Coba bayangkan ini: sebuah negara dengan lebih dari 270 juta penduduk, kaya akan budaya, penuh dengan orang-orang cerdas—tetapi ketika diukur kebiasaan membacanya, negara itu berada hampir di urutan paling bawah dunia. Negara itu adalah Indonesia.
Bukan hoaks. Riset dari Central Connecticut State University (CCSU) pada tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Hanya satu negara yang berada di bawah kita, yaitu Botswana. Fakta ini bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk mengajak kita bertanya: ada apa sebenarnya dengan budaya membaca kita?
Masalah ini bukan sekadar soal hobi. Ketika orang malas membaca, kemampuan berpikir kritisnya melemah, mudah termakan hoaks, dan sulit berkembang. Singkatnya, rendahnya budaya baca berdampak langsung pada kualitas bangsa secara keseluruhan. Lalu apa saja akar masalahnya? Mari kita bahas satu per satu.
Seberapa Parah Kondisi Literasi Kita?
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2021 mencatat, bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca 0 sampai 1 buku per tahun. Coba bandingkan dengan orang Jepang yang rata-rata membaca 10 hingga 20 buku per tahun. Atau dengan warga Finlandia yang sistem pendidikannya sangat menghargai literasi sehingga anak-anak di sana tumbuh menjadi pembaca yang aktif sejak kecil.
Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2022—ujian internasional yang mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun—menempatkan Indonesia di peringkat 68 dari 81 negara dalam kemampuan membaca. Lebih dari 53% anak usia 10 tahun di Indonesia tidak bisa membaca dan memahami teks sederhana. Bank Dunia menyebut kondisi ini sebagai “learning poverty” atau kemiskinan belajar.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 juga menunjukkan, bahwa hanya 32,7% penduduk Indonesia yang membaca buku dalam seminggu terakhir. Sementara itu, 77% penduduk sudah aktif menggunakan internet—sebagian besar untuk media sosial dan hiburan. Kita lebih banyak scroll daripada membaca. Lebih banyak menonton daripada berpikir.
Yang menarik untuk direnungkan: Indonesia sebenarnya bukan bangsa yang tidak suka belajar. Kita adalah bangsa yang gemar bercerita, berdiskusi, dan berbagi lewat tutur kata. Masalahnya, kebiasaan itu belum berhasil bertransformasi menjadi kebiasaan membaca buku. Kita masih terjebak di budaya lisan, sementara dunia sudah menuntut kemampuan literasi yang jauh lebih dalam.
5 Akar Masalah Rendahnya Budaya Membaca
Akar Pertama: Sekolah yang Membuat Anak Benci Membaca
Salah satu penyebab terbesar rendahnya minat baca adalah cara sekolah mengajarkan membaca. Selama bertahun-tahun, membaca di sekolah identik dengan buku teks yang tebal, membosankan, dan penuh hafalan. Anak-anak diwajibkan membaca lalu diuji dengan soal pilihan ganda. Tidak heran jika membaca akhirnya terasa seperti hukuman, bukan kesenangan.
John Dewey, seorang ahli pendidikan yang sangat berpengaruh, sudah lama mengingatkan, bahwa pendidikan yang baik harus berangkat dari minat anak, bukan dari paksaan. Kalau anak tidak merasa tertarik, semua yang masuk ke kepala mereka hanya akan bertahan sampai ujian selesai—lalu hilang begitu saja.
Data dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi tahun 2021 mengungkapkan, bahwa hanya 21% sekolah di Indonesia yang punya program membaca yang berjalan secara rutin dan teratur. Perpustakaan sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk membaca, kondisinya masih memprihatinkan. Perpustakaan Nasional RI (2022) mencatat, bahwa lebih dari 60% perpustakaan sekolah belum memenuhi standar koleksi buku minimum yang ditetapkan pemerintah.
Akar ke Dua: Di Rumah pun Tidak Ada Budaya Baca
Kebiasaan membaca tidak tiba-tiba muncul dari sekolah saja. Ia tumbuh dari rumah. Albert Bandura, seorang psikolog terkenal, menjelaskan, bahwa anak-anak belajar dengan meniru orang-orang di sekitar mereka—terutama orang tua. Kalau di rumah tidak ada buku, orang tua tidak pernah terlihat membaca, dan tidak ada kebiasaan cerita sebelum tidur—maka sangat sulit berharap anak akan tumbuh jadi pembaca yang gemar.
Sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal Early Childhood Education Journal (2020) menemukan, bahwa anak-anak yang sering dibacakan buku oleh orang tua sejak kecil tumbuh dengan kemampuan bahasa, pemahaman bacaan, dan kecerdasan emosional yang jauh lebih baik. Membacakan buku untuk anak bukan sekadar kegiatan pengisi waktu—itu adalah investasi yang hasilnya terasa bertahun-tahun kemudian.
Sayangnya, survei Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (RI) pada tahun 2022 menunjukkan, bahwa rata-rata rumah tangga di Indonesia hanya memiliki 1 sampai 3 buku—dan sebagian besar adalah buku pelajaran, bukan buku bacaan pilihan. Tradisi mendongeng yang dulu kuat dalam budaya kita kini perlahan tergantikan oleh layar televisi dan video pendek di telepon selular.
Akar ke Tiga: Gempuran Candu Digital dan Smartphone
Jujur saja: membaca buku kini harus bersaing dengan sesuatu yang jauh lebih menggoda—yaitu smartphone. TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai aplikasi hiburan lainnya dirancang khusus untuk membuat kita betah berlama-lama dan terus-menerus kembali. Para ahli teknologi menyebut ini sebagai “attention economy“—perang perebutan perhatian, di mana setiap aplikasi berlomba-lomba menguras waktu kita sebanyak mungkin.
Laporan We Are Social (2024) mencatat, bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 7 jam 38 menit per hari di internet. Dari jumlah itu, 3 jam 14 menit digunakan untuk media sosial saja. Membaca buku yang butuh fokus dan kesabaran jelas tidak bisa bersaing dengan konten hiburan yang bisa dinikmati sambil rebahan dan bisa langsung diganti kalau bosan.
Baca juga: Pemanfaatan Teknologi sebagai Media Perkembangan Membaca Anak
Nicholas Carr, penulis buku The Shallows (2010), memperingatkan, bahwa kebiasaan mengonsumsi konten yang cepat dan pendek-pendek di internet lama-lama mengubah cara kerja otak kita. Kita jadi susah fokus membaca teks yang panjang, mudah bosan, dan tidak terbiasa berpikir dalam-dalam. Ini bukan teori belaka—penelitian di bidang ilmu saraf sudah membuktikannya.
Ironinya, kita hidup di zaman di mana informasi paling mudah didapat sepanjang sejarah manusia—tapi justru di zaman inilah kita paling jarang membaca secara serius. Kita banyak scroll, sedikit memahami. Banyak melihat, sedikit berpikir.
Akar ke Empat: Akses Sulit dan Harga Buku yang Mahal
Tidak semua orang malas membaca karena tidak mau—sebagian memang tidak punya akses. Data Perpustakaan Nasional RI (2023) menunjukkan bahwa dari 83.436 desa dan kelurahan di Indonesia, hanya sekitar 17.000 yang punya perpustakaan desa yang aktif. Artinya, lebih dari 79% wilayah desa dan kelurahan di seluruh Indonesia tidak punya perpustakaan publik yang bisa digunakan warganya.
Harga buku juga masih jadi penghalang. Berdasarkan data IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tahun 2022, harga buku bacaan populer di Indonesia rata-rata berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp150 ribu. Bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan, uang segitu lebih baik dipakai beli beras atau bayar listrik. Bandingkan dengan negara-negara seperti Jerman atau Belanda, di mana buku tersedia dalam edisi murah dan perpustakaan publik buka setiap hari dengan koleksi yang lengkap dan gratis untuk semua.
Baca juga: Menelisik Berkembangnya Buku Bajakan di Indonesia
Pestalozzi, tokoh pendidikan modern, percaya bahwa pengetahuan harus bisa diakses oleh semua orang—bukan hanya mereka yang punya uang. Selama buku masih menjadi barang mahal dan perpustakaan masih langka, maka membaca akan terus jadi keistimewaan, bukan kebiasaan umum.
Akar ke Lima: Jebakan Kuatnya Budaya Lisan
Ada satu akar masalah yang jarang dibahas: Indonesia adalah bangsa dengan budaya lisan yang sangat kuat. Nenek moyang kita mewariskan pengetahuan dan nilai-nilai lewat cerita, pantun, syair, wayang, dan berbagai tradisi tutur lainnya—bukan lewat tulisan. Ini bukan kekurangan, ini kekayaan budaya yang luar biasa.
Namun persoalannya, dunia modern menuntut kemampuan membaca dan menulis sebagai modal utama untuk maju. Dan perpindahan dari “budaya lisan” ke “budaya tulis” tidak terjadi secara otomatis—ia butuh waktu, kebijakan yang tepat, dan lingkungan yang mendukung. Walter Ong, seorang ahli komunikasi, dalam bukunya Orality and Literacy (1982) menjelaskan, bahwa masyarakat yang lama hidup dalam tradisi lisan memiliki cara berpikir yang berbeda, dan transisi ke budaya tulisan membutuhkan proses yang tidak bisa dipaksakan dalam semalam.
Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menjembatani keduanya. Bukan dengan membuang tradisi lisan kita, tetapi dengan menghubungkannya ke dunia tulisan—misalnya lewat buku-buku cerita rakyat lokal, konten literasi digital yang berakar pada budaya kita sendiri, atau program mendongeng yang kemudian dipadukan dengan aktivitas membaca.
Sudut Pandang Iman: Membaca adalah Tanggung Jawab
Dari sudut pandang iman Kristen, mencari pengetahuan dan hikmat bukan sekadar kebutuhan duniawi—itu adalah panggilan rohani. Amsal 4:7 berkata: “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian.” Dan Hosea 4:6 mengingatkan dengan keras: “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah.” Ketidaktahuan membawa kehancuran—dan membaca adalah salah satu jalan untuk melawan ketidaktahuan itu.
Maria Montessori, pendidik besar yang karyanya masih relevan hingga hari ini, pernah mengatakan,bahwa setiap anak lahir dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia. Tugas orang tua dan guru adalah menjaga rasa ingin tahu itu tetap hidup—bukan memadamkannya dengan tekanan dan hafalan. Membaca adalah cara terbaik untuk memelihara rasa ingin tahu sepanjang hidup.
Baca juga: Bagaimana Anak Mengembangkan Kemampuan dan Kreativitasnya dalam Model Teori Maria Montessori?
Gereja, lembaga keagamaan, dan sekolah-sekolah Kristen di Indonesia punya potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk membangun budaya membaca. Dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok daerah, lembaga-lembaga ini bisa menjadi pusat literasi yang menjangkau masyarakat yang tidak terjangkau oleh perpustakaan pemerintah.
Langkah Nyata Membangun Budaya Membaca
Membangun budaya membaca tidak bisa diselesaikan dengan satu kampanye atau satu program saja. Ini butuh kerja bersama dari banyak pihak secara terus-menerus. Ada lima langkah konkret yang perlu dijalankan sekaligus.
Baca juga: Menumbuhkan Budaya Literasi dalam Diri Sendiri: Cara Efektif Meningkatkan Minat Baca dan Pengetahuan
Pertama, sekolah harus mengubah cara mengajarkan membaca—dari kewajiban menjadi kesenangan. Sediakan buku-buku cerita yang menarik dan sesuai usia anak, bukan hanya buku pelajaran. Kedua, perkuat perpustakaan publik dan sekolah agar benar-benar nyaman, lengkap, dan mudah dijangkau—termasuk di daerah terpencil. Ketiga, dorong orang tua untuk membangun kebiasaan membaca bersama anak di rumah sejak dini—mulai dari hal sederhana seperti membacakan cerita sebelum tidur. Keempat, manfaatkan teknologi secara cerdas: buat konten literasi digital yang menarik dan mudah diakses, sehingga handphone tidak selalu menjadi musuh membaca. Kelima, turunkan harga buku lewat kebijakan pemerintah—seperti membebaskan pajak buku—agar buku bisa dijangkau oleh semua kalangan, tidak hanya yang mampu.
Kesimpulan
Rendahnya budaya membaca di Indonesia bukan karena orang Indonesia bodoh atau malas. Ada banyak akar masalah yang saling berkaitan: sekolah yang tidak membangun cinta baca, keluarga yang belum menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan membaca, gempuran konten digital yang menguras perhatian, keterbatasan akses dan mahalnya harga buku, serta proses peralihan dari budaya lisan ke budaya tulis yang belum selesai.
Data dari CCSU, UNESCO, PISA, BPS, hingga We Are Social semuanya menunjukkan hal yang sama: ini adalah masalah serius yang butuh perhatian sungguh-sungguh. Bukan cukup dengan kampanye sehari lalu selesai. Yang dibutuhkan adalah perubahan nyata di sekolah, di rumah, di kebijakan pemerintah, dan di cara kita menggunakan teknologi sehari-hari.
Frederick Douglass, tokoh pejuang kebebasan dari Amerika, pernah berkata: “Jika kamu bisa membaca, kamu akan selamanya merdeka.” Indonesia sudah hampir delapan puluh tahun merdeka secara politik. Sudah waktunya kita merebut kemerdekaan yang satu lagi—kemerdekaan berpikir. Dan itu dimulai dari satu buku yang kita buka hari ini.
Penulis: Esrani Siregar
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen, Sekolah Tinggi Teologi Bethel Medan
Dosen Pengampu: Renny Maria M.Pd.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












