Teknologi ‘Kapsul’ Makanan: Untuk Pangan yang Lebih Tahan Lama

bahan pangan tahan lama
Teknologi 'Kapsul' Makanan: Untuk Pangan yang Lebih Tahan Lama. Sumber: MMI.

Pernah dengar ga sih makanan yang dikenakan perlakuan kapsul? Apakah makanannya dibuat dalam bentuk kapsul yang berisi nutrisi lengkap jadi tinggal hap! tanpa perlu repot menyiapkannya atau mengunyahnya?

Eits bukan seperti itu ya, yah meskipun bisa saja menjadi kenyataan di masa yang akan datang, tapi kapsul yang dimaksud di sini adalah enkapsulasi! Jadi apa sih teknologi enkapsulasi ini?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sesuai dengan namanya, teknologi enkapsulasi bisa dibayangkan seperti pemberian “jaket pelindung” bagi nutrisi dalam makanan.

Di dalam proses ini, komponen penting seperti vitamin, probiotik, antioksidan, atau senyawa bioaktif dibungkus oleh lapisan sangat kecil agar tidak mudah rusak. Jadi, yang dikapsulkan bukan makananya secara utuh, melainkan bagian penting di dalam pangan yang perlu dijaga kualitasnya. 

Mengapa hal ini penting? Karena ketidakstabilan bahan fungsional selama pemrosesan dan penyimpanan merupakan salah satu masalah utama dalam formulasi makanan.

Degradasi nutrisi, oksidasi lipid, perubahan warna, dan bioaktivitas dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti paparan oksigen, kelembapan, variasi suhu, dan interaksi antara komponen makanan dan komponen makanan lainnya.

Untuk itu enkapsulasi hadir sebagai solusi dengan memberi “jaket pelindung” bagi komponen-komponen bahan pangan aktif yang sensitif terhadap faktor-faktor tadi sehingga terhindar dari kerusakan, menjaga kualitas dan umur simpan.

Proses enkapsulasi umum yang digunakan dalam sistem pangan diantaranya spray drying, ekstrusi, freeze drying, dan fluidized bed coating, serta adsorpsi.

Penerapan enkapsulasi sebenarnya sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari, meskipun sering tidak disadari. Teknologi ini dapat ditemukan pada berbagai produk seperti minuman probiotik, minuman serbuk, susu fortifikasi, hingga produk herbal dapat memanfaatkan prinsip enkapsulasi.

Dalam produk tersebut, enkapsulasi membantu menjaga komponen penting agar tidak cepat rusak dengan meningkatkan stabilitas senyawa-senyawa terkandung dalam proses pengolahan dan penyimpanannya serta meningkatkan akses biologis senyawa-senyawa ini ke dalam tubuh, sehingga pangan tidak hanya lebih tahan lama, tetapi juga tetap memiliki nilai gizi yang lebih baik.

Bayangkan sebuah minuman serbuk bervitamin yang harus melewati proses produksi, pengemasan, penyimpanan di gudang, pengiriman ke berbagai daerah, lalu menunggu dibeli konsumen. Sepanjang perjalanan itu, kandungan gizinya berhadapan dengan panas, udara, cahaya, dan waktu.

Baca Juga: Susu dari Jamur? Kok Bisa! Mengulas ‘Precision Fermentation’ sebagai Terobosan Inovasi Bioteknologi Pangan

Tanpa perlindungan yang tepat, sebagian manfaatnya bisa berkurang bahkan sebelum produk tersebut dibuka, enkapsulasi membantu mengurangi risiko tersebut. 

Teknologi ini juga penting jika dikaitkan dengan ketahanan pangan. Selama ini, ketahanan pangan sering dibicarakan sebatas ketersediaan makanan, apakah stok cukup, apakah harga sabil, dan apakah distribusinya lancar. Padahal, pangan yang tersedia juga harus tetap bergizi.

Makanan yang awet tetapi kehilangan banyak kandungan nutrisinya tentu belum cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Di tengah perubahan iklim, rantai distribusi yang panjang, dan kebutuhan pangan praktis yang semakin tinggi, menjaga kualitas gizi menjadi sama pentingnya dengan menyediakan makanan itu sendiri.

Pangan tidak cukup hanya diproduksi dalam jumlah besar, tetapi juga perlu dijaga agar tetap bermanfaat saat sampai ke tangan konsumen. Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi ini.

Berbagai bahan pangan lokal seperti jahe, kunyit, temulawak, buah tropis, dan rempah-rempah kaya akan senyawa bioaktif yang bermanfaat. Sayangnya, banyak senyawa alami tersebut mudah rusak jika tidak diolah dengan tepat.

Melalui enkapsulasi, potensi bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih stabil, praktis, tahan lama, dan bernilai tambah tinggi.

Baca Juga: Generasi Muda Enggan Menjadi Petani: Siapa yang Akan Menanam Pangan Kita?

Pada akhirnya, teknologi enkapsulasi pada pangan bukan sekadar inovasi yang terdengar canggih. Teknologi ini hadir sebagai jawaban atas pertanyaan penting dalam pangan masa kini, bagaimana membuat makanan tidak hanya tahan lama, tetapi juga tetap mempertahankan kualitas gizi.

Di balik ukurannya yang sangat kecil, enkapsulasi menyimpan peran besar dalam menjaga mutu pangan. Sebab masa depan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak makanan yang dapat diproduksi, tetapi juga oleh seberapa baik kita menjaga manfaatnya sampai benar-benar masuk ke tubuh kita. 


Penulis:
1. Adenia Az-Zahra Widiantomo (240210240024)
2. Bilqis Aulia Noor Rahman (240210240030)
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran (Unpad)


Dosen Pengampu: Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

de Jesus Silva, J., Costa, T. V., Santos, M. L., e Silva, L. T. S., Santos, P. H., de Carvalho Tavares, I. M., & Chaves, M. A. (2023). Encapsulation of açaí (Euterpe oleracea) pulp with whey protein isolate by spray-drying: An optimization study using response surface methodology (RSM). Food and Humanity, 1, 1539-1546.

Hapsari, R. B., Pranoto, Y., Murdiati, A., & Supriyanto, S. (2022). Optimasi Proses Nanopresipitasi pada Nanoenkapsulasi Ekstrak Kasar Daun Kakao (Theobroma cacao L.) Menggunakan Response Surface Methodology (RSM). AgriTECH, 42(1), 75. https://doi.org/10.22146/agritech.49872

Islam, S., Nabi, M. H. B., Ahmad, I., & Zzaman, W. (2026). Encapsulation in Food Systems: From Technique-Driven Approaches to Functional, Scalable, and Sustainable Industrial Applications. International journal of food science, 2026, 7367634. https://doi.org/10.1155/ijfo/7367634

Ningtyas, R., Sri Laksmi Jenie, B., & Nuraida, L. (2015). MIKROENKAPSULASI Lactobacillus plantarum DENGAN BERBAGAI ENKAPSULAN PADA PENGERINGAN SEMPROT JUS JAMBU BIJI. Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan, 26(2), 163–170. https://doi.org/10.6066/jtip.2015.26.2.163

Rezagholizade-shirvan, A., Soltani, M., Shokri, S., Radfar, R., Arab, M., & Shamloo, E. (2024). Bioactive compound encapsulation: Characteristics, applications in food systems, and implications for human health. Food Chemistry: X, 24, 101953. https://doi.org/10.1016/j.fochx.2024.101953

Setijawati, D., Wijana, S., Aulani’am, & Santosa, I. (2011). VIABILITAS DAN STRUKTUR MIKROKAPSUL Lactobacillus acidophilus DENGAN BAHAN PENYALUT KARAGINAN SEMI MURNI JENIS Eucheuma cottonii. Teknologi Pangan : Media Informasi Dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian, 2(1). https://doi.org/10.35891/tp.v2i1.481

Xu, Y., Yan, X., Zheng, H., Li, J., Wu, X., Xu, J., … & Du, C. (2024). The application of encapsulation technology in the food Industry: Classifications, recent Advances, and perspectives. Food Chemistry: X, 21, 101240.

Yan, C., Kim, S. R., Ruiz, D. R., & Farmer, J. R. (2022). Microencapsulation for food applications: A review. ACS Applied Bio Materials, 5(12), 5497-5512.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses