7 Cara Menghindari Stres Akibat Tugas Kuliah yang Menumpuk

Cara Menghindari Stres Akibat Tugas Kuliah

Tugas presentasi belum selesai, laporan praktikum harus dikumpulkan besok, sementara dosen sudah memberikan tugas baru untuk pekan berikutnya. Ketika beberapa tenggat datang hampir bersamaan, wajar jika mahasiswa mulai merasa kewalahan.

Tekanan semacam ini dapat berkembang menjadi stres akademik ketika tuntutan perkuliahan dirasakan melebihi kemampuan untuk menghadapinya. Penelitian mengenai mekanisme coping mahasiswa juga mencatat bahwa banyaknya tugas, tekanan ujian, dan persoalan akademik dapat menjadi sumber stres selama menjalani perkuliahan.

Artinya, cara menghindari stres akibat tugas kuliah yang menumpuk bukan sekadar mencari cara agar semua pekerjaan cepat selesai. Kamu juga perlu mengatur prioritas, menjaga kondisi tubuh, dan mengetahui kapan harus meminta bantuan.

Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.

1. Kenali Apa yang Sebenarnya Membuat Kamu Tertekan

Ketika tugas menumpuk, reaksi pertama biasanya ingin menyelesaikan semuanya sekaligus. Masalahnya, cara tersebut justru dapat membuat pikiran semakin penuh.

Coba berhenti sejenak dan identifikasi masalah yang sedang dihadapi. Apakah jumlah tugasnya memang terlalu banyak? Tenggatnya berdekatan? Kamu terlambat memulai? Atau ada satu tugas yang terasa sulit sehingga pekerjaan lain ikut tertunda?

Mengenali sumber tekanan membantu Kamu menentukan respons yang lebih tepat. Masalah yang disebabkan tenggat berdekatan tentu membutuhkan strategi berbeda dengan tugas yang tertunda karena materi belum dipahami.

Penelitian Ismi Aisya Saptyaning Ambarwati dan rekan-rekannya mengenai Coping Mechanism terhadap Stress Akademik pada Mahasiswa membedakan strategi coping yang berfokus pada penyelesaian masalah dan strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi. Keduanya dapat digunakan sesuai situasi yang sedang dihadapi.

Jadi, jangan langsung bertanya, “Bagaimana menyelesaikan semua tugas ini?” Pertanyaan yang lebih berguna mungkin, “Masalah mana yang harus saya tangani lebih dahulu?”

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Sakit Kepala Saat Tugas Kuliah Menumpuk

2. Atur Tugas Berdasarkan Prioritas, Bukan Kepanikan

Membuat daftar tugas memang membantu, tetapi daftar panjang tanpa prioritas bisa tetap terasa menakutkan.

Mulailah dengan mencatat tugas yang harus diselesaikan, tenggat pengumpulan, tingkat kesulitan, dan perkiraan waktu pengerjaan. Setelah itu, tentukan pekerjaan yang perlu didahulukan.

Tugas dengan tenggat paling dekat tidak selalu otomatis menjadi satu-satunya prioritas. Tugas besar yang membutuhkan beberapa hari pengerjaan juga perlu dimulai lebih awal meskipun tenggatnya masih cukup lama.

Manajemen waktu relevan karena kebiasaan menunda dapat membuat beban akademik semakin sulit dikendalikan. Penelitian mengenai Stres Akademik dan Manajemen Waktu terhadap Prokrastinasi Akademik Mahasiswa menempatkan stres akademik dan manajemen waktu sebagai variabel yang berkaitan dengan persoalan prokrastinasi akademik mahasiswa.

Kamu bisa memecah tugas besar menjadi pekerjaan yang lebih kecil. Alih-alih menulis “selesaikan makalah”, misalnya, bagi pekerjaan menjadi mencari referensi, membuat kerangka, menulis bagian pertama, menyunting, lalu melakukan pemeriksaan akhir.

Target kecil membuat progres lebih terlihat dan pekerjaan terasa lebih mungkin diselesaikan.

3. Kurangi Distraksi Saat Sedang Mengerjakan Tugas

Waktu belajar dua jam belum tentu berarti dua jam benar-benar digunakan untuk belajar.

Notifikasi pesan, media sosial, video pendek, atau kebiasaan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain dapat memecah perhatian. Akibatnya, tugas yang sebenarnya dapat diselesaikan lebih cepat justru berlangsung jauh lebih lama.

Cobalah menciptakan sesi kerja yang memiliki batas jelas. Tentukan satu tugas yang akan dikerjakan, singkirkan distraksi yang tidak diperlukan, lalu beristirahat setelah menyelesaikan satu bagian pekerjaan.

Kamu tidak harus mengikuti metode produktivitas tertentu secara kaku. Ada mahasiswa yang nyaman bekerja dalam interval pendek, sementara mahasiswa lain membutuhkan waktu fokus lebih panjang.

Yang terpenting adalah membedakan waktu untuk benar-benar mengerjakan tugas dan waktu untuk beristirahat.

Baca juga: Atasi Burnout: Tugas Kuliah Menumpuk Bukan Halangan

4. Jangan Mengorbankan Tidur Setiap Kali Deadline Mendekat

Begadang mungkin terasa seperti solusi tercepat ketika pekerjaan belum selesai. Namun, menjadikan kurang tidur sebagai strategi rutin dapat menimbulkan masalah baru.

Penelitian Ni Luh Rika Septianingsih, IGN Made Kusuma Negara, dan Nadya Treesna Wulansari berjudul Hubungan Tingkat Stres Akademik dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Tingkat III di Institut Teknologi dan Kesehatan Bali melibatkan 237 mahasiswa dan menemukan adanya hubungan antara tingkat stres akademik dan kualitas tidur. Karena penelitian tersebut menggunakan desain korelasional cross-sectional, temuan ini perlu dipahami sebagai hubungan antarkondisi, bukan bukti bahwa salah satunya secara langsung menyebabkan yang lain.

Temuan tersebut penting ketika Kamu mulai berpikir bahwa tidur adalah waktu yang bisa terus dikorbankan demi mengejar tugas.

Jika pekerjaan memang banyak, evaluasi kembali jadwal dan prioritas. Menyelesaikan tugas penting, tetapi tubuh juga membutuhkan waktu pemulihan agar Kamu dapat kembali belajar dengan baik.

5. Jangan Hadapi Semua Tekanan Sendirian

Ada kalanya masalah tugas tidak dapat diselesaikan hanya dengan membuat jadwal yang lebih rapi.

Kamu mungkin kesulitan memahami materi, tidak mengetahui cara memulai tugas, mengalami persoalan dalam kelompok, atau sedang menghadapi masalah lain di luar perkuliahan.

Pada kondisi seperti itu, berbicara dengan orang lain dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi tekanan.

Penelitian Putri Nanda Susanti dan Eko Hardi Ansyah mengenai Hubungan Dukungan Sosial dengan Stres Akademik Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menemukan hubungan negatif antara dukungan sosial dan stres akademik pada 301 mahasiswa yang menjadi sampel penelitian. Artinya, pada kelompok yang diteliti, dukungan sosial yang lebih tinggi berkaitan dengan stres akademik yang lebih rendah.

Dukungan tersebut tidak harus selalu berupa percakapan panjang tentang masalah pribadi. Meminta teman menjelaskan materi, berdiskusi mengenai tugas, menghubungi dosen ketika instruksi kurang jelas, atau membagi pekerjaan kelompok secara lebih proporsional juga merupakan bentuk mencari bantuan.

Baca juga: Artikel Tugas Kuliah: Panduan, Format, Susunan, Kerangka, Template dan Contoh

6. Sisakan Waktu untuk Bergerak dan Melepaskan Ketegangan

Saat tugas banyak, duduk berjam-jam di depan laptop sering dianggap sebagai bentuk produktivitas. Padahal, terus bekerja tanpa jeda belum tentu membuat pekerjaan selesai lebih baik.

Kamu tetap membutuhkan ruang untuk beristirahat dan bergerak.

Penelitian Ahmad Shofiyulhuda, Willy Handoko, dan Wiwik Windarti mengenai Hubungan Aktivitas Fisik dengan Tingkat Stres Akademik pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura yang Sedang Menyusun Skripsi meneliti 89 mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Studi tersebut mengkaji hubungan aktivitas fisik dengan tingkat stres akademik pada kelompok mahasiswa tersebut.

Kamu tidak harus langsung melakukan olahraga berat. Berjalan kaki, melakukan peregangan, membersihkan kamar, atau aktivitas fisik lain yang sesuai kondisi tubuh dapat menjadi jeda dari rutinitas akademik.

Tujuannya bukan melarikan diri dari tugas, melainkan memberi tubuh dan pikiran kesempatan keluar sejenak dari tekanan pekerjaan.

7. Cari Bantuan Profesional Jika Stres Mulai Mengganggu Kehidupan Sehari-hari

Tidak semua stres akademik dapat diselesaikan dengan membuat jadwal baru, tidur lebih awal, atau berbicara dengan teman.

Jika tekanan sudah berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kemampuan Kamu untuk belajar, tidur, menjalankan aktivitas sehari-hari, atau menjaga kondisi emosional, pertimbangkan mencari bantuan profesional.

Kamu dapat mencari tahu apakah kampus menyediakan layanan konseling mahasiswa, psikolog, pusat layanan kesehatan, atau mekanisme pendampingan lainnya. Jika layanan tersebut tidak tersedia, bantuan dapat dicari melalui fasilitas kesehatan atau tenaga profesional yang kompeten.

Meminta bantuan juga tidak harus menunggu sampai masalah terasa sangat berat. Semakin cepat Kamu menyadari bahwa strategi yang dilakukan sendiri tidak cukup, semakin cepat pula Kamu dapat mencari dukungan yang sesuai.

Baca juga: Cara Membuat Paper Tugas Kuliah yang Baik dan Benar

Tugas Tidak Harus Diselesaikan dengan Mengorbankan Diri

Ketika tugas kuliah menumpuk, tujuan pertama bukan menjadi mahasiswa yang mampu mengerjakan semuanya sekaligus.

Mulailah dari sesuatu yang lebih realistis: petakan tugas, tentukan prioritas, kerjakan satu bagian pada satu waktu, kurangi distraksi, dan tetap berikan ruang untuk tidur serta beristirahat.

Tidak semua tekanan juga harus Kamu tangani sendirian. Teman, dosen, keluarga, maupun tenaga profesional dapat menjadi bagian dari sistem dukungan ketika beban akademik mulai sulit dikelola.

Pada akhirnya, cara menghindari stres akibat tugas kuliah yang menumpuk bukan tentang membuat perkuliahan bebas tekanan. Yang lebih penting adalah membangun cara menghadapi tuntutan akademik secara lebih terarah tanpa mengabaikan kondisi diri.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses