Pernah gak sih curhat atau dengar celetukan kita tuh kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja’?Kalimat itu aslinya lawas, tapi makin ke sini kok rasanya makin manampar ya.
Gara-gara Hp gak pernah sepi dan grup WhatsApp kantor yang hobi bunyi di luar jam kerja, batas antara waktu rebahan dan waktu nyari duit jadi fana banget.
Efeknya? Banyak dari kita yang fisiknya sudah terlentang di kasur rumah, tapi pikiran masih terjebak di meja kantor. Makanya, obrolan soal work life balance gak pernah ada matinya.
Tapi jujur aja, keseimbangan hidup itu gak bisa kita usahain sendirian. Mau sekuat apa pun kita pasang batasan, semua balik lagi kepribadian tempat kita nyari nafkah alias budaya organisasi di perusahaan itu sendiri
Plis, Stop Mikir Kalau Keseimbangan Kerja Itu Harus 50:50
Kadang suka heran sama orang yang mikir kalau work-life balance itu kaya hitung-hitungan matematika SD. Harus adil 12 buat nyari duit, 12 jam buat santai. Padahal ya gak pernah se-kaku itu juga kali realitanya. Keseimbangan yang beneran itu urusan keluwesan kita sendiri pas ngatur skala pioritas.
Sederhana gini: pas lagi di depan laptop kantor, ya kita totalitas profesional, gak usah mikirin kasur. Tapi begitu jam kerja kelar dan sudah ketemu keluarga di rumah, ya matikan mode kerjanya.
Hadir seutuhnya buat mereka, bukan malah sibuk scrolling grup whatsapp kantor atau bolak balik ngintip e-mail masuk.
Nah, praktek teori begini nih yang bakal kersa jauh lebih bonyok dan berdarah darah buat para pejuang di industri ritel yang ritmenya super gila gilan.
Coba aja tengok kanan-kiri jalanan kita, raksasa ritel mana sih yang gerainya gak saling sikut di tiap perkolan? Di industri padat modal begitu, ritme kerja yang di kejar kejar waktu plus target penjualan harian yang bikin pusing tujuh keliling itu sudah jadi sarapan wajib tiap pagi. Gak bisa ditawar lagi.
Gimana Realitanya di lapangan?
Ambil contoh gampang nya PT Indomarco Prismatama alias Indomaret Bayangkan, gerainya sudah puluhan ribu dan msih bisa kokoh berdiri di tengah gempuran saingan kanan-kiri.
Kunci bertahanya ya apalagi kalau bukan budaya kerja yang gila hasil dan kekompakan tim didalamnya. Belum lagi inovasi digital mereka yang jor-joran bikin aplikasi ini-itu buat manjain konsumen. Secara bisnis, langkah ini jelas top banget.
Tapi jujur aja secanggih apa pun sistem digitalnya, kalau ga diimbangi sama lingkungan kerja yang memanusiakan karyawan. Ujung-ujungnya rontok juga karena padaburnout. Inovasi itu bagus, tapi kesehatan mental yang nyawa-in sistemnya juga jangan jangan sampai kelupaan.

Komitmen Dua Arah: Gak Bisa Sepihak
Biar budaya kerja yang kuat gak berujung jadi tekanan batin, jalan keluarnya gak bisa cuma dibebanin ke satu pihak. Harus ada komitmen yang adil antara bos dan anak buah.
Dari kacamata perusahaan dan para pemimpin, hal pertama yang wajib disiapin itu rasa aman secara psikologis buat karyawannya. Jadi bos itu jangan cuma tahu beres atau bisa memerintah doang.
Pemimpin yang asyik itu yang mau repot-repot bikin ruang aman di kantor. Ruangan di mana anak buah gak ketakutan buat ngasih ide baru, gak sungkan buat nanya kalau bingung, dan gak gemetaran pas terpaksa harus ngakui kesalahan.
Ditambah lagi, rajin-rajinlah ngasih apresiasi kecil tiap hari. Hal simpel begitu tuh pembuktian nyata kalau manajemen melihat karyawaan sebagai manusia utuh yang punya value, bukan sekadar robot pencetak angka target.
Tapi di sisi lain, kita sebagai karyawan juga harus tahu diri. Profesionalisme dan integrasi itu harga mati yang gak bisa ditawar. Urusannya mulai dari hal hal mendasar kayak gak hobi telat datang ke kantor, jujur,sampai tanggung jawab beresin tugas dengan hasil terbaik.
Satu lagi yang gak kalah penting: stop atau bikin ikut-ikutan drama toxic dan gosip gak jelas yang cuma bakal merusak kekompakan tim. Sadar atau enggak, kesuksesan sebuah bisnis itu indikatornya gak cuma di hitung dari seberapa masif gerai baru yang buka atau seberapa canggih aplikasi yang mereka rilis.
Prestasi yang membanggakan bagi sebuah perusahaan adalah ketika mereka berhasil menciptakan ekosistem kerja yang sehat. Tempat di mana karyawannya bisa lari ngejar karier, tanpa mengorbankan kebahagiaan kehidupan pribadi di luar kantor.
Penulis:
– Muhammad Ibnu Nursidik
– Alya Alvita
– Salsabilah
Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang (UNPAM)
Dosen Pengampu: HERRY SUHERMAN
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














