Kritik Tari: Gagah dan Wibawa  Klana Sewandana Warna Merah Muda

(Sumber: Penulis)

Dalam pertunjukan tari, kesan pertama penonton sering kali dibentuk oleh unsur-unsur visual yang tampak sebelum gerak penari diamati. Kostum, rias, properti, dan warna menjadi elemen awal yang membangun ekspektasi terhadap karakter yang akan hadir di atas panggung. Hal tersebut terlihat dalam pertunjukan Reog Ponorogo yang dibawakan oleh Anjungan Diklat Tari Jawa Timur di Plaza Kori, Taman Mini Indonesia Indah, pada 29 Mei 2026.

Di antara berbagai tokoh yang tampil, seperti Jathil, Warok, dan Dadak Merak, tokoh Klana Sewandana justru menghadirkan visual yang tidak lazim. Topeng yang digunakan tampak berwarna merah muda, berbeda dari representasi Klana Sewandana yang selama ini dikenal masyarakat melalui topeng merah sebagai identitas visualnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan yang menarik: apakah perubahan warna topeng juga menghadirkan perubahan karakter dalam pertunjukan tari yang ditampilkan?

Dalam tradisi Reog Ponorogo, warna merah pada topeng Klana Sewandana bukan sekadar pilihan estetis. Warna tersebut telah lama diasosiasikan dengan keberanian, kekuatan, kewibawaan, serta semangat seorang pemimpin. Melalui warna merah, penonton memperoleh petunjuk awal mengenai karakter yang akan mereka saksikan.

Oleh karena itu, ketika warna merah bergeser menjadi merah muda, muncul kemungkinan terjadinya perubahan pembacaan terhadap tokoh tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, warna merah muda sering diasosiasikan dengan kelembutan, kehangatan, romantisme, atau kesan yang lebih ringan dibandingkan warna merah.

Akibatnya, sebelum pertunjukan dimulai, sebagian penonton mungkin membangun dugaan bahwa karakter Klana Sewandana yang akan tampil juga mengalami perubahan.

Namun, dugaan tersebut mulai berubah ketika penari mulai bergerak. Meskipun topeng yang digunakan berwarna merah muda, kualitas gerak yang ditampilkan tetap menunjukkan karakter Klana Sewandana yang kuat dan berwibawa.

Langkah-langkah yang mantap, posisi tubuh yang tegak, tenaga gerak yang besar, serta aksentuasi yang tegas terus dipertahankan sepanjang pertunjukan. Tidak terlihat adanya upaya untuk menyesuaikan karakter gerak dengan asosiasi umum yang melekat pada warna merah muda.

Sebaliknya, tubuh penari justru menegaskan kehadiran sosok raja yang gagah, percaya diri, dan memiliki otoritas. Pada titik ini, penonton mulai memahami bahwa karakter tari tidak sepenuhnya ditentukan oleh warna yang melekat pada topeng.

Baca juga:Tari Jaripah Mengguncang Lomba Kreasi Budaya Bimantara Indonesia 2024

Fenomena tersebut menarik untuk dikaji karena penonton umumnya membangun pemahaman terhadap tokoh melalui tanda-tanda visual yang paling mudah ditangkap oleh mata. Sebelum menyaksikan kualitas gerak penari, penonton terlebih dahulu melihat warna, kostum, rias, dan properti yang digunakan.

Ketika warna yang selama ini dianggap sebagai identitas tokoh mengalami perubahan, muncul kemungkinan terjadinya pergeseran interpretasi. Dalam konteks ini, warna merah muda dapat dipandang sebagai penyimpangan dari pakem visual yang selama ini melekat pada Klana Sewandana.

Akan tetapi, kritik tari tidak berhenti pada pengamatan terhadap atribut visual semata. Kritik tari perlu melihat bagaimana seluruh unsur pertunjukan bekerja secara terpadu dalam membangun makna.

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas karakter dalam tari lebih banyak dibangun melalui tubuh yang bergerak daripada atribut yang dikenakan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Suzanne K. Langer dalam bukunya Feeling and Form: A Theory of Art (1953).

Langer menjelaskan bahwa tari merupakan bentuk ekspresif yang menghadirkan makna melalui gerak yang hidup. Tubuh penari menjadi medium utama yang menyampaikan perasaan, gagasan, dan karakter kepada penonton.

Pemikiran tersebut membantu menjelaskan mengapa perubahan warna topeng tidak serta-merta mengubah persepsi terhadap Klana Sewandana. Selama kualitas gerak yang ditampilkan masih menunjukkan kepemimpinan, keberanian, dan kekuatan, tokoh yang hadir di hadapan penonton tetap terbaca sebagai Klana Sewandana.

Di sisi lain, warna merah muda yang digunakan juga perlu dipahami dalam konteks ruang pertunjukan. Warna yang terlihat oleh penonton bukanlah warna benda yang berdiri sendiri, melainkan hasil interaksi antara objek, cahaya, jarak pandang, dan kondisi lingkungan pertunjukan. Hal ini dijelaskan oleh Richard Pilbrow dalam Stage Lighting Design: The Art, the Craft, the Life (1997).

Menurut Pilbrow, tata cahaya tidak hanya berfungsi menerangi panggung, tetapi juga membentuk cara penonton melihat warna, bentuk, dan suasana yang muncul dalam pertunjukan.

Jika pertunjukan dilakukan pada panggung tertutup dengan sistem tata cahaya yang lengkap, warna topeng akan berinteraksi dengan berbagai sumber cahaya sehingga menghasilkan persepsi visual yang berbeda dari warna aslinya. Intensitas cahaya, arah penyinaran, serta warna lampu dapat memengaruhi cara penonton membaca warna sebuah objek.

Dalam kondisi tertentu, sorotan lampu putih hangat (warm white) dapat mengurangi kontras warna sehingga merah muda tidak selalu tampak mencolok. Namun, kondisi yang berbeda ditemukan pada pertunjukan di Plaza Kori TMII yang berlangsung di ruang terbuka (outdoor stage).

Keterbatasan kontrol pencahayaan sebagaimana yang terdapat pada panggung tertutup membuat warna, topeng lebih banyak dipengaruhi oleh cahaya lingkungan dan sudut pandang penonton. Akibatnya, warna merah muda pada topeng Klana Sewandana cenderung terlihat mendekati warna kulit manusia daripada warna merah muda yang terang dan dominan.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori persepsi warna yang dikemukakan oleh Johannes Itten dalam The Art of Color (1970). Itten menjelaskan bahwa warna tidak pernah dipersepsi secara terpisah, melainkan selalu dipengaruhi oleh lingkungan visual di sekitarnya, termasuk cahaya, warna lain yang berdekatan, dan kondisi ruang pengamatan.

Dalam konteks pertunjukan Reog Ponorogo ini, warna merah muda pada topeng berinteraksi dengan warna kostum, tata rias, pencahayaan alami, dan jarak pandang penonton sehingga menghasilkan persepsi yang berbeda dari warna fisiknya

. Karena warna tersebut mendekati spektrum warna kulit manusia, detail wajah seperti bentuk mata, hidung, kumis, dan garis-garis ekspresi topeng menjadi lebih mudah terbaca dari kejauhan dibandingkan jika menggunakan warna merah pekat yang cenderung menghasilkan kontras lebih keras.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan representasi karakter di atas panggung tidak semata-mata ditentukan oleh warna simbolik yang melekat pada topeng, melainkan juga oleh keterbacaan visual yang diterima penonton serta kualitas ekspresi yang diwujudkan melalui tubuh penari.

Pada jarak tertentu, perhatian penonton tidak lagi tertuju pada warna topeng, tetapi pada tenaga gerak, sikap tubuh, ekspresi, dan hubungan gerak dengan iringan musik. Dalam perspektif estetika tari yang dikemukakan Suzanne K. Langer, makna pertunjukan pada akhirnya hadir melalui bentuk ekspresif yang diwujudkan oleh gerak yang hidup.

Dengan demikian, perubahan warna topeng Klana Sewandana dari merah menjadi merah muda memang menghasilkan pembacaan visual yang berbeda pada awal pertunjukan, tetapi tidak mengubah identitas karakter yang dibangun melalui kualitas geraknya.

Justru dalam konteks pertunjukan di Plaza Kori TMII, warna tersebut memberikan keuntungan berupa keterbacaan detail wajah topeng yang lebih jelas bagi penonton tanpa menghilangkan kesan gagah, berwibawa, dan kuat yang menjadi ciri utama tokoh Klana Sewandana.

 


Penulis:

  1. Fina Robiyanti (231010501767)
  2. Gita Marsela (231010501755)
  3. Niswah Auliya Zahra (231010501702)

Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang 


Dosen Pengampu: Reni Hindriari, S.E., M.M.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses