Abstrak
Optimisme merupakan salah satu sikap penting dalam kehidupan manusia karena sangat memengaruhi cara seseorang menjalani hidup.
Namun, di era modern saat ini, banyak orang mengalami tekanan hidup yang berat sehingga sebagian dari mereka kehilangan harapan, merasa putus asa, bahkan ada yang mengalami depresi hingga melakukan tindakan negatif seperti bunuh diri atau kriminal.
Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad Saw. sangat menganjurkan sikap optimisme.
Orang yang optimis akan lebih semangat dalam menjalani hidup, merasa lebih bahagia, dan terdorong untuk melakukan kebaikan.
Hal ini juga dijelaskan dalam banyak hadis.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tematik hadis untuk mengkaji bagaimana pandangan Islam terhadap optimisme sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimisme memiliki kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam dan sangat dianjurkan oleh Nabi.
Kesimpulannya, optimisme adalah sikap penting yang harus dimiliki setiap orang karena dapat membantu menjaga kesehatan mental, memberikan semangat hidup, dan menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Kata Kunci: Hadis, Optimisme, Perspektif
Pendahuluan
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap optimisme terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal di antaranya adalah cara seseorang memandang dirinya.
Cara memandang diri ini berhubungan dengan penerimaan diri pada apa yang dimiliki oleh individu dan merupakan suatu kondisi positif dalam memandang baik atau buruk hal yang ia lalui.
Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi sikap optimis individu di antaranya adalah dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, saudara dan teman-temannya.
Ketika dihadapkan dengan problematika banyak manusia yang mampu menghadapinya dengan baik dan selamat, namun ada pula yang tidak mampu mengatasinya dan tenggelam dalam arus kehidupan (Sari, 2019).
Tidak sedikit manusia mengalami kelumpuhan sempurna ketika ditimpa sebuah kegagalan, sebab kemampuan untuk mengendalikan prilaku tergantung pada stabilitas dan kemampuan manusia dalam melihat serta mengambil keputusan secara jernih sehingga bingung dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan akibat posisinya yang terjepit di antara harapan dan putus asa (Hasyim, 2005).
Ketika manusia memiliki emosi negatif akan menumbuhkan prasangka buruk dalam dirinya menimbulkan mindset mereka menjadi mudah patah semangat dan mudah menyerah pada permasalahan kehidupan, bahkan ada yang berakibatkan stres, mengonsumsi narkoba, menyakiti diri sendiri, melakukan tindakan kriminal, bahkan bisa juga berakhir bunuh diri.
Permasalahan dari kurangnya optimisme akan memicu tindakan kriminal, karena telah menurunnya moral seseorang sehingga orang tersebut akan menghalalkan segala cara dalam melaksanakan kegiatannya.
Bahkan ketika dia sudah menyerah akan kehidupannya maka pola pikir tersebut berdampak pada kesehatan mental.
Kesehatan mental tersebut maka ia akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, yang mana ini disebabkan tidak memiliki tujuan lain lagi.
Padahal Allah Swt. memberikan segala sesuatu kepada hambanya adalah baik, walaupun menurut kacamata manusia ia membencinya.
Karena belum tentu yang dibenci manusia itu buruk baginya dan sebaliknya yang disukai manusia belum tentu baik baginya (Siti Hatifah and Dzikri 2014).
Diiringi dengan keikhlasan menerima kenyataan hidup akan lebih baik dari pada memilih untuk melakukan tindakan kriminal, Allah melarang manusia bersikap putus asa.
Putus asa adalah sikap tercela dan dibenci Allah. Allah memberikan contoh sesuai dengan kemampuan manusia (Rodin, 2015).
Rasulullah saw. bersabda tentang keadaan seorang mukmin yang menakjubkan dalam menghadapi kesulitan hidup.
Realitas di lingkungan masyarakat, di kampus, di rumah, bahkan individu masing-masing banyak terpengaruh dengan perkataan yang bernada pesimis, mudah mengeluh, tidak sabar, dan menganggap semua yang terjadi dengan kesialan (Suriyati et al., 2022).
Padahal melalui ucapan bernada mengeluh adalah awal dari pesimisme.
Betapa pentingnya ucapan yang baik sehingga mempengaruhi orang lain untuk selalu berkata baik dan berpikiran positif.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research) sumber data primer berupa hadis-hadis dari mashadir ashliyah digital dari Hadis Soft dan Ensiklopedi Hadis Kitab 9 Imam, yang meliputi tulisan-tulisan terkait optimisme.
Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini sepenuhnya bersifat literer (pustaka) yang dibagi menjadi dua kategori:
- Data primer: Teks matan dan sanad Hadis Riwayat (HR. Shahih Bukhari No. 7405) (Al-Bukhari, 1994),
- Data Sekunder: Buku, jurnal ilmiah, dan artikel optimisme yang relevan dengan motivasi hidup.
Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Teknik pengumpulan data secara outlining kemudian dikembangkan ke dalam bentuk narasi deskriptif dan interpretatif.
Pada tahap deskriptif, peneliti memaparkan data hadis yang berkaitan dengan optimisme secara sistematis, meliputi teks hadis, makna, serta konteksnya.
Selanjutnya, pada tahap interpretatif, peneliti menganalisis dan menafsirkan kandungan hadis tersebut untuk memahami konsep optimisme menurut perspektif Islam.
Dengan demikian, diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai optimisme dalam perspektif hadis, baik dari segi pengertian, nilai-nilai yang terkandung, maupun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari (Darmalaksana, 2020).
Result (Hasil)
Optimisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah individu yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal (Departemen Pendidikan Nasional, 2008).
Dalam bahasa Arab optimisme sering disebut al-tafa’ul.
Dalam kamus Al Munjid disebutkan makna al-tafa’ul sebagai “Dhad-du at-tasya’amu” (lawan dari pesimis) (AM. Waskito, 2013).
Dalam kamus Al-Munawwir kata, al-tafa’ul diartikan sebagai pengharapan nasib baik (Ahmad Warson Munawwir, 1997).
Dalam Islam, optimisme ditunjukan dengan berprasangka baik kepada Allah (husnudzon) bahwa dalam setiap kesulitan dan permasalahan terdapat kemudahan dan jalan keluar (Zulkifli, 2016).
Dalam kamus Arab-Indonesia, karya Mahmud Yunus, terdapat penjelasan seputar kata Ayisa-Iyasan (أيسا-أيس).
Kata ini bermakna putus harapan atau putus asa (Mahmud Yunus, 1989).
Dalam kamus Al-Munawwir, juga terdapat penjelasan serupa yaitu Qanitha-Qanathah (قناطة – قنط).
Kata ini juga bermakna putus asa (Ahmad Warson Munawwir, 1997).
Lopez dan Snyder mengemukakan bahwa optimisme adalah suatu harapan yang ada pada individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju ke arah kebaikan (Risnawira, 2012).
Segereston mengemukakan optimisme adalah cara berpikir yang positif dan realistik dalam memandang suatu masalah.
Optimisme adalah sebuah gaya tertentu dalam merespons kejadian-kejadian yang negatif dalam hidup (Floresya Romauly, 2021).
Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan optimisme sebagai berikut:
1. Penyajian Data Primer Hadis Berprasangka Baik kepada Allah
Telah menceritakan kepada kami [‘Amru bin Hafs] telah menceritakan kepada kami [Ayahku] telah menceritakan kepada kami [Al A’masy] aku mendengar [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] radhiallahu’anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari (HR. Shahih Bukhari No. 7405) (Al-Bukhari, 1994).
Penjelasan Fath Al-Bari dengan penjelasan Shahih Al-Bukhari, pernyataannya: “Allah Swt berfirman: Aku seperti apa yang hamba-Ku pikirkan tentang Aku.”
Artinya, Aku mampu melakukan apa yang menurutnya akan aku lakukan.
Al-Kirmani berkata, dan dalam konteksnya, itu adalah indikasi lebih memilih aspek harapan atas ketakutan, seolah-olah ia mengambilnya dari aspek kompromi; jika orang rasional mendengarnya, ia tidak akan diubah menjadi keyakinan bahwa ancaman akan disampaikan, yaitu aspek ketakutan, karena ia tidak memilihnya untuk dirinya sendiri, melainkan dimodifikasi pada keyakinan bahwa janji itu akan terjadi, yang merupakan aspek harapan, dan sebagaimana dikatakan oleh para ulama ulama, terbatas pada orang yang sekarat (Al-Asqalani, n.d.).
Berprasangka baik kepada Allah merupakan sebuah cara pandang yang positif dan baik dalam menerima keputusan dan keadaan yang diberikan oleh Allah.
Berprasangka baik kepada Allah dalam konteks optimisme adalah sikap yang ditunjukkan oleh seorang mukmin yang beriman dan taat.
Ini ditunjukkan melalui berprasangka baik kepada Allah yang berarti menyadari bahwa segala sesuatu berjalan sebagaimana aturan dan ketetapan Allah, dan memiliki harapan positif dalam menghadapi segala persoalan kehidupan yang akan menemukan keberhasilan (SABRI, 2022).
a. Otentisitas dan Validitas Hadis
Berikut ini penjelasan terkait para perawi hadis:
- Imam al-Bukhari menerima dari:
- ‘Umar bin Hafs (ditulis ‘Amru bin Hafs pada terjemahan teks, namun nama aslinya dalam Arab adalah ‘Umar bin Hafs bin Ghiyats, seorang perawi tsiqah), menerima dari:
- Ayahku (Hafs bin Ghiyats) (seorang qadhi dan perawi tsiqah tsabat), menerima dari:
- Al-A’masy (Sulaiman bin Mihran, salah satu ulama besar tabi’in), mendengar langsung dari:
- Abu Shalih (Dzakwan as-Samman, tabi’in senior terpercaya), mendengar dari:
- Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis).
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sanad hadis Riwayat al bukhari ini dinilai shahih mutlak karena memenuhi unsur unsur kesahihan:
- Rawi Utama (Periwayat): Imam al-Bukhari.
- Kitab Utama: Shahih al-Bukhari (Kitab At-Tauhid, Bab Firman Allah Ta’ala: “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya”).
- Nomor Hadis: No. 7405 (dalam beberapa penomoran kitab lain seperti Fathul Bari bisa tertulis no. 6856 atau 7010, namun teks dan sanadnya persis sama).
- Status Kesahihan: Sahih Muttafaqun ‘Alaih (disepakati oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim). Tingkatan ini merupakan derajat kesahihan tertinggi dalam ilmu hadis.
2. Hadis Optimisme dengan Kesabaran
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Atha’ bin Yazid Al Laitsiy dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiallahu’anhu bahwa ada beberapa orang dari kalangan Anshar meminta (pemberian shodaqoh) kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau memberi.
Kemudian mereka meminta kembali, lalu beliau memberi.
Kemudian mereka meminta kembali lalu beliau memberi lagi hingga habis apa yang ada pada beliau.
Kemudian beliau bersabda, “Apa-apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) sekali kali tidaklah aku akan menyembunyikannya dari kalian semua. Namun barang siapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barang siapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barang siapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran.” (H.R Shahih Bukhari Nomor 1469) (Al-Bukhari, 1994).
Penjelasan dari Kitab Atsar ‘Amalu Iqlab’ Ala Ibadah Sholat, hadis ini menunjukkan keutamaan sabar dan kedudukannya yang agung, dan bahwa barangsiapa yang membiasakan diri dengan kesabaran dan membiasakan diri dengannya, maka Allah akan memampukannya hingga dia tunduk kepadanya, dan bahwa kesabaran adalah sebaik-baik amal yang dapat dilakukan oleh seseorang karena pahalanya tidak terbatas, dan Allah akan memberinya pahala tanpa hisab.
Dari perkataan para ulama tentang kesabaran: Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhu berkata: “Kami menemukan kehidupan terbaik kami melalui kesabaran Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: Kemudian beliau meninggikan suaranya dan berkata, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.”
Beliau juga berkata, “Kesabaran adalah tunggangan yang tidak goyah.”
Beliau juga berkata, “Kesabaran adalah tunggangan yang tidak goyah.”
Al-Hassan rahimahullah berkata, “Kesabaran adalah salah satu dari harta kebaikan” (Al Hadrati, 2021).
Optimisme dengan kesabaran adalah sikap yang mengkombinasikan kekuatan optimisme dan kesabaran.
Optimisme adalah perasaan yang menyebutkan kepastian bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju kearah kebaikan, sambil mengharapkan dan menjadi yang mengancamkan diri dan kemampuan yang dimiliki (Suriyati et al., 2022).
Kesabaran, kesabarannya, adalah kekuatan untuk menjalani kehidupan yang hebat, menghasilkan kenikmatan, kesejahteraan, dan keindahan untuk selamanya.
Mengkombinasikan optimisme dan kesabaran dapat membantu individu menghadapi masalah yang dihadapi dengan kesabaran dan menjadi lebih efektif dalam mencapai tujuan.
Kesabaran juga membantu individu mengeluarkan pemikiran yang positif dan mudah memberikan makna bagi diri, yang merupakan salah satu dimensi optimisme (Wafa, 2021).
Discussion (Pembahasan)
Di era modern yang penuh dengan tekanan mental dan problematika kehidupan, bangunan optimisme (al-tafa’ul) bukan sekadar angan-angan kosong, melainkan sebuah instruksi profetik yang berakar pada keimanan.
Pembahasan mengenai konstruksi optimisme dan motivasi hidup ini dapat dikelompokkan ke dalam dua pilar utama berdasarkan hadis sahih yang dikaji:
1. Husnudzon kepada Allah sebagai Fondasi Utama Optimisme
Ktika seseorang menghadapi kegagalan atau posisi yang terjepit, emosi negatif dan prasangka buruk sering kali muncul dan memicu keputusasaan.
Namun, dengan menumbuhkan husnudzon (berprasangka baik kepada Allah), seorang mukmin akan memandang setiap kesulitan dengan kacamata positif, meyakini bahwa di balik setiap ujian pasti ada kemudahan dan ketetapan terbaik dari Allah.
Prasangka baik inilah yang membedakan optimisme Islam dengan optimisme sekuler, karena ia bersandar pada kekuatan zat yang Maha Kuasa.
2. Sinergi Optimisme dan Kesabaran dalam Menghadapi Realitas
Melalui HR. Shahih Bukhari Nomor 1469, Rasulullah ﷺ memberikan keteladanan konkret mengenai pentingnya menjaga kehormatan diri (iffah) dan bersabar saat menghadapi keterbatasan ekonomi atau kesulitan hidup.
- Kombinasi Konstruktif: Optimisme tanpa kesabaran akan melahirkan pribadi yang rapuh dan mudah mengeluh ketika harapannya tidak langsung terwujud. Sebaliknya, mengombinasikan optimisme dan kesabaran (al-tafa’ul wa al-sabr) menciptakan ketahanan mental yang luar biasa. Optimisme memberikan energi berupa harapan masa depan yang baik, sedangkan kesabaran memberikan napas panjang dan kekuatan untuk bertahan dalam prosesnya.
- Keutamaan Sabar: Mengutip perkataan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, “Kami menemukan kehidupan terbaik kami melalui kesabaran.” Kesabaran membantu individu mengendalikan emosi negatif, berpikir jernih, dan tetap efektif dalam mencapai tujuan tanpa harus menghalalkan segala cara atau jatuh ke dalam tindakan kriminal dan bunuh diri.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
- Optimisme dalam Islam (Al-Tafa’ul) bukan sekadar sikap psikologis konvensional, melainkan sebuah refleksi keimanan yang diwujudkan melalui prasangka baik (husnudzon) kepada Allah Swt. bahwa setiap roda kehidupan berjalan di atas ketetapan-Nya yang terbaik.
- Hadis-hadis Nabi Muhammad khususnya H.R. Bukhari No. 7405 dan No. 1469—memiliki otentisitas dan validitas yang tinggi (sahih mutlak) untuk dijadikan landasan motivasi hidup. Hadis-hadis tersebut mengonstruksikan bahwa optimisme harus berjalan beriringan dengan kesabaran, sikap menjaga kehormatan diri (‘iffah), dan rasa syukur agar manusia tidak mudah putus asa.
- Sikap optimis dan sabar memiliki urgensi yang sangat besar dalam menjaga kesehatan mental di era modern. Sikap ini berfungsi sebagai benteng pertahanan spiritual dan psikologis yang efektif untuk mencegah berbagai patologi sosial, seperti stres, depresi, tindakan kriminal, hingga perilaku bunuh diri.
Penulis:
1. Rafiq Mumtaz (1251330125)
2. Halwa Safwa Kaila (1251330120)
3. Dalila Hizba Yahdiani (1251330127)
Mahasiswa Prodi Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dosen Pengampu: Muhammad Firdaus, B.A., M.A., Ph.D
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
References
- Ahmad Warson Munawwir. (1997). Kamus Arab-Indonesia (Surabaya). Pustaka Progresif.
- Al-Asqalani, H. (n.d.). Fath al-Bari (Penjelasan Kitab Shahih al-Bukhari).
- Al-Bukhari, A. M. ibn I. ibn I. ibn M. ibn B. (1994). Shahih al-Bukhari. Dar al-Fikr.
- Al-Hadrati, I. bin H. (2021). Kitab Atsar’Amalu Iqalb ’Ala ’Ibadah Sholat.
- AM. Waskito. (2013). The Power of Optimism (Tim Pustaka Al-Kautsar (ed.)). Pustaka Al Kautsar.
- Darmalaksana, W. (2020). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan. Pre Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 1–6.
- Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. PT Gramedia Pustaka Utama.
- Floresya Romauly. (2021). Hubungan Harga Diri dan Optimisme Dengan Subjective Well Being Pada Aparatur Sipil Negara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Tanapanji Tengah.
- Hasyim, D. H. A. (2005). Bersedih Bukan Solusi. Qisthi Press.
- Mahmud Yunus. (1989). Kamus Arab Indonesia. PT. Hidakarya Agung.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














