Keindahan pesisir selatan Pulau Jawa sudah menjadi hal yang diketahui banyak orang. Suasana pantai dengan pemandangan laut yang indah menjadi daya tarik bagi wisatawan. Salah satunya di kawasan Pantai Tiga Warna yang terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Tidak seperti destinasi wisata kebanyakan, Pantai Tiga Warna dikelola dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat.
Kawasan Pantai Tiga Warna tergabung pada Clungup Mangrove Conservation (CMC) yang bergerak dalam konservasi pantai dan mangrove(bakau). Berdasarkan kawasannya, CMC memiliki 6 destinasi pantai yang dikonservasi, yaitu: Pantai Clungup, Pantai Gatra, Pantai Mini, Pantai Sapana, Pantai Batu Pecah, dan yang paling terkenal yakni Pantai Tiga Warna. Dengan mengunjungi destinasi CMC Tiga Warna ini, pengunjung dapat melakukan snorkelling, bermain kayak, naik perahu, menyusuri hutan mangrove, dan menikmati keindahan pantai.
CMC Tiga Warna dibuka pada tahun 2014. CMC Tiga Warna memiliki wilayah konservasi hutan pesisir pantai seluas 96,3, konservasi terumbu karang seluas 10 hektar, dan konservasi mangrove seluas 77,7. hektar Destinasi ini dikelola masyarakat lokal dengan diwadahi oleh Bhakti Sendang Biru.
Mulanya, penanaman mangrove di CMC Tiga Warna diinisiasikan oleh Bapak Saptoyo, Ketua Lembaga Masyarakat Konservasi Bhakti Alam (atau Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru). Dilansir dari video Nominasi Kick Any Heroes 2019, Pak Iswi Cahyo (Penanggung Jawab Konservasi Mangrove) menyebutkan bahwa tahun 2012 Pak Saptoyo membuat Kelompok Masyarakat Pengawas untuk mengawasi hutan pantai, mangrove, dan terumbu karang.
Pemberdayaan masyarakat yang dimulai oleh Pak Saptoyo ini membuat CMC Tiga Warna memiliki banyak jejak prestasi. Perjuangan Pak Saptoyo dan tim membuahkan hasil berupa destinasi ekowisata yang terkenal dan terjaga alamnya, bahkan Pak Saptoyo juga mendapatkan anugerah dari program televisi Kick Andy, sebagai Patriot Lingkungan Sejati. Banyaknya prestasi yang diraih membuktikan bahwa kepedulian dan dedikasi yang kuat terhadap alam bukan hanya bermanfaat bagi alam saja, tapi juga bagi masyarakat sekitar, khususnya pengelola.
Saat ini, CMC Tiga Warna menjadi destinasi ekowisata di Kabupaten Malang yang populer. Destinasi ini tidak hanya cocok untuk wisata keluarga atau kelompok kecil, tetapi juga cocok untuk kelompok besar seperti kegiatan studi wisata siswa dengan kapasitas kunjungan tertentu. Bicara tentang kapasitas kunjungan, CMC Tiga Warna menerapkan sistem kuota kunjungan harian dengan batas waktu tertentu.
CMC Tiga Warna memberlakukan sistem kunjungan melalui reservasi. Wisatatan yang hendak datang perlu melakukan reservasi untuk memastikan ketersediaan kuota kunjungan. Reservasi dapat dilakukan melalui website CMC Tiga Warna. Perihal kuota kunjungan, CMC Tiga Warna menetapkan jumlah wisatawan harian maksimal 300 hingga 400 orang untuk Pantai Tiga Warna, serta 600 orang untuk Pantai Clungup dan Pantai Gatra.
Total jumlah kuota kunjungan wiatawan di CMC Tiga Warna adalah 1.000 orang per harinya. Per 100 orang wisatawan diberi waktu selama 2 jam untuk beraktivitas di kawasan CMC Tiga Warna. Penerapan sistem kuota harian ini menjadi hal yang membedakan CMC Tiga Warna dengan pantai-pantai lainnya. Hal ini sesuai dengan prinsip dari ekowisata yang mengutamakan nilai konservasi daripada nilai ekonomi.
Jumlah wisatawan yang melunjak berpotensi lebih tinggi terhadap kerusakan alam. Maka dari itu, pembatasan jumlah kunjungan merupakan hal yang tepat sebagai bentuk antisipasi kerusakan alam yang dapat terjadi. Upaya pelestarian lainnya dibuktikan dengan penutupan destinasi CMC Tiga Warna setiap hari Kamis, seolah memberikan “waktu istirahat” bagi alam untuk “bernapas”, terbebas dari riuh pikuk wisatawan yang datang. Alam yang tetap terjaga dengan baik memberikan keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat, yang mana pada pembahasan ini CMC Tiga Warna adalah aset yang perlu dijaga agar masyarakat tetap memperoleh pendapatan.
Di hari Kamis, CMC Tiga Warna tidak menerima kunjungan wisatawan dikarenakan merupakan agenda masyarakat untuk melakukan kerja bakti untuk perbaikan dan memulihkan ekosistem. Hal ini menunjukan bahwa destinasi ini berbasis community based tourism, dimana masyarakat lokal turut serta dalam pengelolaan wisata. Mata pencaharian masyarakat bukan hanya sebagai nelayan, tetapi juga penggerak pariwisata sebagai pengelola, pemandu, hingga juru kemudi perahu.
Keunikan lain yang sulit ditemui di pantai-pantai lain ialah aturan yang ditetapkan bagi wisatawan. Wisatawan yang datang perlu melakukan pengecekan barang sebelum dan sesudah melakukan kunjungan. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar wisatawan tidak meninggalkan sampah di kawasan wisata, terutama sampah plastik. Apabila dilanggar, wisatawan dapat dikenakan sanksi dari pihak pengelola wisata CMC Tiga Warna.
Identitas CMC Tiga Warna sebagai destinasi ekowisata dibuktikan dengan penerapan tiga pilar ekowisata; konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat serta edukasi dan interpretasi. Edukasi disini diartikan dengan edukasi yang diberikan pemandu mengenai ekosistem yang ada di CMC Tiga Warna.
Pemandu mengedukasi wisatawan dengan mengenalkan CMC Tiga Warna, baik dari segi sejarah, situasi, atau biota laut yang ada. Sedangkan interpretasi dimaknai dengan pemandu yang menumbuhkan rasa cinta alam kepada wisatawan. Pemandu menghubungkan wisatawan dengan alam, disertai harapan agar wisatawan mengetahui indah dan pentingnya alam bagi manusia, sehingga pelestarian alam adalah hal yang wajib dilakukan.
CMC Tiga warna memberikan edukasi dan pengalaman berkesan bagi wisatawan. Hamparan pasir yang halus dan laut yang biru memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Terumbu karang, ikan, dan mangrove yang berdiri kokoh pun turut serta menyiratkan bahwa alam perlu dirawat sebelum terlambat. Pengelolaan CMC Tiga Warna sebagai destinasi ekowisata menjadi salah satu strategi jitu untuk melakukan pelestarian sembari menggerakan ekonomi. CMC Tiga Warna dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam pengelolaan destinasi ekowisata.
Bagai peribahasa “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”, penerapan ekowisata tidak hanya memberikan satu keuntungan saja. Pelestarian alam, pendapatan ekonomi, hingga rasa solidaritas adalah beberapa keuntungan yang didapatkan. CMC Tiga Warna menjadi representasi kerjasama dari flora, fauna, dan manusia untuk berkontribusi dalam pelestarian ekosistem, yang mana dapat dimaknai bahwa kekayaan alam merupakan hadiah dari Tuhan agar makhluk-Nya dapat tinggal dan bertahan hidup.
Penulis: Ghaniyyah Mulyawati
Mahasiswa Magister Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














