Pernahkah Anda mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, entah itu mendapat nilai jelek, mendapat dosen yang sangat killer dan pelit nilai, atau sekedar jatuh didepan umum, lalu menyebutkan bahwa Anda trauma akan hal-hal kurang menyenangkan tersebut?
Di zaman yang sudah sangat berkembang sekarang, baik dari sisi teknologi maupun cara berpikir manusia, istilah-istilah psikologi seperti trauma sudah mulai menjadi topik pembicaraan yang umum di kalangan masyarakat. Sosial media menjadi salah satu faktor meluasnya kata trauma dan menjadi semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Semakin seringnya penggunaan kata trauma, menunjukkan bahwa masyarakat semakin akrab dengan bahasa kesehatan mental. Namun, di sisi lain, penggunaan istilah trauma secara berlebihan juga dapat menimbulkan kesalahpahaman makna dari kata trauma yang sebenarnya.
Baca juga: Pengaruh Trauma terhadap Gaya Komunikasi: Perspektif Psikologi
Kini, informasi edukasi seputar kesehatan mental sudah banyak dibicarakan di media sosial dan masyarakat dapat mengaksesnya dengan lebih mudah. Banyak masyarakat yang akhirnya sadar akan pentingnya kesehatan mental, berbeda dengan masyarakat dulu yang terlalu mengabaikan dan menganggap kesehatan mental adalah hal yang remeh. Orang-orang menjadi familiar dengan istilah seperti trauma, anxiety, burnout, dan sebagainya.
Dalam psikologi, trauma tidak serta merta merujuk kepada pengalaman tidak menyenangkan atau membuat seseorang merasa sedih. Trauma umumnya berkaitan dengan pengalaman yang memberikan dampak psikologis yang mendalam dan dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari individu dalam jangka waktu tertentu.
Mirisnya adalah, semakin banyak orang menggunakan istilah trauma, justru menyebabkan makna trauma itu sendiri semakin mengabur. Orang-orang banyak menggunakan istilah trauma tanpa memahami maknanya secara utuh.
Pengalaman dengan tingkat keparahan yang berbeda sering dilabeli dengan label yang sama. Misalnya, saat seseorang terjatuh didepan umum, ia mungkin tanpa sadar mengatakan bahwa tempat dia terjatuh membuatnya trauma. Atau jika seseorang mendapatkan nilai yang jelek dari seorang dosen, ia justru mengatakan bahwa dia trauma dengan dosen tersebut. Pengalaman tersebut tentu menimbulkan rasa kecewa, atau bahkan tidak nyaman, tetapi pengalaman seperti itu tidak dapat langsung disebut trauma.
Akibatnya, masyarakat menjadi kurang tepat dalam memahami makna sebenarnya dari kata trauma. Pengalaman individu yang benar-benar berpotensi mengalami trauma justru menjadi disepelekan.
Masyarakat jadi tidak punya batas antara pengalaman yang dapat berpotensi menjadi trauma dengan yang tidak, dan cenderung menyamaratakan semuanya. Dan parahnya, dikhawatirkan istilah psikologis menjadi kehilangan makna yang sebenarnya karena diartikan terlalu luas.
Meskipun begitu, kesadaran akan kesehatan mental di masyarakat saat ini tetap perlu diapresiasi. Ini merupakan hal yang positif dimana masyarakat menjadi lebih sadar dan perhatian akan kondisi kesehatan mentalnya. Namun, penggunaan istilah psikologis juga perlu disertai dengan pemahaman yang tepat.
Literasi kesehatan mental perlu lebih ditingkatkan agar masyarakat tidak hanya tahu mengenai berbagai istilah psikologis, tetapi juga dapat memahami makna sebenarnya dari istilah istilah tersebut. Hal ini penting dilakukan agar penggunaan istilah psikologis bisa lebih tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Penulis: Fathiyya Aulia Putri (240901141)
Mahasiswa Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Dosen Pengampu: Iklima Ritmiani, S.Psi., M.A
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















