Dalam kehidupan sosial, kita sering dihadapkan pada berbagai kontroversi dan permasalahan yang meresahkan, salah satunya adalah kasus bullying. Nah pada artikel ini kita akan mengkaji mengenai bagaimana bullying dalam perspektif Islam. Semoga bermanfaat!
Fenomena ini, yang kian marak terjadi di berbagai lapisan masyarakat, pada dasarnya berakar dari perbedaan fitrah atau kodrat yang dimiliki setiap individu. Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ dengan keunikan masing-masing, baik dari segi suku, ras, pola pikir, hingga karakter.
Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan dan anugerah. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menghargai dan memahami, bukan justru menggunakan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk menindas atau merendahkan orang lain.
Sikap mencaci maki dan menindas yang menjadi inti dari bullying adalah cerminan dari terkikisnya akhlak mulia. Bullying tidak hanya menyakiti fisik, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada batin dan mental korban.
Efeknya bisa bertahan seumur hidup, merusak kepercayaan diri dan rasa aman seseorang. Mengumpamakan hati korban seperti selembar kertas putih yang diremas, meskipun ia bisa kembali ke bentuk semula, kerutan dan bekas remasan akan tetap ada, tidak pernah bisa kembali mulus seperti sediakala.
Analogi ini menggambarkan betapa seriusnya dampak psikologis yang ditimbulkan oleh perbuatan bullying.
Islam, sebagai agama rahmatan lil alamin, menawarkan solusi dan pedoman yang jelas untuk menghadapi permasalahan ini. Larangan untuk menyakiti sesama, baik lisan maupun perbuatan, adalah salah satu ajaran fundamental dalam Islam.
Dengan selalu mengingat firman Allah ﷻ dan hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang menyeru pada kebaikan dan melarang keburukan, kita dapat membentengi diri dari perilaku tercela ini.
Islam mengajarkan pentingnya mengendalikan amarah, berkata yang baik atau diam, dan selalu berbuat ihsan. Kesadaran akan pengawasan Allah ﷻ adalah kunci untuk menumbuhkan empati dan menghentikan rantai perundungan.
Baca juga: Bullying di Lingkungan Kampus: Ancaman Tersembunyi bagi Kesejahteraan Mahasiswa
Fitrah Manusia dan Kasus Bullying
Dalam kehidupan, banyak sekali tantangan dan permasalahan sosial yang muncul, salah satunya adalah kasus bullying. Fenomena ini bisa terjadi karena perbedaan fitrah, kodrat, atau bawaan lahir yang dimiliki setiap individu. Kita semua diciptakan oleh Allah ﷻ dalam bentuk yang sebaik-baiknya, namun dengan perbedaan yang begitu kaya—mulai dari suku, agama, ras, hingga pola pikir dan sikap.
Allah ﷻ telah berfirman dalam Al-Qur’an,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar Rum [30]: 30).
Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya menerima dan menghargai fitrah setiap manusia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita saling memahami dan mengerti satu sama lain, karena pandangan Islam tentang bullying sangat jelas melarang perbuatan tersebut.
Baca juga: Dampak Bullying dan Hate Speech pada Mental Generasi Muda
Mengenal Bullying dan Dampaknya dalam Pandangan Islam
Bullying menurut Islam adalah tindakan tercela yang mencakup perbuatan mencaci maki, menghakimi, dan menindas seseorang, baik secara fisik maupun psikis.
Perbuatan ini bisa dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja, namun dampaknya selalu sama: menyakiti korban secara fisik, hati, dan mental.
Di era modern ini, kasus perundungan dalam Islam menjadi isu yang sangat relevan dan sering terjadi, tidak hanya di sekolah tetapi juga di berbagai lingkungan lain seperti tempat kerja atau masyarakat luas.
Untuk memahami seberapa dalam dampak bullying, mari kita ibaratkan hati seseorang seperti selembar kertas putih yang mulus. Ketika seseorang melakukan bullying—entah itu dengan kata-kata kasar atau tindakan menyakitkan—kertas itu diremas dan diberi noda.
Meskipun korban akhirnya memaafkan, dan “kertas” itu berusaha dikembalikan ke bentuk semula, ia tidak akan pernah bisa semulus dan sebersih sebelumnya. Akan selalu ada bekas remasan dan noda yang membekas.
Inilah yang terjadi pada mental dan hati korban. Meskipun ia memaafkan, bekas luka batin itu akan tetap ada, dan ini adalah hal yang sangat dilarang dalam ajaran agama kita.
Baca juga: Perlindungan Anak dari Cyberbullying pada Era Baru
Mengapa Islam Melarang Bullying?
Dalam ajaran Islam, segala bentuk perbuatan yang menyakiti orang lain sangat dilarang. Ada banyak dalil dan hadits tentang bullying yang menunjukkan betapa seriusnya larangan ini. Hukum bullying dalam Islam adalah haram, karena perbuatan ini bertentangan dengan prinsip kasih sayang, persaudaraan, dan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menelantarkannya, tidak boleh mendustakannya, dan tidak boleh menghinakannya.” (HR. Muslim).
Hadits ini secara gamblang menjelaskan bahwa membully dalam Islam adalah tindakan menzalimi dan menghina saudara seiman, yang mana itu adalah perbuatan yang sangat dilarang.
Selain itu, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengendalikan amarah. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.,
Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika sedang marah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, cara menghadapi pembully menurut Islam salah satunya adalah dengan menahan amarah dan tidak terpancing untuk membalas dengan perbuatan yang serupa.
Hadits larangan membully lainnya juga sangat kuat. Salah satunya adalah anjuran untuk berkata baik atau diam.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi landasan kuat bahwa hukum membully dalam islam adalah perbuatan yang bertentangan dengan iman.
Cara Mencegah dan Mengatasi Bullying Menurut Ajaran Islam
Mengingat seriusnya larangan bullying dalam Islam, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengatasi perbuatan ini:
1. Memahami Akhlak Nabi Muhammad ﷺ
Salah satu cara menghadapi bully menurut Islam yang paling efektif adalah dengan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau adalah sosok yang penuh kasih sayang, pemaaf, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan.
Dalam menghadapi para pembully, kita bisa memilih untuk bersabar, mendoakan kebaikan bagi mereka, dan jika perlu, mencari bantuan dari orang yang lebih berwenang.
2. Selalu Beristigfar dan Mengingat Kehadiran Allah ﷻ
Setiap kali muncul keinginan untuk marah atau melukai hati orang lain, seorang Muslim diajarkan untuk selalu beristigfar. Dengan mengingat Allah ﷻ, kita akan sadar bahwa Dia selalu melihat perbuatan kita.
Sebagaimana dalam hadits Ihsan, Rasulullah SAW bersabda, “Beribadahlah engkau kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihat engkau” (HR. Muslim). Kesadaran ini akan menjadi rem yang kuat untuk mencegah niat buruk, karena hukum pembullyan dalam Islam adalah dosa besar.
3. Edukasi dan Peran Lingkungan
Pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga seluruh komunitas. Di lingkungan sekolah, misalnya, para guru memiliki peran penting untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang bullying dalam agama Islam.
Guru harus mencontohkan akhlak mulia dan mengingatkan siswa bahwa perilaku bullying adalah perbuatan yang tidak baik.
Ceramah tentang bullying dalam Islam atau kultum tentang bullying dalam Islam dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan ini. Dengan memasukkan dalil dan hadits, siswa akan memahami bahwa larangan ini bukan hanya aturan sosial, melainkan juga bagian dari perintah agama.
4. Membangun Sifat Pemaaf dan Kebaikan
Islam mengajarkan kita untuk menjadi pemaaf dan selalu berbuat baik kepada sesama. Meskipun korban bully dalam pandangan Islam berhak untuk merasa sakit hati, ajaran Islam mendorongnya untuk memaafkan.
Di sisi lain, pelaku harus dengan tulus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Kesimpulan: Menghindari Bullying
Mengaitkan antara bullying dengan profil pelajar muslim sangatlah penting. Seorang pelajar Muslim sejati adalah mereka yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia.
Mereka tidak akan pernah melakukan bullying, karena mereka sadar bahwa perbuatan itu dibenci oleh Allah ﷻ dan akan membawa mereka kepada azab yang pedih di akhirat.
Sebagai penutup, marilah kita jadikan pandangan islam terhadap bullying sebagai landasan untuk membangun masyarakat yang lebih damai dan penuh kasih sayang. Mari kita hindari membully orang, baik dengan lisan maupun perbuatan.
Dengan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi semua orang, di mana setiap individu merasa dihargai dan dihormati.
Tim Penulis:
1. Arifianto Syahalief Rachman
Mahasiswa Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia
2. Nur Zaytun Hasanah
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












