Abstrak
Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, terutama dalam mencari informasi produk, mempertimbangkan ulasan pelanggan, serta mengutamakan kemudahan dan kecepatan transaksi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan perilaku konsumen di era digital, strategi adaptasi pedagang online dan offline, serta membandingkan kelebihan dan kekurangan strategi keduanya.
Penelitian dilakukan dengan observasi dan wawancara semi terstruktur pada pedagang online dan offline.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang online memanfaatkan media sosial, marketplace, promo, dan pengelolaan rating pelanggan untuk meningkatkan daya saing, sedangkan pedagang offline mengandalkan kualitas pelayanan, hubungan langsung dengan pelanggan, dan lokasi strategis.
Penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen menjadi faktor penting dalam mempertahankan keberlangsungan usaha di era digital.
Kata Kunci: perilaku konsumen, pemasaran digital, pedagang online, pedagang offline, era digital, strategi adaptasi, pemasaran digital
Pendahuluan
Pernahkah Anda membeli barang hanya karena melihat iklan yang muncul berulang kali di media sosial atau justru masih lebih nyaman datang langsung ke toko untuk melihat dan mencoba produk sebelum membeli?
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen terus berubah seiring perkembangan teknologi digital.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam cara konsumen melakukan aktivitas belanja.
Saat ini, konsumen tidak lagi bergantung pada toko fisik sebagai satu-satunya tempat berbelanja.
Melalui perangkat digital, mereka dapat mencari informasi produk, membandingkan harga, membaca ulasan pelanggan, hingga melakukan transaksi kapan saja dan di mana saja.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumen menjadi lebih kritis dalam mengambil keputusan pembelian karena memiliki akses informasi yang luas.
Selain itu, faktor kemudahan transaksi, harga yang kompetitif, fleksibilitas pembayaran, dan pelayanan yang baik menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pilihan pembelian.
Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya fokus pada produk yang dijual, tetapi juga pada pengalaman yang dirasakan konsumen selama proses pembelian.
Pedagang online memanfaatkan marketplace, media sosial, dan berbagai platform digital.
Strategi pemasaran digital menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menarik perhatian konsumen, membangun interaksi, serta meningkatkan penjualan.
Menurut penelitian sebelumnya, pemanfaatan e-commerce dan pemasaran digital mampu meningkatkan daya saing usaha karena memberikan akses pasar yang lebih luas serta memperkuat hubungan dengan pelanggan (Triwijayati et al., 2023).
Di sisi lain, perkembangan e-commerce menghadirkan tantangan bagi pedagang offline.
Untuk tetap bertahan, mereka perlu mempertahankan loyalitas pelanggan dan memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Meski demikian, keberadaan toko offline masih unggul karena konsumen dapat melihat, menyentuh, dan mencoba produk secara langsung sebelum membeli serta membangun hubungan yang lebih personal antara pedagang dan pelanggan.
Hasil dari wawancara kami kepada dua pedagang baju offline di kawasan Tanah Abang menjadi bukti konkret bahwa platform digital sangat membuat kesulitan pedagang di sana.
Ada beberapa dari mereka yang memaksa keadaan berjualan tanpa hasil sama sekali, hingga terpaksa gulung tikar dikarenakan kehabisan modal.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 31 Mei 2026 sampai 4 Juni 2026 yang melibatkan 4 partisipan yaitu 2 orang pedagang online dan 2 orang pedagang offline.
Wawancara dengan pedagang online dilaksanakan di lokasi yang telah disepakati bersama narasumber, seperti pusat perbelanjaan (mall) dan rumah narasumber.
Sementara itu, penelitian pada pedagang offline dilakukan di kawasan Pasar Tanah Abang sebagai salah satu pusat perdagangan dengan aktivitas jual beli langsung yang sangat terdampak oleh merajalelanya online.
Pedagang offline yang dipilih merupakan pelaku usaha yang menjalankan penjualan secara langsung tanpa menggunakan media sosial atau platform digital sama sekali.
Sebaliknya, pedagang online merupakan pelaku usaha yang menjalankan bisnis sepenuhnya melalui media digital tanpa memiliki toko fisik.
Pemilihan ini dilakukan agar penelitian dapat membandingkan secara lebih jelas strategi bertahan antara kedua jenis pedagang dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen.
Hasil dan Pembahasan
Pemahaman Perilaku Konsumen dan Penyesuaian Tren Pasar
Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku konsumen dalam berbelanja.
Kini, konsumen cenderung memilih cara yang lebih cepat dan praktis, mulai dari mencari informasi produk hingga melakukan transaksi melalui media sosial dan marketplace.
Selain itu, paparan iklan yang muncul berulang di media sosial sering kali memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Temuan ini sejalan dengan pendapat (Safira & Fani, 2024) yang menyatakan bahwa perkembangan teknologi telah menciptakan pola konsumsi baru yang mengutamakan kemudahan dan kecepatan.
Perubahan perilaku tersebut membuat persaingan bisnis online semakin ketat.
Banyaknya produk serupa di marketplace mendorong pelaku usaha untuk mencari strategi yang mampu membedakan mereka dari kompetitor.
Berdasarkan hasil wawancara, pedagang berupaya mempertahankan daya saing melalui penetapan harga yang kompetitif, menjaga kualitas produk, serta terus mengikuti tren pasar dan perkembangan digital agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
Strategi Adaptasi dan Pengelolaan Risiko Usaha
Pedagang online mempertahankan usahanya dengan memanfaatkan digital marketing melalui Facebook Ads, Instagram Ads, dan TikTok Ads untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Marketplace Shopee juga digunakan sebagai platform utama penjualan, sedangkan media sosial dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan komunikasi dengan konsumen.
Narasumber menjelaskan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi untuk memperkenalkan produk, tetapi juga membangun ketertarikan konsumen melalui iklan yang ditampilkan secara berulang.
Penggunaan fitur interaktif seperti polling, kuis, dan konten inspirasi outfit di Instagram menjadi strategi untuk meningkatkan keterlibatan konsumen dengan merek yang dijalankan.
Selain itu, mereka terus mengikuti tren pasar agar produk tetap sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Dalam menghadapi persaingan, pedagang juga menerapkan harga yang terjangkau tanpa mengabaikan kualitas produk.
Sistem penjualan online dipilih karena lebih efisien dan minim risiko.
Narasumber menjalankan usaha tanpa menyimpan stok barang, sehingga produk baru dipesan setelah ada pesanan dari konsumen melalui marketplace.
Strategi ini membantu mengurangi biaya operasional sekaligus menekan risiko kerugian.
Meski demikian, biaya promosi digital tetap menjadi bagian penting untuk menjaga visibilitas produk dan menarik konsumen baru.
Strategi Membangun Kepercayaan dan Loyalitas Konsumen
Kepercayaan konsumen menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan keberlangsungan usaha.
Narasumber menjelaskan bahwa hubungan dengan pelanggan dibangun melalui komunikasi yang aktif di media sosial serta pelayanan yang responsif.
Interaksi dilakukan melalui fitur-fitur Instagram seperti polling dan kuis sehingga konsumen merasa lebih dekat dengan merek yang ditawarkan.
Selain itu, pelayanan purna jual (after sales service) seperti membalas ulasan pelanggan dan memberikan respons yang ramah juga dilakukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.
Strategi ini dinilai mampu membangun loyalitas konsumen dan mendorong pembelian ulang.
Temuan ini mendukung teori kepercayaan konsumen yang menyatakan bahwa hubungan yang baik antara penjual dan pelanggan dapat meningkatkan loyalitas dan keberlangsungan usaha.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa teknologi digital memang membantu memperluas pasar, tetapi keberlangsungan usaha tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha memahami kebutuhan konsumen, beradaptasi terhadap perubahan, dan membangun kepercayaan pelanggan.
Kesimpulan
Perubahan teknologi digital telah mengubah cara konsumen berbelanja menjadi lebih cepat, praktis, dan bergantung pada media sosial serta marketplace.
Kondisi ini mendorong pedagang untuk menyesuaikan strategi usaha agar tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari- hari dan harapan konsumen yang terus berkembang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang online maupun offline memiliki strategi yang berbeda dalam mempertahankan usahanya.
Pedagang online lebih mengandalkan pemanfaatan teknologi digital melalui media sosial, marketplace, dan iklan digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Sementara itu, pedagang offline mengandalkan pelayanan yang baik, hubungan personal dengan pelanggan, dan kepercayaan yang dibangun melalui interaksi langsung.
Kedua strategi tersebut memiliki keunggulan masing-masing, meskipun hancurnya masa jaya pedagang offline lebih sangat terasa dan dapat menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat.
Pada akhirnya, keberhasilan usaha di era digital tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang dijual, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami perubahan perilaku konsumen, serta membangun hubungan yang baik dengan pelanggan.
Pelaku usaha yang mampu memadukan inovasi, pemanfaatan teknologi, dan pelayanan yang berkualitas akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Penulis:
1. Raden Varrel Navaro Reihan Hidayat
2. Kaylazahra Nur Syawarani
3. Anggi Tsalistia Youztima
4. Muhammad Fikri
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Dosen Pengampu: Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Safira, I., & Fani, R. (2024). Analisis Dampak Pengaruh Keberadaan E-Commerce terhadap Pedagang Konvensional di Situbondo. 3, 96–102.
- Triwijayati, A., Luciany, Y. P., Novita, Y., & Sintesa, N. (2023). Strategi Inovasi Bisnis untuk Meningkatkan Daya Saing dan Pertumbuhan Organisasi di Era Digital. 2(03), 306–314.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












