Indonesia memang dikenal sebagai negara agraris, tapi kalau harus jujur, urusan isi piring kita makin hari makin mengkhawatirkan. Jumlah mulut yang harus diberi makan terus bertambah, sementara nasib sawah kita sedang dikepung dari segala sisi.
Di satu sisi, cuaca makin tidak menentu. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sepanjang 2025 kemarin menunjukkan betapa kacaunya pola tanam akibat cuaca ekstrem. Imbasnya langsung tercatat di data Badan Pusat Statistik, di mana produksi beras nasional sepanjang 2024 sampai 2025 mengalami penurunan yang cukup bikin was-was.
Di sisi lain, sawah-sawah produktif kita juga terus digerus oleh proyek perumahan, kawasan industri, dan infrastruktur. Data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional sampai akhir 2024 mengonfirmasi bahwa alih fungsi lahan sawah ini sifatnya permanen. Sekali berubah jadi bangunan, lahan tersebut tidak akan bisa ditanami padi lagi.
Baca juga: Krisis Lahan
Nah, setiap kali produksi beras turun dan sawah makin sempit, pemerintah hampir selalu mengambil jalan pintas yang sama, yaitu impor beras besar-besaran. Padahal, menggantungkan urusan perut ratusan juta rakyat pada negara lain itu ibarat berjudi dengan waktu.
Sayangnya, perdebatan kita di ruang publik cuma berputar-putar di situ saja. Kalau bukan meributkan kuota impor, kita berdebat soal cara menaikkan hasil panen di lahan yang seadanya.
Kita sering lupa kalau ada solusi teknologi yang sebetulnya sudah siap pakai, yaitu beras analog yang dibuat lewat teknologi ekstrusi.
Baca juga: Teknologi ‘Kapsul’ Makanan: Untuk Pangan yang Lebih Tahan Lama
Kenapa harus dibikin mirip beras asli?
Jawabannya ada pada faktor psikologis dan budaya kita sendiri. Mengubah menu makanan orang Indonesia itu bukan cuma soal kenyang, tapi soal kebiasaan yang sudah mendarah daging dan status sosial.
Slogan “kalau belum makan nasi artinya belum makan” itu nyata adanya karena keterikatan kultural kita yang sangat kuat terhadap bulir putih ini.
Ditambah lagi, ada stigma emosional yang nyata terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Bagi masyarakat kota, mengonsumsi singkong rebus, ubi, atau jagung secara langsung sering kali dianggap sebagai pangan kelas bawah yang identik dengan kemiskinan atau masa krisis.
Gengsi sosial dan benturan budaya inilah yang membuat gerakan diversifikasi pangan selalu menemui jalan buntu.
Di sinilah beras analog masuk sebagai penengah yang cerdas untuk mengelabui ego dan hambatan budaya tersebut. Melalui teknologi ekstrusi yang memanfaatkan tekanan dan suhu tinggi, bahan-bahan lokal seperti singkong, jagung, atau sagu bisa diolah dan dicetak sedemikian rupa hingga bentuk, tekstur, warna, hingga cara masaknya persis seperti beras padi.
Jadi, masyarakat tidak perlu merasa turun kelas atau dipaksa mengubah budayanya secara ekstrem. Mereka tetap merasa makan nasi di piring mereka, menikmati kebiasaan yang sama, padahal bahan bakunya murni dari komoditas non-padi.
Keunggulan beras analog ini sebetulnya sangat cocok untuk menjawab tantangan zaman. Ambil contoh singkong. Data Kementerian Pertanian tahun 2024 menunjukkan kalau pasokan singkong kita itu melimpah ruah di berbagai daerah.
Hebatnya lagi, tanaman umbi-umbian atau jagung jauh lebih bandel menghadapi kekeringan dibanding padi. Mereka juga bisa tumbuh di lahan kering atau lahan miring yang tidak butuh hamparan sawah luas.
Artinya, saat sawah kita makin habis karena pembangunan, kita tetap punya cadangan karbohidrat melimpah dari singkong dan jagung yang siap disulap jadi beras analog.
Ditinjau dari sisi produksinya pun, metode ekstrusi ini sangat efisien. Banyak studi teknologi pangan hingga tahun 2025 yang mencatat bahwa mesin ekstrusi bisa menggabungkan proses pencampuran bahan, pemasakan, sampai pembentukan butiran beras dalam satu rangkaian mesin saja. Prosesnya cepat dan hemat energi, sesuatu yang sangat kita butuhkan di tengah isu krisis lingkungan saat ini.
Tapi sayangnya, potensi beras analog ini seperti jalan di tempat. Isu inovasi pangan selalu kalah pamor dibanding drama politik impor beras atau naik-turunnya harga sembako di pasar. Padahal, beras analog ini bukan lagi sekadar teori.
Baca juga: Umbi Porang: Tinggi Glukomanan Penghasil Beras Rendah Kalori
Di beberapa daerah pedesaan, kelompok tani dan industri rumahan sebetulnya sudah mulai memproduksinya dalam skala kecil menggunakan singkong atau jagung lokal. Sayangnya, gerakan dari bawah ini kurang mendapat panggung dan dukungan modal yang kuat dari pusat.
Kalau saja pemerintah dan pihak industri besar mau ikut turun tangan untuk memproduksi dan memasarkan beras analog ini secara massal, kita punya kesempatan besar untuk lepas dari ketergantungan impor beras.
Ancaman perubahan iklim dan masifnya pembangunan harusnya sudah jadi alarm bagi kita semua untuk segera berbenah. Beras analog harus diangkat dari skala industri rumahan pedesaan menjadi gerakan pangan nasional demi masa depan urusan perut bangsa kita.
Pertanyaannya, apakah kita baru mau serius bergerak setelah negara lain berhenti mengekspor beras ke kita dan krisis pangan benar-benar terjadi?
Daftar Pustaka
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2025). Laporan Analisis Variabilitas Iklim dan Cuaca Ekstrem Nasional 2025. Jakarta: BMKG.
Badan Pusat Statistik. (2025). Luas Panen dan Produksi Padi di Indonesia 2024–2025 (Rilis Resmi Statistik). Jakarta: BPS.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. (2024). Laporan Pemantauan dan Pengendalian Alih Fungsi Lahan Baku Sawah Nasional. Jakarta: Kementerian ATR/BPN.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2024). Data Makro Komoditas Tanaman Pangan: Produksi Ubi Kayu dan Jagung Nasional. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementan RI.
Penulis:
Nathaline Indira Saputra
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran
Baiq Nadya Anjani Putri
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












