Pesta Babi dan Kritik terhadap Budaya Kekuasaan

Film Pesta Babi
Poster Film Pesta Babi

Film sering kali dilihat sebagai tontonan hiburan untuk mengisi waktu luang dan terkadang memberikan rasa emosional terhadap penonton.

Namun, lebih dari yang sudah disebut, film juga menjadi ruang untuk penonton berekspresi sehingga penonton dapat memberikan kritik dalam berbagai persoalan sosial melalui konflik, peran, karakter, serta alur dari film tersebut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Film juga dapat menggambarkan keadaan sosial yang terjadi dengan sebenarnya agar penonton dapat berfikir dengan kritis.

Salah satu film yang relevan dengan kondisi sosial pada saat ini yaitu Pesta Babi.

Di balik film yang mencengkam dan drama yang ditayangkan, film menyediakan kritik yang cukup pedas terhadap budaya kekuasaan yang masih menjadi bagian dari hak masyarakat. 

Kekuasaan merupakan hal yang tidak bisa pisah dari kehidupan masyarakat.

Dalam setiap kelompok ataupun pemerintahan pasti ada individu ataupun pihak yang berdampak ataupun berpengaruh besar bagi yang lain.

Kekuasaan ditetapkan untuk mengatur kehidupan Bersama, menjaga ketertiban, dan mencapai tujuan yang jelas.

Tetapi permasalahan muncul ketika kekuasaan dijalankan tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya, tetapi untuk memenuhi kebutuhan pribadi ataupun kelompok bukan untuk rakyat.

Dalam kondisi tersebut kekuasaan menciptakan hal ketidakadilan dan ketimpangan. 

Keputusan yang ditetapkan seringkali tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan rakyat, melainkan melalui keuntungan untuk sebuah individu ataupun kelompok.

Sehingga kekuasaan lebih diuntungkan dan rakyat ataupun kelompok rendah hanya menunggu dari dampak negatifnya. 

Situasi ini sangat relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini.

Banyak kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, serta nepotisme menunjukkan bahwa kekuasaan masih dianggap sebagai hal yang istimewa.

Kekuasaan yang harusnya untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan terhadap masyarakat justru malah hanya dipentingkan untuk menambah kebutuhan pribadi ataupun kelompok.

Film pesta babi ini menjadi cerminan sosial bagi kekuasaan kita pada saat ini. 

Film ini juga menyampaikan seperti apa kekuasaan dan budaya melahirkan ketimpangan sosial.

Mereka yang memiliki kekuasaan malah lebih banyak mendapat keuntungan dan kesempatan.

Sementara kelompok masyarakat hanya mendapat akses dalam posisi yang rentan.

Ketimpangan dapat berdampak dalam berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan partisipasi sosial terhadap publik.

Meskipun kekuasaan menjanjikan kesejahteraan, tetapi tidak semua individu memiliki kesempatan yang sama dalam menyampaikan aspirasi. 

Dalam film tersebut menyampaikan bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi moralitas manusia.

Kekuasaan sering menjadi konflik bagi masyarakat karena mementingkan keuntungan pribadi ataupun kelompok.

Dalam film juga ditunjukkan ada beberapa tokoh yang rela berkorban dengan nilai-nilai kemanusiaan untuk menjaga serta mencapai tujuan tertentu.

Ditunjukkan bahwa semakin besar kekuasaan seseorang semakin besar juga tanggung jawab yang dijalankan.

Kekuasaan juga berdampak pada hubungan sosial.

Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, hubungan manusia tidak lagi dibentuk atas dasar kesejahteraan dan keadilan melainkan atas dasar keuntungan dan kepentingan.

Akibatnya hubungan sosial menjadi lemah dan mudah terpecah belah ketika dasar kepentingan tersebut berubah. 

Film ini memberikan ruang terhadap penonton untuk menyaksikan bagaimana kekuasaan bekerja dan berdampak bagi sosial.

Film ini juga mengajak penonton untuk merefleksikan kembali tentang kekuasaan.

Kekuasaan yang seharusnya dipahami sebagai amanah dan tanggung jawab yang dijalankan sesuai dengan nilai kesejahteraan dan keadilan, bukan sebagai alat untuk mendominasi orang lain.

Film tersebut menjadi karya yang relevan dan penting untuk mengingat akan pentingnya membangun budaya yang demokratis, adil, sejahtera, dan berorientasi pada kepentingan Bersama. 


Penulis: Zahrotul Mukarromah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses