Generasi Z (Gen Z) adalah mereka yang lahir sekitar tahun 1997 sampai 2012 dan sering disebut sebagai generasi yang paling terbuka soal kesehatan mental. Kita semua berani bicara tentang anxiety, depresi, dan pentingnya self-care. Namun, ada satu hal ironis di balik keterbukaan ini bahwa sebenarnya justru Gen Z yang paling banyak mengalami masalah kesehatan mental.
Aneh, kan? Bagaimana mungkin generasi yang paling sadar, malah menjadi yang paling menderita? Jawabannya ada pada tekanan lingkungan kita, yang didominasi media sosial dan tuntutan yang luar biasa.
Media Sosial: Perbandingan yang Bikin Capek
Kita adalah digital natives. Kita tumbuh saat smartphone dan media sosial sudah ada. Ironisnya, alat yang seharusnya mendekatkan kita justru sering membuat kita merasa sendirian.
Media sosial adalah tempat semua orang memamerkan momen terbaik hidupnya. Kita terjebak dalam membandingkan realitas diri kita yang biasa saja dengan versi digital orang lain yang sudah diedit.
Hal ini memicu Fear of Missing Out (FOMO) dan rasa cemas sosial. Survei McKinsey Health Institute (2023) menunjukkan, lebih dari sepertiga Gen Z menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari di media sosial, dan ini sangat berkaitan dengan meningkatnya rasa cemas.
Tuntutan Hidup yang Keterlaluan
Generasi kita menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tantangan besar, seperti perubahan iklim. Sejak muda, kita sudah dibebani tuntutan untuk “harus sukses” dan “harus hebat.”
Tekanan untuk berprestasi di sekolah dan kerja sangat tinggi. Dampaknya terlihat jelas. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kemenkes 2023, kelompok usia 15-24 tahun (Gen Z) memiliki angka kasus depresi tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 2%.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya burnout (kelelahan ekstrem) dan dorongan untuk bekerja keras tanpa henti sudah dianggap wajar. Kita dipaksa menjadi generasi yang terlalu ambisius di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Baca juga: Apa yang Menyebabkan Gen Z Berambisi terhadap Pendidikan Tinggi?
Tahu Masalahnya, Sulit Mendapat Bantuan
Ironi lain adalah: kita tahu apa itu terapi, tapi susah mendapatkannya.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menemukan, sekitar satu dari tiga remaja Indonesia punya masalah kesehatan mental. Meskipun kita sadar, layanan psikolog atau konseling profesional itu mahal dan tidak selalu terjangkau.
Selain itu, banyak daerah yang kekurangan tenaga profesional. Seringkali, kita malah mencoba mendiagnosis diri sendiri (self-diagnosis) lewat internet, yang justru bisa menambah kecemasan.
Mengubah Obrolan Menjadi Solusi
Untuk mengakhiri ironi ini, kita tidak boleh hanya sekadar ngobrol. Kita harus bergerak ke solusi nyata:
- Sekolah dan kampus harus menjadikan literasi emosional dan manajemen stres sebagai mata pelajaran penting, bukan cuma kegiatan tambahan.
- Pemerintah harus memastikan biaya layanan kesehatan mental ditanggung oleh asuransi, sama seperti biaya sakit fisik.
- Kita sendiri perlu berani membuat batasan digital yang sehat. Penting untuk diingat bahwa proses dan kemajuan diri jauh lebih penting daripada kesempurnaan yang dipamerkan di media sosial.
Gen Z sudah berhasil membuka pintu pembicaraan tentang mental health. Sekarang, tugas kita adalah memastikan pembicaraan ini menghasilkan sistem dukungan yang kuat, sehingga kita tidak lagi menjadi generasi yang paling sadar sekaligus yang paling sakit.
Penulis: Roro Lintang Aningtyas (20825027)
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












