Tidak semua calon engineer lahir dari bangku SMA jurusan IPA atau SMK teknik. Di Politeknik Negeri Malang, tidak sedikit mahasiswa yang berasal dari jurusan IPS, Keagamaan, bahkan Kimia.
Mereka datang dengan bekal pengetahuan yang berbeda-beda, sebagian belum pernah memegang multimeter, belum mengenal fungsi resistor, bahkan belum memahami bagaimana arus listrik dapat mengalir dalam sebuah rangkaian.
Namun kondisi tersebut bukanlah hambatan. Justru di sinilah pendidikan vokasi menunjukkan perannya sebagai wahana transformasi pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir.
Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi, Politeknik Negeri Malang tidak hanya mengajarkan teori keteknikan, tetapi membentuk cara berpikir seorang calon engineer. Proses tersebut dimulai dari mata kuliah Praktikum Dasar Teknik Elektronika yang menjadi fondasi penting bagi mahasiswa semester awal.
Melalui kegiatan laboratorium yang nyata, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai material elektronika, alat ukur, komponen dasar, serta prinsip-prinsip pengukuran yang menjadi bahasa universal dalam dunia teknik.
Bahan yang membedakan mana yang dapat menghantarkan listrik (konduktor) dan bahan yang sulit menghantarkan listrik (isolator) seperti pada gambar 1 material kelistrikan yang harus diketahui mahasiswa Teknik Elektro Praktikum Dasar Teknik Elektro.

Gambar 1 memperlihatkan berbagai material plat aluminium, kawat, batang kayu, alat potong kawat, isolasi listrik dan instrumen yang digunakan dalam praktikum, multimeter analog merupakan alat ukur dasar dalam praktikum dasar teknik elektronika.
Bagi sebagian mahasiswa yang berasal dari latar belakang non-IPA, peralatan tersebut mungkin tampak asing pada awal perkuliahan. Namun melalui pendekatan learning by doing, mahasiswa diajak membangun pemahaman secara bertahap melalui observasi, pengukuran, dan pembuktian langsung terhadap konsep-konsep yang dipelajari.
Transformasi tersebut semakin terlihat pada kegiatan praktikum kelompok dari mahsiswa yang telah mendapatkan materi dasar bahan penghantar arus listrik dan penghambat aruslistrik dan membuktikan dalam praktikum pengukuran dari kedua jenis materi ini, sebagaimana tampak pada Gambar 2.

Mahasiswa secara aktif melakukan pengukuran karakteristik material menggunakan multimeter dan mendiskusikan hasil yang diperoleh.
Aktivitas sederhana ini sesungguhnya merupakan proses pembentukan pola pikir seorang engineer: mengamati fenomena, mengumpulkan data, melakukan analisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta hasil pengukuran.
Dalam konteks inilah keberadaan Politeknik Negeri Malang menjadi sangat strategis. Pendidikan vokasi tidak menilai mahasiswa berdasarkan asal jurusannya ketika di sekolah menengah, tetapi berdasarkan kemampuannya untuk belajar, beradaptasi, dan berkembang.
Mahasiswa IPS, Keagamaan, maupun Kimia memperoleh kesempatan yang sama untuk menguasai ilmu teknik melalui pengalaman praktik yang terstruktur dan berkelanjutan.
Keberhasilan mahasiswa non-IPA dalam menguasai dasar-dasar elektronika menunjukkan bahwa seorang engineer tidak dibentuk oleh latar belakang pendidikan semata, melainkan oleh proses pembelajaran yang mampu mengubah rasa ingin tahu menjadi keterampilan, dan pengalaman praktik menjadi pola pikir ilmiah.
Di sinilah Politeknik Negeri Malang menjalankan perannya, tidak sekadar mengajarkan teknologi, tetapi membentuk generasi calon engineer yang siap menjawab tantangan industri masa depan.
Penulis: Dr. Farida Arinie S., M.T.
Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












