Fenomena FOMO di Kalangan Remaja Akibat Media Sosial

FOMO di kalangan remaja

Remaja perlu menggunakan media sosial secara bijak serta memahami bahwa kehidupan di internet tidak selalu menggambarkan realitas.

***

Media sosial membuat banyak remaja takut tertinggal tren dan dari kehidupan orang lain. Fenomena FOMO semakin sering terjadi akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.

Media sosial sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan remaja saat ini. Hampir setiap hari, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka Instagram, TikTok, X, maupun aplikasi lainnya. Kehadiran media sosial memang mempermudah komunikasi dan memberikan hiburan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan dampak psikologis, salah satunya adalah fenomena Fear of Missing Out atau yang biasa disebut FOMO.

FOMO merupakan rasa takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman yang sedang dilakukan orang lain. Banyak remaja merasa harus selalu mengikuti perkembangan media sosial agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, mereka terus menerus memeriksa ponsel dan sulit melepaskan diri dari dunia digital.

Fenomena FOMO sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa maupun remaja. Misalnya, ketika teman-teman mengunggah foto nongkrong, liburan, atau pencapaian tertentu, seseorang dapat merasa iri dan membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Selain itu, algoritma media sosial juga membuat pengguna terus ingin membuka aplikasi. Konten yang selalu muncul tanpa henti membuat banyak orang sulit mengontrol waktu penggunaan media sosial. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya menjadi kurang fokus belajar, sering menunda tugas, bahkan mengalami gangguan tidur karena terlalu sering bermain ponsel hingga larut malam.

FOMO juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Rasa cemas, rendah diri, dan tekanan sosial sering muncul akibat kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di internet. Banyak remaja merasa hidupnya kurang menarik hanya karena tidak memiliki pengalaman seperti yang dilihat di media sosial.

Namun, media sosial sebenarnya tidak selalu berdampak negatif. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi tempat untuk mencari informasi, membangun relasi, dan mengembangkan kreativitas. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara seseorang mengontrol penggunaannya agar tidak berlebihan.

Sebagai kesimpulan, FOMO di kalangan remaja akibat media sosial menjadi salah satu tantangan di era digital saat ini. Keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat memberikan tekanan mental apabila tidak disikapi dengan baik. Remaja dan mahasiswa perlu belajar menggunakan media sosial secara bijak serta memahami bahwa kehidupan di internet tidak selalu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Dengan pengendalian diri yang baik, media sosial dapat dimanfaatkan secara positif tanpa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan mental dan kehidupan sosial.


Penulis: Gwen Mary Engel
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang


Editor: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses