Menulis opini di media online bukan sekadar menyampaikan pendapat. Tulisan perlu memiliki persoalan yang jelas, sudut pandang yang kuat, alasan yang masuk akal, serta penyajian yang nyaman dibaca melalui layar.
Kesalahan yang sering terjadi adalah penulis memiliki gagasan menarik, tetapi menyampaikannya terlalu panjang, tidak fokus, atau tanpa dasar yang cukup. Akibatnya, pembaca sulit menangkap inti tulisan.
Karena itu, menulis opini di media online membutuhkan penyesuaian dengan karakter pembaca digital. Kamu perlu tahu isu apa yang ingin dibahas, posisi apa yang ingin disampaikan, bagaimana membangun argumentasi, dan bagaimana membuat setiap bagian tulisan tetap mudah diikuti.
Artikel ini membahas proses tersebut dari memilih isu sampai menyiapkan naskah sebelum dikirim ke media online.
Apa yang Membuat Opini Cocok untuk Media Online?
Opini di media online tetap membutuhkan gagasan dan argumentasi yang kuat. Perbedaannya terletak pada cara gagasan tersebut disajikan agar pembaca dapat memahami isi tulisan dengan mudah.
Pembaca digital biasanya tidak membaca halaman secara linear sejak kalimat pertama. Mereka dapat melakukan scanning terhadap judul, pembuka, subheading, dan paragraf sebelum memutuskan untuk membaca lebih lanjut.
Karena itu, tulisan opini perlu memiliki alur yang jelas. Pembaca sebaiknya segera mengetahui persoalan yang dibahas, sudut pandang penulis, dan alasan mengapa persoalan tersebut layak diperhatikan.
Hal ini bukan berarti opini harus dibuat dangkal. Tulisan tetap dapat menyampaikan analisis yang mendalam selama setiap bagian memiliki fungsi dan tidak membuat pembaca melewati paragraf yang sebenarnya tidak diperlukan.
Jika kamu masih ingin mempelajari dasar cara menulis artikel opini secara umum, termasuk penyusunan gagasan dan struktur dasarnya, pembahasannya dapat dipelajari pada panduan khusus tersebut.
Cara Menulis Opini di Media Online
1. Pilih Isu yang Relevan dengan Pembaca
Langkah pertama adalah menentukan isu yang memang layak dibahas. Jangan memulai tulisan hanya karena sebuah topik sedang ramai.
Topik yang luas biasanya belum cukup untuk menjadi opini. Kamu perlu menemukan persoalan tertentu yang dapat dianalisis dari sudut pandang yang jelas.
Misalnya, “pendidikan” terlalu luas untuk menjadi fokus tulisan. Kamu dapat mempersempitnya menjadi persoalan tertentu dalam pendidikan yang berkaitan dengan pengalaman, pengamatan, atau kompetensi yang kamu miliki.
Dengan mempersempit persoalan, tulisan menjadi lebih mudah diarahkan. Kamu juga tidak perlu memasukkan terlalu banyak gagasan yang akhirnya membuat pembahasan melebar.
Temukan Masalah, Bukan Sekadar Topik
Cobalah mengubah topik menjadi pertanyaan atau persoalan.
Misalnya:
- Apa masalah yang sedang terjadi?
- Siapa yang terdampak?
- Mengapa masalah tersebut penting?
- Apa yang selama ini belum banyak dibahas?
- Apa posisi yang ingin saya sampaikan?
Pertanyaan tersebut membantu menemukan bahan opini yang lebih spesifik.
Kamu juga tidak harus selalu mengambil isu nasional. Persoalan di lingkungan kampus, masyarakat, pendidikan, teknologi, budaya, atau kehidupan sehari-hari dapat menjadi bahan opini selama memiliki sudut pembahasan yang kuat dan relevan bagi pembaca.
2. Tentukan Angle dan Posisi Pendapat
Setelah menemukan isu, tentukan angle atau sudut pembahasan.
Satu isu dapat menghasilkan banyak opini karena setiap penulis bisa melihat persoalan dari sisi berbeda. Karena itu, jangan berhenti pada pertanyaan “apa yang terjadi?”, tetapi lanjutkan dengan “apa yang ingin saya katakan tentang hal tersebut?”.
Misalnya, satu isu dapat dibahas dari sisi:
- dampaknya bagi mahasiswa;
- kebijakan yang perlu diperbaiki;
- perubahan perilaku masyarakat;
- tantangan yang belum terselesaikan;
- atau solusi yang dapat dipertimbangkan.
Tentukan satu posisi utama yang ingin dibangun.
Posisi tersebut tidak harus berupa dukungan atau penolakan secara sederhana. Kamu juga dapat menawarkan kritik sekaligus solusi, selama arah argumentasinya konsisten.
Semakin jelas posisi penulis, semakin mudah menentukan informasi apa yang perlu dimasukkan dan apa yang sebaiknya ditinggalkan.
3. Riset Fakta Sebelum Menulis
Opini memang memberikan ruang bagi pendapat penulis, tetapi pendapat tidak berarti bebas dari fakta.
Sebelum menulis, kumpulkan informasi yang diperlukan untuk memahami persoalan. Periksa data, pernyataan, penelitian, laporan, atau sumber lain yang relevan dengan argumen yang akan dibuat.
Tujuannya bukan memenuhi tulisan dengan sebanyak mungkin referensi. Gunakan hanya informasi yang benar-benar membantu pembaca memahami persoalan atau memperkuat argumentasi.
Bedakan tiga hal:
- fakta, yaitu informasi yang dapat diverifikasi;
- analisis, yaitu penafsiran terhadap fakta;
- opini, yaitu posisi atau pandangan yang ingin disampaikan.
Ketiganya dapat berada dalam satu tulisan, tetapi jangan mencampurkannya sehingga pendapat pribadi seolah-olah menjadi fakta.
Bagaimana Menempatkan Data dalam Opini?
Data sebaiknya memiliki fungsi yang jelas.
Kamu dapat menggunakannya untuk:
- memberikan konteks terhadap persoalan;
- memperkuat argumen;
- menunjukkan skala atau kondisi suatu masalah;
- membandingkan keadaan;
- menjadi dasar untuk menawarkan solusi.
Jangan memasukkan angka hanya agar tulisan terlihat ilmiah.
Setelah menyebutkan sebuah data, jelaskan relevansinya dengan argumen. Pembaca perlu mengetahui bukan hanya apa datanya, tetapi juga mengapa data tersebut penting bagi persoalan yang sedang dibahas.
Jika menggunakan sumber eksternal, prioritaskan sumber yang kredibel dan dapat diverifikasi. Standar MMI juga menekankan penggunaan referensi ketika diperlukan serta mengutamakan jurnal, pemerintah, universitas, lembaga resmi, dan organisasi internasional.
4. Buat Opening yang Langsung Masuk ke Persoalan
Opening menentukan apakah pembaca memahami arah tulisan sejak awal.
Hindari pembukaan yang terlalu umum seperti menjelaskan perubahan zaman, perkembangan teknologi, atau kondisi masyarakat secara panjang tanpa segera mengarah ke persoalan.
Mulailah dengan sesuatu yang relevan dengan argumen utama.
Kamu dapat membuka dengan:
- persoalan yang sedang terjadi;
- fakta yang relevan;
- pertanyaan yang penting;
- contoh konkret;
- atau pernyataan yang menunjukkan posisi tulisan.
Setelah membaca beberapa paragraf pertama, pembaca seharusnya sudah mengetahui masalah apa yang dibahas dan ke mana arah opini tersebut.
Opening juga tidak perlu terlalu panjang. Pedoman MMI menekankan pembukaan yang menarik, langsung menjawab masalah, menunjukkan manfaat, dan tidak bertele-tele.
Susun Opini agar Enak Dibaca di Layar
Setelah gagasan dan argumentasi siap, perhatikan cara penyajiannya.
Tulisan yang kuat tetap dapat kehilangan pembaca jika tampil sebagai blok teks panjang yang sulit dipindai.
Gunakan Paragraf Pendek
Satu paragraf sebaiknya memiliki satu gagasan utama.
Jika sebuah paragraf mulai membahas ide baru, pertimbangkan untuk memisahkannya menjadi paragraf berikutnya.
Paragraf pendek juga membantu pembaca memahami hubungan antargagasan tanpa merasa berhadapan dengan blok teks yang berat.
Pedoman MMI menganjurkan paragraf sekitar 2–4 kalimat dan menyarankan paragraf panjang dipecah menjadi bagian yang lebih mudah dibaca.
Gunakan Kalimat yang Jelas dan Aktif
Gunakan kalimat yang langsung menyampaikan maksud.
Bandingkan:
Pembaca perlu diperhatikan oleh penulis ketika artikel akan disusun.
dengan:
Penulis perlu memahami pembacanya sebelum menyusun artikel.
Kalimat kedua lebih langsung dan mudah dipahami.
Hindari penggunaan istilah teknis jika tidak diperlukan. Jika istilah tersebut memang penting, berikan penjelasan singkat agar pembaca umum tidak kehilangan konteks.
Gunakan Subheading untuk Membantu Scanning
Subheading bukan sekadar elemen SEO.
Gunakan heading ketika terdapat perubahan pembahasan yang memang perlu diberi penanda. Pembaca dapat melihat struktur artikel dan langsung menemukan bagian yang mereka butuhkan.
Karena itu, jangan membuat subheading hanya untuk memasukkan keyword. Heading harus menggambarkan isi bagian yang mengikutinya. Prinsip ini secara eksplisit menjadi bagian dari standar editorial MMI.
Bangun Argumentasi yang Membuat Opini Bernilai
Opini yang menarik bukan sekadar opini yang berbeda. Pembaca juga perlu memahami alasan di balik pandangan tersebut.
Sampaikan Argumen Utama dengan Jelas
Setiap artikel sebaiknya memiliki gagasan utama yang menjadi benang merah pembahasan.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Jika pembaca hanya mengingat satu gagasan dari tulisan ini, apa yang ingin saya sampaikan?”
Jawaban tersebut dapat menjadi dasar argumentasi.
Setelah itu, pilih fakta, contoh, dan analisis yang benar-benar mendukung gagasan tersebut.
Hubungkan Fakta dengan Analisis
Jangan berhenti pada penyebutan fakta.
Misalnya, setelah menjelaskan suatu kondisi, lanjutkan dengan analisis mengenai apa arti kondisi tersebut terhadap persoalan yang sedang dibahas.
Di sinilah nilai opini berada.
Penulis tidak hanya memberi tahu pembaca mengenai suatu fakta, tetapi membantu mereka memahami persoalan melalui sudut pandang yang ditawarkan.
Pertimbangkan Sudut Pandang yang Berbeda
Jika persoalan memiliki lebih dari satu sisi, pertimbangkan pandangan yang berlawanan.
Kamu tidak harus menyetujui pandangan tersebut. Namun, dengan memahami argumen lain, tulisan dapat menjadi lebih matang dan tidak terlihat seperti kesimpulan yang dibuat sejak awal tanpa mempertimbangkan fakta.
Setelah itu, jelaskan mengapa kamu tetap mempertahankan posisi yang dipilih.
Cara seperti ini membuat argumentasi lebih terbuka sekaligus tetap tegas.
Buat Judul Opini yang Menarik Tanpa Clickbait
Judul merupakan pintu masuk menuju tulisan.
Judul opini sebaiknya memberi gambaran mengenai persoalan atau sudut pandang yang akan dibahas. Pembaca tidak seharusnya mendapatkan isi yang berbeda setelah membuka artikel.
Hindari judul yang terlalu umum seperti:
“Opini tentang Pendidikan”
Judul tersebut belum memberi informasi yang cukup mengenai gagasan tulisan.
Sebaliknya, judul yang lebih spesifik membantu pembaca memahami konteks sejak awal.
Kamu boleh membuat judul yang membangun rasa ingin tahu, tetapi jangan menggunakan klaim atau janji yang tidak didukung isi artikel.
Prinsipnya sederhana: menarik perhatian tanpa menyesatkan.
Sesuaikan Opini dengan Karakter Media Online yang Dituju
Menulis untuk media online tidak berhenti pada menyelesaikan naskah. Kamu juga perlu memahami tempat tulisan tersebut akan dipublikasikan.
Kenali Pembaca Media
Sebelum mengirim tulisan, lihat siapa pembaca media tersebut.
Perhatikan jenis isu yang dibahas, gaya bahasa yang digunakan, serta cara opini lain disajikan.
Hal ini membantu kamu menentukan apakah tulisan perlu menggunakan pendekatan yang lebih populer, analitis, reflektif, atau akademis-populer.
Kamu tidak perlu meniru gaya penulis lain. Yang perlu dilakukan adalah memahami konteks media agar tulisanmu relevan dengan pembacanya.
Periksa Karakter dan Pedoman Redaksi
Setiap media dapat memiliki ketentuan pengiriman yang berbeda.
Sebelum mengirim naskah, periksa informasi seperti:
- kanal pengiriman;
- format naskah;
- identitas penulis;
- ketentuan panjang tulisan jika tersedia;
- serta aturan lain yang ditetapkan media.
Jika kamu sedang mencari referensi tempat mengirim tulisan, kamu dapat melihat daftar media online yang menerima tulisan untuk membantu menentukan media yang sesuai.
Jangan memilih media hanya karena memiliki banyak pembaca. Kesesuaian antara topik, pembaca, dan karakter media juga perlu dipertimbangkan.
Kesalahan yang Sering Membuat Opini Tidak Menarik
1. Pembuka Terlalu Panjang
Penulis terkadang menghabiskan banyak paragraf untuk menjelaskan latar belakang sebelum menyampaikan persoalan.
Akibatnya, pembaca belum mengetahui inti tulisan ketika sudah membaca beberapa paragraf.
Perbaikannya sederhana: mulai dari persoalan yang memang ingin dibahas.
2. Membahas Terlalu Banyak Ide
Satu artikel tidak harus memuat semua gagasan yang dimiliki penulis.
Jika terdapat terlalu banyak topik, argumentasi menjadi dangkal dan arah tulisan sulit diikuti.
Pilih satu persoalan utama. Gagasan lain yang tidak mendukung pembahasan dapat disimpan untuk tulisan berikutnya.
3. Pendapat Tidak Didukung Fakta
Pendapat yang kuat membutuhkan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika membuat klaim faktual, pastikan sumbernya jelas. Jangan menggunakan data yang tidak diketahui asalnya hanya karena mendukung posisi yang ingin disampaikan.
4. Paragraf Terlalu Padat
Paragraf yang sangat panjang membuat pembaca sulit melakukan scanning.
Pecah paragraf berdasarkan perubahan gagasan dan pastikan setiap bagian memiliki fungsi.
5. Judul Tidak Mencerminkan Isi
Judul yang terlalu sensasional mungkin menarik klik, tetapi dapat mengecewakan pembaca jika isi artikel tidak sesuai.
Buat judul yang menarik sekaligus jujur terhadap isi tulisan.
6. Tulisan Tidak Memiliki Posisi yang Jelas
Opini yang terlalu berhati-hati sampai tidak menunjukkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan akan terasa seperti rangkuman informasi.
Pembaca perlu mengetahui posisi penulis.
Posisi tersebut tidak harus keras atau provokatif. Yang penting, argumen memiliki arah dan didukung alasan yang jelas.
Checklist Sebelum Mengirim Opini ke Media Online
Sebelum mengirim naskah, periksa kembali beberapa hal berikut:
- Isu yang dibahas sudah jelas.
- Angle tulisan sudah spesifik.
- Posisi penulis terlihat.
- Fakta dan data sudah diperiksa.
- Opening langsung masuk ke persoalan.
- Setiap paragraf memiliki fungsi.
- Tidak ada pengulangan ide.
- Bahasa mudah dipahami.
- Judul sesuai dengan isi.
- Naskah sudah melalui proofreading.
- Pedoman media tujuan sudah diperiksa.
- Tidak ada bagian yang terlalu promosi.
Checklist ini bukan jaminan tulisan diterbitkan. Fungsinya adalah membantu memastikan naskah sudah siap sebelum masuk ke proses editorial.
Cara Mengirim Opini ke Media Online
Setelah naskah selesai, langkah berikutnya adalah mengirimkannya melalui kanal yang disediakan media tujuan.
Sebelum mengirim, pastikan naskah telah mengikuti ketentuan yang berlaku. Periksa kembali judul, isi, identitas penulis, dan format file jika media menentukan format tertentu.
Jika kamu membutuhkan panduan lebih lanjut mengenai proses pengiriman, baca cara mengirim artikel, opini, tulisan dan berita ke media online agar tahap submission dapat dilakukan dengan lebih terarah.
Yang perlu diingat, menulis dan mengirim opini merupakan dua tahap yang berbeda. Naskah yang sudah bagus tetap perlu dikirim melalui prosedur yang sesuai dengan media tujuan.
Kesimpulan
Menulis opini di media online membutuhkan lebih dari sekadar keberanian menyampaikan pendapat.
Kamu perlu memilih persoalan yang relevan, menentukan angle, memperjelas posisi, memeriksa fakta, lalu membangun argumentasi yang dapat diikuti pembaca.
Penyajiannya juga perlu disesuaikan dengan kebiasaan membaca di layar. Paragraf yang lebih teratur, kalimat yang jelas, subheading yang fungsional, serta opening yang langsung ke persoalan akan membantu pembaca memahami tulisan.
Sebelum mengirim naskah, baca kembali tulisan dari sudut pandang pembaca. Tanyakan apakah persoalannya jelas, apakah argumentasinya masuk akal, dan apakah setiap bagian benar-benar diperlukan.
Jika jawabannya sudah memadai, barulah sesuaikan naskah dengan pedoman media yang dituju dan kirim melalui kanal yang tersedia.
FAQ tentang Menulis Opini di Media Online
1. Apa yang membedakan opini di media online dengan artikel opini biasa?
Perbedaannya terutama terletak pada konteks penyajian. Opini untuk media online perlu mempertimbangkan pembaca digital sehingga tulisan sebaiknya memiliki struktur yang jelas, paragraf yang nyaman dibaca, dan pembahasan yang langsung menuju persoalan.
2. Apakah opini di media online harus menggunakan data?
Tidak setiap paragraf membutuhkan data. Namun, klaim faktual dan argumentasi yang membutuhkan pembuktian sebaiknya didukung oleh informasi yang dapat diverifikasi. Data digunakan ketika memang membantu memperkuat atau menjelaskan argumen.
3. Bagaimana membuat opini agar nyaman dibaca di ponsel?
Gunakan paragraf pendek, kalimat yang jelas, subheading yang membantu navigasi, serta hindari pengulangan dan blok teks yang terlalu panjang. Setiap bagian sebaiknya memiliki satu fungsi yang jelas.
4. Apakah judul opini harus menggunakan keyword?
Tidak harus. Judul harus terlebih dahulu jelas, relevan, dan sesuai dengan isi. Jika keyword dapat digunakan secara natural tanpa membuat judul terasa dipaksakan, penggunaannya dapat dipertimbangkan.
5. Bagaimana memilih media online yang sesuai untuk opini?
Pertimbangkan kesesuaian antara topik tulisan, target pembaca, karakter media, dan pedoman pengiriman. Membaca beberapa tulisan yang sudah diterbitkan media tersebut dapat membantu kamu memahami konteksnya sebelum mengirim naskah.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















