Di berbagai kampus di Indonesia, organisasi ekstra kampus kerap memosisikan diri sebagai laboratorium kader bangsa. Mereka membawa identitas ideologis, mewarisi sejarah panjang perjuangan, dan mengusung narasi besar tentang perubahan sosial.
Dari rahim organisasi-organisasi inilah lahir banyak tokoh nasional, aktivis gerakan, hingga pemimpin politik. Sebagai organisasi kader, mereka seharusnya menjadi garda terdepan ruang diskusi dan pendidikan politik, pengembangan kepemimpinan, serta pembentukan kesadaran kritis mahasiswa.
Namun, dibalik kebanggaan atas sejarah tersebut, terdapat fenomena yang patut dikritisi. Di banyak kampus hari ini, organisasi-organisasi ekstra justru lebih terlihat saat Pemilihan Raya (Pemira) dibandingkan saat menjalankan fungsi kaderisasinya sendiri.
Setiap kali menjelang Pemira, kampus mendadak berubah menjadi arena pertempuran politik. Organisasi-organisasi yang sebelumnya nyaris tak terdengar aktivitasnya tiba-tiba hidup bak mati suri. Kader dimobilisasi. Konsolidasi dilakukan hingga larut malam. Suara dipetakan. Koalisi dibangun.
Strategi kemenangan dirancang secara sistematis. Grup WhatsApp yang berbulan-bulan sepi mendadak ramai oleh instruksi dan mobilisasi politik. Kader-kader yang jarang terlihat dalam forum kajian mendadak menjadi pasukan terdepan ketika suara mahasiswa mulai diperebutkan.
Yang menjadi ironi, energi besar yang dikeluarkan menjelang Pemira justru jarang terlihat dalam agenda kaderisasi, diskusi intelektual, maupun advokasi persoalan mahasiswa. Hari ini, tampaknya banyak organisasi lebih piawai menghitung peta suara daripada membaca buku.
Mereka lebih rajin menyusun strategi kemenangan daripada menyusun agenda intelektual. Pada akhirnya, kampus-kampus tidak dapat melahirkan kader pemikir, melainkan operator politik yang sibuk berburu jabatan sana sini.
Ketika Pemira berakhir dan kursi-kursi kekuasaan telah terbagi, gairah tersebut perlahan menghilang. Diskusi kembali sepi. Kajian kembali ditinggalkan.
Aktivitas organisasi kembali berjalan lamban. Fenomena yang terus berulang inilah yang memunculkan pertanyaan mendasar: apakah gerakan mahasiswa hari ini masih berorientasi pada kaderisasi dan perjuangan intelektual, atau justru telah bergeser menjadi gerakan elektoral yang menjadikan kontestasi sebagai tujuan akhir?
Persoalan utama gerakan mahasiswa hari ini bukan terletak pada minimnya jumlah anggota ataupun organisasi. Krisis yang sesungguhnya adalah krisis orientasi.
Organisasi-organisasi yang lahir sebagai ruang kaderisasi saat ini perlahan berubah menjadi mesin mobilisasi suara. Kaderisasi dan produksi gagasan tidak lagi menjadi pusat aktivitas organisasi. Politik elektoral justru menjadi pusat gravitasi gerakannya.
Yang mengkhawatirkan bukan sekadar meningkatnya kontestasi politik kampus, melainkan hilangnya arah organisasi itu sendiri. Organisasi yang dahulu dibangun untuk mencetak kader, menghasilkan gagasan, dan mengorganisasi gerakan sosial kini semakin sulit dibedakan dari kelompok-kelompok politik yang hanya berorientasi pada perebutan pengaruh kekuasaan.
Akibatnya, banyak organisasi lebih sibuk mencari calon ketua BEM daripada melahirkan para pemikir. Antusiasme justru mengarah pada pembangunan koalisi elektoral daripada pembangunan tradisi intelektual. Jabatan justru menjadi orientasi, bukan lagi konsekuensi dari kapasitas kader. Pemira menjadi tujuan, bukan instrumen.
Kemunduran ini tidak hanya berdampak pada kualitas internal organisasi, tetapi juga pada gerakan mahasiswa secara keseluruhan. Ketika energi organisasi tersedot untuk kontestasi elektoral, perhatian terhadap berbagai persoalan publik perlahan memudar.
Isu kenaikan UKT, fasilitas pendidikan, transparansi anggaran kampus, hingga persoalan sosial yang seharusnya menjadi perhatian mahasiswa sering kali kalah penting dibanding agenda memenangkan Pemira.
Akibatnya, organisasi mahasiswa yang seharusnya hadir sebagai agent of change dan alat kritik terhadap kekuasaan justru lebih sibuk membangun kekuasaan mereka sendiri di lingkungan kampus.
Lebih jauh lagi, kondisi ini melahirkan budaya politik yang dangkal. Politik dipahami sebatas perebutan posisi, bukan perjuangan gagasan. Diskusi digantikan oleh lobi. Kajian digantikan oleh kampanye. Gagasan dikalahkan oleh popularitas. Jabatan menjadi lebih bergengsi daripada kapasitas.
Politik elektoral yang terus mendominasi juga melahirkan kecenderungan oligarkis dalam kehidupan kampus. Segelintir kelompok dengan jaringan kader yang kuat terus menguasai lembaga kemahasiswaan dari satu periode ke periode berikutnya.
Demokrasi kampus tetap berjalan, tetapi hanya terasa secara prosedural dan kehilangan substansinya. Kompetisi tetap ada, namun pertarungan gagasan semakin langka.
Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran organisasi kader adalah menurunnya produksi gagasan. Jikalau dahulu organisasi ekstra dikenal melalui diskusi, kajian, tulisan, dan keberpihakannya terhadap berbagai isu publik, kini eksistensinya lebih sering diukur dari keberhasilannya memenangkan kontestasi kampus. Mahasiswa lebih mengenal nama calon ketua daripada gagasan yang diperjuangkannya.
Yang lebih ironis, organisasi-organisasi tersebut masih gemar membanggakan sejarah panjang perjuangannya. Nama-nama besar pendiri terus dikutip. Narasi tentang kader bangsa terus diulang.
Namun romantisme sejarah tentunya tidak akan pernah cukup untuk menutupi kenyataan bahwa sebagian organisasi hari ini tampak lebih piawai memenangkan pemilihan daripada mencetak pemimpin.
Mereka mengaku sebagai organisasi kader, tetapi yang terlihat justru perilaku layaknya tim sukses permanen yang hanya bekerja ketika musim pemilu mahasiswa tiba. Kader direkrut hanya untuk memperluas basis suara, bukan untuk memperluas kapasitas intelektual. Yang dibutuhkan bukan kualitas mereka, melainkan kuantitas mereka.
Ancaman terbesar organisasi ekstra kampus hari ini bukanlah berkurangnya anggota, menurunnya dana organisasi, atau kekalahan dalam kontestasi politik kampus. Ancaman terbesar justru datang dari dalam tubuh mereka sendiri: hilangnya keyakinan bahwa kaderisasi dan perjuangan gagasan adalah alasan utama organisasi itu didirikan.
Sebab ketika Pemira telah berubah menjadi tujuan, kaderisasi kehilangan makna dan menjadi pelengkap belaka. Dan ketika kaderisasi kehilangan makna, ia hanya akan melahirkan generasi baru yang mewarisi hasrat lama: merebut kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, lalu menyebutnya sebagai perjuangan.
Gerakan mahasiswa saat ini memang tidak mati. Mereka masih berdiri dan masih pula berteriak. Namun ketika kaderisasi ditinggalkan dan kekuasaan menjadi tujuan, yang tersisa hanyalah tubuh tanpa jiwa, bergerak tanpa arah, dan hidup tanpa cita-cita.
Penulis: Irsyad Nurbadri Thalib
Program Studi Ilmu Politik, Universitas Jambi (UNJA)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














