Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penentuan harga pokok produksi (HPP) pada UMKM Too Long Potato yang berlokasi di kawasan Kuliner Rindam, Magelang dengan menggunakan metode variable costing. Penentuan HPP yang tepat menjadi aspek penting karena berpengaruh langsung terhadap penetapan harga jual dan tingkat keuntungan yang dapat diperoleh usaha.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemilik usaha, serta dokumentasi biaya produksi yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variabel. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan variable costing untuk memperoleh perhitungan HPP yang lebih akurat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya variabel produksi mencapai Rp3.936.000 per bulan dengan rata-rata volume produksi sebanyak 448 porsi setiap bulan. Berdasarkan hasil tersebut, diperoleh harga pokok produksi sebesar Rp8.786 per porsi. Dengan harga jual yang ditetapkan sebesar Rp15.000 per porsi, usaha ini mampu menghasilkan margin kontribusi sebesar 41,43% serta laba bersih sebesar Rp1.434.000 per bulan.
Hasil analisis Break Even Point (BEP) menunjukkan bahwa titik impas tercapai pada tingkat penjualan 218 porsi per bulan dengan margin of safety sebesar 51,3%. Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi keuangan usaha relatif stabil dan memiliki tingkat keamanan yang cukup baik terhadap kemungkinan penurunan penjualan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun penetapan harga jual selama ini dilakukan berdasarkan estimasi modal dan kondisi pasar, harga yang diterapkan telah memberikan tingkat keuntungan yang memadai.
Oleh karena itu, penerapan metode variable costing direkomendasikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bisnis agar pemilik usaha dapat melakukan perencanaan yang lebih terukur, khususnya ketika menghadapi perubahan harga bahan baku dan dinamika pasar.
Kata kunci: harga pokok produksi, variable costing, UMKM, margin kontribusi, break even point.
Abstract
This study aimed to evaluate the determination of the Cost of Goods Manufactured (COGM) at the Too Long Potato MSME, located in the Rindam Culinary Area, Magelang, using the variable costing method. Accurate determination of COGM is essential because it directly influences pricing decisions and the level of profit that a business can achieve.
This research employed a descriptive quantitative approach. Data were collected through field observations, interviews with the business owner, and documentation of production costs, including raw material costs, direct labor costs, and variable overhead costs. The collected data were subsequently analyzed using the variable costing approach to obtain a more accurate calculation of COGM.
The findings revealed that the total variable production cost amounted to IDR 3,936,000 per month, with an average production volume of 448 portions per month. Based on these figures, the cost of goods manufactured was calculated at IDR 8,786 per portion. With a selling price of IDR 15,000 per portion, the business generated a contribution margin of 41.43% and a net profit of IDR 1,434,000 per month.
The Break-Even Point (BEP) analysis indicated that the business reached its break-even point at a sales volume of 218 portions per month, with a margin of safety of 51.3%. These results suggest that the business is in a relatively stable financial condition and possesses a considerable buffer against potential declines in sales.
The study also found that although the selling price had previously been determined based on estimated costs and prevailing market conditions, the price set by the owner had already provided an adequate level of profitability.
Therefore, the implementation of the variable costing method is recommended as a basis for business decision-making, enabling business owners to conduct more systematic planning, particularly when responding to fluctuations in raw material prices and changing market conditions.
Keywords: cost of production, variable costing, MSME, contribution margin, break-even point.
Pendahuluan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian Indonesia karena berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Di antara berbagai sektor UMKM yang berkembang, sektor kuliner menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat seiring meningkatnya kebutuhan dan preferensi masyarakat terhadap produk makanan yang praktis serta mudah diperoleh. Salah satu produk yang memiliki tingkat permintaan yang relatif tinggi adalah kentang goreng (French Fries), karena dapat dikonsumsi oleh berbagai kelompok usia dan memiliki pangsa pasar yang luas.
Tujuan utama didirikannya perusahaan termasuk UMKM adalah untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya dengan mencari laba. Namun, masih banyak permasalahan yang muncul mengenai pengelolaan keuangan usaha secara optimal.
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi para pelaku usaha, yaitu ketidakmampuan mereka dalam menentukan harga pokok produksi (HPP) secara akurat. Sebagian besar pelaku UMKM masih menentukan harga jual produk dengan hanya mengikuti harga pasar tanpa mempertimbangkan biaya-biaya pendukung yang terlibat dalam proses produksi yang dapat menyebabkan kerugian finansial.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan penerapan sistem akuntansi biaya yang mampu menghasilkan informasi biaya secara lebih akurat dan relevan bagi UMKM. Dalam akuntansi biaya, terdapat dua pendekatan yang umum digunakan dalam menentukan harga pokok produksi, yaitu metode full costing dan variable costing.
Metode variable costing hanya memasukkan biaya produksi yang bersifat variabel ke dalam harga pokok produk, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variabel (Mulyadi, 2018). Sementara itu, biaya yang bersifat tetap diperlakukan sebagai biaya periodik dan tidak dibebankan ke dalam harga pokok produk. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mendukung pengambilan keputusan manajerial, khususnya yang berkaitan dengan perencanaan laba, pengendalian biaya, serta evaluasi kinerja usaha dalam jangka pendek.
Tinjauan Pustaka
1. Akuntansi
Menurut (Hans Kartikahadi, Rosita Uli Sinaga, Merliyana Syamsul, 2016), akuntansi adalah suatu sistem informasi keuangan, yang bertujuan untuk menghasilkan dan melaporkan informasi yang relevan bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
2. Biaya
Menurut (Mulyadi, 2018), biaya merupakan objek yang dicatat, digolongkan, diringkas, dan disajikan oleh akuntansi biaya. Dalam arti luas, biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
3. Akuntansi Biaya
Menurut (Mulyadi, 2018), akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, ringkasan dan penyajian biaya, pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
4. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1999 tentang Usaha Kecil sebagaimana diubah ke Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, maka pengertian UMKM dalam pasal 1 adalah sebagai berikut:
- Usaha mikro adalah usaha produktif milik perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
- Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
- Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
5. Harga Pokok Produksi (HPP)
Harga pokok produksi menurut (Mulyadi, 2007), merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan terjadi untuk memperoleh penghasilan.
6. Variable Costing
Menurut (Mulyadi, 2018), variable costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya membebankan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok produk.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yaitu dengan menganalisis perhitungan harga pokok produksi (HPP) dengan metode variable costing.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara dengan pemilik UMKM untuk memperoleh informasi terkait biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead produksi.
Wawancara dilakukan dengan mengajukan daftar pertanyaan yang sebelumnya sudah disiapkan, tentang pertanyaan seputar bahan baku yang digunakan, jumlah tenaga kerja yang ada, biaya operasional, hingga volume penjualan per hari.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer, di mana data diperoleh langsung dari pemilik usaha melalui wawancara. Setelah data terkumpul, kemudian data tersebut diolah dengan cara mengidentifikasi dan mengelompokkan biaya dalam dua jenis, yaitu biaya variabel dan biaya tetap.
Data yang dikumpulkan meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, serta biaya overhead tetap dan variabel. Data tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produksi yang akurat untuk dasar penetapan harga jual yang akurat.
Hasil dan Pembahasan
A. Profil Usaha
Objek penelitian ini adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner, yaitu usaha kentang goreng dengan nama usaha “Too Long Potato” yang beroperasi di kuliner Rindam, Magelang.
Usaha ini beroperasi setiap hari dengan jam operasional pukul 14.00 sampai 21.00 WIB. Proses produksi melibatkan pemilik usaha dengan dibantu oleh satu orang karyawan.
Satu orang bertugas membuat adonan dan satu orang memiliki tugas menjaga lapak serta menggoreng produk. Pemilik usaha terlibat langsung dalam proses produksi dan mengambil gaji untuk dirinya sendiri. Sehingga, jumlah tenaga kerja langsung dalam usaha ini adalah 2 (dua) orang secara keseluruhan.
Dari sisi pemasaran, usaha ini tidak mengeluarkan biaya promosi secara khusus karena promosi dilakukan secara mandiri melalui media sosial, seperti TikTok dan Instagram. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk efisiensi biaya yang diterapkan oleh pemilik usaha. Sedangkan dari sisi pengetahuan akuntansi biaya, pemilik usaha mengaku selama ini menentukan harga jual berdasarkan modal dan mengikuti harga pasar.
Baca juga: Peran Strategi Digital Marketing terhadap Loyalitas Pelanggan pada Era Media Sosial di Indonesia
Hal ini menunjukkan bahwa dalam usaha ini belum menerapkan metode penghitungan harga pokok produksi secara formal, sehingga analisis menggunakan metode variable costing pada penelitian ini sangat relevan untuk dilakukan.
B. Identifikasi dan Klasifikasi Biaya
Dalam pendekatan penghitungan variabel langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali dan mengategorikan biaya produksi ke dalam dua kelompok utama, yakni biaya variabel dan biaya tetap.
(Bastian Bustami & Nurlela, 2013), biaya variabel merupakan biaya yang totalnya berfluktuasi atau berubah-ubah secara proporsional sejalan dengan perubahan dalam volume produksi, sementara biaya tetap adalah biaya yang totalnya tetap konstan dalam rentang kapasitas produksi tertentu meskipun jumlah produksi mengalami perubahan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan pemilik usaha “Too Long Potato”, berikut adalah pengelompokan biaya produksi yang telah dikenali:
Tabel 1 Klasifikasi Biaya Produksi
| Biaya | Keterangan | Klasifikasi |
| Kentang | Bahan baku utama | Biaya Variabel |
| Minyak goreng | Bahan penolong | Biaya Variabel |
| Gas melon | Bahan bakar produksi | Biaya Variabel |
| Bumbu & saus | Bahan penolong | Biaya Variabel |
| Kemasan (plastik & kertas) | Bahan pengemas | Biaya Variabel |
| Air | Utilitas produksi | Biaya Variabel |
| Tenaga kerja langsung | Upah karyawan harian | Biaya Variabel |
| Sewa tempat | Biaya lokasi usaha | Biaya Tetap |
| Listrik (freezer) | Utilitas non-produksi | Biaya Tetap |
| Retribusi kebersihan | Iuran bulanan | Biaya Tetap |
Mayoritas biaya usaha “Too Long Potato” adalah biaya variabel yang terdiri dari tujuh komponen, sedangkan biaya tetap hanya tiga komponen. Hal ini wajar pada usaha kuliner skala UMKM, karena sebagian besar pengeluaran langsung dengan terkait dengan volume produksi.
Komponen biaya variabel meliputi kentang sebagai bahan baku utama, minyak goreng dan bumbu & saus sebagai bahan penolong, gas melon sebagai bahan bakar produksi, kemasan sebagai plastik & kertas, air sebagai utilitas produksi, serta tenaga kerja langsung berupa upah harian.
Semua komponen ini meningkat seiring bertambahnya produksi dan berkurang saat produksi menurun. Misalnya, semakin banyak porsi yang diproduksi, semakin besar kebutuhan kentang, minyak, bumbu, kemasan, gas, dan tenaga kerja harian.
Tiga komponen biaya tetap adalah sewa tempat, listrik (freezer), dan retribusi kebersihan. Ketiganya bersifat relatif konstan dan tidak berubah langsung akibat fluktuasi volume produksi. Sewa tetap dibayarkan setiap bulan meskipun penjualan menurun, listrik untuk freezer berjalan terus demi menjaga bahan baku, serta retribusi kebersihan merupakan iuran rutin kepada pengelola lingkungan usaha.
Dominasi biaya variabel menunjukkan usaha ini memiliki fleksibilitas biaya yang cukup tinggi. Saat permintaan turun, pemilik dapat menyesuaikan pengeluaran produksi secara proporsional sehingga risiko kerugian karena biaya tetap berlebih bisa diminimalkan.
Kondisi ini menjadi keunggulan bagi usaha kecil dibandingkan usaha besar yang menanggung porsi biaya tetap lebih besar. Pemahaman jelas mengenai klasifikasi biaya ini penting sebagai dasar penerapan metode variable costing untuk menghitung harga pokok produksi dengan lebih akurat dan efisien.
C. Penghitungan Biaya Produksi Per Bulan
Penghitungan biaya produksi dilakukan berdasarkan data operasional yang diperoleh dari wawancara. Usaha ini beroperasi rata-rata 26 hari kerja per bulan dengan kapasitas produksi 14 hingga 15 porsi per hari pada hari biasa dan 28 porsi pada hari Minggu. Dengan asumsi rata-rata 4 minggu per bulan, estimasi total produksi adalah 448 porsi per bulan.
Tabel 2 Rincian Biaya Variabel Per Bulan
| No. | Komponen Biaya | Dasar Perhitungan | Jumlah (Rp) |
| 1 | Bahan baku kentang | 1,5 kg/hari × 26 hari × Rp20.000 | Rp 780.000 |
| 2 | Minyak goreng | Rp40.000/hari × 26 hari | Rp 1.040.000 |
| 3 | Gas melon | Rp23.000/hari × 26 hari | Rp 598.000 |
| 4 | Bumbu & saus | Estimasi bulanan | Rp 200.000 |
| 5 | Kemasan (plastik + kertas) | 448 porsi × Rp330/porsi | Rp 148.000 |
| 6 | Air | Rp5.000/hari × 26 hari | Rp 130.000 |
| 7 | Tenaga kerja langsung | Rp40.000/hari × 26 hari | Rp 1.040.000 |
| Total Biaya Variabel | Rp 3.936.000 |
Tabel 3 Rincian Biaya Tetap per Bulan
| No. | Komponen Biaya | Dasar Perhitungan | Jumlah (Rp) |
| 1 | Sewa tempat | Rp40.000/hari × 26 hari | Rp 1.040.000 |
| 2 | Listrik (freezer) | Rp10.000/hari × 26 hari | Rp 260.000 |
| 3 | Retribusi kebersihan | Per bulan | Rp 50.000 |
| Total Biaya Tetap | Rp 1.350.000 |
Hasil identifikasi biaya menunjukkan bahwa total biaya variabel per bulan adalah sebesar Rp3.936.000 dan total biaya tetap per bulan adalah sebesar Rp1.350.000, sehingga total biaya produksi keseluruhan adalah Rp5.286.000 per bulan.
D. Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Variable Costing
Dalam metode variable costing, harga pokok produksi (HPP) hanya memperhitungkan biaya-biaya variabel yang secara langsung berkaitan dengan proses produksi. Biaya tetap tidak dimasukkan ke dalam HPP per unit, melainkan diperlakukan sebagai beban periodik yang langsung dikurangkan dari pendapatan pada periode berjalan (Mulyadi, 2018).
Rumus HPP per unit dengan metode variable costing adalah:
HPP per unit = Total Biaya Variabel ÷ Total Unit Produksi
HPP per unit = Rp3.936.000 ÷ 448 porsi = Rp8.786 per porsi
Tabel 4. Laporan Harga Pokok Produksi Metode Variable Costing
| Uraian | Jumlah (Rp) |
| Biaya bahan baku variabel | |
| Kentang | Rp 780.000 |
| Minyak goreng | Rp 1.040.000 |
| Gas melon | Rp 598.000 |
| Bumbu & saus | Rp 200.000 |
| Kemasan | Rp 148.000 |
| Air | Rp 130.000 |
| Biaya tenaga kerja variabel | |
| Upah karyawan langsung | Rp 1.040.000 |
| Total HPP Variabel (448 porsi) | Rp 3.936.000 |
| HPP per porsi | Rp 8.786 |
Berdasarkan penghitungan di atas, harga pokok produksi per porsi untuk produk dari usaha “Too Long Potato” menggunakan metode variable costing adalah sebesar Rp8.786 per porsi. Jika dibandingkan dengan harga jual yang ditetapkan oleh pemilik yaitu Rp15.000 per porsi, maka terdapat selisih sebesar Rp6.214 yang merupakan marjin kontribusi per porsi.
E. Analisis Margin Kontribusi dan Laba Rugi
Salah satu kelebihan metode variable costing adalah kemampuannya dalam menyajikan informasi tentang margin kontribusi (contribution margin).
Menurut (Maryanne M. Mowen, Don R. Hansen, 2019), marjin kontribusi merupakan selisih antara harga jual per unit dengan biaya variabel per unit, yang menunjukkan jumlah dana yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba operasi.
Tabel 5. Laporan Laba Rugi Metode Variable Costing (Per Bulan)
| Uraian | Jumlah (Rp) |
| Penjualan (448 porsi × Rp15.000) | Rp 6.720.000 |
| Dikurangi: Total Biaya Variabel | (Rp 3.936.000) |
| Margin Kontribusi | Rp 2.784.000 |
| Dikurangi: Total Biaya Tetap | (Rp 1.350.000) |
| Laba Bersih | Rp 1.434.000 |
Dari laporan laba rugi di atas, diketahui bahwa usaha “Too Long Potato“ menghasilkan marjin kontribusi sebesar Rp2.784.000 per bulan atau sekitar 41,43% dari total pendapatan. Setelah dikurangi biaya tetap sebesar Rp1.350.000, usaha ini memperoleh laba bersih sebesar Rp1.434.000 per bulan.
Rasio marjin kontribusi (contribution margin ratio) sebesar 41,43% ini menunjukkan bahwa setiap Rp1.000 penjualan, sebesar Rp414 berkontribusi dalam menutup biaya tetap dan laba.
Perlu dicatat bahwa laba bersih yang diperoleh ini belum memperhitungkan gaji pemilik. Apabila gaji pemilik diperhitungkan sebagai biaya tenaga kerja tambahan, maka laba aktual akan lebih kecil. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemilik usaha dalam membuat keputusan keuangan yang lebih akurat.
F. Analisis Break Even Point (BEP)
Break Even Point (BEP) atau titik impas adalah kondisi di mana total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak memperoleh laba maupun mengalami rugi (William K. Carter, 2009).
Analisis BEP sangat berguna bagi UMKM untuk mengetahui jumlah minimum produk yang harus terjual agar usaha tidak merugi, sekaligus menjadi alat bantu pengambilan keputusan dalam perencanaan produksi dan penetapan target penjualan.
Penghitungan BEP untuk usaha “Too Long Potato” adalah sebagai berikut:
BEP (Unit) = Biaya Tetap ÷ Margin Kontribusi per Unit BEP (Unit) = Rp1.350.000 ÷ Rp6.214 = 218 porsi per bulan
BEP (Rupiah) = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi BEP (Rupiah) = Rp1.350.000 ÷ 0,4143 = Rp3.258.270 per bulan
Hasil penghitungan menunjukkan bahwa usaha “Too Long Potato” harus menjual minimal 218 porsi per bulan atau menghasilkan pendapatan minimal Rp3.258.270 per bulan untuk mencapai titik impas. Angka ini diperoleh dari pembagian total biaya tetap sebesar Rp1.350.000 dengan margin kontribusi per unit sebesar Rp6.214, yang mencerminkan kontribusi setiap porsi yang terjual terhadap penutupan biaya tetap usaha.
Dengan kata lain, setiap porsi “Too Long Potato” yang berhasil dijual memberikan kontribusi sebesar Rp6.214 untuk menutup seluruh beban biaya tetap yang harus ditanggung usaha setiap bulannya, dan baru setelah biaya tetap tersebut tertutup sepenuhnya, setiap penjualan berikutnya akan mulai menghasilkan laba bagi pemilik usaha.
Apabila dibandingkan dengan kapasitas produksi rata-rata per bulan yang mencapai 448 porsi, maka posisi usaha “Too Long Potato” berada jauh di atas titik impasnya. Produksi aktual usaha ini mencapai sekitar dua kali lipat dari jumlah BEP yang dipersyaratkan, yakni 448 porsi berbanding 218 porsi.
Kondisi ini menggambarkan bahwa usaha “Too Long Potato” tidak hanya mampu untuk menutup biaya operasionalnya, namun juga telah berhasil menghasilkan laba yang cukup signifikan dari selisih antara penjualan aktual dan titik impasnya. Selisih sebanyak 230 porsi di atas BEP tersebut sepenuhnya menjadi kontribusi laba bersih bagi pemilik usaha setelah seluruh biaya, baik variabel maupun tetap dapat tertutupi.
Selain itu, analisis margin of safety (margin keamanan) memberikan gambaran yang semakin memperkuat kondisi positif usaha ini. Margin of safety dapat dihitung sebagai berikut:
Margin of Safety = (448 – 218) ÷ 448 × 100% = 51,3%
Nilai margin of safety sebesar 51,3% ini memiliki makna yang sangat penting secara manajerial. Artinya, penjualan usaha “Too Long Potato” masih dapat mengalami penurunan hingga 51,3% dari volume penjualan normal sebelum usaha tersebut benar-benar menyentuh titik impas dan mulai mengalami kerugian.
Dalam konteks UMKM kuliner yang sangat rentan terhadap fluktuasi permintaan, seperti perubahan musim, hari libur, cuaca, maupun persaingan usaha, margin keamanan sebesar ini merupakan senjata yang cukup kuat. Usaha tidak akan langsung jatuh meskipun menghadapi tekanan penurunan penjualan dalam jangka pendek.
Secara umum, hasil analisis BEP ini memberikan sinyal yang cukup positif terhadap keberlangsungan dan kesehatan finansial usaha “Too Long Potato”. Struktur biaya yang didominasi oleh biaya variabel, dikombinasikan dengan volume penjualan aktual yang jauh melampaui titik impas, mencerminkan bahwa usaha ini dikelola dengan cukup efisien dan memiliki daya tahan yang cukup memadai terhadap risiko penurunan pendapatan.
Meskipun demikian, pemilik usaha tetap perlu menjaga konsistensi volume produksi dan penjualan, serta terus melakukan evaluasi terhadap struktur biaya agar margin kontribusi dipertahankan bahkan ditingkatkan dari waktu ke waktu, sehingga titik impas dapat ditekan dan profitabilitas usaha dapat terus berkembang.
G. Perbandingan dengan Harga Jual yang Ditetapkan Pemilik
Pemilik usaha menetapkan harga jual sebesar Rp15.000 per porsi, dengan ketentuan gratis 1 saus dan tambahan biaya Rp2.000 jika ingin menambah saus. Berdasarkan penghitungan HPP dengan metode variable costing sebesar Rp8.786 per porsi, dapat diketahui bahwa:
Marjin per porsi = Rp15.000 − Rp8.786 = Rp6.214 (41,43%)
Marjin sebesar 41,43% menunjukkan bahwa usaha Too Long Potato memiliki tingkat keuntungan yang cukup baik. Margin kontribusi yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa produk mampu memberikan ruang yang memadai untuk menutupi biaya operasional dan menghasilkan laba (Eko Wantoro Ari Putro, Dzaki Milanda, Lyra Nur Aulia H, 2024)
Meskipun demikian, terdapat beberapa catatan penting. Pertama, harga jual saat ini belum mempertimbangkan gaji pemilik sebagai komponen biaya yang terpisah.
Apabila gaji pemilik sebesar Rp1.040.000 (setara dengan karyawan) ikut diperhitungkan ke dalam biaya variabel, maka HPP per unit akan naik menjadi sekitar Rp11.108 per porsi, sehingga marjin yang tersisa hanya sekitar Rp3.892 atau 25,9%. Kedua, harga bahan baku terutama kentang bersifat fluktuatif sehingga pemilik perlu memiliki strategi penyesuaian harga jual yang tepat.
H. Implikasi Penerapan Variable Costing bagi UMKM
Penerapan metode variable costing pada UMKM seperti “Too Long Potato” memberikan beberapa manfaat praktis yang tidak hanya bersifat teoretis, namun juga langsung dapat dirasakan dalam operasional sehari-hari. Pertama, pemilik usaha dapat mengetahui Harga Pokok Produksi (HPP) yang sesungguhnya sehingga dapat membuat keputusan harga jual yang lebih sesuai.
Sebelumnya, pemilik hanya mengandalkan perkiraan kasar dan mengikuti harga pasar. Dengan mengetahui bahwa HPP per porsi adalah Rp8.786, pemilik kini memiliki dasar nominal untuk menentukan apakah harga Rp15.000 sudah optimal atau perlu disesuaikan, misalnya saat ada kenaikan harga kentang atau minyak goreng. Tanpa informasi ini, pemilik berisiko menjual di bawah biaya variabelnya, yang berarti setiap penjualan justru membuat kerugian semakin besar.
Kedua, informasi marjin kontribusi membantu pemilik dalam mengambil keputusan terkait volume produksi, terutama saat mempertimbangkan apakah perlu menambah jam operasional atau membuka cabang. Marjin kontribusi sebesar Rp6.214 per porsi menunjukkan bahwa setiap tambahan satu porsi yang terjual akan menyumbang Rp6.214 untuk menutup biaya tetap dan laba.
Baca juga: Dampak Biaya Produksi terhadap Keputusan Manajerial dalam Usaha UMKM
Dengan demikian, jika pemilik ingin menambah jam operasional hingga pukul 23.00 WIB, ia dapat menghitung berapa tambahan porsi yang harus terjual agar biaya tambahan (misalnya listrik dan upah lembur) dapat tertutupi.
Demikian pula jika ingin membuka cabang di lokasi lain, pemilik dapat memperkirakan target penjualan minimum berdasarkan biaya tetap cabang baru. Hal ini membuat keputusan ekspansi menjadi lebih terukur dan tidak sekadar spekulatif.
Ketiga, analisis Break Even Point (BEP) memberikan gambaran jelas mengenai target penjualan minimum yang harus dicapai setiap bulan. Untuk “Too Long Potato”, BEP adalah sebesar 218 porsi per bulan. Artinya, pemilik tahu bahwa selama ia mampu menjual 218 porsi, usaha tidak akan rugi meskipun belum mendapat laba. Ini sangat penting untuk evaluasi harian atau mingguan.
Misalnya, dalam 10 hari pertama bulan berjalan, pemilik dapat menghitung akumulasi penjualan. Jika baru mencapai 70 porsi, ia tahu bahwa masih diperlukan 148 porsi lagi untuk mencapai titik impas. Informasi ini mendorong pemilik untuk lebih gencar mempromosikan produk atau menawarkan diskon terbatas untuk mendorong volume.
Keempat, pemisahan biaya variabel dan biaya tetap memudahkan pemilik dalam mengidentifikasi komponen biaya mana yang paling berpotensi diefisiensikan. Dari Tabel 2 dan 3, terlihat bahwa biaya variabel terbesar adalah minyak goreng (Rp1.040.000) dan upah karyawan (Rp1.040.000), sedangkan biaya tetap terbesar adalah sewa tempat (Rp1.040.000).
Pemilik dapat berupaya menekan biaya minyak goreng dengan mengganti ke merek yang lebih murah dengan kualitas setara, atau dengan menggunakan teknik penggorengan yang lebih hemat. Untuk biaya tetap seperti sewa, pemilik bisa mempertimbangkan negosiasi ulang kontrak atau berbagi lokasi dengan usaha lain. Dengan klasifikasi yang jelas, prioritas efisiensi menjadi lebih terarah.
Selain itu, implikasi lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan kemampuan perencanaan laba jangka pendek. Karena metode variable costing mengabaikan biaya tetap dalam HPP per unit, laba yang dilaporkan akan lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh fluktuasi volume produksi. Hal ini sangat membantu UMKM yang memiliki pelanggan musiman.
Sebagai contoh, pada bulan Ramadan yang biasanya sepi, pemilik dapat menghitung perkiraan laba dengan mudah: Laba = (Margin kontribusi per unit × Estimasi unit terjual) – Biaya tetap. Dengan formula sederhana ini, pemilik bisa melakukan simulasi “jika-volume-sekian-maka-laba-sekian” tanpa harus membuat laporan laba rugi yang rumit.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa selama ini pemilik “Too Long Potato” sudah menetapkan harga jual yang lumayan cukup memberikan keuntungan, sebagaimana diakui sendiri oleh pemilik. Namun, tanpa penghitungan HPP yang akurat, pemilik tidak mengetahui secara pasti seberapa besar keuntungan yang diperoleh dan komponen biaya apa yang paling membebani usahanya.
Dengan penerapan variable costing, pemilik kini dapat mengetahui bahwa keuntungan bersih per bulan (sebelum gaji pemilik) adalah Rp1.434.000, dan bahwa beban terbesar berasal dari minyak goreng serta upah karyawan.
Pengetahuan ini membuka peluang untuk melakukan efisiensi terukur, misalnya dengan menguji coba minyak goreng yang harganya lebih ekonomis atau melatih karyawan agar lebih produktif sehingga output per jam dapat meningkat.
Secara praktis, penerapan metode ini tidak memerlukan perangkat lunak akuntansi yang mahal. Pemilik cukup menggunakan buku catatan harian atau spreadsheet sederhana untuk mencatat setiap pembelian bahan baku, upah harian, dan pembayaran biaya tetap.
Pada akhir bulan, pemilik dapat menjumlahkan biaya variabel, membaginya dengan jumlah porsi, lalu menghitung marjin kontribusi dan laba. Dengan konsistensi pencatatan minimal selama dua sampai tiga bulan, pemilik akan memiliki data historis yang berguna untuk membandingkan kinerja antar bulan dan mendeteksi biaya pengeluaran yang tidak wajar.
Akhirnya, implikasi jangka panjang dari penerapan variable costing adalah terbangunnya budaya akuntabilitas dan transparansi keuangan dalam UMKM. Meskipun terlihat sederhana, langkah ini merupakan fondasi penting untuk mengakses pembiayaan perbankan, mengikuti program kemitraan, atau bahkan mengikuti sertifikasi halal dan P-IRT yang membutuhkan laporan keuangan dasar.
Dengan demikian, “Too Long Potato” tidak hanya lebih sehat secara finansial, tetapi juga lebih siap untuk naik kelas menjadi usaha kecil yang lebih terstruktur.
Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penentuan harga pokok produksi pada UMKM “Too Long Potato” yang beroperasi di kawasan Kuliner Rindam, Magelang dengan menggunakan pendekatan variable costing.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa struktur biaya usaha didominasi oleh biaya variabel yang mencakup tujuh komponen utama, yaitu kentang, minyak goreng, gas melon, bumbu dan saus, kemasan, air, serta tenaga kerja langsung.
Sementara itu, biaya tetap hanya terdiri atas biaya sewa tempat, listrik untuk freezer, dan retribusi kebersihan. Komposisi biaya tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pengeluaran usaha dipengaruhi oleh tingkat aktivitas produksi, sehingga memberikan fleksibilitas yang cukup tinggi dalam pengelolaan biaya operasional.
Perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode variable costing menghasilkan nilai sebesar Rp8.786 per porsi. Nilai tersebut diperoleh dari total biaya variabel sebesar Rp3.936.000 yang dibagi dengan rata-rata volume produksi sebanyak 448 porsi per bulan.
Dengan harga jual sebesar Rp15.000 per porsi, usaha ini menghasilkan marjin kontribusi sebesar Rp6.214 per porsi atau setara dengan 41,43% dari harga jual. Besaran marjin tersebut menunjukkan tingkat profitabilitas yang relatif baik dan masih berada dalam kisaran yang umum direkomendasikan untuk usaha kuliner skala UMKM, yaitu antara 35% hingga 50%.
Analisis laba rugi berdasarkan pendekatan variable costing menunjukkan bahwa UMKM “Too Long Potato” memperoleh laba bersih sebesar Rp1.434.000 per bulan setelah memperhitungkan biaya tetap sebesar Rp1.350.000 dari total marjin kontribusi sebesar Rp2.784.000. Namun demikian, hasil tersebut belum memasukkan gaji pemilik sebagai komponen biaya.
Jika gaji pemilik sebesar Rp1.040.000 turut diperhitungkan, maka harga pokok produksi per porsi akan meningkat menjadi sekitar Rp11.108 dan marjin yang tersisa akan menurun menjadi 25,9%. Temuan ini mengindikasikan pentingnya mempertimbangkan seluruh biaya ekonomi dalam evaluasi kinerja keuangan agar keputusan yang diambil lebih realistis dan akurat.
Hasil analisis Break Even Point (BEP) menunjukkan bahwa titik impas usaha tercapai pada tingkat penjualan sebanyak 218 porsi per bulan atau senilai Rp3.258.270. Dibandingkan dengan volume produksi aktual yang mencapai rata-rata 448 porsi per bulan, usaha ini beroperasi jauh di atas titik impasnya, yaitu sekitar dua kali lipat dari jumlah penjualan minimum yang diperlukan untuk menutupi seluruh biaya.
Selain itu, nilai margin of safety sebesar 51,3% menunjukkan bahwa penjualan masih dapat mengalami penurunan hingga lebih dari setengah kondisi normal sebelum usaha memasuki kondisi merugi. Kondisi tersebut mencerminkan tingkat stabilitas keuangan yang cukup baik serta kemampuan usaha untuk bertahan terhadap risiko penurunan permintaan.
Secara keseluruhan, meskipun penetapan harga jual selama ini dilakukan berdasarkan pertimbangan modal dan kondisi pasar secara intuitif, harga yang diterapkan telah memberikan tingkat keuntungan yang memadai. Namun, penerapan metode variable costing secara lebih sistematis tetap direkomendasikan karena mampu menyediakan informasi biaya yang lebih akurat sebagai dasar pengambilan keputusan.
Melalui pendekatan ini, pemilik usaha dapat melakukan perencanaan yang lebih terukur dalam menghadapi perubahan harga bahan baku, mengevaluasi peluang ekspansi usaha, serta mengidentifikasi strategi efisiensi biaya secara lebih efektif.
Selain mudah diterapkan melalui pencatatan keuangan sederhana, penggunaan metode variable costing juga berpotensi mendorong terbentuknya budaya akuntabilitas dan transparansi keuangan yang menjadi landasan penting bagi keberlanjutan dan pengembangan usaha dalam jangka panjang.
Penulis:
- Muhammad Syarif Hidayat (2501040182)
- Pinkan Pratama Putri (2501040044)
- Nur Wakhidatus Solikhah (2501040108)
- Dayu Wardani (2501040130)
Mahasiswa S1 Akuntansi, Universitas Tidar
Dosen Pengampu:
- Endang Kartini Panggiarti, S.E., M.Si.
- Tiara Rani Santoso, S.E., M.Si., CA.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Bastian Bustami & Nurlela. (2013). Akuntansi Biaya (Edisi 4). Mitra Wacana Media.
Eko Wantoro Ari Putro, Dzaki Milanda, Lyra Nur Aulia H, & A. A. N. (2024). Analisis Biaya dan Volume Laba Jangka Pendek pada UMKM Angkringan 3.12. Neraca: Jurnal Ekonomi, Manajemen Dan Akuntansi, 3(2), 1224–1235.
Hans Kartikahadi, Rosita Uli Sinaga, Merliyana Syamsul, & S. V. S. (2016). Akuntansi Keuangan Berdasarkan SAK Berbasis IFRS (Buku 1, Edisi 2). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
Maryanne M. Mowen, Don R. Hansen, & D. L. H. (2019). Dasar-Dasar Akuntansi Manajerial. Salemba Empat.
Mulyadi. (2007). Akuntansi Biaya (Edisi 5). UPP STIM YKPN (Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN).
Mulyadi. (2018). Akuntansi Biaya (Edisi 5). UPP STIM YKPN.
William K. Carter. (2009). Akuntansi Biaya. Salemba Empat.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














