Budaya Nugas di Cafe dan Ironi Kesadaran Lingkungan Mahasiswa

nugas di cafe
Foto: Dok. MMI

Di kalangan anak muda khususnya mahasiswa, cafe tidak hanya dipandang sebagai tempat makan dan minum.

Perkembangan gaya hidup anak muda menimbulkan budaya yang menjadikan cafe sebagai ruang alternatif yang dinilai dapat membantu meningkatkan produktivitas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kini, cafe sudah biasa dijadikan pilihan utama sebagai ruang untuk belajar, mengerjakan tugas, berdiskusi, ataupun sekadar mencari suasana baru.

Ketersediaan fasilitas yang mendukung seperti akses internet lancar, desain interior estetik, serta suasana nyaman membuat budaya “nugas di cafe” semakin populer di kalangan mahasiswa.

Tidak sedikit pula mahasiswa yang menganggap aktivitas ini sebagai keikutsertaan dalam tren digital di media sosial.

Jika dilihat dari tujuannya, fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang negatif.

Cafe mampu menjadi ruang produktif dan tempat bertukar ide bagi anak muda.

Banyak mahasiswa merasa lebih fokus ketika belajar di cafe dibandingkan di rumah ataupun di kelas.

Perilaku ini juga memperlihatkan bagaimana mahasiswa terus mencari ruang yang nyaman dan memadai untuk berkembang dan bersosialisasi.

Namun, di balik budaya tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang sering kali dilupakan dan kurang diperhatikan, yaitu meningkatnya limbah plastik sekali pakai.

Pemandangan mahasiswa dengan laptop, earphone, dan segelas kopi di atas meja cafe kini menjadi hal yang mudah ditemui, terutama di kawasan sekitar kampus.

Mahasiswa kerap kali memesan kopi atau minuman kekinian untuk menunjang produktivitasnya di cafe.

Namun, yang menjadi titik perhatian adalah sebagian besar cafe masih menggunakan cup plastik, tutup gelas, sedotan, hingga kantong plastik untuk menyajikan minumannya kepada konsumen.

Benda-benda tersebut mungkin terlihat kecil dan sepele.

Akan tetapi, apabila digunakan terus-menerus oleh banyak orang setiap harinya, jumlah limbah yang dihasilkan juga akan semakin melimpah.

Ironisnya, sebagian besar sampah tersebut hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum akhirnya dibuang.

Budaya konsumsi modern secara tidak langsung membentuk kebiasaan masyarakat yang semakin bergantung pada produk sekali pakai.

Dalam lingkup mahasiswa, kebiasaan membeli kopi di cafe sering kali dilakukan hampir setiap hari, baik untuk menghindari kantuk saat mengerjakan tugas maupun sekadar mengikuti tren nongkrong bersama teman.

Tanpa disadari, kebiasaan semacam ini turut menyumbang peningkatan limbah plastik di lingkungan sekitar.

Permasalahan ini seharusnya lebih diperhatikan, mengingat data dari United Nations Environment Programme (UNEP), Indonesia menjadi negara penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah China.

Ini artinya Indonesia masih menghadapi persoalan besar terkait pengelolaan sampah plastik.

Di era kemajuan digital seperti saat ini, banyak mahasiswa yang menjadi generasi aktif dalam menyuarakan isu lingkungan melalui media sosial, kampanye digital, maupun berbagai gerakan peduli bumi.

Akan tetapi, di sisi lain, beberapa kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari justru sering kali belum mencerminkan perilaku pro lingkungan secara nyata.

Kesadaran ekologis terkadang hanya sekadar slogan dan unggahan media sosial, tetapi belum sepenuhnya direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya kontradiksi dalam kehidupan generasi muda saat ini.

Dalam kajian psikologi lingkungan, perilaku pro lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang terkait isu lingkungan, tetapi kebiasaan, lingkungan sosial, dan gaya hidup yang berkembang di masyarakat, akan mendorong terciptanya perilaku pro lingkungan.

Terdapat suatu teori yaitu Theory of Planned Behavior (TPB), yang memandang bahwa perilaku pro lingkungan dapat terjadi apabila individu memiliki sikap positif, mendapat dukungan sosial, dan merasa mampu secara mandiri untuk melakukannya. 

Meski demikian, persoalan ini tidak dapat sepenuhnya disudutkan kepada mahasiswa sebagai konsumen.

Cafe atau pelaku usaha juga memiliki peran penting dalam menyeimbangkan penyajian hidangan dengan perilaku pro lingkungan.

Saat ini, banyak cafe yang masih menggunakan kemasan plastik sekali pakai karena dianggap praktis dan ekonomis.

Padahal, beberapa langkah sederhana sebenarnya dapat mulai diterapkan, seperti menggunakan gelas kaca untuk penyajian minuman, sehingga dapat mengurangi penggunaan cup plastik, ataupun memberikan potongan harga bagi pelanggan yang membawa tumbler sendiri.

Dalam hal ini, mahasiswa sebagai generasi muda perlu membangun dan meningkatkan kesadaran ekologis dari kebiasaan-kebiasaan kecil.

Membawa tumbler pribadi, menolak penggunaan plastik sekali pakai jika tidak diperlukan, ataupun memilih menikmati minuman langsung di cafe menggunakan gelas kaca dapat menjadi langkah sederhana yang mencerminkan kepedulian lingkungan dan memberi dampak positif bagi lingkungan.

Meskipun terlihat sepele, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memiliki arti penting dalam mengurangi limbah plastik.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui aksi besar.

Kepedulian terhadap bumi justru dapat kita mulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya “nugas di cafe” bukanlah perilaku yang salah, tetapi akan lebih baik jika diiringi dengan kesadaran terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan.

Sebab, perilaku pro lingkungan bukan hanya tentang apa yang diucapkan di media sosial, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu merealisasikan serta bertanggung jawab terhadap kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.


Penulis: Cahaya Ramadhani Herera
Mahasiswa Prodi Psikologi Islam, UIN Raden Intan Lampung


Dosen Pengampu: Rahmad Purnama, M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses