaran dating sering kali dengan jumlah tagihan yang menumpuk realitasnya bisa sangat bertolak belakang.
Melalui artikel ini, akan dikaji apakah paylater memang menjadi jawaban bagi konsumen yang bijak, atau justru berubah menjadi perangkap keuangan serius yang bukan hanya memicu persoalan individu, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lebih luas bagi perekonomian nasional.
Content
1) Paylater semakin dekat, semakin digemari
Penggunaan paylater di Indonesia kian meroket dan makin diterima luas oleh masyarakat.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, nilai utang Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater perbankan mencapai Rp24,33 triliun pada Agustus 2025, dengan lonjakan pertumbuhan tahunan sebesar 32,35 persen.
Angka ini mencerminkan betapa cepatnya skema bayar nanti menancapkan pengaruhnya dalam ekosistem keuangan digital nasional.
Jika dilihat dari profil pengguna, kelompok usia produktif menjadi motor utama. Generasi milenial berusia 26–35 tahun mendominasi dengan porsi sekitar 43,9 persen, sementara Gen Z usia 18–25 tahun menyusul dengan kontribusi kurang lebih 26,5 persen.
Intinya, paylater bukan lagi sekadar fitur pembayaran tetapi sudah jadi bagian dari daily life belanja digital masyarakat urban Indonesia.
2) Dampak Penggunaan paylater
Sisi Positif
Skema paylater menawarkan kelonggaran dalam mengatur arus kas, terutama ketika muncul kebutuhan mendadak atau saat godaan promo terasa terlalu sayang untuk dilewatkan.
Di sisi lain, layanan ini ikut mendorong meningkatnya transaksi digital. Aktivitas belanja yang makin ramai otomatis mempercepat perputaran uang, yang pada skala tertentu dapat memberi efek positif bagi roda perekonomian.
Sisi Negatif
Nilai utang paylater secara nasional terus menumpuk. Dalam satu periode pencatatan terbaru, total tagihan yang harus ditanggung masyarakat Indonesia mendekati angka Rp30 triliun.
Kondisi ini dibarengi dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah atau gagal bayar. Jika tren ini berlanjut, risikonya bukan hanya dirasakan oleh pengguna, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan penyedia layanan keuangan serta kestabilan sistem finansial secara keseluruhan. Paylater memicu impulse buying di kalangan pengguna e-commerce.
Kesimpulan
Paylater punya tempat di era digital saat ini memperluas akses pembiayaan, memberi fleksibilitas, dan mendukung gaya hidup modern.
Apakah ini solusi ekonomi modern? Tentu saja, khususnya untuk transaksi bernilai kecil atau kebutuhan yang datang tiba-tiba.
Namun, ia juga bisa berubah menjadi “bom waktu” utang jika tidak dibarengi pemahaman finansial yang memadai serta kemampuan menahan dorongan belanja impulsif.
Maka, sebelum menekan tombol “Bayar Nanti”, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: ini benar-benar perlu, atau sekadar tergoda layar promo? Sebab satu hal yang pasti, diskon boleh datang dan pergi, tapi tagihan selalu setia menunggu.
Penulis: Syalwa Dwi Guna
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












