Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku menyakiti diri sendiri tanpa adanya niat bunuh diri (NSSI) meningkat secara signifikan, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda.
Hasil meta-analisis yang dilakukan oleh Farkes et al., (2024) menunjukkan bahwa perilaku NSSI masih menjadi masalah kesehatan mental yang signifikan di kalangan remaja di seluruh dunia. Fenomena seperti ini tidak dapat dipahami hanya sebagai gangguan psikologis individu, tetapi juga respons terhadap tekanan sosial dan sistemik yang dihadapi individu.
Menurut Chen et al. (2023), tekanan akademik yang tinggi serta lingkungan yang kompetitif merupakan faktor pemicu perilaku NSSI melalui mediator depresi dan kecemasan. Dalam sistem pendidikan kompetitif, individu sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk selalu berhasil dan memenuhi ekspektasi orang tua maupun lingkungan sosial. Tuntutan ini dapat menimbulkan stress, kecemasan, dan rasa tidak berdaya ketika individu tidak mampu mencapai standar yang ditetapkan.
Sistem pendidikan yang menekankan pada penilaian, tes dan hasil belajar seringkali mengabaikan kesejahteraan emosional individu, sehingga berdampak pada kesehatan mental dan kepuasan hidup (Hogberg et al., 2019).
Dengan demikian meningkatnya perilaku NSSI dapat dipahami sebagai refleksi dari sistem pendidikan yang terlalu menekankan pencapaian akademik tanpa mempertimbangkan kebutuhan psikologis individu.
Di tengah tekanan akademik yang meningkat, NSSI muncul sebagai mekanisme untuk mengatur stress dan emosi negatif. Ketika individu merasa gagal dalam memenuhi standar sosial dan akademik, perilaku ini digunakan sebagai mekanisme koping.
Secara global, Farkes et al. (2024) melaporkan bahwa 16% remaja pernah melakukan perilaku melukai diri sendiri. Sementara di Indonesia, Tresno et al. (2012) melaporkan bahwa 38% mahasiswa pernah melakukan NSSI dengan 21% diantara mereka pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Perilaku ini muncul sebagai respons terhadap tekanan emosional yang tidak mampu diungkapkan atau dikendalikan, kesulitan sosial, serta persepsi ketidakadilan di sekolah (Kidger et al., 2015).
Selain faktor individu, NSSI juga dipengaruhi oleh tekanan sosial, tekanan akademik serta kurangnya dukungan emosional dari lingkungan sekolah (Evans & Hurrel, 2016).
Dengan demikian, NSSI menjadi bentuk pelampiasan atau mekanisme koping terhadap stres, ketidakberdayaan, dan ketegangan emosional yang bersumber dari lingkungan sekolah yang menekan atau tidak aman secara psikologis.
Baca Juga: The Psychology behind Emotional Reactions and Self-Control
Meskipun kasus NSSI relatif tinggi, pemahaman mengenai risiko dan intervensi masih terbatas. Banyak individu enggan mencari bantuan karena stigma, rasa malu, atau kurangnya dukungan sosial (Lustig et al., 2021; Waller et al., 2023).
Hal ini menunjukkan bahwa NSSI tidak dapat dilihat hanya sebagai masalah pribadi, melainkan juga kegagalan struktur pendidikan yang menekankan kompetisi tanpa memperhatikan kesehatan mental individu.
Sistem pendidikan yang kompetitif menunjukkan bentuk penindasan. Individu didorong untuk bersaing, berprestasi dan memenuhi standar nilai tanpa mempertimbangkan kondisi emosional atau kebutuhan psikologis mereka.
Tekanan yang terus menerus membuat mereka merasa tidak berdaya, cemas dan terasing dari dirinya sendiri.
Menurut Freire, tekanan ini menciptakan keadaan dimana individu tidak lagi menjadi subjek yang bebas tetapi objek dari sistem pendidikan yang menuntut kesempurnaan.
Fenomena NSSI yang terjadi khususnya dikalangan remaja dan dewasa menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana masyarakat memahami kondisi psikologis yang tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dari sisi klinis, perilaku NSSI sering dianggap sebagai gangguan dalam mengendalikan emosi yang membutuhkan penanganan yang serius.
Baca Juga: Building Self-Image: More Than Just an Online Picture
Sementara dalam pandangan masyarakat, perilaku tersebut sering diberi label negatif, seperti lemah, mencari perhatian atau tidak waras.
Pemahaman yang demikian menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara pendekatan medis, psikologis dan sosial terhadap fenomena yang sebenarnya sangat kompleks (Klonsky, 2014).
Ian Parker (2015) berpendapat bahwa psikologi sering melihat penderitaan manusia sebagai masalah pribadi tanpa memperhatikan pengaruh lingkungan sosial, bahasa dan kekuasaan yang juga membentuk pengalaman seseorang.
Ia menilai bahwa NSSI bukan hanya disebabkan oleh gangguan emosi, melainkan cara individu mengungkapkan tekanan sosial yang muncul dari tuntutan akademik, keluarga, stigma sosial dan budaya yang menuntut kesempurnaan emosional.
Tindakan ini menjadi bentuk komunikasi ketika seseorang tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan penderitaan yang dialami secara terbuka.
Dalam perspektif psikologi kritis, NSSI dapat dipahami sebagai resistensi terhadap struktur pendidikan yang menekan. Pendekatan ini menekankan bahwa faktor sosial, budaya dan institusi membentuk pengalaman psikologis individu.
Tekanan untuk berprestasi, sistem penilaian yang berorientasi pada hasil, serta kurangnya dukungan emosional menciptakan kondisi stress yang menurunkan kesejahteraan psikologis.
Pengalaman negatif di sekolah seperti bullying dan ketidakadilan memperburuk kondisi emosional (Kidger et al., 2015).
Ketika individu merasa tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, mereka seringkali merasa gagal dan kehilangan kontrol diri.
Dalam situasi seperti ini, sebagian individu yang tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi memilih melukai diri sebagai cara melampiaskan frustasi dan menstabilkan kondisi emosional.
Baca Juga: Self-Love dari Sudut Pandang Al-Qur’an: Konsep, Dalil, dan Penerapannya
Parker (2015) menegaskan bahwa ketika seseorang tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan penderitaannya secara terbuka, tubuh menjadi media alternatif untuk menyampaikan perasaan yang tidak diakui.
Dengan demikian luka pada tubuh dapat dimaknai sebagai pesan sosial tentang adanya penderitaan yang tersembunyi di balik tuntutan budaya dan struktur sosial.
Pendekatan ini mengajak kita untuk melihat perilaku tersebut bukan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai bentuk komunikasi yang mencerminkan kebutuhan manusia akan pengakuan, empati dan kebebasan dalam mengekspresikan diri.
Selain itu, Klonsky (2007) juga menjelaskan bahwa NSSI berfungsi sebagai mekanisme pengaturan emosi, ekspresi diri, serta respons terhadap stres interpersonal.
Namun, jika dilihat dalam konteks sosial yang lebih luas, perilaku ini dimaknai sebagai bentuk resistensi diam terhadap sistem pendidikan yang menekan dan mengabaikan kesejahteraan emosional.
Melalui perilaku tersebut individu secara tidak langsung menolak nilai-nilai kompetitif yang mengabaikan kesejahteraan emosional.
Penelitian Evans dan Hurrell (2016) memperkuat pandangan ini dengan menunjukkan adanya kebijakan institusi yang sangat berorientasi pada pencapaian akademik tanpa memperhatikan kesejahteraan emosional dapat meningkatkan resiko melukai diri sendiri.
Hal ini menggambarkan bahwa sistem pendidikan tidak hanya membentuk cara belajar, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental dan cara individu menghadapi tekanan hidup.
Dengan demikian, NSSI tidak dapat dipahami hanya sebagai respons individu terhadap stress, namun juga bentuk resistensi terhadap sistem pendidikan yang kompetitif dan menekan.
Pendekatan psikologi kritis membantu kita memahami keterkaitan antara individu dan struktur sosial.
Sejalan dengan pemikiran Paulo Freire, pendidikan seharusnya membuka ruang refleksi, kesadaran kritis, serta pengakuan atas kebutuhan emosional individu, bukan sekedar mengejar hasil akademik.
Sistem pendidikan seharusnya lebih manusiawi dimana sekolah menjadi ruang untuk saling berdialog, saling mendengarkan, menghargai, menjadi ruang untuk bisa lebih memahami diri dan lingkungannya serta mengekspresikan perasaan dan pemikiran mereka.
Dengan demikian, pendidikan dapat dipandang sebagai upaya pembebasan yang menumbuhkan kesadaran kritis dan kesejahteraan individu, bukan sebagai sumber tekanan atau penderitaan.
Referensi:
- Chen, H., Guo, H., Chen, H., Cao, X., Liu, J., Chen, X., … & Zhou, J. (2023). Influence of academic stress and school bullying on self-harm behaviors among Chinese middle school students: the mediation effect of depression and anxiety. Frontiers in public health, 10, 1049051.
- Evans, R., & Hurrell, C. (2016). The role of schools in children and young people’s self-harm and suicide: systematic review and meta-ethnography of qualitative research. BMC public health, 16(1), 401. DOI 10.1186/s12889-016-3065-2
- Farkas, B. F., Takacs, Z. K., Kollarovics, N., & Balazs, J. (2024). The prevalence of self-injury in adolescence: a systematic review and meta-analysis. European Child & Adolescent Psychiatry, 33 (10), 3439-3458.
- Högberg, B., Lindgren, J., Johansson, K., Strandh, M., & Petersen, S. (2019). Consequences of school grading systems on adolescent health: evidence from a Swedish school reform. Journal of education policy, 36(1), 84-106. https://doi.org/10.1080/02680939.2019.1686540
- Kidger, J., Heron, J., Leon, D. A., Tilling, K., Lewis, G., & Gunnell, D. (2015). Self-reported school experience as a predictor of self-harm during adolescence: A prospective cohort study in the South West of England (ALSPAC). Journal of affective disorders, 173, 163-169. https://doi.org/10.1016/j.jad.2014.11.003
- Klonsky, E. D., & Muehlenkamp, J. J. (2007). Self-injury: A research review for the practitioner. Journal of clinical psychology, 63(11), 1045-1056. https://doi.org/10.1002/jclp.20412
- Klonsky, E. D., Victor, S. E., & Saffer, B. Y. (2014). Nonsuicidal self-injury: what we know, and what we need to know. The Canadian Journal of Psychiatry, 59 (11), 565-568.
- Lustig, S., Koenig, J., Resch, F., & Kaess, M. (2021). Help-seeking duration in adolescents with suicidal behavior and non-suicidal self-injury. Journal of psychiatric research, 140, 60-67.
- Parker, I. (2015). Psychology after deconstruction: Erasure and social reconstruction. Routledge.
- Tresno, F., Ito, Y., & Mearns, J. (2012). Self-injurious behavior and suicide attempts among Indonesian collage students. Death Studies, 36(7), 627-639. https://doi.org/10.1080/07481187.2011.604464
- Waller, G., Newbury-Birch, D., Simpson, D., Armstrong, E., James, B., Chapman, L., … & Ferguson, J. (2023). The barriers and facilitators to the reporting and recording of self-harm in young people aged 18 and under: a systematic review. BMC public health, 23(1), 158. https://doi.org/10.1186/s12889-023-15046-7
Penulis: Wiwin
Mahasiswa Magister Prodi Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












