Ketika Lingkungan Menjadi Sekolah Kejahatan bagi Remaja

Kenakalan Remaja
Ilustrasi Lingkungan Sekolah (Sumber: MMI)

Fenomena kenakalan remaja masih menjadi persoalan yang terus menghantui berbagai daerah di Indonesia. Tawuran antarpelajar, perundungan, penyalahgunaan narkoba, balap liar, hingga kejahatan yang dilakukan melalui media digital menunjukkan bahwa perilaku menyimpang di kalangan remaja bukanlah masalah yang dapat dianggap sepele. Di balik berbagai kasus tersebut, terdapat faktor-faktor sosial yang berperan besar dalam membentuk perilaku seorang remaja.

Masyarakat sering kali memandang kenakalan remaja sebagai akibat dari kegagalan individu dalam mematuhi norma dan aturan. Padahal, perilaku seseorang tidak terbentuk begitu saja. Lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Apa yang dilihat dan dialami setiap hari dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk karakter seseorang, termasuk dalam hal perilaku menyimpang.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Lingkungan Keluarga

Pandangan tersebut sejalan dengan teori Differential Association yang dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland. Menurut Sutherland, perilaku kriminal bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui interaksi dengan orang lain.

Seseorang dapat mempelajari teknik, nilai, hingga alasan untuk melakukan kejahatan dari lingkungan tempat ia bergaul. Ketika seorang remaja lebih banyak berinteraksi dengan kelompok yang menganggap pelanggaran hukum sebagai sesuatu yang wajar, peluang untuk meniru perilaku tersebut menjadi semakin besar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan dapat berfungsi layaknya sebuah sekolah. Bedanya, yang dipelajari bukanlah ilmu pengetahuan atau keterampilan yang bermanfaat, melainkan perilaku yang bertentangan dengan norma sosial dan hukum. Tidak mengherankan jika remaja yang tumbuh di lingkungan yang penuh konflik, kekerasan, atau penyimpangan sosial memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam tindakan serupa.

Selain itu, Travis Hirschi melalui Social Control Theory menjelaskan bahwa seseorang cenderung menjauhi perilaku menyimpang apabila memiliki ikatan sosial yang kuat dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebaliknya, ketika hubungan tersebut melemah, kontrol sosial yang berfungsi mengarahkan perilaku juga ikut berkurang. Akibatnya, remaja menjadi lebih rentan terpengaruh oleh lingkungan yang negatif.

Dalam kehidupan modern, pengaruh lingkungan tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik. Kehadiran media sosial dan teknologi digital telah menciptakan ruang sosial baru yang dapat memengaruhi pola pikir remaja.

Berbagai konten yang menampilkan kekerasan, perundungan, ujaran kebencian, atau perilaku melanggar hukum dapat dengan mudah diakses setiap saat. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, remaja dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Pandangan ini diperkuat oleh teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang lain. Artinya, ketika remaja terus-menerus terpapar perilaku negatif yang mendapatkan perhatian atau bahkan apresiasi, mereka berpotensi mengadopsi perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama bagi seorang anak. Keluarga yang mampu membangun komunikasi yang baik, memberikan perhatian, serta menanamkan nilai-nilai moral akan menjadi benteng awal dalam mencegah perilaku menyimpang.

Sebaliknya, kurangnya pengawasan dan hubungan yang renggang antara orang tua dan anak dapat membuat remaja mencari identitas dan pengakuan dari kelompok lain yang belum tentu memberikan pengaruh positif.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting. Pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai sosial. Lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan peserta didik dapat membantu mengurangi berbagai bentuk kenakalan remaja.

Namun, upaya pencegahan tidak akan berhasil jika hanya dibebankan kepada keluarga dan sekolah. Masyarakat perlu menyediakan ruang yang sehat bagi generasi muda untuk berkembang. Kegiatan olahraga, organisasi kepemudaan, komunitas kreatif, dan berbagai aktivitas positif lainnya dapat menjadi sarana bagi remaja untuk menyalurkan energi dan potensinya secara konstruktif.

Pada akhirnya, kenakalan remaja tidak dapat dipahami hanya sebagai kesalahan individu. Fenomena ini merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara individu dan lingkungannya.

Teori-teori kriminologi menunjukkan bahwa perilaku menyimpang sering kali dipelajari, ditiru, dan diperkuat oleh lingkungan sosial di sekitar seseorang. Oleh karena itu, jika kita ingin mengurangi angka kenakalan remaja, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada pelakunya, tetapi juga pada lingkungan yang membentuk mereka.

Remaja adalah aset masa depan bangsa. Ketika lingkungan memberikan teladan yang baik, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang produktif dan bertanggung jawab. Namun, ketika lingkungan justru menjadi “sekolah kejahatan”, maka risiko lahirnya berbagai bentuk penyimpangan sosial akan semakin besar.

Karena itu, membangun lingkungan yang sehat bukan hanya tanggung jawab keluarga atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

 


Penulis: Aji Nugroho Wibowo
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Sulastri, S.Pd., M.H.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses