Di era ketika hampir setiap detik hidup kita terhubung dengan layar, dunia terasa lebih dekat dari sebelumnya, namun anehnya, hati kita justru semakin jauh. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 229 juta jiwa atau lebih dari 80 persen populasi. Mayoritas pengguna memanfaatkan internet untuk media sosial, komunikasi, dan mencari informasi.
Tingginya tingkat konektivitas digital tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di balik kemudahan itu muncul persoalan yang semakin sering terlihat, yaitu menurunnya empati dalam interaksi sosial. Masalah ini penting dibahas karena empati merupakan dasar terciptanya hubungan sosial yang sehat dan harmonis.
Tantangan Interaksi di Ruang Digital
Di balik kemudahan komunikasi digital, kita sedang menghadapi krisis yang lebih halus namun berbahaya, yaitu hilangnya empati. Dunia maya telah mengubah cara kita berinteraksi. Di ruang komentar, orang merasa bebas melontarkan kata-kata tajam tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Anonimitas dan jarak layar menciptakan ilusi bahwa yang kita hadapi hanyalah akun, bukan manusia dengan emosi dan kehidupan nyata.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas interaksi di media sosial memiliki pengaruh terhadap kondisi psikologis pengguna. Sebuah penelitian yang melibatkan 281 responden menemukan bahwa pengalaman negatif seperti cyberbullying berkaitan dengan meningkatnya tekanan mental pengguna media sosial. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kualitas pengalaman digital lebih berpengaruh dibandingkan sekadar lamanya waktu penggunaan media sosial.
Dampak dari kondisi tersebut terlihat pada semakin maraknya perundungan siber, ujaran kebencian, dan budaya saling menghakimi di ruang digital. Banyak orang lebih mudah memberikan komentar negatif tanpa memahami latar belakang atau kondisi orang lain. Dalam jangka panjang, keadaan ini dapat menurunkan kualitas hubungan sosial, meningkatkan konflik, serta mengurangi kemampuan masyarakat untuk memahami perasaan sesama.
Akar Masalah dan Pengaruh Algoritma
Menurut saya, akar persoalan ini bukan terletak pada teknologi, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Media sosial telah membentuk budaya respons cepat yang membuat banyak orang lebih terbiasa bereaksi daripada memahami. Berita duka sering kali hanya direspons dengan emoji sedih atau komentar singkat, seolah hal tersebut cukup menggantikan kehadiran nyata dan dukungan emosional secara langsung.
Selain itu, algoritma media sosial turut mempersempit perspektif pengguna. Konten yang muncul di beranda umumnya disesuaikan dengan minat dan pandangan yang sudah dimiliki pengguna. Akibatnya, seseorang lebih sering terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri dan semakin jarang memahami sudut pandang yang berbeda. Kondisi ini berpotensi menciptakan masyarakat yang cepat menghakimi, tetapi lambat berempati.
Fakta bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu yang sangat besar di dunia digital menunjukkan bahwa masalah ini tidak dapat dianggap sepele. Berbagai laporan menunjukkan bahwa aktivitas online dan penggunaan media sosial telah menjadi bagian dominan dalam keseharian masyarakat Indonesia.
Memulihkan Empati Melalui Langkah Bijak
Karena itu, sudah saatnya kita menggunakan teknologi secara lebih bijak. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, yaitu membiasakan membaca informasi secara utuh sebelum berkomentar, menerapkan prinsip “berpikir sebelum mengetik”, serta menghargai perbedaan pendapat. Selain itu, penting juga meluangkan lebih banyak waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Dengan langkah-langkah tersebut, teknologi dapat tetap menjadi sarana komunikasi yang bermanfaat tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, kemajuan digital seharusnya berjalan seiring dengan kemampuan kita untuk memahami, menghargai, dan berempati kepada sesama. Karena secepat apa pun jempol bergerak, kehangatan hati tetap tidak tergantikan.
Penulis: Fitria Oktavia
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












