Pendidikan merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, setiap negara memiliki cara yang berbeda dalam mengelola pendidikan, mulai dari kurikulum, proses pembelajaran, peran guru, hingga dukungan terhadap peserta didik.
Finlandia sering menjadi perhatian dalam pembahasan pendidikan internasional. Bukan semata-mata karena dapat disebut sebagai negara dengan “sistem pendidikan terbaik di dunia”, melainkan karena sejumlah karakteristik sistem pendidikannya menarik untuk dipelajari.
Data OECD melalui PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan siswa Finlandia masih berada di atas rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Sebanyak 75 persen siswa Finlandia mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika, 79 persen dalam membaca, dan 82 persen dalam sains. Namun, hasil tersebut juga menunjukkan bahwa performa pendidikan Finlandia mengalami sejumlah penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Karena itu, Finlandia lebih tepat dipandang sebagai salah satu sistem pendidikan yang memiliki praktik menarik untuk dipelajari, bukan sebagai model yang sempurna dan dapat diterapkan begitu saja di semua negara.
Mengenal Sistem Pendidikan Finlandia
Sistem pendidikan Finlandia terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah atas umum, pendidikan kejuruan, pendidikan tinggi, serta pendidikan orang dewasa. Pendidikan wajib berlaku bagi anak berusia 6–18 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar selama sembilan tahun, siswa dapat melanjutkan ke pendidikan menengah atas umum atau pendidikan kejuruan.
Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana pendidikan tidak hanya berorientasi pada hasil ujian. Lingkungan belajar, dukungan terhadap siswa, serta peran guru juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Dalam PISA 2022, misalnya, 78 persen siswa Finlandia mengatakan bahwa guru memberikan bantuan tambahan ketika mereka membutuhkannya. Selain itu, 79 persen siswa menyatakan merasa memiliki rasa memiliki terhadap sekolah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan nilai akademik, tetapi juga dengan bagaimana siswa mengalami proses belajar.
Guru Memiliki Ruang untuk Mengembangkan Pembelajaran
Salah satu karakteristik yang menarik dari pendidikan Finlandia adalah adanya ruang bagi sekolah dan guru dalam mengambil keputusan terkait pembelajaran.
Data PISA 2022 menunjukkan bahwa 84 persen siswa Finlandia berada di sekolah yang memberikan tanggung jawab utama kepada guru dalam memilih bahan pembelajaran. Pada saat yang sama, 57 persen siswa berada di sekolah yang kepala sekolahnya memiliki tanggung jawab utama dalam perekrutan guru.
Artinya, guru tidak semata-mata ditempatkan sebagai pelaksana instruksi. Mereka memiliki ruang untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah.
Hal ini menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan ketika membahas kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan mengganti kurikulum. Kompetensi, kepercayaan, serta kemampuan guru dalam menjalankan proses pembelajaran juga memiliki peran penting.
Belajar Tidak Harus Selalu Duduk Diam
Pembelajaran di kelas tidak harus selalu berlangsung dengan pola guru berbicara sementara siswa hanya mendengarkan.
Dalam buku Teach Like Finland, Timothy D. Walker membagikan pengalaman ketika mengajar di Finlandia. Ia menyoroti sejumlah praktik yang menurut pengalamannya berbeda dengan kebiasaan mengajar yang sebelumnya ia temui di Amerika Serikat.
Salah satu gagasan yang menarik adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk bergerak dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Aktivitas belajar dapat dirancang agar siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berdiskusi, mempresentasikan hasil pemikiran, berpindah tempat, atau mengerjakan aktivitas yang membuat mereka terlibat langsung.
Pendekatan semacam ini dapat membantu pembelajaran menjadi lebih dinamis. Namun, praktik tersebut tidak berarti bahwa semua pembelajaran harus dilakukan dengan cara yang sama. Metode tetap perlu disesuaikan dengan usia siswa, tujuan pembelajaran, dan materi yang sedang dipelajari.
Istirahat Juga Bagian dari Proses Belajar
Dalam pengalaman Walker, jeda istirahat di antara pembelajaran menjadi salah satu hal yang menarik perhatiannya.
Istirahat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berhenti sejenak dari aktivitas akademik, bergerak, berinteraksi dengan teman, atau sekadar memulihkan konsentrasi sebelum kembali belajar.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak harus dipahami sebagai kegiatan belajar tanpa henti. Kemampuan siswa untuk berkonsentrasi juga perlu diperhatikan.
Bagi sekolah, persoalannya bukan sekadar berapa lama siswa berada di ruang kelas, tetapi bagaimana waktu tersebut digunakan secara efektif.
Pekerjaan Rumah Tidak Harus Berlebihan
Ada anggapan bahwa siswa di Finlandia sama sekali tidak mendapatkan pekerjaan rumah. Anggapan tersebut tidak tepat.
Dalam pengalaman Walker, pekerjaan rumah tetap diberikan, tetapi relatif terbatas dan dirancang agar siswa dapat menyelesaikannya secara mandiri.
Hal yang dapat dipelajari bukan berarti bahwa pekerjaan rumah harus dihilangkan. Persoalannya adalah apakah tugas yang diberikan memang membantu siswa memahami materi atau justru membuat mereka terbebani oleh pekerjaan akademik yang berlebihan.
Dengan demikian, tugas sekolah sebaiknya memiliki tujuan yang jelas. Siswa perlu memahami mengapa sebuah tugas diberikan dan kemampuan apa yang ingin dikembangkan melalui tugas tersebut.
Lingkungan Belajar Juga Perlu Diperhatikan
Proses belajar tidak hanya dipengaruhi oleh guru dan materi pelajaran. Lingkungan fisik tempat siswa belajar juga dapat memengaruhi pengalaman mereka.
Ruang kelas yang terlalu penuh dengan berbagai benda, misalnya, dapat membuat perhatian siswa mudah teralihkan. Sebaliknya, ruang yang tertata dengan baik dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman.
Dalam pengalaman Walker, kesederhanaan ruang kelas menjadi salah satu praktik yang ia soroti.
Hal tersebut bukan berarti ruang kelas harus selalu kosong. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap elemen yang berada di dalam ruang memiliki fungsi dan tidak mengganggu proses pembelajaran.
Belajar di Luar Kelas
Pembelajaran juga tidak selalu harus berlangsung di dalam ruangan.
Dalam pengalaman Walker, kegiatan belajar di alam menjadi salah satu pengalaman yang menarik. Aktivitas luar ruang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung, bekerja sama, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Pembelajaran seperti ini juga dapat menjadi variasi dari kegiatan akademik yang berlangsung di kelas.
Namun, kegiatan luar ruang tetap perlu dirancang dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Membawa siswa keluar kelas saja belum tentu menghasilkan pembelajaran yang lebih baik apabila aktivitas tersebut tidak memiliki tujuan dan evaluasi yang jelas.
Finlandia Tidak Sempurna, tetapi Ada yang Bisa Dipelajari
Penting untuk tidak memandang Finlandia sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan tanpa masalah.
PISA 2022 menunjukkan bahwa Finlandia memang masih berada di atas rata-rata OECD dalam tiga bidang yang diukur, tetapi terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Misalnya, 23 persen siswa berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan bahwa kekurangan tenaga pengajar menghambat kapasitas pembelajaran. Sebanyak 13 persen juga berada di sekolah yang melaporkan kekurangan atau kualitas tenaga pengajar yang tidak memadai.
Selain itu, kesenjangan sosial-ekonomi tetap memengaruhi capaian siswa. Dalam matematika, siswa dari kelompok sosial-ekonomi paling diuntungkan mengungguli kelompok paling kurang diuntungkan sebesar 83 poin.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sistem pendidikan Finlandia juga menghadapi persoalan. Karena itu, membandingkan pendidikan Indonesia dan Finlandia seharusnya tidak dilakukan dengan cara sederhana seperti meniru satu kebijakan lalu menganggap persoalan pendidikan akan selesai.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Ada beberapa prinsip yang lebih relevan untuk dipelajari daripada sekadar meniru bentuk sistem pendidikan Finlandia.
Pertama, guru perlu memiliki kompetensi dan ruang untuk mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.
Kedua, siswa perlu ditempatkan sebagai peserta aktif dalam proses belajar, bukan hanya penerima informasi.
Ketiga, keseimbangan antara belajar dan istirahat perlu diperhatikan agar proses pendidikan tidak hanya mengejar banyaknya materi.
Keempat, tugas dan evaluasi sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar menambah beban siswa.
Kelima, lingkungan belajar perlu dirancang agar mendukung konsentrasi, interaksi, dan kenyamanan siswa.
Terakhir, setiap kebijakan pendidikan harus mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, budaya, geografis, serta sumber daya yang dimiliki Indonesia. Sistem yang berhasil di Finlandia tidak otomatis dapat diterapkan dengan cara yang sama di Indonesia.
Pembahasan mengenai budaya literasi, misalnya, juga perlu ditempatkan dalam konteks lingkungan pendidikan Indonesia sendiri. Yang terpenting bukan sekadar meniru program dari negara lain, tetapi memahami prinsip yang membuat suatu praktik berhasil kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal.
Penutup
Finlandia menarik untuk dipelajari bukan karena memiliki sistem pendidikan yang sempurna, melainkan karena negara tersebut menunjukkan sejumlah pendekatan yang dapat menjadi bahan refleksi.
Pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar kurikulum dan ujian. Guru yang kompeten, siswa yang terlibat aktif, lingkungan belajar yang mendukung, waktu istirahat yang cukup, serta kebijakan yang memperhatikan kebutuhan siswa merupakan bagian dari proses pendidikan yang saling berkaitan.
Indonesia tentu tidak harus menjadi Finlandia. Yang lebih penting adalah menemukan cara agar praktik-praktik pendidikan yang baik dapat diterapkan sesuai dengan kondisi Indonesia.
Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “mengapa Finlandia memiliki pendidikan terbaik?”, melainkan “apa yang dapat kita pelajari dari Finlandia untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia?”
Annisa Rahma
Mahasiswi IAIN Pekalongan
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















