Sistem Kulturalisme Kebudayaan Nusa Tenggara Timur (Larantuka)

kebudayaan larantuka

Larantuka adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Flores Timurprovinsi Nusa Tenggara TimurIndonesia, dan sekaligus sebagai ibukota dari Kabupaten Flores Timur. 

Larantuka dikenal sebagai tujuan wisata rohani bagi umat Katolik, khususnya bagi warga Nusa Tenggara Timur. Kota kecil yang terletak di kaki gunung Mandiri ini, memiliki tradisi peninggalan Portugis. 

Luas wilayah Larantuka 75,91 km², dengan jumlah penduduk tahun 2020 sekitar 45.515 jiwa. Secara Geografis Kecamatan Larantuka berbatasan dengan:

Bacaan Lainnya
DONASI
– Utara: Kecamatan Ile Mandiri
– Selatan: Selat Solor
– Timur: Selat Adonara
– Barat: Kecamatan Demon Pagong

Pembagian Administrasi

Kecamatan Larantuka terdiri dari 18 Kelurahan dan 2 Desa, yaitu:

  • Amagarapati
  • Balela
  • Ekasapta
  • Larantuka
  • Lewolere
  • Lohayong
  • Lokea
  • Pantai Besar
  • Pohon Bao
  • Pohon Sirih
  • Postoh
  • Puken Tobi Wangi Bao
  • Sarotari
  • Sarotari Tengah
  • Sarotari Timur
  • Waibalun
  • Waihali
  • Weri
  • Desa Lamawalang
  • Desa Mokantarak

Demografi

Mayoritas penduduk Larantuka memeluk agama Kekristenan yakni 80,87%, dimana pemeluk agama Katolik sebanyak 74,65% dan Protestan 6,22%. Kemudian penduduk yang memeluk agama Islam sebanyak 18,92%, dan sebagian kecil memeluk agama Hindu 0,21%.

Salah satu kegiatan keagamaan yang berada di Larantuka adalah ritual Semana Santa atau Sesta Vera. Pada puncak ritual Sesta Vera atau Jumat Agung, pintu kapel Tuan Ma dan juga kapel Tuan Ana (Patung Bunda Maria dan Patung Yesus Kristus) akan dibuka untuk umum sejak pukul 10 pagi, dan umat Katolik mulai berdatangan untuk berdoa mengenang Yesus. Kegiatan ini telah menjadi kegiatan tahunan yang diadakan pada Jumat Agung, yang juga menjadi menjadi program wisata rohani unggulan di Nusa Tenggara Timur, dan di Flores Timur secara khusus.[1]

Baca juga: Karangan Semi Ilmiah “Urgensi Kebudayaan”

Tradisi di Larantuka

Larantuka mempunyai kebudayaan mulai dari tradisi, adat perkawinan, tarian, kerajinan tangan, makanan khas dan masih banyak lainnya. Berikut adalah beberapa kebudayaan kota Larantuka:

1. Tradisi Semana Santa

adalah sebuah tradisi unik umat Katolik di Larantuka, ibu kota Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini merupakan peninggalan Portugis yang dilakukan untuk merayakan pekan suci menyambut datangnya hari raya Paskah. Umat Katolik berkeliling kota Larantuka pada malam Jumat Agung sebagai puncak perayaan tersebut.

Selama Pekan Suci, kota Larantuka seolah-olah menjadi kota hening laksana “kota bisu” para perziarahan bergerak perlahan namun khusuk dalam kebisuan untuk mengikuti “tapak -tapak penderitaan hingga prosesi pemakaman Yesus”, khas adat Larantuka. Prosesi Semana santa berakhir menjelang dini hari       

Prosesi Semana Santa sungguh merupakan suatu tradisi yang unik dan punya daya tarik bagi umat Katolik dari seluruh tanah air. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang datang dari kota-kota yang jauh seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain.

Bukan hanya dalam negeri saja orang-orang dari luar negeri pun datang ke kota Larantuka untuk mengikuti Tradisi Samana Santa ini. Melihat perkembangan ini, pemerintah bersikap positif dan memadukan even Samana Santa ke dalam kalender pariwisata Flores timur untuk meningkatkan kunjungan wisatawan yang datang ke Kota Larantuka dan Flores secara umum.

Baca juga: Suwe Ora Jamu: Minuman Tradisional Kekinian yang Menyehatkan

2. Upacara Lewok Tepo

Ritual Lewok Tepo adalah proses membelah kelapa  yang dimaksudkan untuk mencari tahu sebab kematian seseorang yang tidak wajar atau meninggal sebelum masa tua mereka. hal ini sakaligus bertujuan untuk membersihkan kesalahan atau dosa yang dilakukan orang tersebut atau pun keluarganya  yang menyebabkannya meninggal dunia dan tidak akan terulang lagi di kemudian hari.

Pada pandangan orang lamaholot pengingkaran terhadap koda (kebenaran) menyebabkan seseorang mudah mati atau mati mudah. koda hampir mirip seperti norma yakni larangan atau perintah yang ditujukan agsr terciptanya keharmonisan antar manusia, manusia dengan lingkungan dan yang terpenting manusia dengan sang pencipta. Seseorang yang mempunyai kesalahan atau dosa yang ditimpalkan hukuman oleh rera wulan tana ekan berupa kematianyang tidak wajar. hal ini kemudian melahirkan tradisi ritual lewak tapo.

3. Proses Adat Pernikahan Larantuka

Di Larantuka proses pernikahan berlangsung melalui serangkaian acara sebagai berikut :

4. Maso minta/Tonka Tanya

Proses ini mengawali proses menuju perkawinan. Dalam proses ini keluarga dari pihak laki-laki akan mendatangi kediaman perempuan.

Orang tua dari laki-laki beserta keluarga besarnya setelah menanyakan keseriusan anaknya bermaksud untuk memperkenalkan diri kepada kepada keluarga permpuan.

Juru bicara dari phak laki-laki akan menjelaskan maksud kedatangan keluarga besar mereka dan meminta ijin kirannya pihak perempuan berkenan merestui anaknya untuk menjalin hubungan dengan pihak mereka.

Biasanya  dalam proses ini belum dibicarakan secara serius tentang kelanjutan hubungan kedua pasangan, hanya sekedar silaturahmi dan berkenalan.

5. Pertunangan/Tuka Cince

Ketika dilihat bahwa hubungan anak mereka dengan gadis pujan hatinya sudah memasuki tahap serius maka keluarga bersiap untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Orang tua laki-laki akan kembali mengumpulkan keluarga besarnya dan bersama-sama mendatangi pihak perempuan. Sebelum kedatangan, umunya keluarga wanita diberitahukan dahulu sehingga telah ada persiapan.

Ketika memasuki proses ini maka pasangan sudah terikat. Cincin dipersiapkan sebagai lambang mengikatkan cinta kedua anak mereka dan keluarga besar. 

Dalam proses ini,bila sebelum terjadi pemberkatan nikah salah satu pasangan melanggar maka aka akan dikenakan denda. Denda dikenakan sesuai tuntutan keluarga yang dikhianati. Sering disebut sebagai tanda tuto Malu atau menjadi pelajaran agar tidak menyepelehkan/melanggar kesepakatan.

6. Tuli Nama

Tuli nama atau tulis nama merupakan kegiatan pencatatan nama  di gereja untuk mengikuti pemberkatan nikah. Peraturan gereja katolik mewajibkan pasangan untuk mengikuti kursus perkawinan sebelum menikah. Setelah itu pasangan yang akan menikah diumumkan namanya  dalam tiga minggu berturut-turut di gereja asal pasangan.

7. Anta siri pinang

setelah pengumuman minggu ke tiga di gereja dan dipastikan pernikahan sesuai jadwal yang ditentukan, sehari sebelum pemberkatan pernikahan (biasanya malamnya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan) digelar proses siri pinang.

Proses ini di banyak daerah sering disebut dengan “antar seserahan” Dalam proses ini keluarga lelaki akan mengantarkan belis/mahar juga segala perlengkapan pernikahan dan pesta pernikahan kepada keluarga wanita.

Setelah wakil keluarga calon wanita menenggak arak yang diberikan wakil keluarga pria akan memberikan belis(uang atau gading sesuai kesepakatan kedua keluarga) dan diterima oleh wakil keluarga wanita.

Wakil keluarga wanita umumnya akan membalas dengan memberikan sarung (tenun ikat Flores Timur) satu atau dua kain atau cindera mata lain(tergantung kesepakatan pihak wanita). Setelah upacara serah – serahan hantaran selesai dilanjutkan dengan santap malam hidangan yang disediakan calon pengantin wanita.

8. Kumpo Kao

Bukan termasuk tahapan pernikahan tetapi proses yang meengikutinya. Beberapa jam sebelumnya di tenda pesta keluarga dari calon pengantin pria dan wanita akan menerima tamu dari keluarga yang mengantar pemberian berupa uang atau binatang (anta bagian) yang di kumpulkan (urung rembuk) memberikan bantuan/partisipasi (kumpo kao). 

9. Bua Tenda 

bukan termasuk proses pernikahan tetapi proses yang mengikutinya. Dua atau tiga hari sebelum anta siri pinang dan pesta pernikahan calon mempelai pria dan wanita akan mengundang kaum laki-laki sedesa dan keluarga dekat untuk berpartisipasi dalam proses mendirikan tenda yang akan dipakai untuk pesta.

10. Lepa bujang

Proses pernikahan terakhir yang dijalani tapi sekarang bukan merupakan sebuah kewajiban keluarga mau dirayakan atau tidak. Proses ini merupakan proses perpisahan atau pernyataan bahwa kedua mempelai telah memasuki kehidupan berumah tangga, bukan sendiri lagi atau bujang. Kesempatan ini juga dipergunakan sebagai ajang ucapan terimakasih dari keluarga dan kedua mempelai kepada saudara,teman, tetangga dan semua orang yang membantu sehingga acara pernikahan terlaksana.

Kesenian Daerah di Larantuka

1. Tarian Hedung

Tarian Hedung adalah tarian tradisional sejenis tarian perang. Tarian ini dibawakan oleh penari pria maupun wanita  dengan mengunakan pakaian serta senjata perang. Dalam pertunjukan tari tersebut, mereka menari dengan gerakan-gerakan yang mmengambarkan jiwa kepahlawanan masyarakat di medan perang. Tari hedung ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, acara adat dan festifal budaya

2. Tarian Dolo – dolo

Dolo termasuk salah satu tarian populer bagi masyarakat Flores Timur. Tarian dolo biasanya dibawakan dengan nyanyian dolo. Tarian ini dipentaskan sebagai rasa syukur atas panen. Tarian ini melambangkan nilai-nilai persahabatan dan seringkali dimanfaatkan oleh kaum muda untuk mencari pasangan.

3. Tarian lui E

Tarian ini biasa digunakan disaat acara-acara adat dan juga acara pernikahan, dan acara penyambutan tamu-tamu penting. Tarian ini sering dimainkan oleh wanita.

4. Tenun ikat

Kwatek (untuk perempuan) dan Nowi’n (untuk laki-laki) merupakan tenunan tradisonal asal Flores Timur. Tenunan ini berbeda-beda motifnya disetiap daerah  di Nusa Tenggara Timur. Khusus untuk Flores Timur tenunan ini memiliki 3 ciri umum dengan variasi lebih dari 3 benang dan ukuran motif hanya berada dibagian atas dan bawah sarung saja. 

Tenunan tradisional ini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Flores Timur meskipun dalam frekuansi yang menurun sebagai akibat dari perkembangan mode dalam fashion

Makanan Khas Larantuka

1. Rumpu Rampe

Makanan ini terbuat dari daun ubi dan daun pepanya. Rumpu Rampe biasanya dimakan dengan ikan bakar.

2. Jagung Titi

Jagung titi dalam bahasa lamaholot (Bahasa daerah setempat) yaitu watak kenaen. Sesuai dengan namanya Jagung titi ini terbuat dari biji jagung yang digoreng kering dengan mengunakan wajan yang terbuat dari tanah liat setelah itu diangkat lalu dipipihkan dengan mengunakan dua batu yang terdiri dari batu besar sebagai alas dan yang kecil sebagai pemukulnya.

3. Kue Rambut

berstektur gurih dan reyah, kue rambut menjadi kudapan khas masyarakat Nusa Tenggara Timur. Kue rambut biasanya di jadikan oleh-oleh khas Nusa Tenggara Timur di Flores. kue rambut sendiri terbuat dari tepung beras, nira, gula, garam, dan air.[2]

4. Suku di Larantuka

Salah satu suku yang berada di Larantuka adalah suku Lamaholot. Lamaholot (atau Lamkolot, Lamholot, Solor, Larantuka) adalah salah satu suku bangsa yang berdiam di dalam wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Suku Lamaholot mendiami sebagian besar wilayah kabupaten tersebut, yang meliputi bagian timur Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Lembata, Pulau Solor, dan Pulau Alor. Dalam kabupaten ini mereka hidup berdampingan dengan kelompok-kelompok lain, seperti orang Kedang, bersama dengan kelompok pendatang seperti Bugis, Makassar, Buton, serta keturunan Cina.[3]

Penulis: Alexander Pian Lamury
Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Binawan

Dosen Pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Larantuka,_Flores_Timur Diakses tanggal 15 April 2022

https://inocensiamaharia.blogspot.com/2017/12/kebudayaan-masyarakat-larantuka-flores.html Diakses tanggal 15 April 2022

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Lamaholot Diakses tanggal 15 April 2022

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI