Perkembangan zaman yang semakin maju membawa dampak besar dalam kehidupan anak-anak dan remaja.
Di satu sisi, kemajuan teknologi mempermudah akses informasi dan membuka peluang kreativitas yang luas.
Namun di sisi lain, arus globalisasi juga memunculkan berbagai permasalahan, seperti menurunnya nilai kejujuran, lemahnya rasa tanggung jawab, dan semakin maraknya perilaku negatif di kalangan generasi muda.
Fenomena seperti bullying di sekolah, kebiasaan mencontek saat ujian, hingga mudahnya anak-anak terpengaruh informasi hoaks di media sosial, menunjukkan bahwa krisis moral tengah menjadi tantangan serius.
Penelitian menemukan bahwa kasus bullying di Indonesia meningkat signifikan antara tahun 2020 hingga 2023 dan berdampak pada kesehatan mental serta fisik remaja (Karisma et al., 2024).
Kondisi ini membuktikan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membangun generasi berkualitas.
Zulaiha (2025) juga menegaskan bahwa pendidikan karakter anti-korupsi dapat meningkatkan integritas siswa, khususnya dalam aspek kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin.
Baca Juga: Pentingnya Pendidikan Pancasila di Tengah Arus Globalisasi bagi Generasi Muda Indonesia
Pendidikan karakter tidak hanya bertujuan menjadikan anak-anak lebih berdisiplin, tetapi juga membentuk kepribadian yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan empati perlu ditanamkan sejak dini melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, anak yang dibiasakan untuk mengucapkan salam, meminta maaf ketika bersalah, atau membantu teman yang kesulitan, secara perlahan akan mengembangkan rasa peduli dan empati.
Pendidikan karakter juga membantu anak memahami bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari nilai rapor, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan.
Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi bekal penting untuk membangun generasi yang memiliki integritas tinggi.
Peran sekolah dalam pendidikan karakter sangatlah besar karena di sanalah anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya.
Guru dapat menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran, aturan kelas, maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Misalnya, melalui kerja kelompok, siswa belajar pentingnya gotong royong dan menghargai pendapat orang lain.
Dalam kegiatan pramuka atau upacara bendera, siswa belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air.
Baca Juga: Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa: Fondasi Generasi Beradab dan Berdaya Saing
Semua pengalaman ini jika dilakukan secara konsisten akan membentuk pola perilaku yang melekat pada diri anak sehingga menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Thomas Lickona, seorang pakar pendidikan karakter dari Amerika Serikat, “character education is the deliberate effort to cultivate virtue” (pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk menumbuhkan kebajikan).
Namun, penelitian (Suryanto et al., 2023) menunjukkan bahwa pendidikan karakter di kalangan remaja Indonesia masih lemah pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring, sehingga implementasinya belum maksimal.
Selain sekolah, keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam membangun karakter anak.
Orang tua berperan sebagai teladan yang nyata, karena sikap dan perilaku mereka akan ditiru oleh anak.
Anak yang melihat orang tuanya jujur, disiplin, dan penuh tanggung jawab akan terdorong untuk meneladani sikap tersebut dalam kehidupannya.
Sebaliknya, jika anak melihat kebiasaan yang bertolak belakang, maka nilai moral yang diterima di sekolah akan sulit tertanam dengan baik.
Sejalan dengan pendapat Ki Hajar Dewantara tentang “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, pendidikan harus dimulai dengan keteladanan, dorongan semangat, dan pemberian dukungan.
Hibatulloh & Ali (2023) menegaskan bahwa orang tua berperan penting dalam pembentukan moral anak sebagai teladan, pendidik, sekaligus pengawas.
Penelitian Maulidiya (2025) juga menemukan bahwa ayah yang mendampingi anak dengan pendekatan lembut tanpa kekerasan mampu memperkuat nilai kesabaran, tanggung jawab, dan empati.
Baca Juga: Sex Harassment dalam Dunia Pendidikan Indonesia: Pencegahan dan Dampaknya
Masyarakat juga memiliki andil besar dalam memperkuat pendidikan karakter.
Lingkungan sekitar yang membiasakan gotong royong, menghargai perbedaan, dan menegakkan norma sosial akan mendorong anak untuk berperilaku sesuai dengan nilai yang berlaku.
Contohnya, anak yang terbiasa mengikuti kegiatan kerja bakti atau acara sosial di lingkungannya akan belajar tentang kepedulian, kebersamaan, dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.
Ferdian Utama & Leli Fertiliana Dea (2023) melalui penelitian tentang kearifan lokal Lampung menemukan bahwa nilai budaya seperti Piil Pesenggikhi menjadi fondasi kuat dalam pembentukan karakter moral anak sejak usia dini.
Dengan demikian, masyarakat berperan sebagai ruang latihan nyata bagi anak dalam menerapkan nilai karakter yang sudah diperoleh.
Integritas sebagai tujuan utama pendidikan karakter memiliki arti penting bagi masa depan bangsa.
Generasi yang berintegritas akan selalu memegang teguh nilai kejujuran dan konsistensi dalam setiap tindakannya.
Mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif, seperti budaya mencontek, penyalahgunaan teknologi, atau perilaku menyimpang lainnya.
John Dewey, seorang filsuf pendidikan, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan kebiasaan yang baik untuk hidup dalam masyarakat.
Baca Juga: Penyebab dan Dampak Kesenjangan Sosial dalam Pendidikan serta Solusinya
Penelitian Azizah & Probosiwi (2023) menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler berbasis nilai, seperti Hizbul Wathan, mampu meningkatkan integritas siswa melalui pembiasaan kejujuran dan tanggung jawab. Dengan bekal integritas, anak-anak dapat tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang jujur, adil, dan dapat dipercaya.
Jika pendidikan karakter dilakukan secara konsisten sejak dini, maka Indonesia akan memiliki generasi emas yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam moral dan berakhlak mulia.
Pendidikan karakter adalah kunci untuk membangun generasi berintegritas. Nilai-nilai moral yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal berharga bagi anak dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Generasi yang berintegritas tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian yang kokoh, berakhlak mulia, serta mampu menjadi teladan bagi lingkungannya.
Oleh karena itu, mari kita jadikan pendidikan karakter sebagai pondasi utama dalam mendidik anak-anak.
Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat akan menjadi kekuatan besar untuk membentuk generasi yang berintegritas.
Dengan begitu, Indonesia akan memiliki masa depan yang lebih baik, dihuni oleh anak-anak bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat dan bermartabat.
Penulis:
1. Salsa Nabila
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sriwijaya
Dosen Pengampu:
1. Dr. Esti Susiloningsih, M.Si.
2. Dwi Cahaya Nurani, M.Pd.
Daftar Pustaka
- Azizah, A. R., & Probosiwi. (2023). Implementasi Penguatan Nilai Karakter Integritas pada Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 7(6), 3503–3513. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i6.6374
- Ferdian Utama, & Leli Fertiliana Dea. (2023). Alternative Early Childhood Moral Development: Parenting through the Local Wisdom of Lampung People. Journal of Childhood Development, 3(2), 180–187. https://doi.org/10.25217/jcd.v3i2.3302
- Hibatulloh, S. N., & Ali, M. (2023). The Role of Parents in Shaping Children’s Morality in Kembangan Village Baki Sukoharjo. Al Hikmah Indonesian Journal of Early Childhood Islamic Education, 7(2), 188–197. https://doi.org/10.35896/ijecie.v7i2.622
- Karisma, N., Rofiah, A., Afifah, S. N., & Manik, Y. M. (2024). Kesehatan Mental Remaja dan Tren Bunuh Diri: Peran Masyarakat Mengatasi Kasus Bullying di Indonesia. Edu Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 3(03), 560–567. https://doi.org/10.47709/educendikia.v3i03.3439
- Suryanto, A., Saliman, S., & Sudrajat, S. (2023). Weakness of Character Education in Indonesian Teenager. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9(5), 3869–3874. https://doi.org/10.29303/jppipa.v9i5.3721
- Zulaiha, A. R., Hernawan, A. H., & Dewi, L. (2025). The effect of anti-corruption character education on educational integrity. Inovasi Kurikulum, 22(1), 133–146. https://doi.org/10.17509/jik.v22i1.77126
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












