Setiap orang tua memiliki metode tersendiri dalam merespons kesalahan anak, mulai dari teguran langsung hingga konsekuensi edukatif. Namun, sebagian orang tua memilih untuk mendiamkan, mengabaikan, atau menolak berinteraksi dengan anak saat marah. Praktik ini dikenal sebagai silent treatment (penolakan emosional).
Banyak orang tua menganggap metode ini lebih aman daripada kekerasan fisik atau verbal. Padahal, dalam psikologi, silent treatment diklasifikasikan sebagai perundungan emosional terselubung (covert emotional abuse) yang membawa luka psikologis signifikan dan berdampak buruk jangka panjang bagi mental anak.
5 Dampak Psikologis Silent Treatment Orang Tua pada Anak
-
Trauma Penelantaran
Anak belum memahami emosi yang bersifat sementara; mereka langsung merasa tidak dicintai dan takut dibuang.
-
Merusak Harga Diri
Tanpa penjelasan, anak akan menyimpulkan bahwa diri mereka buruk, tidak berharga, dan selalu bersalah.
-
Nyeri Fisik di Otak
Secara biologis, rasa sakit akibat didiamkan mengaktifkan area otak yang sama dengan cedera fisik.
-
Kecemasan Kronis
Ketidakpastian kapan hukuman berakhir membuat saraf anak terus dalam kondisi stres (fight or flight), yang memicu depresi saat dewasa.
-
Warisan Pola Buruk
Anak meniru cara ini, sehingga saat dewasa mereka akan menggunakan silent treatment kepada orang lain.
Kesimpulan: Bagi anak, didiamkan jauh lebih menyakitkan daripada dimarahi, karena keheningan menghancurkan rasa aman dan mengajarkan mereka cara berkomunikasi yang beracun.
Intervensi: Solusi “Jeda Reflektif Edukatif”
Daripada menggunakan silent treatment yang merusak psikologis anak, orang tua sebaiknya mengambil waktu tenang (time-out) yang dikomunikasikan secara jujur dan jelas.
3 Kunci Utama Formula
-
Validasi Emosi
Sampaikan dengan jujur bahwa Anda sedang marah atau kecewa.
-
Beri Batasan Waktu
Sebutkan durasi waktu tenang yang dibutuhkan (misal: “Ibu butuh waktu 10 menit”).
-
Jaminan Kembali
Tegaskan bahwa setelah tenang, Anda akan kembali untuk berbicara dan menyelesaikan masalah dengan anak.
Manfaat Utama
-
Bagi Orang Tua
Mendapat ruang untuk meregulasi emosi agar tidak meledak-ledak.
-
Bagi Anak
Merasa aman (tidak merasa ditolak atau dibuang) dan belajar dari contoh nyata tentang cara mengelola konflik secara sehat.
Penulis: Kayla Azahra Muchtar (251011200353)
Mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Dr. Vivi Iswanti Nursyirwan, S.Sos., M.M.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












