Harmoni Wisata di Denyut Kota Sukabumi

Sumber: sukabumiku.id

Kota Sukabumi merupakan salah satu kota kecil di Provinsi Jawa Barat yang terletak di lereng Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Kota ini berada di ketinggian ±584 meter di atas permukaan laut, sehingga udaranya relatif sejuk.

Hal ini terkait dengan asal nama “Soekaboemi” pertama kali diperkenalkan pada tahun 1815 oleh Andries de Wilde.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Istilah ini berasal dari bahasa Sunda, yang berarti tanah atau bumi yang menyenangkan, merujuk pada kondisi alam Sukabumi yang berhawa sejuk dan nyaman.

Dengan luas wilayah sekitar 48,3 km², secara geografis, seluruh wilayah Kota Sukabumi dikelilingi oleh kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten Sukabumi.

Berdiri sebagai kota praja sejak tahun 1914, Sukabumi kini terbagi ke dalam 7 kecamatan dan 33 kelurahan, serta menjunjung motto “Reugreug pageuh répéh répéh rapih” yang bermakna teguh, kukuh, damai, dan rukun (portal.sukabumikota.go.id, 2025).

Perekonomian Sukabumi bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa, yang didukung oleh letaknya yang strategis sebagai jalur penghubung Jakarta–Bandung. Artinya, kota ini punya peran vital dalam arus distribusi barang, jasa, dan mobilitas manusia.

Akses dan perkembangan infrastruktur kota Sukabumi sudah semakin membaik. Perjalanan darat dari Jakarta ke Sukabumi kira-kira 112 km jika melalui jalur tol dan jalan umum.

Dengan kendaraan pribadi (mobil/motor), waktu tempuh bisa sekitar 2 sampai 2,5 jam jika kondisi jalan dan lalu lintas mendukung, terutama memakai tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) yang sudah sebagian beroperasi.

Fasilitas transportasi umum tersedia kereta api dari Bogor ke Sukabumi (KA Pangrango) memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit sampai ± 2 jam dari Stasiun Bogor Paledang ke Stasiun Sukabumi.

Pembangunan infrastruktur di Sukabumi terus meningkat, yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi maupun pariwisata.

Sukabumi adalah kota yang semakin terbuka, mudah dijangkau dengan transportasi umum yang semakin layak dan memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi serta destinasi wisata.

Kota Sukabumi tumbuh sebagai ruang yang harmonis antara kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan keindahan alam yang mengitarinya. Pasar-pasar tradisional masih menjadi nadi kehidupan kota, di mana interaksi sosial dan perekonomian rakyat berjalan beriringan.

Di sisi lain, ruang publik seperti taman kota dan alun-alun memberi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, beraktivitas, sekaligus menikmati suasana kota yang hidup namun tetap tenang.

Semua ini memperlihatkan bahwa Sukabumi mampu menjaga dinamika perkotaan tanpa kehilangan kehangatan khas sebuah kota kecil.

Lebih dari sekadar hiburan, wisata di kota Sukabumi menjadi medium untuk menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam serta antara tradisi dengan modernitas.

Kehadiran ruang-ruang wisata yang terintegrasi dengan kehidupan kota menunjukkan pesan bahwa pembangunan bukan berarti meninggalkan kearifan lokal.

Budaya masih kental dengan tradisi Sunda yang dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Harmoni antara ruang modern dengan sentuhan tradisional inilah yang menjadikan Sukabumi istimewa, sebuah kota yang terus bertumbuh, tetapi tidak melupakan akar budayanya, serta mampu menghadirkan keseimbangan bagi warganya maupun para pendatang.

Dari sisi sejarah, kota ini menyimpan peninggalan era kolonial yang masih bisa ditemui pada beberapa bangunan tua.

Bagi pecinta alam, kota Sukabumi menawarkan wisata buatan di dalam kota maupun penghubung dengan wisata alam yang umumnya masuk wilayah kabupaten Sukabumi seperti taman kota, curug, hingga jalur pendakian menuju Gunung Gede Pangrango.

Keunikan ini menjadikan Sukabumi bukan hanya sebagai tempat singgah, melainkan tujuan wisata yang bernilai.

Wisata alam alami di dalam batas kota Sukabumi relatif terbatas. Ruang terbuka hijau seperti Taman Kota Lapang Merdeka atau wisata buatan bernuansa alam seperti Wisata Alam Oasis, taman rekreasi keluarga, dan alun-alun dengan area hijau.

Walau banyak kawasan alam besar seperti Curug Sawer, Curug Cibeureum, Situ Gunung, Pantai Pelabuhan Ratu, hingga Geopark Ciletuh semuanya masuk wilayah Kabupaten Sukabumi, meski dekat dengan Kota Sukabumi dan sering dianggap bagian dari “wisata Sukabumi”.

Hal ini membuat identitas kota tetap mempunyai elemen alam yang bisa dijangkau oleh warganya sehari-hari, tidak hanya wisatawan luar.

Hal ini menunjukkan bahwa wisata alam tidak harus selalu di tempat terpencil atau sulit dijangkau, wisata di dalam kota pun bisa memberikan kesejukan, keindahan, dan ruang untuk rehat bagi masyarakat.

Salah satu destinasi alam yang jelas berada di Kota Sukabumi adalah Taman Kota Lapang Merdeka di Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole.

Taman ini merupakan ruang terbuka hijau yang sangat penting bagi warga, dilengkapi dengan fasilitas olahraga seperti lapangan, arena jogging, dan area bermain anak-anak (tempatpopuler.com, 2025).

Suasana di Lapang Merdeka cocok untuk bersantai sore hari, berkumpul keluarga, atau aktifitas ringan seperti yoga, senam pagi, hingga sekadar baca buku di bawah pohon rindang.

Pemerintah Kota sendiri menunjukkan komitmennya untuk terus menjaga dan memperbaiki fasilitas tempat ini melalui program revitalisasi agar tetap nyaman dan fungsional sebagai ruang publik hijau (kdp.sukabumikota.go.id, 2025).

Gambar 1. Taman Kota Lapang Merdeka Sukabumi (Sumber: tempatpopuler.com, 2025)

Wisata jenis buatan bernuansa alam, meski tidak seterkenal alam pegunungan atau air terjun dalam kawasan kota, adalah Wisata Alam Oasis di Jalan Mayor Mahmud.

Tempat ini baru diperkenalkan sebagai destinasi ramah keluarga dengan fasilitas playground, kolam-kolam kecil atau waterpark mini, spot foto dengan tema ala Eropa, serta area kuliner.

Oasis menawarkan kombinasi antara elemen alam (tanah terbuka, pohon-pohon, panorama hijau) dan fasilitas buatan modern yang cocok bagi warga kota yang ingin rehat sejenak tanpa harus ke kawasan pegunungan (travel.kompas.com, 2025).

Wisata buatan modern Kota Sukabumi kini tampil dengan wajah baru yang lebih modern dan ramah publik.

Sebagai contoh Alun-Alun Kota Sukabumi, setelah revitalisasi yang dirampungkan pada akhir tahun 2021, alun-alun terintegrasi dengan Lapang Merdeka menawarkan fasilitas publik lengkap: lintasan jogging, lapangan basket, futsal, arena sepatu roda/roller, skateboard, serta pedestrian yang diperindah (bappeda.jabarprov.go.id, 2022).

Selain itu, ada dekorasi seni mural di beberapa titik, memberi elemen seni kontemporer sekaligus spot foto menarik bagi pengunjung (detik.com, 2022).

Satu lagi fasilitas modern yang menambah daya tarik kota adalah Taman Digital di Alun-Alun Masjid Agung Sukabumi. Dibuka pada Februari 2017, tempat ini dilengkapi jaringan internet berkapasitas tinggi yang diperoleh melalui kerja sama Pemerintah Kota Sukabumi dan PT Telkom Indonesia dengan teknologi fiber optik (news.detik.com, 2017).

Sehingga Taman Digital menjadi ruang alternatif bagi kawula muda dan pelajar untuk berselancar internet, belajar, bersosialisasi, maupun sekadar nongkrong dengan suasana hijau dan nyaman.

Selain itu, perkembangan pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong kekinian ikut meramaikan wisata kota.

Contohnya Citimall di Gunungparang, yang menyediakan area belanja lengkap, kafe, serta ruang rekreasi keluarga menjadikan memperkaya pengalaman kota modern yang nyaman, estetis, dan fungsional bagi warganya.

Sukabumi dikenal sebagai pusat peninggalan kolonial Belanda, Sukabumi memiliki banyak bangunan bersejarah yang menceritakan kisah dari era kolonial hingga era kontemporer.

Peninggalan kolonial Belanda yang masih bertahan adalah salah satu daya tarik wisata sejarah Sukabumi.

Terdapat banyak gedung-gedung kolonial yang memiliki ornamen klasik dan bentuk bangunan yang memancarkan keanggunan masa lalu. Pengunjung dapat melihat gedung pemerintah lama di pusat kota, bekas kantor pemerintahan kolonial, dan bangunan kuno yang dulunya merupakan pusat perdagangan dan administrasi kolonial.

Gedung peninggalan ini menambah keindahan arsitektur dan menunjukkan sejarah panjang Sukabumi sebagai kota penting selama masa kolonial.

Gambar 2. Gedung Juang 45 Kota Sukabumi, Simbol Perlawanan Rakyat (Sumber: sukabumiku.id, 2025)
Gambar 3. Museum Pegadaian Indonesia (Sumber: kabarbumn.com, 2025)

Museum Pegadaian Sukabumi contoh pemanfaatan bangunan kolonial, satu-satunya museum di Indonesia yang menampilkan informasi ilmiah dan sejarah tentang Pegadaian dan bagaimana bisnis ini beroperasi pada masa lalu.

Museum ini terletak di Jalan Pelabuan II, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Ini adalah rumah dinas pimpinan cabang Pegadaian sejak tahun 1901 dan juga merupakan lokasi kantor Pegadaian pertama di Indonesia selama masa penjajahan Belanda.

Museum ini, yang diresmikan sebagai museum pada April 2010, telah direvitalisasi dengan konsep “The Golden Journey”. Konsep ini menceritakan sejarah Pegadaian dengan menggunakan teknologi interaktif kontemporer yang memberikan pengalaman pembelajaran bagi pengunjung, terutama anak-anak.

Museum ini menyajikan lini masa dan perjalanan sejarah Pegadaian secara menyeluruh dan menarik melalui penggunaan alat interaktif seperti layar dan tembok interaktif.

Museum Pegadaian Sukabumi menjadi destinasi wisata edukatif yang membantu melestarikan dan memahami budaya ekonomi lokal dan nasional berkat fasilitas pendukungnya, seperti kafe vintage dan berbagai lokasi foto yang membuat kunjungan lebih menyenangkan dan modern.

Selain itu, wisata sejarah kota Sukabumi lainnya yaitu Museum Tionghoa di Sukabumi. Museum Tionghoa Soekaboemi didirikan pada 2021 oleh lima tokoh pencinta sejarah yang peduli akan pentingnya melestarikan peninggalan sejarah dan budaya Tionghoa di Kota Sukabumi.

Museum Tionghoa Soekaboemi adalah tempat penting untuk merekam dan melestarikan sejarah dan budaya komunitas Tionghoa yang telah lama tinggal di sana.

Museum ini tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan dokumentasi yang menunjukkan peran etnis Tionghoa dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya Sukabumi.

Sejarah Museum Cina Sukabumi bermula dengan keinginan untuk mengenang peran komunitas Tionghoa yang mulai berimigrasi sejak abad ke-18 dan berkontribusi besar pada perdagangan, kerajinan tangan, dan aktivitas ekonomi lokal.

Masyarakat Tionghoa juga membentuk struktur sosial kota, membantu perkembangan usaha kecil dan menengah, dan menjaga tradisi dan budaya unik mereka.

Gambar 4. Museum Tionghoa Sukabumi (Sumber: travel.detik.com, 2025)

Museum Tionghoa memiliki empat lantai. Lukisan tembok di lantai pertama Museum Tionghoa menunjukkan asal-usul Tionghoa masuk ke Sukabumi, termasuk kedatangan Laksamana Cheng Ho.

Di lantai satu, terdapat balkon dengan koleksi alat musik zaman dahulu yang dapat digunakan untuk mengambil foto. Di lantai satu juga terdapat kursi dan meja khas yang biasa ditemukan di rumah-rumah warga Tionghoa masa lalu, serta barang-barang rumah tangga yang dahulu digunakan oleh masyarakat Tionghoa.

Lantai dua menampilkan kumpulan uang kuno, termasuk alat tukar dari Kerajaan Mataram Jawa hingga uang keluaran terbaru; pakaian kuno; ruang tamu masa lalu; model ruang ibadah, termasuk altar yang digunakan masyarakat Tionghoa untuk mengenang leluhur mereka, lengkap dengan peralatan untuk upacara sembahyang dan pemakaman; dan beberapa karya sastra Tionghoa kuno.

Di lantai tiga terdapat galeri koleksi Dapuran Kipahare, yang terdiri dari arsip dan dokumen tentang sejarah kota dan kabupaten Sukabumi, serta berbagai tengkorak dan spesimen hewan buruan dari masa kolonial Belanda. Lantai empat menampilkan koleksi alat perang dan pakaian perang untuk perjuangan kemerdekaan.

Wisata budaya di Kota Sukabumi yang dapat menjadi daya tarik wisatawan antara lain Festival budaya Sunda dan kesenian tradisional di Sukabumi biasanya diadakan untuk mempertahankan dan mempromosikan seni budaya Sunda kepada generasi muda dan masyarakat luas di tengah arus modernisasi.

Festival ini merupakan perwujudan nyata pelestarian warisan budaya yang sarat nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat Sunda. Pencak silat, bersama dengan tari Jaipong, adalah komponen penting dari festival budaya Sunda di Sukabumi.

Seni bela diri ini bukan hanya olahraga; itu juga memiliki nilai moral dan estetika, dan menawarkan perlindungan dan keberanian kepada masyarakat.

Kirab budaya, pameran busana tradisional, dan parade kostum kerajaan Sunda sering kali menjadi bagian dari festival budaya Sunda di Sukabumi, yang menampilkan kekayaan sejarah dan kemegahan budaya lokal.

Jejak Sejarah Kerajaan dan Kemegahan Budaya di Tatar Sunda” biasanya menjadi tema festival, menumbuhkan rasa bangga dan cinta tanah air bagi masyarakat setempat.

Selain itu, ada banyak sanggar seni di Sukabumi yang secara aktif melestarikan tradisi musik karawitan, pupuh, dan seni pertunjukan lainnya, sehingga menambah warisan budaya Sunda.

Wisata religi di Kota Sukabumi menghadirkan pengalaman spiritual sekaligus memperkaya nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Kehadiran bangunan keagamaan dan situs sejarah Islam bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda perjalanan panjang penyebaran agama Islam di wilayah ini.

Salah satu pusat religi yang paling menonjol adalah Masjid Agung Sukabumi. Terletak di jantung kota, masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah utama umat Muslim, tetapi juga landmark kota yang ikonik.

Arsitekturnya megah dengan kubah besar dan halaman luas yang terhubung langsung dengan Alun-Alun Sukabumi.

Sejak awal berdirinya, Masjid Agung telah menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari salat berjamaah, kajian Islam, hingga perayaan hari besar seperti Idul fitri dan Idul adha.

Gambar 5. Masjid Agung Sukabumi (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025)

Selain Masjid Agung, Sukabumi juga memiliki situs-situs makam ulama dan tokoh penyebar Islam yang menjadi bagian penting dari wisata religi.

Makam para ulama ini tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga pusat pengingat akan peran mereka dalam membangun pondasi keagamaan dan moral di masyarakat.

Tradisi ziarah masih hidup hingga kini, di mana masyarakat datang untuk mendoakan sekaligus mengenang jasa para tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam di Sukabumi (detik.com, 2023). Dengan demikian, wisata religi di Sukabumi menghadirkan harmoni antara nilai spiritual, budaya, dan sejarah.

Keberadaan Masjid Agung sebagai simbol kota, ditambah dengan situs-situs makam ulama, menjadikan Sukabumi sebagai destinasi religi yang bukan hanya memperkuat iman, tetapi juga menghubungkan masyarakat dengan akar sejarah dan tradisi mereka

Gambar 6. Situs Makam Ulama Pangeran Syaofidin Al Matromiyyi (Sumber: detik.com, 2023)

Kuliner di Kota Sukabumi tidak hanya sekadar pengisi perut, melainkan juga cerminan identitas budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Sunda. Setiap hidangan dan jajanan yang hadir membawa cerita, mulai dari kearifan lokal hingga adaptasi modernitas yang semakin memperkaya ragam rasa.

Ada harmoni yang terjalin antara jajanan tradisional yang diwariskan turun-temurun, sajian modern yang diminati generasi muda, hingga pusat-pusat wisata kuliner malam yang ramai oleh aktivitas masyarakat.

Kombinasi ini menjadikan Sukabumi bukan hanya tempat singgah, tetapi juga tujuan wisata kuliner yang lengkap, di mana tradisi dan modernitas bertemu dalam satu ruang yang penuh kehangatan.

Salah satu ikon kuliner yang tidak bisa dilepaskan dari Sukabumi adalah mochi. Kudapan kenyal dengan isian kacang tanah manis gurih ini sudah lama menjadi primadona oleh-oleh khas kota.

Dikemas dalam kotak bambu atau besek, mochi bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menghadirkan nuansa tradisi yang melekat kuat pada identitas Sukabumi.

Hampir setiap wisatawan yang berkunjung menjadikan mochi sebagai buah tangan utama, seolah menjadi simbol perjalanan mereka ke kota ini (Alya, 2024).

Gambar 7. Mochi, Ikon Kuliner Kota Sukabumi (Sumber: kompas.com, 2022)

Selain mochi, Sukabumi juga kaya dengan jajanan tradisional Sunda yang hingga kini masih lestari. Ada bandros dengan aroma harum kelapa parut yang dipanggang di cetakan khas, sekoteng hangat dengan jahe, kacang tanah, kolang-kaling, dan potongan roti yang pas untuk udara sejuk, serta surabi berbahan tepung beras dengan aneka topping sederhana seperti oncom atau kinca gula merah.

Tidak ketinggalan bacang yang gurih, berisi nasi berbumbu dengan ayam atau daging, dibungkus daun bambu berbentuk segitiga (food.detik.com, 2021).

Semua jajanan ini bukan hanya soal rasa, melainkan juga memori kolektif yang diwariskan lintas generasi, memperlihatkan kekayaan kuliner Sunda yang penuh makna.

 

Sementara itu, geliat kuliner malam semakin terasa di pusat kota, khususnya di kawasan Alun-Alun Sukabumi. Setelah revitalisasi yang rampung pada akhir tahun 2021, alun-alun kini tidak hanya menjadi ruang publik yang nyaman, tetapi juga pusat keramaian kuliner.

Deretan pedagang kaki lima hingga penjaja makanan kekinian hadir setiap malam, menghadirkan suasana yang hidup dan hangat.

Mulai dari sate, mie kocok, hingga camilan modern, semua tersaji di satu ruang yang menjadikan alun-alun sebagai destinasi kuliner malam favorit warga maupun wisatawan (sukabumiupdate.com, 2025).

Di sisi lain, pasar modern dan pusat perbelanjaan seperti Citimall turut menambah warna dengan menghadirkan restoran keluarga, kafe kekinian, hingga food court beragam menu Nusantara dan internasional.

Kota Sukabumi menunjukkan perpaduan antara ruang modern dengan sentuhan tradisional yang kental akan nilai budaya lokal.

Arsitektur kota yang mengadopsi bentuk atap tradisional seperti jolopong, penggunaan material alami seperti kayu dan batu alam, dan penggunaan simbol-simbol budaya Sunda berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Selain itu, mereka berfungsi sebagai sarana estetika. Metode ini menciptakan lingkungan perkotaan yang memiliki makna budaya selain fungsional dan estetis, menjadikan Sukabumi sebuah kota yang hidup dan ramah.

Cara orang Sukabumi melihat ruang publik sebagai tempat untuk berinteraksi dan melestarikan tradisi mencerminkan kehidupan sosial mereka yang harmonis.

Ruang terbuka hijau, taman kota, dan lokasi yang mendukung aktivitas budaya tradisional adalah bukti nyata keseimbangan yang dijaga dengan baik.

Dalam hal ini, pariwisata memainkan peran penting dalam menjaga dan mempromosikan keseimbangan.

Wisata budaya dan alam Sukabumi memberi orang-orang dan wisatawan kesempatan untuk mengenal, mengapresiasi, dan berkontribusi pada pelestarian warisan budaya dan lingkungan.

Wisata bukan hanya sarana untuk menghasilkan uang, tetapi juga sarana untuk memberi tahu orang lain tentang pentingnya menjaga nilai-nilai tradisional dalam dunia modern.

Harmoni antara ruang modern dengan sentuhan tradisional. Sukabumi sebagai kota yang hidup, ramah, dan penuh keseimbangan.

 

Referensi

  • Alya, D. (2024). Sejarah Mochi Kaswari Lampion, 1983-2024. Dewaruci: Jurnal Studi Sejarah Dan Pengajarannya, 3(1), 151–160. https://doi.org/10.572349/dewaruci.v3i1.2060
  • bappeda.jabarprov.go.id. (2022). Ridwan Kamil Resmikan Alun-alun dan Lapangan Merdeka Kota Sukabumi. Retrieved from https://bappeda.jabarprov.go.id/ridwan-kamil-resmikan-alun-alun-dan-lapangan-merdeka-kota-sukabumi/?
  • carikulinerindonesia.com. (2025). Kuliner Sukabumi. https://www.carikulinerindonesia.com/
  • detik.com. (2022). Alun-alun Sukabumi Makin Cantik, Seni Mural Jadi Spot Foto Baru. Retrieved from https://www.detik.com/jabar/wisata/d-6144386/alun-alun-sukabumi-makin-cantik-seni-mural-jadi-spot-foto-baru?
  • detik.com. (2023). Hikayat Pangeran Syaofidin Yang Makamnya Dekat Masjid Agung Sukabumi. https://www.detik.com/jabar/budaya/d-7007644/hikayat-pangeran-syaofidin-yang-makamnya-dekat-masjid-agung-sukabumi?
  • food.detik.com (2021). Bakcang Berbentuk Segitiga, Ternyata Ada Filosofi di Baliknya. https://food.detik.com/info-kuliner/d-5603298/bakcang-berbentuk-segitiga-ternyata-ada-filosofi-di-baliknya?
  • kabarbumn.com. (2025). Didirikan di Kota yang Mengenal Gadai Resmi Pertama di Indonesia, Inilah Museum Pegadaian, Sukabumi. Retrieved from https://www.kabarbumn.com/ragam/116831352/didirikan-di-kota-yang-mengenal-gadai-resmi-pertama-di-indonesia-inilah-museum-pegadaian-sukabumi
  • kdp.sukabumikota.go.id. (2025). Wali Kota Sukabumi Komitmen Revitalisasi Lapang Merdeka demi Fasilitas Publik yang Lebih Baik. Retrieved from https://kdp.sukabumikota.go.id/2025/06/revitalisasi-lapdek.html?
  • kompas.com. (2022). Mengulik Perjalanan Mochi Lampion Sejak 1983 Oleh-Oleh Khas Sukabumi. https://www.kompas.com/food/read/2022/01/24/191100575/mengulik-perjalanan-mochi-lampion-sejak-1983-oleh-oleh-khas-sukabumi-?page=all
  • news.detik.com. (2017). Kini Kota Sukabumi Miliki Taman Digital. Retrieved from https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3431563/kini-kota-sukabumi-miliki-taman-digital?
  • portal.sukabumikota.go.id. (2025). Geografi dan Demografi. Retrieved from https://portal.sukabumikota.go.id/geografis/
  • sukabumiku.id. (2025). Misteri Sumur Tua di Tengah Lapang Merdeka Sukabumi: Saksi Bisu Sejarah Perjuangan. Retrieved from https://sukabumiku.id/misteri-sumur-tua-di-tengah-lapang-merdeka-sukabumi-saksi-bisu-sejarah-perjuangan/
  • sukabumiupdate.com (2025). 7 Wisata Kuliner Sekitar Alun-Alun Kota Sukabumi Untuk Ngabuburit. https://www.sukabumiupdate.com/food-travel/155740/7-wisata-kuliner-sekitar-alun-alun-kota-sukabumi-untuk-ngabuburit?
  • tempatpopuler.com. (2025). Taman Kota Lapang Merdeka Sukabumi di Jawa Barat. Retrieved from https://tempatpopuler.com/lokasi/taman-kota-lapang-merdeka-sukabumi/?
  • travel.detik.com. (2025). Museum Tionghoa Sukabumi, Jejak Budaya China di Tanah Sunda. Retrieved from https://travel.detik.com/domestic-destination/d-7959312/museum-tionghoa-sukabumi-jejak-budaya-china-di-tanah-sunda.
  • travel.kompas.com. (2025). Wisata Alam Oasis, Destinasi Baru di Sukabumi Bernuansa Eropa. Retrieved from https://travel.kompas.com/read/2023/05/23/115000427/wisata-alam-oasis-destinasi-baru-di-sukabumi-bernuansa-eropa?

 

Penulis:
1. Dewi Ayu Kusumaningrum
2. Ramon Hurdawaty
3. Vera Clara Simanjuntak
4. Solihin
Dosen Politeknik Sahid dan Universitas Binaniaga Indonesia

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses